
“tapi tadi gue tanya ke office girl kalau toiletnya baik-baik aja” ucap William
“gue takut dia bakalan ada di dalam toilet itu” lanjut William cemas
Tok...Tok...Tok *ketukan pintu* William melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya bersama Revan lalu William membuka pintunya dan ternyata yang mengetuk pintunya adalah office girl yang tadi mengangkat panggilannya
“permisi Mr. Johnson, Mr. Boughton” sapa office girl tersebut
“saya membawa kunci yang anda minta Mister” ucap og yang bernama Luna
“yaudah kita ke toilet perempuannya sekarang aja” ucap William lalu melangkahkan kakinya menuju toilet perempuan yang berada di lantai 25 bersama Revan dan Luna (Office Girl)
“kamu buka nih pintu” ucap William ke Luna sesampainya di depan pintu toilet tersebut
Seketika pintunya di buka mereka menemukan Alice yang sudah sadarkan diri di belakang pintu dengan keringat yang begitu banyak di jidatnya
“ya tuhan, Alice bangun” ucap William sambil menggoyang-goyangkan badan Alice mencoba menyadarkan Alice
“Will lebih baik kita bawa Alice langsung di bawa ke rumah sakit saja” ucap Revan yang ada di belakangnya
“yaudah yuk” ucap William lalu menggendong Alice menuju ke lift khusus petinggi bersama Revan dan meninggalkan Luna sendirian
“itu siapanya Mr. Johnson ya kok Mr. Johnson sampe panik begitu” ucap Luna dalam hati
🚗 Revan’s Car
“tenang Will, Alice pasti akan sadar” ucap Revan yang sedang mengemudi melihat William yang ada di jok belakang bersama Alice yang tidak sadarkan diri melalui spion
William yang mendengar ucapan Revan langsung diam berusaha tenang sambil memegang telapak tangan Alice yang begitu dingin
📍 Zhongshan Hospital
“suster tolong” ucap William sambil menggendong Alice dengan bridal style
“iya tuan silahkan anda tidurkan pacar anda di kasur ini dengan pelan-pelan” ucap suster yang sudah datang membawa brankar
“baik suster” ucap William lalu menidurkan Alice dengan pelan-pelan lalu mereka segera mendorong brankar menuju ruang UGD
“tolong tuan tunggu sebentar saja disini kami akan memberikan penanganan terlebih dahulu kepada pacar anda” ucap suster tersebut sambil menahan William
“tapi sus ....” ucap William
“anda doakan semoga pacar anda tidak kenapa-napa” ucap suster tersebut lalu pergi meninggalkan William di depan ruang UGD
Revan pun datang lalu duduk di samping William di ruang tunggu
“lu doakan Alice semoga dia baik-baik saja” ucap Revan sambil mengusap pundak William
“tapi Van gue udah janji sama diri gue sendiri kalau gue akan jagain Alice dengan baik tapi kenapa ada insiden seperti ini” ucap William menundukkan kepalanya
“sudahlah ini sudah takdir tuhan, lu berdoa sama tuhan semoga Alice tidak apa-apa” ucap Revan
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat kejadian Alice di bawa ke rumah sakit sampai masuk ke ruang UGD
“huft ternyata tuh perempuan belum mati” ucap seorang perempuan
“engga becus banget sih Rani ngebunuh perempuan satu aja engga bisa” lanjut ucapan perempuan tersebut lalu meninggalkan perkarangan rumah sakit
Setelah selama 2 jam-an Alice di periksa oleh tim dokter rumah sakit, akhirnya dokter pun keluar
“Alice tidak apa-apa kan dok?” tanya William yang langsung menghampiri dokter
“nona Alice tidak apa-apa tuan, tapi sepertinya dengan kejadian yang dialami nona Alice ia sebelumnya pernah mengalami trauma” ucap dokter ke William
“trauma bagaimana maksud dokter?” tanya William
“ia trauma dengan kegelapan, mangkanya ia seperti orang ketakutan setelah sadar tadi di dalam” jawab dokter
“saya tidak tau tentang traumanya Alice sebelumnya” ucap William
