BokuMonogatari

BokuMonogatari
before ORC KiZUGATARI



"Onii-chan cepat bangun! berapa kali aku sudah memanggilmu untuk bangun, huh! Kau kakak yang kejam, Sangat tega kau membuat adik imut mu kewalahan, tahu!"


"Aku bangun, Aku sudah bangun! Hey, bisakah kau berhenti melempar penggigis itu?! Onii-chan mu ini bisa mati melajang sebelum aku bisa mendapatkan pacar!" Kataku sambil menghindari tusukan dari depan, saat aku menghindar kesamping.


Suara tawa adikku, membuat tubuh dan jiwaku bergidik ketakutan.


"Hehehe, tidak apa-apa. Akan bagus jika onii-chan tidur selamanya, imouto mu bersedia merawat mu jika hal itu terjadi." katanya saat dia terus menusuk ke depan dengan liar, dan berakhir dengan tusukan kebawah, mengenai kasur saat aku membuka kedua kakiku.


Kata-kata yang sangat bagus!


Menatap kebawah, tidak jauh dari juniorku, beberapa senti dimana penggigis itu tertancap menembus kasur dengan kapas yang terlihat.


Huh, masih baik-baik saja, tidak apa.


Dengan keringat dingin mengangkat kepala, aku menatapnya dan menyipitkan mataku sebelum menjulurkan tangan persekian detik, mengambil dan menyembunyikannya kebelakang punggung.


"Berhenti, sejak kapan sifat mu berubah menjadi karakter dere. Ganti, aku ingin adik imut ku kambali!" Teriakku dengan keluh kesal, dimana adikku terus tersenyum.


"Apa yang kau teriakan onii-chan? Bukankah kau sudah memiliki dua adik yang imut bersamamu?"


Benar, aku memiliki dua adik perempuan.


"Oke, berhenti disini! Dimana karen-chan? Biasanya kalian berdua yang menggangguku dipagi hari."


Si imouto besar tidak ada bersamanya.


Biasanya mereka selalu bersama, di manapun mereka berada, bahkan didalam kamar mandi mereka tetap bersama.


Mengherankan.


"Dia bilang, dia ingin latihan sebentar" Dia membuat posisi berlari. "Setelah mengatakan itu, dia langsung berlari keluar dari rumah."


Sepertinya sudah waktunya, ya.


Dalam anime dia juga ikut klub karate, bukan karena apa, tapi....dia salah masuk klub.


Awalnya dia ingin masuk klub seni, dan karena sedikit kesalahan dalam formulir, dia berakhir di sini, klub karate.


Jadi aku bersikap selayaknya seorang kakak yang dibanggakan.


"Tidak apa-apa Tsukihi-chan, kakakmu tidak akan pernah meninggalkanmu dan akan terus bersamamu." kataku dengan bangga.


Dia pasti akan terharu, dan melemparkannya air matanya ke dadaku...?


Ekspresi Tsukihi mengernyit, seolah menatap sesuatu yang menjijikkan. Dalam diam, dia mundur dua langkah.


"Mati dasar kecoak, siapa juga yang ingin bersamamu. Mati! mati! mati!" Teriaknya sambil mundur, menuju pintu dan membukanya saat dia membantingnya dengan keras.


...?


Kenapa?


Bukan itu seharusnya! Oh, mungkin dia dalam masa pemberontakan... kan?


Dalam perasaan sedih, aku bangun dari kursi, berdiri dan keluar sebelum suara monoton memasuki telingaku.


{Ding! Apakah anda ingin membuka paket pemula?}


{Ya atau tidak}


Mengangkat alisku, sebuah layar biru dengan kalimat muncul di didepan ku.


Jika aku tidak ada disini, aku percaya kalau aku sudah gila. Meskipun terdengar tidak masuk akal, aku bereinkarnasi satu tahun yang lalu, dan menjadi Araragi Kiyomi.


Lalu setiap reinkarnasi pasti memiliki jari emas, dan... Aku juga mendapatkannya meskipun agak lama.


Aku tidak tau apa yang akan menimpaku kedepannya jika aku mengambilnya.


Tapi, bukan itu yang aku khawatirkan, melainkan adik-adik ku yang akan tertimpa masalah supranatural di masa depan.


Sedangkan aku? Aku tidak ingin Seperti Araragi yang hanya meminta pertolongan orang lain.


