
"TIDAK!!!!!"
Sebuah teriakan.
"Berhenti mendekat atau kalian akan aku hancurkan!"
Aku berteriak sekuat tenaga. Di depan, bukan, di sekelilingku, aku dikepung oleh segerombolan Orc. Berwajah babi dan bertubuh gemuk, yang secara keseluruhan adalah laki-laki dengan memiliki libido yang sangat tinggi.
Itulah yang aku tahu dari novel atau manga. Tapi sepertinya semua itu salah.
"Pria tampan, berhentilah melawan. Ayo tinggal di sini, kau dapat membuat Harem seperti impianmu."
Yang berbicara adalah Orc wanita. Dia merentangkan kedua tangannya dan seperti bersiap menerkam ku kapan saja. Aku meneguk ludah ku.
"Harem matamu!" Teriak ku. "Aku lebih baik mati daripada bersama denganmu, dan kalian semua!"
"Hahaha, dia tidak ingin denganmu. Biar aku saja." Seorang Orc wanita lain menatapku dengan lapar. "Hey pria manis, aku ingin berkenalan dengan teman kecilmu."
"Tidak! Temanku sangat besar!"
"Aku suka yang besar!"
"Siapa yang peduli pendapatmu!"
Aku menatapnya dengan waspada. Orc wanita itu memiliki telinga kucing. Bukan runcing babi, tapi telinga berbulu seperti kucing. Tidak seperti Orc pada umumnya, semua Orc aku lihat adalah wanita. Bukan hanya itu, beberapa bagian tubuh mereka juga aneh, seperti campuran dari berbagai spesies lain.
Mereka perlahan mendekat, mengepungku. Berdering!- Firasat laki-laki ku memberitahuku itu. Jika aku tidak melakukan apa-apa, aku berada dalam situasi yang sangat berbahaya.
Aku menggerakkan gigiku dan mengaktifkan Mana ku. Energi mana yang besar meluap dari tubuh ku, dan seperti menjadi super Saiya, rambutku terangkat melawan gravitasi.
Lalu aku merapal mantra Ledakan dengan bergumam.
Mungkin karena merasakan bahaya dari ku, salah satu Orc wanita itu berteriak, "Hentikan pria itu, dia berbahaya! Cepat tangkap sebelum dia selesai merapal!"
"Berbahaya artinya dia kuat! Aku suka pria kuat!"
"Biarkan aku yang pertama!"
"Pria tampan! ayo kita menjadi suami istri yang bahagia! Lalu memiliki tiga puluh anak laki-laki dan tiga puluh anak perempuan! Setelah itu kita bisa bersantai di pinggir sungai sambil ***-***!"
Mimpi buruk yang sangat mengerikan!
Satu persatu mereka berlari ke arahku. Lalu satu persatu itu menjadi gerombolan Orc wanita, yang mengubah hal itu menjadi pemandangan yang mengerikan.
Klik-! Aku menjentikkan jariku.
Lalu aku mengucapkan mantra terakhir dengan keras. "Explosion!"
Setelah pengucapan ku, aku mendengar suara "Bang Bang Bang!" memekik di atas kepalaku.
Kemudian tekanan besarr bersama rasa panas dari atas ke bawah. Pada saat itu, Aku perlahan merasakan seluruh kulit ku mengelupas seperti ular.
Seperti- Aku terbakar di api, tidak bisa berteriak.
Aku menatap lurus ke atas. Seluruh langit merah. Mungkin itu hanya perspektif dariku, tapi aku yakin, langit yang aku lihat itu begitu indah.
Sangat cantik-
"Ahhhh!!"
Merah — Seluruh tubuhku terbakar.
"Ah-! Ahhhh..!!!"
Rasa sakit yang tidak pernah aku bayangkan. Aku berguling-guling di tanah sambil berteriak. Tidak, bahkan berteriak saja aku tidak bisa. Paru-paru dan organ dalam ku terbakar dari dalam. Tapi berkat air keabadian, semua luka yang aku terima itu segera sembuh.
Dan itu adalah bagian yang terburuknya – Aku, tidak mati.
Tubuhku hancur, lalu sembuh. Kemudian hancur, dan sembuh lagi. Berulang-ulang, hingga sihir Ledakan itu selesai.
Saat itu selesai, rasa sakit terbakar itu menghilang begitu saja, dan aku merasakan kekuatan yang melimpah dari tubuhku. Berdiri, Aku bernafas dengan sesak. Lalu aku melihat sekeliling. Orc wanita yang paling dekat dengan ku menjadi babi panggang, dan yang jauh tersapu oleh gelombang sihir Ledakan. Tapi Mereka masih hidup.
"Ada apa dengan pria itu, dia benar-benar meledakan dirinya sendiri."
"Sayang sekali. Sekarang Aku tidak bisa ***-*** dalam waktu dekat."
Gerombolan Orc wanita itu perlahan bangkit. Ekspresi sedih di wajah mereka seperti mereka kehilangan buruan yang mereka tangkap. Lalu satu persatu mereka bubar. Tapi, saat salah satu Orc wanita melihat ke tengah bekas Ledakan, dia melihat ku. Dia tercengang, takut, tapi juga gembira.
"Hey, Dia masih hidup!" Teriak salah satu Orc wanita itu. Kengerian yang dia lihat bahwa aku baik-baik saja dari sihir ledakan itu, membuatnya takut. Dia tidak ingin mengambil resiko, karena itu dia memanggil teman-temannya.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa?!"
"Lihat tubuhnya, itu sangat menakjubkan!"
