BokuMonogatari

BokuMonogatari
Mito Uzumaki



"Eh, siapa?" Ruri melihat ke arahku dengan terkejut. Bahkan dia sedikit takut ketika melihat ku.


"Araragi Kiyomi."


"Tidak mungkin!" Teriak Ruri.


"Hah? Araragi Kiyomi? Dia?" Seorang perempuan berambut merah juga terkejut saat mendengar nama ku, saat dia menoleh ke arahku.


"..." Aku terdiam.


Apakah Aku terlihat sangat berbeda? Tidak mungkin, kan....?


"Oh, apa ini yang kau maksud, Kazuma? Sekarang Aku mengerti. Aku benar-benar terkejut." Seorang pria berambut putih berbisik kepada Kazuma.


"Aku tahu itu." Kazuma mengangguk, melipat tangannya. "Saat Aku melihatnya pertama kali, Aku juga benar-benar terkejut. Bahkan Aku sempat sedikit ragu dia adalah Araragi Kiyomi."


"..." Mulutku berkedut saat mendengar mereka.


"Baiklah. Semuanya, ayo masuk ke dalam terlebih dahulu." Suara lantang terdengar yang menarik perhatian kami. Yang berbicara itu seorang wanita dengan aura yang kuat. "Aku juga ingin berbicara banyak hal dengan kalian, tapi tidak baik berbicara di luar seperti ini."


Seperti yang diharapkan dari Sannin, memiliki aura kuat dan berwibawa.


"Itu benar. Jika Danzo mendengar percakapan kita, itu akan menjadi masalah yang besar." Ruri mengangguk setuju.


"Ya, Dan setelah itu kita bisa berjalan-jalan sebentar setelah melakukan misi." Kata Rias. Kemudian Dia dan Ruri masuk ke dalam rumah yang sangat besar itu.


Tersenyum, Aku berjalan ke Tsunade. Dan saat didepannya, Aku membungkuk dan berkata, "Seperti yang diperintahkan Hime-sama."


Mulut Tsunade berkedut saat melihat itu. Mengangkat tangannya, dia menjatuhkan tinjunya dengan lemah untuk menggertak ku. Meskipun begitu, tinju itu dapat meretakkan beberapa bagian tulang seseorang.


"Diam dan segera masuk!"


Bang!


"Haha, Sambutan yang hangat." Aku memblokir tinjunya dengan telapak tangan ku, dan kemudian aku segera melepaskan tangannya dan masuk sebelum dia mengatakan apapun. Tsunade terdiam ketika alisnya terangkat dengan tertarik.


"P-permisi." Gintoki dan Kazuma bergegas menyusul ku tanpa banyak bicara saat melewati Tsunade.


Di dalam.


Ruangan yang cukup luas dengan meja pendek di tengahnya dan sedikit terisolasi daripada ruangan yang lainnya. Tempat yang bagus untuk membahas sesuatu yang penting.


"Sebaiknya kita memperkenalkan diri kita terlebih dahulu sebelum kita membahas lebih lanjut." Kata Tsunade, saat dia melihat ke arah kami.


"Ide yang bagus. Biar Aku yang pertama." Rias mengangguk. Dia memiliki ekspresi yang tenang di wajahnya. "Rias Gremory. Seorang iblis dan siswa SMA. Salam kenal."


Setelah Rias, kami memperkenalkan diri satu persatu dengan sederhana karena kami hampir mengenal satu sama lain, melihat dari animenya, kecuali untuk Tsunade karena dia bukan dari dunia modern.


"Baiklah, meskipun ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung, mohon bantuannya semuanya." Kata Tsunade, melipat tangannya, saat dia melirik ke arahku sebelum melihat Ruri dan berkata. "Kemudian, untuk yang tidak ingin ikut, kalian bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu."


Tepat ketika Tsunade selesai bicara, Aku mengangkat tanganku. Tsunade melihat ke arahku dan mengangguk.


"Oke, Eiji tinggal." Tsunade menatapku dengan kecewa. Menggelengkan kepalanya, dia melihat ke lainnya, bertanya, "Siapa lagi?"


Aku menatapnya dengan datar sebelum berkata, "Kamar mandi. Di mana kamar mandi?"


"Oh, kamar mandi kah? Maaf, Aku pikir kau tidak ingin ikut."


Aku memutar mataku. "Aku tentu ikut. Tapi sebelum itu dimana kamar mandinya?"


"Oh, itu...."


Setelah Tsunade memberitahu di mana kamar mandi, Aku keluar dan pergi ke kamar mandi seperti yang Tsunade instruksikan. Berjalan di koridor, tiba-tiba seorang wanita muncul dari sisi lain.


Wanita itu, yang memiliki rambut merah, berhenti didepan ku dan bertanya dengan dingin, "Apa kamu teman Tsunade dari desa lain yang Tsunade katakan?"


Sepertinya itu yang Tsunade katakan kepadanya.


Aku mengangguk. "Ya, itu benar."


"Begitu..." Wanita itu mencubit dagunya dan terdiam ketika melihat ke arahku. Aku memiringkan kepalaku dan menunggunya dengan penasaran. Tapi...


"Er... Apakah anda nenek Tsunade?" Tanya ku, setelah melihatnya tidak bergerak selama beberapa menit. Meski Aku menanyakan itu, Aku mengetahui siapa wanita itu.


"Oh, maafkan Aku." Wanita itu menutup matanya, sebelum melihat ke arahku kembali dan berkata "Aku nenek Tsunade, Mito Uzumaki."


Mito sedikit tersenyum saat Aku mengatakan itu. "Tidak. Tidak perlu." Kemudian dia melihat ke telingaku, lebih tepatnya ke anting ku, bentuk Sky saat ini. Dan kemudian dia bertanya, "Nak, siapa nama mu?"


