
Setahun sejak saat itu.
Tahun ini aku berada di kelas dua SMA.
Dalam satu tahun itu, aku sudah menyelesaikan proyek yang aku buat.
Sebuah aplikasi yang memudahkan seseorang untuk mencari informasi.
Aplikasi itu adalah 'Facebook'.
UPS!
Meskipun terdengar mengcopy, aku sama sekali tidak mengcopy nya. Jelas tidak ada yang namanya Facebook di duniaku saat ini.
Jadi aku membuatnya dan menghasilkan uang untuk diriku sendiri.
Betapa jeniusnya aku!
Meskipun begitu, aku tidak menyombongkan diri, dan tetep merendah seperti seorang siswa SMA biasa.
Setiap hari seperti biasa. Pergi ke sekolah dan belajar.
Pagi hari, aku, Karen, dan Tsukihi makan pagi di atas meja.
Selagi makan, aku membuka ponselku. Aku meletakkan sumpit ku dan berkata, "Oh, hari ini tanggal merah. Aku bisa bersantai di rumah."
"Mana ada tanggal merah!" Tsukihi membantah dengan cepat. "Onii-chan, sebaiknya kau periksa kepala mu ke rumah sakit, mungkin ada beberapa masalah di dalamnya."
"Kepalaku bukan mesin!" Teriak ku.
Kemudian, aku meletakkan ponselku dan kembali makan. Tapi, entah kenapa wajah Tsukihi tiba-tiba mengernyit.
Aku mengangkat kepalaku dan bertanya, "Ada apa, Tsukihi-chan? Kau ingin kecap? Kalau begitu bilang saja."
"Bukan itu!" Teriak Tsukihi.
Lalu, dia terdiam sejenak sebelum berkata, "Onii-chan sangat banyak berubah. Itu seperti... Kau bukan dirimu yang aku kenal."
"Maksudmu?" Aku berkedip.
"Yahh... Kau menjadi pandai dalam belajar. Padahal sebelumnya Onii-chan sangat ceroboh dalam hal apapun. Jadi, ini sedikit aneh aku pikir..."
"Apa yang aneh dari itu!"
Mungkin karena dua tahun terakhir ini nilai ku meningkat, Tsukihi menjadi curiga.
Karena, tahun-tahun di SMP, bisa dikatakan nilai ku kurang, alias jelek. Tidak ada yang bagus, bahkan di satu pelajaran pun.
Tidak, Aku koreksi.
Nilai Araragi Kiyomi sangat jelek. Tapi karena aku, nilai pelajaran Araragi Kiyomi sekarang menjadi bagus.
Tapi aku juga sebelumnya tidak terlalu pandai belajar, dan setelah aku terjebak di sini, aku dengan mudah mengingat apapun.
Mungkin karena ramuan keabadian yang aku minum sebelumnya. Setelah aku meminumnya, aku merasa seperti berada di puncak manusia.
Apapun itu, aku berterimakasih. Tidak hanya aku tidak perlu belajar dengan keras, tapi juga mendapatkan hasil yang bagus.
Melihat aku diam, Tsukihi memanggilku.
"Onii-chan? Ada apa?" Tanyanya.
"Oh, tidak apa-apa." Kataku. "Dan untuk keraguanmu, aku akan memberitahumu. Kami para laki-laki, di usia sepertiku ini, sangat cepat dalam hal berkembang. Jadi tidak aneh jika aku tiba-tiba menjadi pintar dan berkarisma."
"Jangan mengatakan hal terakhir." Tsukihi menatapku dengan jijik. Lalu dia menoleh ke arah Karen dan berkata, "Bagaimana menurutmu, Karen-chan?"
"Eh, aku?" Karena memiringkan kepalanya. Dia meletakkan jari telunjuknya di dagunya dan berpikir. "Menurutku itu bagus. Kita tidak perlu harus mengkhawatirkan tentang sekolah Nii-san lagi. Terlebih lagi, dia bisa membantu kita belajar."
"Karen-chan! Kau yang ter-imut!"
Aku mengulurkan tanganku dan hendak menciumnya, sebelum aku memiringkan kepalaku ketika tinju Karen melesat di samping.
"Maafkan aku." Karen menarik tangan dan duduk kembali. "Itu refleks."
Refleks yang menakutkan! Jika sebelumnya aku tidak meminum air keabadian, aku pasti sudah mati.
"Tapi Nii-san, kau cukup hebat bisa menghindari tinjuku." Karen melihatku dengan kagum. "Apa kau belajar karate atau semacamnya?"
