BokuMonogatari

BokuMonogatari
Sihir Ledakan (End)



Di bukit di samping kota Axel.


Saat kami keluar, Itu hampir siang hari.


"Araragi, perhatian baik-baik kehebatan dari sihir ledakan, mantra serangan terkuat yang pernah ada!" Kata Megumin.


"Tentu." Aku mengangguk. "Berikan yang terbaik."


"Baik!" Dia mengibaskan jubahnya, dan mengarahkan tongkatnya ke depan." Wahai kegelapan yang lebih silam dari hitam dan redup dari gelap, ku perintahkan engkau, menyatu lah dengan merah kelam ku.


"Waktunya bangkit telah tiba."


"Wahai keadilan yang berada dalam batasan mutlak, muncullah sebagai distorsi tanpa raga!"


"Menari lah, menari lah, menari lah!"


Hmm? Haruskah berteriak tentang nama sihir kita kepada musuh?


"Aku menambakan kekuatan penghancur dalam aliran energi ku. Penghancur tiada tanding. Yang mengembalikan segala pencipta menjadi abu, yang datang dari jurang kegelapan!"


Sangat lama, Aku bisa diserang sebelum menyelesaikannya!


"Inilah serangan terkuat yang diketahui umat manusia, sihir serangan tertinggi!"


"Explosion!"


Booommmmm!


Bergetar.


Bersinar merah. Melahap semuanya.


Ledakan yang bersinar terang meski di siang hari. Begitu indah dan menakjubkan, tetapi juga menakutkan.


Aku mengamatinya dengan satu mata tertutup.


Gelombang udara yang kuat menyebar. Pakaian dan rambutku bergoyang hebat.


Hawa panas dari ledakan ikut arus udara, yang membuatku merasakan panasnya di seluruh wajahku.


"Bagaimana, Araragi?" Megumin terjatuh ke tanah. "Sangat hebat dan indah bukan!?"


"...."


Aku mengamatinya.


Mana yang besar dari seorang gadis kecil, keluar, membuat ledakan besar hanya dari tubuhnya yang kecil.


Itu terlalu gila.


Terlalu indah.


Tapi juga Menakjubkan.


Energi Mana. Partikel yang disebut 'Mana' ini melampaui akal sehat manusia. Bisa dirasakan tapi tidak bisa dipikirkan.


Dalam beberapa jam sebelumnya, aku sedikit mempelajari tentang energi Mana di waktu luang ku.


Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan. Itu seperti...


... Udara.


Partikel yang berkeliaran di depan mata.


Disekitar manusia.


Lalu, di kehidupan manusia.


Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata sederhana, tapi seperti hal ganjil di dunia ku, mereka benar-benar ada.


Membuka kartu petualangan, aku melihat nama skill Explosion yang di gunakan Megumin sebelumnya di kartu petualangan ku.


Aku mempelajarinya, menghabiskan beberapa poinku. Lalu, beberapa informasi mengalir di pikiranku, dan aku merasa aku dapat menggunakan sihir ledakan sekarang.


Tidak seperti Megumin dengan lantang mengucapkan rapalan, aku mengatakannya dengan rendah.


Aku mengatur Mana ku, memusatkannya di ujung jariku sembari membayangkan apa itu ledakan, dan setelah di ujung rapalan, aku mengucapkannya dengan cukup keras.


"Explosion." Aku mengarahkannya ke bebatuan besar.


Bommmm!


Suara memekik terdengar.


Mana ku yang bergejolak terlepas, menghasilkan ledakan yang sangat kuat. Seperti kembang api yang menelan segalanya, tidak ada yang tersisa, hanya ada kawah di bawahnya.


"Hey Araragi, Kau baik-baik saja?" Tanya Kazuma dengan Megumin di punggungnya. "Jika kau merasa pusing, kita bisa beristirahat di samping pohon besar itu."


? "...."


Pusing? Apa yang dia maksud?


"Itu benar. Seperti Kazuma katakan, ayo beristirahat sambil makan siang yang sudah disiapkan Aqua. Dan masih bisa berdiri meskipun sudah menggunakan sihir Ledakan, seperti yang diharapkan dari Araragi." Kata Megumin, dia memberikan jempolnya kepadaku.