Sial, sepertinya dia mengetahuinya meskipun Sky sudah menyembunyikan Mana milikinya. Seperti yang diharapkan dari anggota klan Uzumaki, yang hebat dalam sensor chakra.


"Araragi Kiyomi." Aku menghela nafas. "Saya tau apa yang ingin anda katakan. Maksudnya ini kan?"


"Kiee!" Sky berubah menjadi burung dan berdiri di bahuku. Aku menggosok kepalanya, saat dia mengepakkan sayapnya, menciptakan gerakan indah dari bulu-bulunya yang berapi-api.


"Itu..." Mito tertegun, terdiam. Ketika dia seperti itu, dia seolah-olah berbicara dengan seseorang. "Kamu bilang itu bukan monster berekor? Lalu makhluk apa itu?"


? "..." Aku mengangkat alisku. Berapa lama lagi Aku harus seperti ini? Ah, Aku ingin ke kamar mandi!


Melihat ketidaknyamanan ku, Mito mengangkat tangannya didepan mulutnya dan berpura-pura batuk sebelum berkata, "Maafkan Aku jika ini mengganggumu."


"Tidak masalah." Aku memaksakan senyumku dan berkata, "Kalau tidak ada lagi ingin anda katakan, saya permisi."


Setelah mengatakan itu, Aku segera pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa menit di dalam, Aku kembali dengan Sky duduk di kepalaku.


"Huh. Hendak ke kamar mandi saja sangat merepotkan." Aku memasukkan tanganku ke dalam saku celana dan melihat sekeliling.


"Kiee!"


Masuk kedalam ruangan, Aku duduk ke tempatku. Pada saat itu, tatapan mereka jatuh ke arahku. Aku mengerutkan alisku.


"Apa itu?"


"Um, darimana burung itu, Araragi-san?" Ruri melihat ke kepalaku, lalu ke mataku. "Apa kau tidak terbakar saat menyentuhnya?"


"Oh." Aku menurunkan Sky dan meletakkannya di atas meja. "Teman ku, Sky." Kemudian Aku menggosok bulunya dengan lembut, dan berkata, "Seekor burung Phoenix. Dan dia tidak berbahaya."


"Kiee!"


"Phoenix?" Wajah Rias tiba-tiba menjadi serius. Dia menyipitkan matanya dan menatap Sky. "Ah, Mana yang sangat padat dan panas. Aku tidak percaya bisa melihat ini."


"Aku juga." Ruri mengangguk." Dan ini sangat mengejutkan untukku. Aku tidak pernah melihat seekor burung mengeluarkan api seperti itu."


"Tentu saja kau tidak pernah melihatnya." Aku melipat tanganku. "Di duniamu tidak ada genre fantasi atau supranatural." Kemudian Aku menutup mulut ku dengan bahu yang gemetar, menahan hawa. "Tapi genre incest, untuk ditolak karena mencintai adiknya."


"K-kau!" Ruri menggertakkan bibirnya karena malu dan marah. "Siapa yang ditolak! Aku tidak pernah berpacaran dengan laki-laki itu!" Lalu dia melipat tangannya dan menoleh ke arah lain, "Hmph, tidak akan pernah, bahkan dimasa depan!"


Di sebelah ku, Gintoki berkata sambil menggaruk hidungnya, "Aku yakin yang membuat cerita seperti itu hanya seseorang yang sangat mesum."


Ketika mendengar itu, Kazuma mengangguk dan berkata, "Ya. Siapa yang bernafsu dengan adik kandungnya sendiri." Dia menatapku sebelum menggelengkan kepalanya, "Tapi jika itu adik tiri, Aku tidak mempermasalahkannya."


Oi, apa maksudnya itu?!


Meletakkan Sky ke kepalaku, Aku menatap Tsunade dan bertanya, "Oh ya, siapa yang tidak ikut?"


Tsunade menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Semuanya ikut."


"Kau serius?" Aku mengangkat alisku. Menarik pandangan ku, Aku menatap ke Ruri saat dia memalingkan wajahnya. Aku menggaruk kepalaku dan bertanya, "Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


"Huh." Aku Menghela nafas. "Apapun yang kau inginkan." Kemudian Aku berbaring di tempat ku dan berkata, "Tidak seperti Aku bisa melarang seseorang atau semacamnya. Dan mungkin untuk kedepannya, Itu lebih buruk dari ini."


"Ya..."


"Baiklah." Tsunade berdiri. Menyapu ke arah kami, dia mengangguk. "Semuanya bersiap dalam satu jam lagi. Setelah itu kita segera berangkat."


...xXxXx...


Tidak ada yang perlu kami siapkan. Tsunade sudah mempersiapkan semuanya sebelum kami ke sini. Yang perlu kami siapkan, hanya mental kami agar dapat menerima apapun ke depannya.


Dan untuk Tsunade, dia sepertinya berbicara tentang penyerangan Clan Uzumaki kepada neneknya, Mito. Dan karena itu, kami tidak perlu bertemu dengan Hokage saat berada di dalam desa Konoha.


Di gerbang masuk desa, puluhan ninja dari Clan Senju berkumpul, dengan tas dan alat khusus, bersiap untuk berpergian. Mereka adalah ninja yang dikirim oleh Mito untuk membantu kami setelah dia mengetahui apa yang sedang kami lakukan.


Berdiri di pos penjaga, Aku memakan makanan yang baru saja Aku beli di jalan. Memakan itu, Aku mengamati setiap ninja yang dikirim oleh nenek itu.


"Hei, apa sudah selesai?" Suara seperti diriku terdengar dari bawah. Menunduk, Aku melihat diriku sendiri yang sedang menggendongku dipundaknya.


Itu adalah klon ku.