
Setelah selesai menumpuk semua katak raksasa yang mati, aku, dan Kazuma dan party- nya, yang juga telah selesai, pergi ke guild petualangan untuk melaporkan tentang quest nya.
Di tempat resepsionis, aku menunjukkan kartu petualangan ku kepada Onee-san pirang untuk mengetahui berapa banyak yang aku bunuh.
Salah satu fungsi kartu petualangan adalah mengetahui apa dan beberapa monster yang kau bunuh. Dengan fungsi seperti itu, maka tidak ada lagi ada kebohongan, dan itu juga mempermudah Guild untuk memberikan imbalan kepada petualangan.
"Empat puluh! Itu jumlah yang sangat banyak untuk waktu yang singkat! Peningkatan level anda juga sangat cepat! Hanya dalam dua jam, level anda sudah mencapai level sepuluh! Anda benar-benar sangat hebat seperti pahlawan, tidak, mungkin anda adalah pahlawan yang akan mengalahkan raja iblis di masa depan."
Onee-san itu berbicara dengan semangat. Wajahnya penuh harapan, dan matanya seperti melihat pahlawan kearah diriku.
Maaf Onee-san, harapan mu sia-sia. Aku melakukan ini bukan untuk menjadi pahlawan, tetapi untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku menangis dalam benakku.
"O-oh, B-begitukah? Aku berterimakasih, tapi, apakah guild benar-benar akan membeli semua katak raksasa itu?"
"Tentu saja, guild akan membeli semuanya. Itu juga akan menjadi bahan pokok makanan di sini."
Onee-san itu menepuk dada nya, dan dadanya berguncang dengan tak terkendali. Berapa kali pun aku melihatnya, punya Onee-san itu tetap luar biasa.
"Tunggu sebentar, ada yang aneh." Kata Kazuma, yang terus diam dari tadi. "Bukankah job yang tinggi akan sulit untuk menaikkan levelnya? Tapi kenapa Araragi sangat cepat untuk naik level? Aku, yang memiliki job terendah bahkan sangat sulit untuk naik level!"
"Y-yah, untuk itu, aku juga tidak tau. Tapi untuk mendapatkan XP yang tinggi, itu perlu melakukan serangan terakhir dari monster yang dikalahkan." Kata Onee-san itu menjelaskan.
"Araragi-san. Karena kita satu party, jadi penghasilannya akan dibagi rata 'kan?"
Aqua tiba-tiba menghampiriku dengan tersenyum, tapi sebelum aku menjawab, dia dengan cepat ditarik Kazuma.
"Oi, Dewi Trik Pesta, jangan membuatku malu! Kau ingin bagian mu, yang tidak melakukan apapun kecuali menjadi umpan untuk mengulur waktu? Yang benar saja! Jangan membuatku malu lebih dari ini! Araragi, jangan dengarkan dengan dia, imbalan itu semuanya milikmu."
"Ya, Kazuma benar, Aqua." Megumin entah kenapa memalingkan wajahnya. "Kami para iblis merah tidak akan tahu malu seperti itu..."
Kazuma menatap kosong ke arah Megumin, yang membuat suaranya semakin mengecil hingga terdiam.
Melihat tingkah mereka yang konyol seperti di anime membuatku tertawa. Jika aku satu party dengan mereka, beberapa hari kedepannya mungkin akan menyenangkan.
"Tidak apa-apa. Bagikan saja secara merata, tapi biarkan aku bergabung dengan party."
"Apa kau yakin? Kau tahu bagaimana party kami sebenernya kan?" Tanya Kazuma.
Aku memberikan jempol kepadanya. "Tidak masalah."
"Itu pilihan yang tepat. Dengan adanya pahlawan asli dan Dewi yang membimbingnya, party ini pasti akan mengalahkan raja iblis! Sekarang, ayo berpesta!"
"Oi, apa yang kau maksud pahlawan palsu?!"
Tepat setelah itu, kami berpesta dengan meriah bersama dengan petualang lainnya hingga pagi tanpa peduli hari esok.