“baiklah kalau begitu, saya akan memindahkan nona Alice ke kamar tapi sebelumnya tuan bisa mengurus administrasinya terlebih dahulu di kasir” ucap dokter
“baik dok” ucap William lalu dokter itu pun pergi dari hadapan William
William kembali ke kursinya yang di sampingnya masih ada Revan
“gue bayar administrasinya Alice dulu ya” ucap William lalu pergi dari hadapan Revan
“eits gue ikut lu deh” ucap Revan lalu menyusul William
Setelah membayar administrasi Alice, Alice segera di pindahkan ke ruang rawat VVIP yang ada di rumah sakit
William dan Revan menunggu di luar kamar rawat saja, karena tidak ingin menganggu istirahat Alice
“bagaimana keadaannya Alice?” tanya Revan
“dia baik-baik saja” ucap William lesu
“kalo Alice baik-baik aja, kenapa lu lesu begitu?” tanya Revan
“Alice sebelum insiden ini dia pasti sebelumnya pernah mengalami trauma” jawab William
“trauma? Trauma apa?” tanya Revan penasaran
“dia trauma dengan kegelapan” jawab William
“ya tuhan” ucap Revan kaget
“lalu bagaimana psikis Alice?” tanya Revan
“gue kurang tau tadi dokter tidak memberitahukan” ucap William
“yaudah lu berdoa saja semoga setelah kejadian ini psikis Alice tidak apa-apa” ucap Revan
“yaudah lu disini jaga Alice aja, gue akan balik ke perusahaan mengecheck siapa yang ada di balik insiden ini” ucap Revan, William membalas dengan anggukan lalu Revan meninggalkan William di ruang tunggu sendirian
Kamar Rawat Alice
William memasuki kamar rawat Alice, dan disana Alice masih belum sadarkan diri dengan muka yang masih pucat sama seperti sebelumnya
“Alice maafkan saya, saya tidak bisa menjaga kamu dengan baik” ucap William dalam hati tiba-tiba saja mata Alice mulai perlahan terbuka
“Mr. Johnson” ucap Alice pelan lalu William menengok ke arah Alice yang sudah sadar
“Alice kamu sudah sadar, saya panggilkan dokter dulu” ucap William lalu pergi meninggalkan Alice
Lalu William datang bersama seorang dokter dan suster di belakangnya, William keluar terlebih dahulu karena Alice harus di periksa terlebih dahulu
Setelah beberapa menit dokter dan suster memeriksa keadaan Alice, William sesegara menghapiri sang dokter
“dok bagaimana keadaan Alice?” tanya William
“pasien sudah tidak apa-apa, tetapi saran saya anda jangan kasih pertanyaan tentang insiden yang di alami oleh pasien takutnya psikis pasien akan terganggu dengan mengingat kejadian tersebut” jelas dokter
“saya mengerti dok” ucap William
“saya permisi dulu” pamit dokter lalu meninggalkan William sendirian di depan ruangan Alice
Kamar Rawat Alice
William pun masuk ke kamar rawat Alice, dan disana Alice sedang duduk di atas ranjang rawatnya sambil melihat ke arah jendela
“Alice” panggil William, tetapi Alice masih bengong tidak menanggapi panggilan William lalu William menyentuh pundak Alice supaya Alice tersadar dengan kehadirannya
“iya Mr. Johnson” jawab Alice yang sudah tersadar dengan sentuhan William yang berada di pundaknya
“kamu kenapa?” tanya William
“saya bingung Mister kenapa saya ada disini?” tanya Alice balik
“memangnya kamu tidak mengingat sebelum saya bawa kamu ke rumah sakit?” tanya William dan hanya dibalas Alice dengan gelengan kepala
William yang melihat itu merasa heran berarti Alice tidak mengingat siapa yang melakukan ini semua kepadanya
“sebelumnya kamu makan siang dimana?” tanya William
“saya makan siang di salah satu restoran baru di dekat kantor” jawab Alice
“sama siapa kalau saya boleh tau?” tanya William lagi
“hmm saya tidak mengingat namanya Mister” jawab Alice
William yang mendengar jawaban hanya menghelas nafas lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang Alice