Aku menggoyangkan jari telunjukku. "Belajar? Aku tidak memerlukannya. Darah Araragi ada di dalam diriku, tidak perlu bagiku untuk belajar."
"Apanya yang darah Araragi... Gawat, ini sudah lewat lima puluh menit. Aku akan terlambat!" Kata Tsukihi.
"Itu benar. Ini gawat!" Timpa Karen.
Lalu Karen dan Tsukihi ke kamar mereka dan bersiap untuk ke sekolah.
Mereka benar-benar bodoh.
Aku hanya menutup mataku dan meminum teh dengan anggun.
"Tidak ada terlambat dalam kamus ku." Gumam ku.
Kemudian, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari belakang, dan rasa sakit muncul di pinggangku.
"Onii-chan, jangan mengatakan hal aneh! Cepat pergi dan bersiap!" Teriak Tsukihi.
Dia benar-benar sangat pemaksa. Dia melihatku seperti melihat seorang anak SD saja.
Karena dipaksa, aku menghabiskan teh ku dengan tergesa-gesa dan pergi ke kamarku untuk mengambil tas sebelum kembali turun.
Turun, aku melihat Karen dan Tsukihi di depan pintu masuk sedang menungguku.
"Onii-chan, kau sangat lambat seperti gadis. Ayo cepat!" Kata Tsukihi.
Di sebelahnya ada Karen yang meregangkan badannya. Dia berkata, "Aku bisa menggendong Tsukihi ke sekolah dengan tepat waktu. Tapi aku tidak bisa menggendong mu, Nii-san. Maaf jika aku meninggalkan mu."
"Siapa yang mau ke sekolah seperti itu!"
Aku tersenyum melihat hal itu.
"Seperti itukah kau terhadap kakakmu!"
Jika keseharian ku seperti ini selamanya, aku tidak keberatan sama sekali.
Mengambil sepatuku di lemari, aku menghampiri mereka, lalu mendorong pintu hingga terbuka.
"Ayo pergi."
"Jangan bersikap sok keren! Ini sudah terlambat."
"Ya."
...
Di jalan menuju sekolah.
"Biar aku beritahu sekali lagi. Jangan membangunkan lagi. Telingaku pasti akan rusak." Kataku.
Aku melipat tanganku dan meluncur di atas papan luncur. Hembusan angin terasa di wajahku saat rambutku berhembus ke belakang.
Di sebelahku, ada Karen yang sedang mengayuh sepada ku sambil membonceng Tsukihi di belakangnya.
Dia tersenyum dan berkata, "Tidak bisa. Mengganggu- uhuk, maksudku, membangunkan Nii-san sangat seru."
Aku bukan putri tidur!
Apa yang mereka pikirkan tentang ku.
"Kalau begitu mau bagaimana lagi." Aku mengangguk. "Aku akan tidur dengan telanjang saat malam hari."
Setelah mendengar itu, Tsukihi mengerutkan wajahnya. Dia melihat ku dengan jijik. "Sejak kapan orang mesum ada di rumah orangtuaku."
"Orang tua kita sama!"
Huh, sangat melelahkan memiliki adik sepertinya.
"Hahaha." Karen tertawa ketika mendengar interaksi kami.
Aku melihat ke arah Karen. Adik pertama dari kedua adikku.
Seorang gadis yang sedang dalam masa puber dengan memiliki tinggi yang melebihi seusianya.
Tingginya sekitar 168 cm. Meski begitu, aku tidak kalah dengannya. Tidak seperti di anime, aku lebih tinggi darinya, sekitar 179 cm.
Aku menarik pandangan ku ke depan.
Kemudian, aku mendorong kakiku untuk menggerakkan papan luncur, saat papan luncur itu sedikit melambat.
"Tapi Tsukihi-chan, menurut penelitian, tidur telanjang lebih baik daripada tidur memakai pakaian." Kata ku.
"Apa?" Tsukihi menyipitkan matanya ke arahku. "Siapa yang mempercayai hal semacam itu. Onii-chan pasti mengarang. Kau hanya ingin kami tidur telanjang, dan kemudian melihat kami yang sedang telanjang dengan alasan kau ingin membangunkan kami, kan? Iugh, itu menjijikkan."
"Si-siapa yang memikirkan hal semacam itu kepada adiknya sendiri!"
Saat mengatakan itu, aku memfokuskan mata ku untuk melihat ke depan.
S-sungguh, aku tidak memikirkannya sama sekali. Orang gila mana yang memikirkan rencana bodoh itu!
"Aku akan menambahkan kecepatan, Tsukihi-chan." Karen berkata tiba-tiba. "Nii-san, selamat tinggal."
