Boss And Me

Boss And Me
Chapter 17



~Keesokan Harinya~


09.00


📍 Johnson’s Home


“loh kakak kok balik lagi?” tanya Lisa setelah melihat kakaknya kembali ke rumahnya


“kakak mau ganti baju kantor” jawab William lalu langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai 2


William Bedroom


“eits gue lupa bilang ke chef biar di bawain lagi bekal makan siang buat gue sama Alice” gumam William


William pun kembali ke bawah menuju ke dapur


Kitchen Room


“morning chef” sapa William ke chef


“morning Mister, loh bukannya tadi pagi Mister sudah berangkat?” tanya chef tersebut


“oh saya tadi cuman nganterin Allysia ke bandara, saya pulang cuman mau ganti baju kantor” jawab William


“Mister ingin di buatkan apa?” tanya chef tersebut


“hmm saya ingin chef buatkan makanan yang berbeda dari yang saya bawa kemarin” jawab William


“baik Mister, ada ;agi Mister?” tanya chef tersebut


“oh tidak ada” jawab William


“tapi chef nanti langsung kasih ke supir saya saja” ucap William


“baik Mister” ucap chef tersebut


William lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada di lantai 2, sedangkan chef tersebut langsung membuatkan apa yang di pesan oleh William... Setelah selesai membuat makanan untuk William chef lalu menaruh 2 bekal makanan tersebut ke dalam sebuah paper bag


“chef itu buat siapa?” tanya Lisa yang tiba-tiba masuk ke dapur


Chef yang di tanya seperti itu hanya diam, ia takut kalau William marah sama dirinya karena mengungkapkan 2 bekal makan tersebut untuk William tetapi kalau ia tidak segera menjawab Lisa akan marah juga kepadanya


“Lisa kamu ngapain di sini?” tanya William yang juga datang tiba-tiba William sudah rapih dengan pakaian kantornya


“oh engga, tadi aku tanya sama chef dia naruh 2 bekal makanan ke dalam paper bag itu buat siapa” ucap Lisa lalu menatap ke arah chef yang sudah tidak ada di tempatnya chef tersebut karena chef tersebut harus buru-buru kasih paper bag tersebut ke supir William yang sudah menunggu di mobil


“yaudah kakak berangkat dulu ke kantor” pamit William lalu melangkahkan kaki menuju ke depan rumahnya yang sudah ada sang chef yang berdiri di samping mobilnya


“chef kalau anda di tanya lagi sama Lisa, chef bilang aja bekal makanan tersebut untuk supir saya sarapan” ucap William


“baik Mister” ucap chef tersebut


“yaudah kalau begitu saya berangkat ke kantor dulu” pamit William


\~\~\~\~\~


10.00


📍 J. Corporation


~Depan Ruangan William~


“kok tumben ya Mr. Johnson belum datang jam segini” gumam Alice sambil melihat jam tangannya


“pagi Alice” sapa William yang baru tiba di kantor


“pagi Mister” sapa balik Alice


“oh ya Alice nanti jangan lupa kita makan siang bersama” ucap William mengingatkan Alice


“baik Mister” ucap Alice


“yaudah saya ke ruangan saya dulu” ucap William lalu masuk ke dalam ruangannya


“tumben banget Mr. Johnson ngajakin makan siang bersama dari kemarin” gumam Alice heran dengan tingkah laku sang bos


\~\~\~\~\~


12.00


CEO Room


Tok...Tok...Tok *ketukan pintu*


“masuk” teriak William dari dalam ruangannya


“permisi pak” ucap Alice masuk ke dalam ruangannya William, Alice melihat William sudah ada duduk di sofa dan peralatan makanan juga sudah tersedia di atas meja depan William


“ayo El, kamu duduk di sini” ucap William sambil menepuk sofa di sampingnya untuk Alice duduki


Alice pun melangkahkan kaki menuju sofa tersebut lalu mendudukinya


“huft kebiasaan deh nih chef naruh daun bawang lagi” gumam William yang terdengar oleh Alice


“sini Mister saya yang akan mengeluarkan daun bawangnya dari bekal Mister” ucap Alice sambil mengulurkan tangannya lalu William mengasihkan bekal makanannya ke Alice


