
[Rias Gremory: Ohh, Araragi Kiyomi, aku dapat meramalkan masa depanmu.]
[Ruri Gokou: Ya, itu hal yang mudah untuk dilakukan. Hanya perlu nama, dan kemudian aku dapat meramalkan masa depan seseorang.]
Lihat betapa sombongnya mereka. Aku juga tahu masa depanku sendiri. Tapi aku tidak mungkin memberitahu mereka.
[Araragi Kiyomi: Wow, hebat. Tapi, tidak perlu. Karena hidupku tidak akan menarik lagi setelah nya.]
[Rias Gremory: Begitu kah? Sayang sekali, padahal itu menarik. Meskipun tidak ada masalah, akan ada bahaya dimasa depanmu, Araragi Kiyomi.]
Meskipun pihak lain tidak tertarik, Rias masih memperingati ada bahaya di dunianya.
[Araragi Kiyomi: Tidak ada yang lebih berbahaya daripada adikku yang marah karena memakan es krim yang dia simpan untuk dia makan nanti.]
[Ruri Gokou: Orang ini...]
[Satou Kazuma: Sial, aku benar-benar iri dengan Vampir pirang dengan ***** besar itu.]
....
Di dunia Konusuba.
"Vampir pirang dengan ***** besar sungguh menakjubkan."
"A-a-apa yang kau katakan, Kazuma?!"
"Kenapa kau tersipu Darkness? Bukankah pria itu setiap hari seperti itu? Tidak perlu untuk dibesar-besarkan."
"Wah, Kazuma, apakah pikiran liar mu sudah diluar kendali? Biar aku bantu, Purification!"
"Kenapa dengan kalian semua?! Pergi dariku, hus hus!"
....
[Araragi Kiyomi: Hmm. Aku rasa kalian bukan hanya sekelompok Chuuni biasa. Rias Gremory, bisakah kau mengirim fotomu? Aku perlu memastikan.]
[Rias Gremory: Tidak masalah.]
[Rias Gremory mengirim sebuah foto, klik untuk melihat.]
Nyata? Aku terdiam.
Lalu, aku mengambil sendok dan memakan roti bergoyang, sebelum aku melihat ponselku kembali.
Apa yang lebih mengejutkan daripada aku bereinkarnasi?
Mengklik foto itu, aku melihat seorang gadis dengan rambut merah panjang duduk di sofa. Dia menatap ke kamera tanpa ekspresi, dengan bingkai belakang yang terlihat mewah.
Bukan foto 2d, tapi yang nyata. Cosplayer? Menurutku tidak. Karena, satu hal yang membuktikan dia adalah Rias Gremory.
Itu Oppai.
Oppai dengan ukuran yang diluar nalar anak SMA, dan dengan gravitasi yang berpusat, itu menarik seluruh umat laki-laki.
[Araragi Kiyomi: Menakjubkan.]
[Satou Kazuma: +1]
[Gentoki Sakata: +1]
[Ruri Gokou: Kalian laki-laki sama saja.]
[Araragi Kiyomi: Maksudku, Rias Gremory itu bukan seorang Chuuni, dan benar-benar nyata. Melihat karakter fiksi menjadi nyata sangat menakjubkan, bukan?]
[Ruri Gokou: B-begitukah? Yah, tapi aku Bagaimana mengerti perasaanmu.]
"Onii-chan? Itu benar-benar Onii-chan!"
"Yo, Tsukihi-chan."
Bahkan tanpa melihat, aku sudah tahu siapa dia dari suaranya.
Aku menoleh ke arahnya.
Bukan hanya Tsukihi, tapi juga ada Karen bersamanya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bagaimana dengan patroli sebagai Fire Siscon atau apapun itu?"
"Bukan Siscon, tapi Sister! Fire Sister! Ada apa dengan otakmu Onii-chan? Kau kembali bodoh? Syukurlah."
"Jangan bersyukur tentang itu!"
Setelah mengatakan itu, aku keluar dari group chat, dan kemudian mematikan ponsel ku.
"Kami juga manusia, kami bisa lelah." Kata Tsukihi.
Kemudian, dia duduk di seberang ku, menyandarkan punggungnya, dan menghela nafas.
"Ternyata melakukan hal semacam itu membuat lelah, ya. Tapi kenapa kalian tidak berhenti saja?"
"Tidak bisa. Seorang pembela keadilan tidak akan mengeluh hanya karena sedikit lelah, Nii-san." Kata Karen.
"Begitu kah- Dimana makananku?!"