....
Pagi hari.
Di guild petualangan, para petualang tepar atau tertidur secara acak, seperti tertidur di atas meja ataupun di lantai. Karena pesta malam itu, semua pendapatan kami habis tidak ada yang tersisa.
Aku duduk di salah satu meja di pojok dengan segelas minuman yang mengandung neroid. Entah apa itu Neroid, tapi rasanya cukup pas di mulutku.
Kemudian, Onee-san resepsionis dan petugas Guild lainnya datang, dan kemudian menghela nafas saat melihat situasi ini.
Lalu, mereka membangunkan para petualang yang tertidur dan segera mengusirnya karena pasti ada beberapa petualang yang berakhir muntah, terutama petualang pemula.
"Yo, Onee-san. Sepertinya berat, ya." Kata ku, saat aku menggoyangkan gelas di tanganku. Untuk melakukan ini setiap hari... mereka benar-benar bekerja keras.
"Ini sangat berat." Onee-san itu menghela nafas. "Kadang-kadang kami harus membersihkan kotoran saat petualang kembali dari quest mereka, mengurus ini itu, dan yang terpenting, kami perempuan tidak punya waktu untuk mencari pacar."
Ketika Onee-san itu mengatakan 'pacar', entah perasaan ku atau bukan, matanya melirik tajam sekilas ke arahku.
Aku sedikit tertegun. "B-begitukah? Pasti itu merepotkan, ya. Tapi kenapa tidak berhenti saja, bukankah itu lebih bagus?"
"Tidak bisa." Onee-san itu tersenyum lemah. "Aku pikir ini sudah menjadi tugasku untuk mengatur para petualang yang ada di koto ini, dan kemudian membuat mereka menjadi cukup kuat untuk membantu negara ini melawan pasukan raja iblis."
"Dedikasi yang bagus." Aku menyesap minuman Neroid itu dan menelannya sampai habis. "Aku harap kau baik-baik saja untuk kedepannya, Onee-san."
Menghentakkan gelas ke meja dengan puas, aku berdiri, mengambil Kazuma dan lainnya, lalu meletakkan mereka ke atas pundak ku, dan kemudian aku melambaikan tanganku ke Onee-san itu sebelum pergi, meninggalkannya yang tercengang saat melihatnya.
Karena ingatanku sangat kuat, aku dapat mengingat jalan ke mansion Kazuma meskipun jalannya cukup kompleks.
Karena ini cukup pagi, orang-orang tidak banyak di jalanan. Melewati udara pagi yang segar, segera aku tiba di depan mansion Kazuma.
Masuk, aku meletakkan mereka di lantai. Kami cukup kotor karena tidak pulang dan mandi, jadi aku pikir meletakkan mereka di lantai adalah pilihan bagus untuk tidak mengotori sofa.
Setelah itu, aku mencari tempat kamar mandi untuk membasuh badanku. Meskipun tidak ada keringat ataupun kotoran di bajuku, aku tetap ingin mandi. Mandi itu wajib dua kali sehari meskipun hari itu dingin ataupun panas! Tidak ada halangan!
Setelah beberapa ruangan, akhirnya aku menemukan kamar mandi. Masuk ke kamar mandi, aku melepaskan pakaian ku di ruang ganti, lalu masuk dan menyalakan air panas dengan menyalurkan 'mana'.
Berikutnya, aku merasakan ada sesuatu yang menarik dari ujung jariku, rasanya ada yang hilang sebelum kembali sepenuhnya.
Meskipun aku belum terbiasa dengan energi yang di sebut 'mana' ini, tapi jika hanya menyalurkan, aku dapat melakukannya dengan mudah.
Percikan! Percikan!
Aku mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan santai, membuat seluruh tubuhku tidak tegang dan rileks.
"Sangat bagus."
Meskipun tubuhku tidak masalah dengan tidak tidur, aku masih membutuhkan tidur dan istirahat. Dengan rasa tenang dan sepi, rasanya mataku semakin berat, dan bertambah berat setiap detiknya. Lalu tanpa aku sadari, aku tertidur di bak mandi.
