
"A-apa yang kau maksud, Araragi-kun? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan."
Masih berbohong, kah..
"... Ini sudah hari ke berapa?"
"Hari ke enam?"
"Begitu." Aku mengangguk. Tidak ada perbedaan waktu yang besar, mungkin hanya beberapa jam saja. Itu cukup bagus kurasa.
"Um, A-araragi-kun. Bisakah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kemana kamu selama enam hari ini?"
Seperti yang diharapkan dari Hanekawa. Dia mungkin sudah tahu dimana aku mendadak menghilang. Bahkan dia sudah ada tepat setelah aku kembali.
"Seperti yang kau lihat, aku menghilang."
"Menghilang?" Hanekawa memiringkan kepalanya, "Seperti dalam novel atau cerita ke dunia lain itu?"
"Hmm, mungkin itu benar." Aku melirik ke arahnya, lalu mengulurkan tanganku. "Apa kau percaya sihir, Hanekawa?"
"Sihir? Tidak-" Aku memotong kata-katanya dengan mengeluarkan api dari telapak tanganku. Hanekawa tertegun saat melihat itu, "Tidak mungkin!"
"Yup. Sihir melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Maksudku... Apakah hal semacam sihir ada di dunia ini?" Hanekawa membungkukkan badannya dan melihat ke arah telapak tanganku dengan cermat.
"Tidak ada." Aku menggeleng kepalaku. Jika tentang sihir, mungkin hanya aku satu-satunya yang dapat menggunakannya di dunia ini. Tapi jika mengenai keganjilan dan semacamnya, ada cukup banyak yang bisa melakukan hal-hal semacam supranatural.
"Apakah itu tidak panas saat berada di telapak tanganmu, Araragi-kun?"
"Tidak. Mungkin ini terdengar konyol, tapi itu hanya membakar Mana di atas kulitku."
"Mana? Apakah itu energi di dalam tubuh atau dari alam dan semacamnya?"
"Mungkin?"
"Ya?"
"Aku juga tidak terlalu paham." Tidak ada pelajaran khusus yang aku pelajari tentang pembelajaran Mana. Aku hanya belajar otodidak, dan yang cukup memudahkan ku menggunakan Mana adalah karena skill. Itu seolah-olah ada informasi yang mengalir dari kepalaku.
"Eh? Tapi bagaimana bisa Araragi-kun menggunakannya?"
"..." Aku dalam diam melihat ke arahnya. Melihat aku seperti itu, Hanekawa tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangannya.
Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya dan membungkuk, "Maafkan Aku, Aku terlalu banyak bertanya."
Sebenarnya tidak ada masalah tentang dia bertanya, hanya saja aku terlalu malas untuk menjawabnya. "Tidak masalah."
Karena hal ini, kami berdua menjadi diam dan canggung saat di jalan. Tidak ada yang membuka mulut satupun diantara kami. Aku membuka ponselku, dan itu menunjukkan jam tujuh malam.
"Hanekawa, kau harus pulang." Aku memasukkan kembali ponselku, lalu menatapnya. "Aku akan memberitahumu suatu saat nanti jika kau melakukannya."
"Kau tidak berbohong, kan?!"
"Aku berjanji."
"Baiklah, Aku percaya padamu Araragi-kun." Kata Hanekawa. Dia tersenyum cerah dan melambaikan tangannya sebelum dia pergi. "Kalau begitu, selamat tinggal Araragi-kun. Aku harap kamu menepati janji mu!"
"Kau bisa tidur dengan tenang!"
Hmm?
Hanekawa tiba-tiba berbalik ke arahku. "Araragi-kun, kamu harus meminta maaf kepada Karen-chan dan Tsukihi-chan! Mereka setiap hari mencari mu, tidak peduli itu siang maupun malam. Aku khawatir mereka berdua akan jatuh sakit jika terus seperti itu!"
Aku tahu mereka berdua akan seperti itu.
"Oh, terimakasih untuk informasi ini, Hanekawa."
"Ya!"
Setelah beberapa saat, Hanekawa menghilang dari sudut pandang ku. Aku menarik pandangan ku dan melipat tanganku. Sekarang, bagaimana aku menjelaskannya kepada mereka berdua, terutama kepada orangtuaku.
Bahkan, mungkin lebih buruknya lagi, aku akan ada di poster orang hilang di kantor polisi. Itu akan benar-benar gawat. Tidak, aku pasti ada di poster orang hilang mengingat kepribadian keluarga ku.
Aku memejamkan mataku selagi memikirkan itu. Dengan mata terpejam, aku terus berjalan menuju rumahku. Tidak lama kemudian, Aku mendengar dua langka kaki yang sedang berlari melewati ku.
Lalu langkah kaki itu tiba-tiba berhenti, dan pada saat itu, Aku mendengar suara yang tidak asing lagi bagi telingaku.
"Nii-san?!" Onii-chan?!"
Bahkan tanpa membuka mataku, aku dapat mengetahui siapa dibalik suara itu. Membuka mataku, aku melihat Karen dan Tsukihi yang terengah-engah dengan air mata di sudut mata mereka.
Aku berbalik dan tersenyum lembut ke arah mereka. Saat mengetahui itu aku, mereka segera melemparkan diri mereka ke arahku.
