
"Hah... Akhirnya selesai."
Aku menjatuhkan diri ku ke sofa saat orang tua ku pergi ke luar untuk bekerja. Setelah satu jam, akhirnya aku bisa lolos dari ibuku.
"Syukurlah mereka tidak terlalu banyak bertanya."
Pembicaraan kami hanya dimana Aku selama enam hari ini. Tidak ada kabar dan pesan dari ku, dan itu yang membuat mereka khawatir.
Saat ibuku bertanya tentang itu, Aku hanya menjawab dengan alasan acak. Yaitu menginap di rumah teman. Meskipun asal-asalan, apa yang Aku katakan adalah setelah benar. Aku menginap di rumah Kazuma, tapi bukan di dunia ini.
"Apapun itu, Aku berhasil melewatinya." Aku menggaruk kepalaku. Lalu Aku bangun dan berjalan ke kamar mandi. Aku merasa tidak nyaman. Badanku terasa tidak enak karena belum mandi semalam.
Masuk ke kamar mandi, Aku melepaskan semua pakaianku ke dalam mesin cuci. Lalu Aku berdiri di depan cermin. Aku melihat dari bawah ke atas, dan kemudian mengangguk.
"Sebenarnya Aku tidak ingin mengatakan ini, Tapi," Aku mencubit daguku dan melakukan berbagai pose. "Aku benar-benar tampan, bukan?"
Kulit mulus tanpa jerawat, rambut hitam sepanjang punggung, dan tubuh langsing tapi berotot, bukankah Aku terlihat sangat berbeda jauh dari Araragi Kiyomi? Efek air keabadian terlalu hebat!
"Onii-chan?"
Mendengar itu, tubuhku membeku. Saat Aku menoleh, Aku melihat Karen dan Tsukihi masuk. Tatapan kami bertemu, dan mereka terdiam saat melihat ke arah ku.
Lalu,
"Kya!!!" Teriakan bergema di kamar mandi.
Kau pikir Siapa yang berteriak itu?
"Onii-chan, berhenti berteriak! Dan kenapa kau yang berteriak, seharusnya kami yang melakukannya!"
"T-tunggu, sebelum itu, tutup bagian bawah mu, Nii-san."
Benar. Yang mengeluarkan suara memalukan itu adalah Boku (Aku).
"Oh, ternyata Karen-chan dan Tsukihi-chan." Aku merubah ekspresi ku dengan cepat, lalu Aku melipat tanganku tanpa mengenakan apapun. "Aku yang pertama, kalian pergi dan tunggu Aku selesai."
Setelah mengatakan itu, Aku berbalik dan berjalan ke bak mandi. Berendam, Aku menoleh dan melihat mereka. Mereka diam. Jadi, Aku pikir mereka akan pergi, tapi tidak sesuai dugaan ku, mereka melepas semua pakaian mereka dan masuk ke dalam bak mandi, dan bergabung denganku.
Aku mengangkat bahuku. Apa yang Aku khawatirkan? Mereka adalah adik-adik ku dan keluarga ku.
Bak mandi menjadi sangat sempit karena mereka berdua. Aku menyandarkan punggungku dan melihat ke arah mereka. Tubuh mereka berkembang daripada dua tahun lalu, terutama untuk Karen.
"Karen, biarkan Aku menyentuh dada mu."
"Hah? Apa yang Nii-san katakan?! Meminta hal semacam itu kepada adiknya seperti tidak ada yang salah..." Karen berakhir terdiam dengan wajahnya yang memerah.
"Yah, Aku pikir Aku akan merasakan sesuatu saat menyentuh Karen, tapi sepertinya tidak." Aku menggeleng kepalaku. "Kekhawatiran yang sia-sia."
"Lalu apa yang tegak samar-samar di bawah air itu?!"
"Tidak ada. Hanya sedikit trik sihir."