“kenapa ya aku bisa ada disini” tanya Alice dalam hati dengan heran
“yaudah kalau begitu kamu istirahat saja, tidak usah di fikirkan kenapa kamu masih ada disini” ucap William membuat Alice tertegun
“kenapa ya Mr. Johnson tau apa yang aku fikirkan apa dia bisa baca fikiran orang lain” ucap Alice dalam hati
“saya kan sudah bilang sama kamu, jangan memikirkan apapun sekarang kamu istirahat saja soalnya sudah malam” ucap William sambil membenarkan selimut Alice
“cantik” gumam William tidak sadar
Tok...Tok...Tok *ketuk pintu* yang ternyata Revan yang mengetuk kamar rawat Alice lalu masuk
“gimana keadaan Alice?” tanya Revan sambil menghampiri William yang sedang duduk di kursi samping ranjang
“dia baik-baik aja” jawab William yang masih memandangi Alice
“lalu apa lu udah tanya ke dia siapa yang melakukan ini semua?” tanya Revan
“udah, tapi dia engga mengingat siapa orangnya” jawab William
“kok bisa dia engga ingat siapa orangnya” ucap Revan
“kata dokter mungkin ini bisa jadi psikisnya Alice masih trauma bisa jadi ia melupakan orangnya” jawab William dengan tenang
Revan yang mendengar William hanya diam saja sambil memikirkan sesuatu
“gimana lu udah tau siapa yang melakukan ini semua ke Alice?” tanya William
“udah” jawab Revan lalu memberikan sebuah tab ke William
“gimana menurut lu?” tanya Revan
“gue udah duga kalau pelakunya dia” jawab William
“tapi gue bingung kenapa dia ngelakuin ini semua kalau dia cuman iri sama Alice” ucap Revan dengan heran
“atau jangan-jangan dia di suruh sama seseorang buat mencelakakan Alice” ucap Revan membuat William membeku
Ring...Ring...Ring *suara telfon masuk* yang berasal dari handphonenya Alice
William pun mencari letak handphonenya Alice lalu mengambilnya yang ternyata telfon masuk dari Laura
📞 WILLIAM “halo”
📞 LAURA “loh kok yang angkat cowok, yang punya handphone ini mana?”
📞 WILLIAM “Alice nya lagi istirahat”
📞 LAURA “lalu ini siapa?”
📞 WILLIAM “ini saya William Johnson”
📞 LAURA “oh Mr. Johnson maafkan saya, saya tidak mengenali suara anda”
📞 LAURA “lalu Alicenya kemana ya Mr. Johnson?”
📞 WILLIAM “Alice sedang istirahat, ia di rawat di Zhongshan Hospital”
📞 LAURA “apa di rawat? Memangnya Alice kenapa?”
📞 WILLIAM “kamu datang saja ke sini, nanti ada yang jemput kamu”
William menutup sambungan telfonnya
Beberapa menit kemudian
*ceklek* Laura sudah tiba di rumah sakit dan memasuki kamar rawat Alice dan ia melihat Alice sedang tidur ditemani William yang berada di samping Alice
“Mr. Johnson kenapa Alice bisa berada disini?” tanya Laura
“Alice mengalami insiden di perusahaan saya” jawab William
“kok bisa Mister?” tanya Laura
“ada karyawan saya yang mempunyai kesalahpahaman dengan Alice” ucap William sambil memandangi Alice yang sedang tertidur
“ya tuhan, Alice kenapa nasib kamu harus seperti ini” ucap Laura pelan sambil mengusap rambut Alice
“saya minta tolong sama kamu, tolong jangan kasih tau keluarga Alice kalau ia ada di sini bilang saja Alice sedang ada event dari kantor” pinta William
“baik Mister” ucap Laura
“yaudah kamu disini jaga Alice saya dan Revan harus pergi keluar ada urusan” pamit William
“baik Mister” ucap Laura sambil membungkukan badannya seperti memberi salam
William dan Revan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar rawat Alice
\~\~\~\~\~
Sudah selama beberapa hari Alice di rawat di rumah sakit di temani Laura dan Revan semenjak malam itu William tidak pernah datang untuk menjaganya atau sekedar menjenguknya membuat Alice heran