Alice pun mengeluarkan daun bawang tersebut lalu memindahkan daun bawangnya ke bekal makanannya


“kok di pindahkan ke bekal kamu? Kenapa engga di buang saja?” tanya William yang sedari tadi memperhatikan apa yang di lakukan Alice


“Mister sayang kalau di buang-buang daun bawangnya, mendingan buat saya saja” jawab Alice


“memangnya kamu suka banget sama daun bawang?” tanya William


“ya engga terlalu sih Mister, tapikan sayang kalau di buang para petani susah-susah menanam daun bawang ini kita malah membuangnya begitu saja” jelas Alice


William yang mendengar penjelasan Alice hanya tersenyum kecil


“nih Mister daun bawangnya sudah tidak ada” ucap Alice sambil mengasihkan bekal makanan milik William setelah memindahkan daun bawang tersebut ke bekal makanan miliknya


“selamat makan 🙏🏻” ucap Alice lalu mengambil alat-alat makan yang berada di sampingnya


William yang melihat hanya tersenyum dengan tingkah lakunya Alice yang menurutnya lucu


“selamat makan 🙏🏻” ucap William mengikiuti apa yang di lakukan Alice


~2 Minggu Kemudian~


19.00


📍 Johnson’s Home


William’s Bedroom


William selalu membawa bekal makan siang untuk dirinya dan Alice itu yang membuat mereka tambah dekat saja


Tak terasa masa magangnya Alice tinggal 1 bulan lagi itu yang membuat William bingung, kenapa bingung? Karena setelah Alice tidak magang di perusahaannya ia dan Alice tidak akan pernah bertemu kembali karena pasti Alice akan sibuk dengan kuliahnya sedangkan ia pasti sibuk dengan urusannya


Besok William harus ke luar negeri karena ada urusan pekerjaan


“gue lupa tadi ngajakin Alice buat besok” gumam William


“apa gue ngajakinnya sekarang, supaya biar ada waktu Alice siap-siap buat besok” gumam William lagi


William pun langsung berdiri lalu mengambil kunci mobilnya lalu melangkahkan kaki menuju pintu setelah itu ia keluar dari kamar


“kakak mau kemana?” tanya Lisa setelah melihat William melintas di depannya yang membawa kunci mobil


“ehm kakak keluar sebentar” ucap William lalu melangkahkan kaki menuju pintu utama


“ka” panggil Lisa menyusul sang kakak yang sudah di pintu


“ada apa sih Lisa? Kakak buru-buru nih” ucap William


“aku boleh engga kakak beliin aku makanan?” tanya Lisa


“makanan apa?” tanya William


“ya makanan semacam cemilan yang ada di supermarket” jawab Lisa


“itu mah namanya bukan makanan bilang aja kamu nitip di belikan cemilan” ucap William


“iya kan sama aja ka intinya tuh makanan” ucap Lisa


“udah itu aja? Engga ada yang lain?” tanya William


“sekalian belanja bulanan aja deh” jawab Lisa


“apa? Belanja bulanan? Kenapa engga kamu aja sama mbok?” tanya William


“yaelah ka, sekalian kakak kan mau keluar sedangkan aku harus jaga Disa sendirian kalau aku belanja bulanan kasihan Disa udah malam” ucap Lisa


“yaudah kakak yang beli deh” ucap William


“mana daftar belanjaannya?” tanya William


“tunggu sebentar, aku ambil dulu” jawab Lisa lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada di lantai 1


“ini daftar belanjaannya, awas ya ka kalau ada yang tertinggal” ucap Lisa sambil mengasihkan daftar belanja bulanan ke sang kakak


“yah kalau engga ada di supermarketnya gimana?” tanya William


“masa di supermarket engga ada sih barang-barang itu semua” ucap Lisa


“yaudah sana nanti kakak malah kemalaman lagi” usir Lisa


“hmm, yaudah kakak berangkat dulu” pamit William


William pun melangkahkan kaki menuju parkiran mobil


\~\~\~\~\~


19.45


📍 Alice’s Home


Tok...Tok...Tok *ketukan pintu*


“William” kaget Alice


“kamu ngapain ke sini?” tanya Alice


“aku cuman mau ngomong sebentar sama kamu, boleh?” tanya William


“iya boleh, kamu duduk situ dulu aku mau ngambil minuman buat kamu” ucap Alice sambil menunjuk kursi yang berada di sebelah kirinya