"Onii-chan bodoh!" Tsukihi memeluk Karen sambil menatapku dengan marah. "Tidak ada kakak laki-laki menanyakan hal itu kepada adik perempuannya! Aku pikir Onii-chan perlu ke rumah sakit untuk memeriksa kepalamu!"
"Ada apa dengan mu, Tsukihi-chan? Jika kau iri, katakan saja. Onii-chan mu ini telah berlatih menggunakan kedua tangan secara bersamaan. Jadi tidak ada masalah saat melakukannya dengan kalian berdua."
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mati sana!"
"Oi, Oi, tidak baik mengutuk kakakmu."
"Bodo amat!" Karen membuka mulutnya ke arahku. Saat melihat itu, Aku mengangkat tanganku, dan membiarkannya menggigit di lenganku.
"Tidak ada gunanya kucing kecil." Aku bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun saat Tsukihi menggigit lenganku. "Bahkan pisau pun tidak akan menggores kulitku."
"Begitu kah? Bagaimana jika Aku yang mencobanya? Jika itu Onii-chan, aku pikir akan baik-baik saja seperti yang Onii-chan katakan."
"Tidak," Aku mendorong Tsukihi dengan sangat pelan untuk melepaskan ku. "Kau tidak perlu melakukannya."
"Hehehe, tunggu sebentar, Aku akan mengambil pisau di dapur."
"Tu- Ada yang salah dengan Tsukihi-chan! Kau bukan adikku! Katakan, dimana kau menyembunyikan Tsukihi-chan yang asli?!"
"Ahaha! syukurlah kau tidak banyak berubah Nii-san!" Karen tertawa saat melihat kami bertengkar. Aku dan Tsukihi saling menatap, lalu kami ikut tertawa bersamanya.
Setelah beberapa saat, Aku meminta salah satu diantara mereka berdua untuk membasuh rambutku.
"Oh ya, Nii-san. Apakah kau tidak ingin memotong rambutmu ini?" Karen menuangkan shampo ke kepalaku. Kemudian, dia dan Tsukihi membilas rambut ku, saat kepalaku terasa nyaman.
"Ini sudah sangat panjang. Mungkin wali kelas Onii-chan akan memarahi mu lagi." Kata Tsukihi. "Lalu ini curang! bagaimana bisa rambut Onii-chan lebih lembut dan bagus dari kami!?"
"Itu karena gen ku."
"Gen kita berasal dari orang tua yang sama!"
Aku diam beberapa saat sebelum tersenyum dan berkata, "Aku tidak akan memotongnya."
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan." Selanjutnya Karen dan Tsukihi mulai mencuci rambutku, membasuh dengan air mengalir. "Kenapa kalian mengatakannya? Apa tidak cocok untuk ku?"
"Yah, bukannya tidak cocok, hanya saja Onii-chan terlihat bermasalah saat mengurusnya. Tapi jika Onii-chan ingin tetap seperti ini, biarkan saja."
"Kalau Aku pikir model rambut apapun akan terlihat cocok untuk Nii-san, kan, Tsukihi?" Tanya Karen kepada Tsukihi.
"Hmm, Mungkin." Tsukihi mengangguk. Lalu dia berjalan ke depanku, dan mengulurkan tangannya untuk mengusap wajahku. "Dan ini, apa Onii-chan melakukan semacam perawatan kulit atau semacamnya?! bagaimana bisa semulus ini?!"
"Gen-"
"Bah, Aku tidak percaya!" Tsukihi pergi dan duduk di sebelah ku, mencuci rambutnya sendiri.
"Hei Nii-san. Apakah tidak ada gadis yang menyukaimu? Aku pikir wajah Nii-san cukup bagus dari kebanyakan laki-laki lain." Kata Tsukihi.
"Untuk apa Aku menginginkan pacar jika Aku memiliki kalian berdua- Oi, apa yang kamu lakukan?" Aku merasakan tangan Karen menyentuh perutku.