“kenapa ya Mr. Johnson tidak pernah kemari lagi buat jenguk saya, padahal setiap hari sahabatnya setiap hari menjenguk saya” ucap Alice dalam hati
Tok...Tok...Tok *ketuk pintu* yang ternyata Dokter yang mengetuk kamar rawat Alice lalu masuk bersama Perawat
“selamat pagi Ms. Keneisha” sapa Dokter yang bernama Lucas yang setiap hari memeriksa rutin kesehatan Alice
“pagi dok” sapa Alice balik
Dokter Lucas memeriksa Alice yang di temani Perawat, sedangkan Laura sendiri sedang memperhatikan Dokter Lucas dan Perawat memeriksa temannya itu
“bagaimana dok keadaan teman saya?” tanya Laura setelah Dokter Lucas dan Perawat memeriksa keadaannya Alice
“Ms. Keneisha sudah lebih membaik dari hari sebelumnya, jadi Ms. Keneisha bisa pulang nanti siang” jelas Dokter Lucas
“terima kasih dok” ucap Laura
“kalo tidak ada keperluan lagi saya pamit harus memeriksa pasien yang lain” pamit Dokter Lucas
“baik dok” ucap Laura lalu membungkukkan badannya lalu menghampiri Alice yang sedang duduk bersandar di ranjangnya
“huft akhirnya aku sudah dibolehkan pulang” ucap Alice seperti tidak senang
“seharusnya kamu senang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter tapi kenapa lesu begitu?” tanya Laura
“kata siapa lesu aku senang kok, akhirnya aku bisa pulang” ucap Alice sambil melihat ke arah lain
“ah aku tau kenapa kamu engga senang” ucap Laura
“kamu pasti mikirin Mr. Johnson kan? Apa Mr. Johnson akan jemput kamu atau engga? Kan selama ini Mr. Johnson engga pernah kemari” lanjut Laura
“idih siapa juga yang mengharapkan Mr. Johnson jemput aku, ngarang aja deh kamu” ucap Alice sedikit teriak karena kesal di ledek oleh Laura
“sudahlah engga usah malu-malu begitu” ledek Laura
“udah ah Lau aku kesal di ledekin sama kamu” ucap Alice lalu membaringkan badannya menghadap jendela
\~\~\~\~\~
Akhirnya Alice sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tetapi Alice merasa agak sedih karena Mr. Johnson ternyata tidak menjemputnya
“yaudah kamu tunggu disini dulu sebentar, aku mau ke administrasi dulu lalu ke apotik” ucap Laura di balas anggukan oleh Alice lalu Laura pergi meninggalkan Alice sendiri yang sedang duduk di kursi ruang tunggu dekat pintu keluar rumah sakit
“ternyata kamu sudah keluar dari rumah sakit Alice” ucap seorang perempuan yang memperhatikan gerak-gerik Alice dari kejauhan
“lihat saja nanti Alice Keneisha kamu akan tau akibatnya setelah apa yang udah kamu perbuat ke aku” lanjut perempuan tersebut lalu pergi meninggalkan tempatnya
~tempat Alice~
“ayo El” ajak Laura ke Alice setelah mengurusi urusannya yang telah selesai
“oh iya ayo” ucap Alice lalu berdiri
Alice dan Laura melangkahkan kaki menuju tempat parkir
🚗 Laura’s Car
“El” panggil Laura
“iya, kenapa Lau?”
“kamu kenapa sih daritadi diam saja?” tanya Laura
“oh aku engga apa-apa kok” jawab Alice
“kamu pasti mikirin Mr. Johnson kenapa beliau tidak pernah datang menjenguk kamu?” tanya Laura lalu Alice hanya diam saja
“Mr. Johnson ada urusan sebentar di perusahaannya, jadi kamu engga usah sedih begitu” ucap Laura supaya memberikan penjelasan ke Alice
“hmm” gumam Alice lalu menolehkan kepalanya ke arah jendela mobil
~Bersambung~
jangan lupa Like and Comment, karena Like dan Comment kalian sangat berarti bagi penulis supaya penulis bisa semangat untuk menulis cerita ini... penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca
cerita ini penulis hanya mendapatkan INSPIRASI dari china drama dengan judul yang sama tetapi untuk beberapa chapter ke depannya atau sebelumnya mungkin ada yang sama dari china drama tersebut jadi tolong penulis hanya dapat INSPIRASI dari china drama tersebut...