Jadi... aku tidak punya pilihan lain.


Beralih ke layar biru, aku mengangkat tangan kananku dan menekan 'ya' dengan setelahnya suara 'ding' memekakkan telingaku.


{Ding! Selamat Anda mendapat air keabadian.}


Botol aneh muncul dari udara tipis dan jatuh dalam prosesnya. Aku segera mengulurkan tanganku dan menangkapnya dengan setengah tenaga.


Berhati-hati agar tidak pecah.


Aku menatap air keabadian itu dengan satu mataku.


Air di dalam botol itu berwarna hijau. Aku curiga sama melihat ini.


Item yang dapat membuat seseorang menjadi abadi. Apakah hanya terlihat seperti itu? Tidak kah benda ini seharusnya mengeluarkan aura ganas atau semacamnya?


Lalu, bagaimana jika meminumnya setelah? apakah akan berhasil? Atau, wajahku berubah seperti Deadpool?


Ugh, Jika dipikir-pikir... harus kah aku meminumnya?


Menarik napas dalam-dalam, aku menarik tutup botol dan mengangkatnya ke mulutku, meminumnya dalam satu tarikan nafas.


Saat cairan itu jatuh ke dalam tenggorokan dan menyebar diperut, dengan meninggalkan rasa manis diujung lidah. Seluruh tubuhku bersinar terang memenuhi ruangan.


Terkena dampaknya, aku menutup mata, meletakkan tanganku di depan mataku saat cahaya itu perlahan memudar dan menghilangkan.


Membuka mata, aku melihat ke kedua tanganku, lalu ke seluruh tubuhku yang terlihat tidak ada yang berbeda.


Aku pergi ke depan cermin, menampilkan keseluruhan wajah Araragi Kiyomi.


Tidak ada perubahan, Tetap sama, yang sebagian poninya menutupi salah satu mataku.


Kecuali tubuhku. Tubuh terbentuk.


Dari tubuh remaja normal ke tubuh atlet yang di isi dengan otot padat.


Aku merasakan kekuatan di setiap ototku, yang seakan berteriak melakukan sesuatu.


Karena tidak ada efek sampingnya, aku turun kebawah. Lalu Ke kamar mandi, membersihkan badanku.


Setelah selesai, aku keluar dengan handuk dipinggang menuju dapur.


Tunggu!


Aku berbalik ke kamarku. Aku Memakai kaos dan celana pendek sebelum kembali ke dapur.


Di atas meja terdapat makan.


Aku menarik kursi dan duduk diseberang Tsukihi, lalu mengambil makanan untuk diriku.


Tsukihi menatapku dengan terpana.


Mulutnya terbuka didepan sumpitnya.


Melihatnya berhenti, aku meletakkan sumpit ku sebelum Menoleh kearahnya dan memiringkan kepalaku.


"Ada apa? Ada yang mengganggumu, Tsukihi-chan?"


"Tidak. Tidak ada."


Tidak seperti biasanya, dimana dia mengoceh atau mengomel tentangku.


Aku menatap beberapa saat, sebelum aku mengangkat bahu dan melanjutkan makan.


Kami makan dengan tenang.


Menyelesaikan makan, aku membantu Tsukihi mencuci piring.


Dia bertugas mencuci, sedangkan Aku hanya mengeringkannya.


"Ada yang ingin kau katakan, Tsukihi-chan?" Jelas dari tadi dia terus melirikku.


Aku meletakkan piring dan menatapnya.


Melihat tatapanku, Tsukihi menghentikan pekerjaannya.


Dia menundukkan kepalanya, termenung, sebelum dia menoleh ke arahku. "Apakah onii-chan... benar-benar, onii-chan ku,?"


Ada jejak keraguan diwajahnya.


Aku hanya menghela nafas.


Sejak satu tahun lalu dia bertanya saat aku bereinkarnasi.


Saat pertama kalinya kami bertemu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan seperti Araragi Kiyomi lakukan.


Hanya mengandalkan ingatan di anime, sikap aku sedikit berbeda dari Araragi Kiyomi. Hanya dengan sedikit perbedaan Tsukihi mulai curiga padaku.


Dan saat itu dia bertanya padaku, apakah aku benar-benar kakaknya.


"Kalau aku mengatakan, aku bukan kakak mu. Apa yang akan kamu lakukan?"