Oh, benar. Sihir ledakan membutuhkan mana yang besar. Jika seseorang menggunakannya, mana dia akan sangat terkuras, bahkan bisa mengalami kelumpuhan sementara seperti Megumin. Aku baru menyadarinya.


Tapi... Aku tidak merasakan apapun. Bahkan sedikitpun.


Mana ku tidak terkuras bahkan setelah menggunakan sihir ledakan, sebuah sihir yang sangat menguras mana.


Bagaimana bisa?


Apa karena aku meminum air keabadian? Yang sama membuatku tidak pernah lelah, membuat Mana milikku tidak pernah habis?


"Araragi?" Megumin melihat ke arahku dengan bingung.


Aku mengabaikannya. Merapalkan mantra, aku melepaskan sihir Ledakan sekali lagi sembari merasakan Mana ku.


Dengan suara yang menggema dan guncangan yang kuat, kawah besar terbentuk seperti bekas meteor yang jatuh.


"Uh? Bagaimana bisa?" Tanya Kazuma.


"Waaa!! Sangat curang! Bagaimana Araragi bisa menggunakannya dua kali?! Aku sangat iri!" Teriak Megumin, menunjuk ke arahku.


"Sangat hebat." Kata Aqua. "Dengan Araragi-san, kita pasti dapat mengalahkan raja iblis! Lalu, setelah mengalahkan raja iblis, aku dapat kembali ke surga!"


Aqua memainkan trik pestanya, dan Darkness memiringkan kepalanya.


"Dewi?"


Mengabaikan mereka, aku menatap telapak tanganku.


Kali ini aku mengetahuinya.


Membuang airnya, tapi tidak pernah habis.


Menghabiskan Mana yang disaat bersamaan mengisinya kembali.


Luar biasa - Cheat milikku!


Merapal, aku mengeluarkan sihir ledakan sekali lagi.


"Explosion!"


Ledakan!


"Buset..." Kazuma tercengang.


"Waaaa!!! Curang! Araragi sangat curang!" Megumin mengguncang pundak Kazuma. "Itu tidak benar. Bagaimana bisa seseorang menggunakan sihir ledakan lebih dari satu kali?!"


Aku menggosok hidungku.


Sekarang aku tidak perlu khawatir lagi. Dengan sihir ledakan, aku dapat menyerang musuh yang jumlahnya ratusan kali lebih banyak dalam sekali serang.


Dan untuk selanjutnya, aku hanya perlu menaikkan level ku dan bertambah kuat.


"Ayo makan siang." Kataku.


Aku melangkah kakiku dengan semangat ke pohon besar dan duduk di karpet yang terbuka dengan hidangan di atasnya.


....


Keesokan harinya.


Di gang yang sepi.


"Mengapa kita pergi ke tempat Undead itu? Jangan bilang Araragi-san ingin belajar skill Undead seperti Neetzuma?" Kata Aqua. "Biar aku beritahu, tidak ada yang bagus dari skill Undead bau. Jika kau ingin belajar skill, aku akan mengajarimu skill trik pesta."


"Oi, jangan mengubah nama ku dengan hal memalukan! "Kazuma memukul kepala Aqua. "Dan juga, jangan mengajari orang lain dengan skill tidak berguna mu."


"Kenapa memukulku?! Percaya atau tidak, Neet sampah seperti mu akan tertimpa hukuman langit!


Yup. Bahkan saat dia jalan, mereka masih seperti diri mereka.


"Hey kalian berdua, tenanglah." Kata Darkness.


Dia tidak grogi lagi saat didekat ku. Sepertinya dia sudah tidak memikirkan hal yang di kamar mandi.


"Araragi, Araragi. Tolong beritahu aku bagaimana kau menggunakan sihir ledakan lebih dari satu kali seperti kemarin. Aku akan melakukan apapun jika kau memberitahuku!" Kata Megumin sambil mengguncang lenganku.


Menunduk, aku melihat loli yang memohon kepadaku dari kemarin saat aku menunjukkan sihir ledakan ku.


"Tidak bisa." Aku menolak, menyilangkan jariku. "Ini Cheat ku."