William pun duduk di kursi tersebut, setelah beberapa saat Alice keluar dengan membawa dua gelas berisikan air mineral dengan tampan


“maaf ya adanya air mineral aja” ucap Alice sambil menaruhkan gelas tersebut ke atas meja


“iya engga apa-apa kok” ucap William


“kamu mau ngomong apa?” tanya Alice


“kamu tau kan kalau besok aku akan ke luar negeri?” tanya William


“iya aku tau, memangnya kenapa?” tanya Alice


“hmm apa kamu engga bisa ikut aku ke sana?” tanya William


Alice yang ditanya seperti itu hanya diam, karena jujur ia bingung harus jawab apa


“ya kan aku udah kasih jawaban ke kamu pas di kantor tadi kalau aku bener-bener engga bisa” jawab Alice


“alasan kamu apa kalau kamu engga bisa ikut aku ke sana?” tanya William


“karena aku engga punya paspor” jawab Alice


“apa kamu engga punya paspor?” tanya William kaget


“iya aku engga punya paspor” ucap Alice


“loh kok bisa?” tanya William


“ya bisa aja, karena aku engga pernah terfikirkan untuk ke luar negeri” ucap Alice


“engga terfikirkan? Kan kalau kamu kerja suatu saat pasti kamu butuh yang namanya paspor” ucap William


“ya kan kalau aku cari kerja engga usah yang ke luar negeri” ucap Alice, William hanya menggelengkan kepalanya dengan ucapannya Alice


“yaudah kamu tunggu sebentar, aku mau ambil sesuatu dulu di mobil” ucap William lalu ngacir ke mobilnya, setelah itu William kembali lagi membawa sebuah amplop yang tidak terlalu besar


“ini buat kamu” ucap William lalu kasih amplop tersebut ke Alice


“buat aku? Emang isinya apa?” tanya Alice


“yaudah kamu buka aja nanti kamu bakalan tau isinya apa” jawab William


Alice pun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isi dari amplop tersebut yang ternyata...


“paspor? Paspor siapa ini?” tanya Alice ke William penasaran


“kamu baca aja identitas pemilik paspor itu” jawab William


Alice pun membaca identitas pemilik paspor tersebut


“kok identitasnya dengan nama aku” ucap Alice yang ternyata paspor itu milik Alice


“iya, karena nanti kalau kamu mau ke luar negeri jadi gampang deh kalau udah ada paspornya” ucap William sambil menyilangkan tangannya di dada


“jadi karena kamu udah ada paspor jadi kamu besok bisa ikut nemenin aku deh ketemu sama klien” ucap William


Alice membalas hanya dengan anggukan kepala


“yaudah sekarang kamu simpan paspor itu sama dua gelas ini habis itu kamu keluar lagi” perintah William


“mau ngapain?” tanya Alice


“udah kamu turutin aja omongan aku” jawab William


Alice pun mendengar omongan William menyimpan paspor tersebut lalu membereskan gelas-gelas yang tadi, setelah itu Alice pun keluar dari dalam rumahnya


“udah aku simpan, jadi kamu mau ngapain?” tanya Alice


“aku mau kamu temenin aku ke supermarket” jawab William


“ke supermarket mau ngapain?” tanya Alice


“aku di suruh sama adik aku buat belanja bulanan, karena aku engga ngerti barang-barang apa aja yang mau aku beli jadi aku ajak kamu aja deh sekalian” jawab William


“belanja bulanan?” tanya Alice sambil menahan tawanya


“iya, emangnya kenapa? Emangnya engga boleh apa kalau laki-laki yang belanja bulanan?” tanya William


“ya boleh-boleh aja” jawab Alice


“yaudah ayo kamu temenin aku buat belanja bulanan” ucap William


“sebentar dulu, aku mau ganti baju dulu sama mau ngecek keperluan aku takutnya udah pada habis” ucap Alice


