
"Berapa level mu sekarang?"
"Aku tidak tahu." Aku mengangkat bahuku. Sebelum kembali ke mansion ini, aku membunuh beberapa monster, jadi aku tidak mengetahui apakah levelku meningkatkan atau tidak.
"Tetap saja aku tidak percaya ada burung yang mengeluarkan api seperti burung Phoenix." Darkness terus menerus menatap Sky yang ada di kepalaku. Dia seperti memikirkan sesuatu di kepalanya.
"Burung itu sangat keren! Aku sangat iri!" Mata Megumin bersinar. Lalu dia melihat ke arahku. "Araragi, beritahu aku di mana aku bisa mendapatkannya!"
Aku menjawabnya dengan jujur, "Di langit."
Seperti Megumin tidak puas dengan jawabanku. "Jangan bercanda. Aku juga menginginkan burung yang keren seperti itu!"
"Aku tidak berbohong." Megumin melihat ke arahku dengan tidak percaya. Aku tidak peduli dan melanjutkan, "Saat aku di hutan, aku melihat Sky terbang di langit, jadi aku mengikutinya dan menjadikannya rekanku."
"Seperti itukah?"
"Seperti itu." Aku mengangguk. "Dan tentang hutan itu, kau pasti mengetahuinya, Megumin."
"Aku?"
"Ya. Hutan Orc, dekat klan setan merah."
"Kau tidak berbohong 'kan?"
"Aku tidak." Megumin melihat ke arahku seperti anak kecil yang mengharapkan sesuatu. "Kau bisa bertanya kepada laki-laki yang mengaku temanmu. Kalau tidak salah nama Bukkororii. Dia juga ada di sana dan melihatnya."
"Bukkororii? Tidak. Dia bukan teman ku. Tapi jika Araragi mengatakan itu, aku akan bertanya kepadanya nanti."
Pada saat ini, aku memikirkan tentang group chat yang sejak datang kesini tidak pernah aku lihat lagi. Bagaimana situasi group chat sekarang selagi aku grinding exp? Aku meninggalkan ponselku di kamarku, jadi aku tidak mengetahui apa-apa tentang situasi beberapa hari terakhir.
"Aku akan kembali ke kamarku." Aku bangkit dan berjalan ke atas. Sky masih ada di kepalaku. Setelah berjalan di koridor, aku tiba di pintu kamarku. Aku membuka pintu kamar ku dan masuk.
"Memiliki rumah yang besar tidak selalu menyenangkan..."
Itu adalah fakta yang aku katakan. Rumah besar seperti mansion itu bagus, hanya jika penghuninya juga banyak. Jika sendirian, itu hanya akan menyebarkan suasana yang suram dan sepi.
Jendela dan tirai ditutup. Lampu di matikan. Meskipun siang hari, ruangan di kamarku terlihat gelap. Tapi setelah aku masuk, kamarku terlihat jelas karena tubuh Sky yang memancarkan api, menerangi seluruh ruangan.
Aku berjalan ke atas ranjang dan berbaring di atasnya. Dengan menatap langit-langit dengan linglung, aku tiba-tiba memikirkan beberapa hal.
Saat aku datang ke sini, apakah waktu di duniaku tetap berjalan, atau berhenti? Jika itu yang pertama, aku akan mendapat masalah ketika kembali. Aku mendengus ketika memikirkannya.
"Yah, kuharap mereka berdua tidak menangis saat aku tidak ada."
"Kiee?"
"Ya, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja Sky."
"Kiee!"
Setelah berbaring sebentar, aku mengambil ponselku yang berada di atas lemari kecil di samping kasur, dan melihat.
Beberapa pesan baru masuk. Aku membuka group chat.
[Tsunade Senju: Bagaimana untuk persiapan kalian besok? Jika kalian tidak bisa membunuh atau melukai manusia, lebih baik kalian tinggal di rumahku saja. Aku hanya memberitahu, ini tidak se-menyenangkan yang terlihat seperti di anime.]
Tsunade benar. Anime Naruto tidak seindah jika bukan dari sudut pandang Naruto. Jika dilihat dari sudut pandang lain, anime ini akan berganti genre.
[Rias Gremory: Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan darah atau kematian. Hanya beberapa manusia mati, tidak ada masalah untukku.] Seperti yang diharapkan dari iblis bertetek jumbo.
[Ruri Gokou: Aku... tidak bisa. Membunuh, tidak, bahkan melihatnya saja aku sudah tidak tahan. Maafkan aku. Tapi aku akan membantu sebisa ku!] Jika hanya melihatnya, aku pikir aku akan baik-baik. Tapi jika membunuh seseorang, aku juga sedikit ragu tentang itu.
Aku mengerti perasaannya. Kami hidup di abad 21, tidak yang namanya peperangan secara harfiah.
[Sakata Gintoki: Tidak perlu memaksakan diri. Hidup di dunia yang damai selama hidup, akan sangat sulit untuk beradaptasi di dunia Tsunade. Serahkan saja kepada yang lain.]
[Satou Kazuma: Benar. Seperti yang kalian tahu, aku tidak bisa membunuh katak yang lemah apalagi seorang manusia yang berpengalaman. Aku akan menyerahkannya kepada kalian.]
Yang memiliki kekuatan di kelompok ini Tsunade, Rias, dan Gintoki, termasuk aku, sisanya tidak ada yang bisa diandalkan.
Sekarang, saatnya giliran ku. [Araragi Kiyomi: Yup, itu benar. Aku serahkan semuanya kepada kalian bertiga.]