...
.......
...........
-Gelap
*Berderit!*
Entah berapa lama aku tertidur, aku mendengar pintu terbuka meskipun terdengar kecil. Karena inderaku yang meningkat, aku dapat memperkirakan pintu itu didorong pelan dengan diikuti langkah kaki yang ringan.
*Tap tap tap*
Membuka mataku, aku melihat gambaran buram seorang gadis yang berdiri di depan pintu. Karena efek dari baru bangun, aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi meski begitu aku dapat mengetahui siapa yang masuk itu.
"Oh, Darkness..."
Saat aku membuka mataku sepenuhnya, aku melihat Darkness menjatuhkan handuknya, yang membuat seluruh tubuhnya yang semok terpampang tanpa sehelai kain sedikitpun.
"Ap-"
"Sebaiknya kau jangan berteriak, atau kau akan dipanggil Darkness cabul atau panggilan mesum semacamnya."
Saat aku bicara, aku tidak mengalihkan pandanganku ke tubuhnya, malahan sebaiknya, aku menatapnya dengan intens.
Melihat tatapanku, Darkness menyadari dirinya tidak memiliki sedikit kain yang menutupi tubuhnya, dia segera terjatuh dengan pantat selagi menutupi area sensitifnya dengan tangannya.
"A-araragi-san, bisakah kau memalingkan wajah mu?"
"Tidak." Jawabku dengan tegas. "Leherku pegal dan tidak bisa bergerak."
Rasa malu Darkness sampai ke ubun-ubun nya, yang membuat seluruh wajahnya memerah dengan air matanya yang menggantung.
"Kau berbohong! Sebelumnya Kazuma, sekarang kau! Kenapa harus aku? Aku tidak bisa lagi menikah!"
"Hey Darkness, tenanglah. Apa yang perlu kau ributkan tentang hal kecil semacam ini?"
"Melihat tubuh gadis perawan bukan hal yang kecil! Jika kau melihatnya, kau harus segera meminta maaf!"
"Kau tahu, aku pemegang kesetaraan gender. Jika aku ingin, aku bisa berteriak sekarang, oke? Tapi jika kau tidak ingin itu terjadi, kau harus..." Aku men-jeda kalimatku dan tersenyum.
"A-aku harus apa?" Sepertinya aku membuatnya sedikit bersemangat. Apaan dah cewek masokis ini.
"... Kau harus menjadi sandaran ku."
"Sandaran seperti apa maksudnya?" Nafas Darkness semakin terangah-engah. Aku sedikit tertegun saat melihatnya.
"Ugh, Aku tidak percaya ternyata kau seperti ini... B-baiklah, kau dapat melakukan apapun pada tubuhku, tapi tidak dengan hatiku!"
Melilitkan handuknya kembali, Darkness dengan wajah merah perlahan turun dan masuk ke bak mandi, lalu duduk di sampingku yang membuat wajahnya semakin merah.
Aku menyipitkan mataku ke arahnya.
"Lepaskan."
"Apa?"
"Lepaskan handuk mu."
"Ugh, bagaimana bisa aku berada di bawah cengkeramannya."
Meskipun mulutnya mengeluarkan kata seperti itu, tetapi wajahnya terlihat seperti mengantisipasi hal berikutnya.
Darkness menutup matanya, dia menarik handuknya dengan perlahan, dan membiarkan dirinya telanjang sepenuhnya di sebelahku.
Aku dapat melihat lemaknya di atas air. Dua bukit yang indah. Menggeser badanku, aku duduk di depan Darkness, Lalu menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Jangan bergerak dan biarkan aku tidur."
"Eh, itu saja?" Suaranya terdengar kecewa tetapi juga disaat bersamaan lega.
"Ya Apa yang kau harapkan." Aku memejamkan mataku dengan perasaan empuk di belakang kepalaku.
Aku dilahirkan hanya untuk ini!!!