"Kau terus menjawab itu dari kemarin." Kata Megumin. "Apa itu cheat? Bisakah aku mendapatkannya?"


"Tidak. Cheat itu seperti skill. Dan orang lain tidak bisa mendapatkannya."


"Skill, ya... Baiklah." Megumin melepaskan tangannya dengan kepala tertunduk.


Fiuhh- Akhirnya dia melepaskan ku.


Setelah itu kami tiba di depan toko peralatan. Kazuma masuk, lalu mereka bertiga, dan kemudian aku yang paling terakhir masuk.


"Selamat datang- Ara, ternyata Kazuma-san dan yang lain. Apa yang membawa kalian ke sini?"


Dan kami disambut seorang Onee-san berdada jumbo.


Tidak, itu sangat jumbo. Salah satu terbesar yang pernah aku lihat.


"Bukan aku, tapi dia." Kazuma menunjuk ke arahku.


"Araragi Kiyomi." Kata ku, saat dia melihat ke arahku. "Salam kenal."


"Oh, Namaku Wiz, pemilik toko ini. Salam kenal." Kata Onee-san itu. "Jadi, apa yang Araragi-san inginkan?"


"Oppai."


Sial. Berhenti pikiranku yang mesum!


"Y-ya?"


Sekarang dia ragu kepadaku.


"Tidak - Maksudku, teleportasi. Aku ingin kau mengirim ku ke desa penyihir merah."


"Tentu, Aku bisa mengirim mu ke sana." Jawab Wiz


"Desa penyihir merah?" Tanya Megumin, tertarik saat dia mendengar nama desa nya. "Apa yang ingin kau lakukan di desaku, Araragi?"


"Aku dengar, didekat desa penyihir merah banyak monster yang kuat, bukan?"


"Ya. Itu benar."


"Karena aku ingin menaikkan level ku dengan cepat, jadi aku pikir aku bisa mencari tempat dimana banyak monster kuat berkumpul." Kata ku. "Setelah aku cari dimana yang cocok, aku menemukan satu tempat. Ya, itu desa penyihir merah."


"Yah, itu memang cocok jika mencari monster yang kuat," Megumin ragu. "Tapi tingkatan di sana sangat jauh dari kata kuat. Mereka sangat kuat. Bahkan ada monster yang bisa menghancurkan kota seorang diri, dan salah satunya ada Fenrir."


"Fenrir? Maksudmu, serigala yang memiliki fisik dan sihir yang sangat kuat itu?" Tanya Kazuma. "Megumin, bukankah desamu terdengar sangat berbahaya?"


"Ya. Itu memang benar. Tapi di desaku, kami menghasilkan banyak Arc Wizard setiap tahunnya." Jelas Megumin. "Bahkan raja iblis sekalipun tidak berani mengusik desa kami. Jika hanya serangan dari serigala berbulu, itu bukanlah apa-apa untuk kami."


Aku tahu itu dengan jelas di novelnya. Bahkan ada satu waktu, di setiap empat tahun sekali, mereka, para penyihir merah berkumpul untuk berpesta.


Apa? Itu wajar jika mereka ingin merayakan perkumpulan anggota klan mereka di setiap empat tahun sekali?


Ya, aku juga tidak mempermasalahkan hal itu; tidak — apa yang terjadi jika seorang Chuuni berkumpul dengan kekuatan besar di tangan mereka?


Mereka melakukan sesuatu yang gila; Maksudku, mereka mungkin saja penyebab raja iblis menyerang manusia.


Apa yang mereka lakukan sampai membuat raja iblis sangat marah seperti itu?


Mereka berpesta di halaman kastil raja iblis, lalu menembakkan berbagai macam sihir ke kastil raja iblis, sebelum mereka berteleport, meninggalkan kekacauan yang mereka buat.


"Oi, Araragi, ada apa dengan tatapan rendah saat melihatku?!"


"Tidak ada. Hanya berpikir kalau semua wanita di desa penyihir merah pasti cantik dan imut."


Saat Megumin ragu dengan perkataan ku, aku memalingkan wajahku.


Dan dengan tanpa berkedip, aku berkata kepada Onee-san berdada sangat jumbo itu.


"Aku sudah siap. Wiz, kau bisa mulai melakukannya."