Oh, jika seperti ini, mereka akan terlambat ke sekolah. Jadi Karen ingin menambah kecepatannya untuk tepat waktu.
Aku mengangguk. "Hati-hati di jalan. Jangan sampai terjatuh."
"Ya!"
"Kau juga Onii-chan, sampai jumpa." Kata Tsukihi. Dia melihat ke arah ku.
Setelah itu, Karen mengayuh sepeda dengan cepat setelah Tsukihi berpegangan dengan erat di bajunya.
Berboncengan mungkin dilarang, tapi apa boleh buat karena ini keadaan mendesak.
Aku melihat mereka menghilang dari lintasan.
Lalu, aku, meskipun waktu tidak banyak, mendorong papan luncur dengan stabil. Masih dalam keadaan santai dan tidak terburu-buru.
Tidak perlu tergesa-gesa. Semua akan ada waktunya.
Saat tiba di sekolah, semua siswa sudah masuk ke dalam kelas, yang menandakan waktu kelas sudah dimulai.
Sampai di gerbang sekolah, aku menginjak papan luncur hingga terangkat. Lalu aku menangkap papan luncur itu dan pergi ke kelas ku.
Di koridor di depan kelas ku, aku menunduk di bawah jendela sambil mengintip dari celah jendela.
Apa yang kulihat di dalam kelas adalah seorang guru laki-laki paruh baya yang sedang mengajar.
Aku tahu Sensei itu. Dia mengajar matematika, dan juga di kenal sangat pemarah jika ada yang mengacau dikelasnya...
Hmm...
Hanya ada satu cara untuk menghindari masalah ini. Pergi ke kantin sampai kelas Sensei itu selesai, lalu kembali saat pelajaran berikutnya.
Aku mengangguk dengan mantap.
Setelah itu, aku berdiri dan diam-diam pergi. Tapi, sebelum aku meninggalkan koridor kelas, seseorang memanggil ku dengan suara yang keras.
"Kamu, berhenti di sana."
Aku berhenti sebentar.
Apa yang harus aku lakukan. Berbalik, atau berpura-pura tidak mendengar?
Pilihan mana yang lebih baik? Tunggu, kenapa aku harus berpikir. Tentu saja itu adalah pilihan yang tepat.
Tanpa pikir panjang lagi, aku menggerakkan kaki ku dan berpura-pura tidak mendengar.
Saat berikutnya, aku merasa telinga ku di tarik ke atas. Melirik ke belakang, aku melihat guru itu dengan marah menatap ku.
Selamat tinggal hidupku.
"Berpura-pura tidak mendengar? Oh, sangat berani, ikut aku!" Kata Sensei itu dengan marah.
Aku diseret dengan telinga ku sampai ke dalam kelas. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya mengikuti dengan pasrah.
Saat teman sekelas melihat aku seperti ini, mereka semua tertawa meskipun kami tidak saling kenal.
Ini pembullyan!
Tapi, karena Sensei sedang marah, aku hanya menundukkan kepala ku sambil diam-diam melirik ke arah mereka.
Aku akan ingat ini. Tunggu saja!
"Sekarang, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Sensei itu.
"Tidak ada." Jawab ku.
Sensei ini aneh. Apa yang harus aku katakan di saat seperti ini?
"Sangat bagus." Katanya.
"Terima..." Kata ku, sebelum aku menutup mulut ku saat mendapati tatapan tajam dari Sensei.
Aku membalasnya untuk menghormatinya, tapi aku hanya mendapatkan tatapan tajam dari Sensei. Dimana kesalahan ku?
"Berdiri di depan sampai pelajaran ku selesai." Katanya.
"Baiklah." Aku hanya diam dan menjawab dengan singkat.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba aku dipanggil Sensei untuk menjawab pertanyaan di papan tulis.
Aku menoleh dan melihat ke papan tulis.
Aku pikir itu cukup mudah. Hanya masalah tentang 'Pertidaksamaan Linear Dua Variabel'.
Mengambil kapur tulis, aku mengetuk papan tulis dengan cepat dan tanpa jeda, dan kemudian aku kembali berdiri di tempat sebelumnya.
"Oh... Ya, itu benar." Sensei itu sedikit tercengang. "Kau boleh duduk. Tapi ingat, jangan mengulangi kesalahan seperti ini lagi."
"Baiklah. Aku mengerti." Jawab ku.
Kemudian, aku berjalan ke meja ku, yang berada di belakang, bersebelahan dengan jendela luar.
Huh, pagi yang sulit.