"Ini kesempatan kita! Dia tidak mungkin lagi memiliki banyak kekuatan!
Para Orc wanita itu berbalik kembali. Dan menjadi gerombolan Orc seperti sebelumnya. Sial! — Aku mengutuk dalam benak ku.
Menyebarkan seluruh Mana ku di seluruh tubuhku, Aku menekuk kan lutut ku, dan melompat. Lalu pada saat di udara, aku mendorong kaki kiri ku, yang disaat bersamaan aku mengisi kaki ku dengan Mana.
Dengan Mana yang Aku gunakan, Aku terdorong ke langit lebih jauh lagi. Aku dapat meratapi semuanya dari bawah. Gerombolan Orc wanita itu sekarang seperti semut di mataku.
Kemudian, tanpa buang waktu lagi aku mengambil kartu petualang ku, memilahnya sebentar, dan kemudian menyimpannya. Pada saat ini, aku berada di puncak lompatan ku.
Rasanya seperti melayang — Tidak ada
gravitasi yang menekan tubuhku. Seperti burung, aku memutar tubuhku ke bawah saat aku perlahan mulai turun.
"HAHAHA!" Aku tertawa dengan seluruh udara di paru-paru ku. "Terimakasih poin nya!"
Aku merentangkan tanganku. Melepaskan Mana ke kedua tanganku, dan Mana itu berubah menjadi pedang petir. Para Orc wanita itu menjauh dari titik Aku akan jatuh.
Retak! Saat kaki ku menyentuh tanah, seluruh debu di tendang, dan tanah di bawah ku retak seperti jaring laba-laba. Dan tanpa buang waktu, aku berlari ke dalam kabut berdebu itu.
Tebas! Tebas! Tebas!
Aku memotong apa yang aku lihat di depan mataku. Bahkan dengan teriakan ngeri sekalipun aku tetap membelah itu menjadi dua. Wajahku memerah karena darah, dan bau daging yang gosong tercium dari kedua tanganku.
Menebas. Aku beralih ke sisi lain. Lalu menebas — Aku dapat merasakan kulit yang terbakar dari ujung jari-jari ku.
Setelah beberapa saat, tempat ini berubah menjadi lautan darah.
Merah — Aku berdiri di sekeliling tumpukan mayat. Persamaan kosong apa ini? Bahkan setelah melakukan semua ini, aku tidak merasakan merasakan bersalah ataupun rasa simpati.
Aku menatap langit dengan kosong. Mereka hanya monster, Orc dengan libido tinggi yang merugikan spesies manapun.
Benar. Aku harus membunuh mereka untuk Exp ku- Uhuk, maksudku untuk kedamaian dunia!
Tanpa suara terdengar, semua kepala Orc wanita dari sisi ku terjatuh secara bersamaan. Lalu tubuh mereka terjatuh, dan genangan darah mengalir dari leher mereka.
Saat debu menghilang, kengerian terlihat di seluruh mata. Pada saat itu, seluruh waktu seperti berhenti sejenak.
Dan potongan kepala yang bergulir, membuat mereka berlarian, berdesakan.
"Lari! Laki-laki manusia itu tidak normal!"
"Ahh! Minggir, Aku tidak ingin mati!"
Ingin lari? Ha, Lelucon yang lucu.
Aku mengangkat tanganku. Merapalkan mantra dengan cepat, dan,
"Explosion!"
Mereka musnah tanpa mayat.
Tidak semuanya musnah, mereka menyebar dengan acak. Jadi Aku sekali lagi merapal sihir Ledakan.
Boooommmmmm!
Dan sekali lagi, aku mengarahkan sihir Ledakan ini ke tempat lain. "Booommmmm!" Dan setelah beberapa puluh kali, aku berhenti. Pedang petir di tanganku juga menghilang.
"Masih ada yang selamat... Lupakan. Aku ingin memeriksa kartu petualang ku"
Berkedip, Aku mengangkat kepalaku. Setelah pikiran ku sedikit rileks, aku menyadari tubuhku sedikit berangin. Sedikit — Aku telanjang!
Secara refleks aku menurunkan tanganku, menutupi junior ku. Tapi setelah melihat sekeliling, aku menghela nafas.
"Tidak ada seseorang di daerah seperti ini."
Tidak setelah hal berikutnya. Aku merasakan mana perlahan muncul di sisi kiri ku. Kemudian tiga orang muncul dari udara tipis. Itu teleport. Ketiganya adalah laki-laki.
Mata ketiga orang itu merah. Merah pekat seperti mata loli yang aku tahu. Dan Aku juga tau mereka. Mereka adalah penyihir dari Clan setan merah seperti Megumin.
Mata merah itu menoleh, dan saat hendak ke arahku, aku mengetuk kaki ku dan berlari ke depan. Lalu mengambil jubah milik salah satu laki-laki itu tanpa dia sadari. Kemudian, aku mengikat jubah itu di pinggangku, dan kembali ke tempat aku berdiri sebelumnya.
"Apa yang terjadi dengan tempat ini? Ini hancur berantakan."
"Bukankah ini wilayah para Orc? Dimana mereka sekarang? Apakah mereka bertarung dengan seorang penyihir?"
"Sepertinya begitu-"
Tiga pasang mata mereka menoleh ke arah ku. Lalu mereka terdiam. Seorang laki-laki, yang hanya mengenakan kain yang diikat di pinggangnya, berdiri tegak sambil melipat tangannya di daerah Orc wanita.
Dan itu adalah Aku.
Aku. Terlihat seperti seorang mesum yang mencari gairah dengan Orc wanita. Hiks...