[Sakata Gintoki: Oi, Oi, Apa yang kau maksud bertiga? Aku hanya seorang pria yang bisa mengayunkan pedang, bagaimana bisa aku mengalahkan seseorang yang bisa mengeluarkan api dari mulutnya!] Meskipun begitu, Aku yakin dia dapat mengalahkan beberapa ninja rank B jika sifat liarnya muncul.
[Araragi Kiyomi: Siapa yang peduli? Itu bukan urusanku. Hahaha!]
Setelah selesai mengetik itu, aku menutup ponselku, dan aku memejamkan mataku. Besok akan dimulai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi aku akan berusaha untuk tetap hidup.
"Kiee!" Seperti yang diharapkan dari Sky. Dia mengerti apa yang aku maksud. Pada saat ini, tubuh Sky bersinar dan menjadi bola api. Kemudian, saat bola api itu bergerak ke telingaku, Sky berubah menjadi anting di telinga kiri ku. Anting bulu seperti bulu dari Sky, merah api.
"Terimakasih, Sky. Dan maafkan aku soal ini."
"Kiee!"
Kemudian, Aku memakai kembali pakaianku sebelum aku datang ke sini. Pakaian sekolah dan tas. Lalu, dengan mengklik kembali di ponselku, semua ruang tiba-tiba berubah dari bidang penglihatan ku.
Aku mengangkat kepalaku. Pemandangan langit senja yang aku lihat sebelumnya telah menjadi malam. Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Bangku dan taman yang familiar, yang sudah dipastikan aku kembali.
"Ternyata waktu di duniaku masih bergerak." Aku menghela nafas. "Dan sudah berapa hari sejak saat itu?"
Mungkin ada perbedaan waktu yang besar sehingga aku dianggap telah hilang selama seminggu atau sebulan. Tapi Aku harap itu tidak terjadi.
Bangkit, Aku meregangkan punggungku dan pergi. Tapi, saat aku baru berjalan satu langkah, aku mendengar sesuatu. Aku memfokuskan telingaku.
Suara "Ah!" dari seseorang yang teekejut.
Detak jantung yang berdegup kencang, dan suara nafas yang melambat seolah ditahan dari semak-semak taman.
Aku terdiam. Kemudian, aku mengetuk kaki ku dan berlari dengan kecepatan tinggi ke belakang semak-semak itu. Jika dilihat dari mata telanjang biasa, aku akan terlihat seperti menghilang di tempat.
Seorang gadis berkacamata dan rambut bergaya kepang. Itu Hanekawa Tsubasa. Dia jatuh dengan pantat saat melihat aku menghilang.
Apa yang dia lakukan malam-malam di sini?
Sendirian? He!
Aku tersenyum licik. Dengan langkah kaki ringan, aku diam-diam berjalan ke belakangnya. Lalu, Aku mendekat wajahku ke telinga, dan "Huhhh!" Aku meniup telinganya.
"Kya!" Hanekawa berbalik ke arahku dengan spontan. Dan saat dia melihat ku, dia meletakkan tangannya di dadanya dan menghela nafas. "Ternyata Araragi-kun."
"Bukan, aku penjahat!" Aku meninggikan suara ku. "Serahkan semua uang yang kamu punya!"
"Eh? Tapi Aku tidak punya uang."
"Jika tidak ada, bagaimana dengan tubuhmu?!"
"U-um, tubuh, ku...?"
"..." Aku menatapnya dengan kosong. Turun ke bawah, aku tanpa sadar melihat ke arah tubuhnya. Hanekawa sedikit tertegun dan meringkuk.
"A-apa?"
Apa aku terlalu berlebih?
Aku mengendur ekspresi ku dan menghela nafas. "Hanekawa Tsubasa, apa yang kau lakukan di taman malam-malam seperti ini?!"
"Aku,... Hanya mencari udara segar." Hanekawa menundukkan kepalanya. Mungkin karena mendengar suara serius dari ku, dia tidak berani bercanda.
"Hah..." Aku menggaruk kepalaku. Lalu mengulurkan tangan ku dan berkata, "Kau tidak apa-apa, Hanekawa?"
"Um, tidak apa-apa." Aku menariknya saat dia mengambil lenganku. Lalu Hanekawa menepuk debu di bagian belakang roknya. "Kau sangat menakutkan Araragi-kun. Dan saat kau mengatakan "Dengan tubuhmu", Aku pikir kau serius saat mengatakan itu."
"S-siapa yang serius! Aku hanya bercanda!"
"Benarkah?" Hanekawa tersenyum ke arahku.
"Tentu saja!" Aku mengatakannya dengan wajah lurus, "Aku adalah pria yang tidak akan pernah mengambil kesempatan kepada seorang gadis!"
"Hmm..." Hanekawa bersenandung dengan main-main. Lalu dia menatap ke mataku sebelum berkata, "Jika Araragi-kun, aku tidak apa-apa."
!
Aku terdiam sebentar sebelum berkata dengan tegas, "Meskipun begitu, aku tetap tidak mau!"
"Mengatakan dengan lantang," Hanekawa mendorong kacamata di pangkal hidungnya. "kamu menyakiti perasaan ku, Araragi-kun."
"M-maafkan Aku."
"Ahaha, Aku hanya bercanda. Sangat menyenangkan berbicara denganmu, Araragi-kun."
Aku tersenyum beberapa saat sebelum menatapnya. Aku membuat ekspresi menjadi serius. "Jadi, Apa kamu melihatnya, Hanekawa?"
"