"Hehehe," Karen tertawa tapi dia tidak berhenti menyentuh tubuhku. "Bagaimana Nii-san mendapatkan otot seperti ini? Aku tidak pernah sekalipun melihat Nii-san berolahraga atau semacamnya."
"Itu alami." Aku membiarkannya mengusap tubuhku. Aku tidak peduli. Sejak Aku menjadi Araragi Kiyomi, Aku tidak pernah sekalipun olahraga. Otot ini hanya efek dari air keabadian.
"Aku tidak percaya. Nii-san pasti berlatih di kamar kan?"
"Apapun yang kau pikirkan."
Kemudian Aku tiba-tiba teringat Karen seminggu sebelumnya. Hmm, apa itu tentang pacar?
Tidak. Tidak ada yang mereka katakan.
.....
Siang hari.
Di rumah yang tidak ada orang, Aku sendirian di ruang tamu. Karen dan Tsukihi meninggalkan ku sendirian karena mereka melakukan tugas mereka sebagai Fire sister.
"Kiee!"
Maksudku, Aku dan Sky ada di ruang tamu.
Aku mengangkat ponsel ku dan membuka group chat. Beberapa pesan baru bergulir.
[Tsunade Senju: Waktunya sebentar lagi, Aku akan menunggu kalian di Konoha.]
[Rias Gremory: Hm, Aku tidak sabar ingin melihat desa Konoha seperti yang ada di anime, benarkan, Ruri?] Seperti yang diharapkan dari iblis Otaku. Sama sepertiku, Aku juga sangat tertarik dengan desa Konoha.
[Ruri Gokou: Aku setuju dengan Rias. Tapi, sepertinya Aku hanya akan menjadi beban saat di sana.]
[Tsunade Senju: Jangan khawatir itu. Aku dipanggil sebagai salah satu tiga Sannin, Aku akan melindungi mu.]
[Rias Gremory: Ya, tenang saja. Aku juga akan melindungi mu Ruri.] Aku tertawa saat melihat pesan ini.
[Araragi Kiyomi: Hahaha. Sebelum melindungi seseorang, apa kau sanggup melindungi dirimu sendiri, Rias?]
[Rias Gremory: Hah?! Apa maksudmu?! Kau ingin mengatakan Aku, iblis bangsawan, iblis tingkat tinggi, lemah?]
Aku memasukkan keripik ke dalam mulut ku sebelum membalasnya. [Tidak. Aku hanya menanyakan apa kau sanggup atau tidak. Tapi kau sepertinya salah pengertian terhadap kalimatku. Waduh.jpg]
[Rias Gremory: Hmph, tentu saja Aku bisa. Aku sudah terbiasa mengurus orang lain.]
[Ruri Gokou: Sebelum mengurus orang lain, bagaimana denganmu Araragi-san? Hanya kamu dan Aku yang tidak memiliki pengalaman dalam hal bertarung, kan?]
Itu benar. Jika dilihat dari animenya, saat ini Aku hanya siswa SMA biasa.
[Satou Kazuma: Tidak. Kau salah. Dia tidak perlu dikhawatirkan. Dan kalian jangan terkejut saat melihatnya.]
Hmm?
[Sakata Gintoki: Apa yang perlu dikejutkan?]
[Satou Kazuma: Kau akan tau saat melihatnya.]
?
Aku mengangkat bahuku. Menyimpan ponselku, Aku memakan keripik dan makanan ringan lainnya sambil menunggu waktu tiba.
Satu jam kemudian, tiba-tiba seluruh waktu berhenti. Detik berikutnya, Aku sudah tidak ada di ruang tamu, tapi berada di halaman rumah yang tidak Aku kenal.
Aku mengangkat kepalaku dan menoleh. Empat orang berdiri di halaman seperti ku. Mereka saling menatap dengan bingung sama seperti ku.
"Ah."
Aku mengerti. Aku mendekati gadis pendek dengan gotik hitam. "Yo, Ruri."
"Eh, siapa?" Ruri melihat ke arahku dengan terkejut.