"Nii-san!" Onii-chan!" Mereka terus memanggilku kakak. Air mata mereka terus jatuh dari mata mereka dengan lingkaran yang terlihat agak hitam itu.
Tanpa bertanya apapun, aku dapat melihat mereka tidak tidur dan beristirahat dengan benar. Hah... Aku tidak berdaya didepan adikku ini.
"Hei, Karen-chan, Tsukihi-chan, " Aku berkata dengan pelan, "Bisakah kalian melepaskan ku? Aku tidak bisa bergerak jika terus begini."
"Tidak. Bagaimana jika Nii-san pergi kembali?!"
"Kami sangat lelah. Onii-chan bawa kami seperti ini sampai ke rumah."
Mereka berdua memang sangat merepotkan.
"Hentikan, kalian bukan anak kecil lagi. Bagaimana jika seseorang melihat kalian seperti ini?"
"Jika seseorang melihatnya, Kami hanya menyalahkan Nii-san dengan alasan memaksa kami."
"Kau membuat kakakmu terdengar buruk!"
"Hmm," Tsukihi mengendus dengan hidungnya yang kecil. "Ini benar-benar Onii-chan."
"Tentu saja!"
Aku menaruh tanganku di bawah bokong mereka, mengangkat mereka seperti bayi. Lalu aku berjalan dengan membawa mereka dikedua tanganku menuju rumah. "Reputasi permainan yang kalian lakukan di SMP akan rusak, lo."
"Kami tidak main-main Onii-chan. Dan aku tidak ingin membahas tentang itu sekarang." Kata Tsukihi dengan nada rendah.
"Baiklah."
"Jika Nii-san tidak menyukainya, katakan saja, jangan kabur dari rumah." Karen berkata dengan samar, dan pelukannya semakin erat hingga pipinya menyentuh pipiku.
Apa yang tidak aku sukai? Dan apa hubungannya dengan aku kabur? Apakah kami membicarakan sesuatu sebelum Aku pergi ke dunia Konusuba?
Ah! Aku ingat sekarang.
Saat aku memikirkan hal-hal itu, Aku tiba di depan rumah ku. Di depan pintu masuk, mereka semakin erat memeluk leherku saat aku ingin menurunkan mereka. Jadi, Aku masuk dengan mereka berdua dengan posisi seperti ini.
Hah... Bagaimana caranya aku membuka kuncinya?
Memikirkan itu, Aku dengan sengaja mendorong pintu menggunakan kaki ku, dan pintu itu terbuka begitu saja. Ternyata tidak terkunci. Pantas saja mereka tidak turun dari ku.
Masuk ke dalam, Aku melihat seseorang berdiri di depan pintu. Seorang wanita dewasa. Melipat tangannya sambil melihat ke arahku dengan tajam. Ras terkuat yang diakui di muka bumi.
"I-ibu."
Itu benar. Ibu ku dengan tampang yang menyeramkan.
Glup! — Aku menelan ludah.
"..." Ibuku tidak berbicara sama sekali, dia terus melototi ku. Keringat dingin muncul di punggung ku, dan Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap tersenyum.
"U-um, Selamat malam, ibu." Sebaiknya jangan gegabah.
Aku berjalan melewati ibu ku yang diam. Mata tajam itu terus menatapku. Dan saat Aku di belakang punggungnya, ibu ku akhirnya membuat mulutnya. "Kiyomi, kita akan berbicara esok pagi. Untuk sekarang, kau temani adikmu tidur malam ini."
"Baik." Aku mengangguk dengan patuh. Setelah itu, Aku ke kamarku, lalu membaringkan mereka berdua ke atas ranjang.
"Nii-san, kau ingin kemana? Jangan tinggalkan kami." Karen setengah tidur saat mengatakan itu. Bahkan belum satu menit, mereka berdua terbangun dengan setengah sadar.
Menghela nafas, Aku naik ke ranjang dan berbaring diantara mereka. Lalu Aku melingkarkan tanganku, memeluk mereka berdua.
"Aku tidak akan kemana-mana, kalian kembali tidur."
""Mn.""
Apakah reaksi Karen dan Tsukihi tidak berlebihan? Atau, Aku yang terlalu memikirkannya?
Aku menatap ke langit-langit dengan kosong sambil mengusap rambut Karen dan Tsukihi.
Tidak. Hanya Aku yang terlalu memikirkannya.
Gelap — Malam hari berlalu dengan cepat.
Pagi hari.
Saat Aku bangun, Karen dan Tsukihi masih tertidur di sampingku. Biasanya mereka yang akan bangun terlebih dahulu sebelum Aku. Tapi hari ini, mereka masih tertidur dengan pulas.
"Apa yang mereka lakukan selama Aku tidak ada di sini?" Aku diam-diam mengusap pipi Tsukihi. Menurunkan jari-jariku, Aku membelai bibirnya yang merah muda.
Aku menatap bibirnya beberapa detik sebelum turun dari kasur. Aku harus cepat-cepat turun ke bawah sebelum ibu marah.
Turun ke bawah dengan cepat, Aku ke ruang tamu. Di ruang tamu, Aku melihat ibuku dan Ayahku duduk di sofa. Aku tanpa sadar menelan ludah saat melihatnya.
"Selamat pagi, Ibu, Ayah."