"...." Dia terdiam.


"Lihat. Tidak ada yang bisa dilakukan." Aku sekali lagi menghela nafas saat melihat raut sedihnya. "Aku tidak tau apakah kau menganggapku kakakmu atau tidak." Aku mencubit hidungnya. "Tapi aku percaya aku memiliki dua adik yang merepotkan selalu menggangguku."


Tsukihi sedikit termenung, memegang hidungnya.


Kemudian, dia menoleh ke arahku dengan senyumnya yang manis seperti biasanya. "Onii-chan yang merepotkan. Dia bahkan tidak bisa bangun jika imouto nya tidak membangunkan nya, blee!!" Dia menarik matanya dan menjulurkan lidahnya.


Kemudian, Dia berbalik, menyembunyikan senyumannya, menuju ke kamarnya.


Aku tersenyum sedih dan menggeleng kepala. Perasaan masam terganjal dihatiku.


Ding!


Bel rumah berbunyi.


Meletakkan cucian terakhir, aku membasuh tanganku. Mengeringkan tanganku mengunakan serbet sebelum aku berjalan ke depan rumah.


Imouto besar masuk dengan keringat di pakaiannya. Saat dia melepas sepatunya, sebuah sungai mengalir membanjiri lantai.


Jelas lekuk tubuhnya terlihat dari dalam pakaiannya yang berkeringat.


Dia masuk kedalam, melepaskan jaket dan celananya, lalu meletakkannya di mesin cuci.


Seluruh tubuh atasnya telanjang.


"Oi!" Aku menegurnya. "Tidakkah kau melihat ada laki-laki di sini. Jangan melepaskan baju sembarangan!"


Dia panik, menutupi ***********. "Laki-laki! Di mana!?" Kuda-kuda siap, seakan dia bisa menendang apa saja yang dia inginkan.


Tsukihi memutar kepalanya. Dan jelas dia melihatku!


"Fuihh." Tsukihi menyeka dahinya. "Syukurlah tidak ada. Nii-san, jangan membodohi ku."


Apakah matamu buta! Ada laki-laki gagah di depanmu!


Tapi karena kesabaran ku, aku tidak mempermasalahkannya, dan membiarkannya.


Sekarang aku terdengar sangat dewasa.


Mengepal tangan, aku meletakkannya didepan mulut, dan batuk.


"Ehem!"


"...." Karen hanya memiringkan kepalanya.


"Ehem!"


"...."


"Ehe-*tersedak*"


Tersedak, aku meletakkan tanganku di dadaku dan mengusapnya.


Aku pikir aku akan mati, fuih...


"Pfff... Hahaha" Karen memegang perutnya dan tertawa. "Apa yang kau lakukan, nii-san? Memainkan drama atau apa?"


Sudut mulutku berkedut.


Aku berjalan kearahnya dengan datar. Karen mundur dengan perubahan sikapku.


Dia terpojok, punggungnya menyentuh dinding. "E-eh..." suaranya rendah, sedikit takut diraut wajahnya.


Menghempaskan tanganku Kedinding, aku mendekatkan tubuhku.


Dadanya menyentuh dadaku.


Mengangkat tangan lainnya, aku mencubit dagunya, dan mengangkatnya.


Mata kami bertemu. Dia melihat kekosongan dimataku.


Aku mendekatkan wajahku, mulut kami beberapa jarak terpisah. Sangat dekat untuk berciuman.


Mata Karen gentar. Dia melirik ke samping dan menutup matanya.


Menunggu hal yang jelas.


"Makanan ada di atas meja." Kataku.


Tidak ada yang terjadi. Aku hanya memberitahunya , masuk gendang telinganya.


Karen sedikit mengintipnya, sebelum dia membuka matanya.


Aku memberikan senyum menggoda kearahnya. Lalu menertawakannya, sebelum aku berjalan ke atas, meninggal Karen yang tertegun.


Karen terjatuh dan bersandar di dinding. Napasnya tersengal, seluruh wajahnya memanas, dan kemudian dia menghela nafas saat melihat kakaknya pergi.


Mengejutkannya dengan perubahan sikap kakaknya yang tidak dia duga.


_______


Di kamar, aku duduk disudut kasur, dan menatap ke layar ponsel.


Dipojok kiri bawah, aplikasi mencurigakan terpasang.


'Dimensional group??'