“udah kamu engga usah ganti baju, kamu udah cantik ini” ceplos William


“cantik? William bilang aku cantik” ucap Alice dalam hati


“yaudah yuk nanti keburu malam” ucap William


“iya-iya ayo” ucap Alice lalu mengunci rumahnya karena di rumahnya engga ada orang


\~\~\~\~\~


20.30


📍 Supermarket


William dan Alice sudah berada di supermarket mereka membawa 2 troly karena menurut William daftar belanjaan yang di kasih Lisa banyak banget dan takutnya kalau mereka membawa 1 troly takutnya tidak cukup


“jadi apa yang mau kita beli terlebih dahulu?” tanya Alice ke William, lalu William membuka kertas yang merupakan daftar belanjaannya


“coba nih kamu baca dulu, terus kita beli dari yang terdekat dulu” jawab William


“yaudah” ucap Alice lalu membaca daftar belanjaan tersebut dengan teliti


Mereka pun mulai berbelanja yang ada di daftar belanjaan tersebut dan juga membeli apa saja yang mereka butuhkan untuk besok selama mereka di luar negeri


Setelah mereka berbelanja, mereka mulai melangkahkan kaki menuju kasir yang tidak terlalu mengantri... Kasir supermarket tersebut pun mulai mengetap barang-barang tersebut satu persatu


“totalnya jadi 150 ribu yuan” ucap kasir tersebut setelah melihat harga yang ada di komputer tersebut


“mau bayar pakai cash atau kartu?” tanya kasir tersebut


“pakai kartu ini” ucap William lalu mengasihkan kartu kreditnya, kasir tersebut pun menerima kartu tersebut dan mulai menggesekkan kartu tersebut ke alatnya


“Will, barang-barang aku biar aku aja yang bayar” ucap Alice


“engga usah nanti ribet lagi kalau di pisah-pisah lagi, biarin aja sekali-kali aku bayarin belanjaan kamu” ucap William sambil menatap ke arah Alice


“tapi Will....” ucap Alice


“udah engga apa-apa” ucap William


“mau pakai tanda tangan atau pin?” tanya kasir tersebut


“pin saja” jawab William


“baiklah, silahkan masukkan pinnya” ucap kasir tersebut


Setelah membayar mereka, barang-barang belanjaan mereka yang sudah terbungkus plastik di masukkan ke troly kembali karena biar engga ribet untuk di tenteng menuju ke parkiran mobil yang lumayan agak jauh dari sana


\~\~\~\~\~


22.15


~Depan Rumah Alice~


🚗 William’s Car


“terima kasih ya kamu udah mau nemenin aku ke supermarket” ucap William


“iya sama-sama” ucap Alice


“hmm aku juga mau terima kasih sama kamu udah bayarin belanjaan aku tadi nanti aku gantian deh bayarin belanjaan kamu” lanjut Alice


“kan aku yang mau bayarin belanjaan kamu tadi jadi kamu engga usah balas apapun ke aku” ucap William


“kan aku harus tetap balas budi kamu Will” ucap Alice


“kamu hanya balas budi ke aku yaitu dengan cara kamu harus selalu ada di samping sampai kapanpun” ucap William itu membuat muka Alice merah seketika


“hmm aku turun dulu udah malam juga” ucap Alice lalu turun dari mobil William sambil membawa belanjaannya


Setelah melihat Alice sudah masuk kedalam rumahnya William pun melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Alice


📍 Alice’s Home


Dinning Room


“maksud tadi si William apa ya” ucap Alice dalam hati yang sedang duduk di kursi meja makan


“huh udah engga usah mikirin kata-kata William lebih baik aku masukin belanjaan ini lalu beresin deh buat besok” ucap Alice pelan


Alice pun membereskan belanjaanya setelah itu ia melangkahkan kaki menuju kamarnya


~Bersambung~


Jangan lupa Like and Comment, karena Like dan Comment kalian sangat berarti bagi penulis supaya penulis bisa semangat untuk menulis cerita ini... Penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca.


Thanks ^^