Saat aku melihat ke arahannya, coklat lava ku sudah habis.
Mendengar itu, Karen menggosok kepalanya. "Hehehe, di perutku."
"Bagaimana bisa?!"
"Tanganku bergerak dengan sendirinya."
"Mana mungkin!"
Aku dengan datar melihat ke arahnya.
Lalu, aku melanjutkan memakan kue lembut ku sebelum berkata, "Maksud ku, kalian tidak mendapatkan keuntungan apapun dari melakukan hal itu, kan? Tapi kenapa kalian masih mau melakukanya? Untuk dihormati orang lain?"
"Perkataan mu salah Onii-chan. Memang kami tidak mendapatkan apapun, tapi membantu orang seperti makanan pokok bagi kami. Pembela keadilan tidak membutuhkan rasa hormat, kami akan membantu orang yang mendapat masalah, itu saja, hanya itu saja."
"Begitu kah? Tapi aku tetap tidak mengerti pikiran kalian. Jika aku tanpa sengaja menjatuhkan es krim yang baru di beli anak SD, aku akan pergi tanpa melihat ke belakang tanpa berpikir dua kali. Seperti itu lah mungkin yang akan aku lakukan."
"Sangat kejam! Sejak kapan aku membesarkan Onii-chan menjadi seperti ini!"
"Tapi jika anak SD itu terjatuh, aku akan membantunya."
Aku menggosok hidungku.
"Hmm. Aku akan mempertimbangkannya."
Jika ada ibunya di sampingnya.
Ketika aku berbicara, aku melihat sendok di mulut Tsukihi. Kemudian aku menyadari makananku telah menghilang dan ada di tangannya.
"Apa yang kalian lakukan dengan makananku?! Pesan saja sendiri!"
"Hanya sedikit, kenapa kau marah-marah, Onii-chan."
Tsukihi menunjukku dengan mengunakan sendok di tangannya.
Aku menghela nafas.
"Lupakan. Aku akan memesannya kembali."
Memanggil pelayan, aku memesan makanan lagi, lalu melihat ke arah mereka. "Kalian ingin memesan sesuatu? Aku yang akan membayarnya."
"Ya~ Aku sayang Onii-chan!"
"Oh! Nii-san, bolehkah aku memesan apapun?"
"Ya. Apapun itu, pesanlah." Aku mengangkat daguku dengan bangga. "Bersyukurlah, tidak semua orang memiliki kakak seperti aku ini."
Aku tidak perlu khawatir tentang masalah uang, malahan mungkin terlalu banyak untuk dihabiskan.
"Ya ya, Onii-chan memang yang terbaik." Kata Tsukihi.
Karen di sampingnya tersenyum lebar. Dia berkata, "Nii-san, jika kau tidak memiliki teman ataupun pacar, aku bisa menghabiskan waktuku denganmu jika kau mau."
"Kau hanya ingin aku mentraktir mu, 'kan?"
"Itu hanya bayaran kecil untuk berkencan dengan adik kecil mu yang imut."
Setidaknya sembunyikan niat mu!
"Tidak butuh." Aku menyilangkan jariku. "Sendiri lebih nyaman buatku."
Karena itu membuatku lebih leluasa kemanapun aku pergi.
Pada saat ini, pelayan datang membawa pesanan. Dia tersenyum saat melihat ke arah Karen dan Tsukihi, tapi saat dia melihat aku, dia memberikanku tatapan aneh.
Setelah menatap ku beberapa detik, pelayan itu pergi. Karen dan Tsukihi hanya menikmati makanan di depan mereka tanpa peduli hal itu.
"Es krim di sini sangat enak. Manis dan lembut saat di mulut." Kata Tsukihi.
"Pancake ini juga sangat enak." Kata Karen. Dia mengambil suapan besar untuknya. "Kita bisa kembali ke sini untuk hari pekan berikutnya."
"Berhenti bicara. Aku ditatap aneh oleh pelayan sebelumnya."
Aku menyangga daguku dengan tangan kiri ku dan menghela nafas.
"Onii-chan... Kau tidak akan pernah mendapatkan pacar jika terus seperti itu. Jika Onii-chan tidak berubah, kau akan perjaka selamanya."
Tsukihi menatapku dengan kasihan.
"Tidak mungkin! Apa kau Doraemon dari masa depan?!"
"Aku Tsukihimon desu."
"Oh, Nii-san. Apa kau ingin aku memperkenalkan teman SMP ku? Aku memiliki banyak teman yang cantik dan imut." Kata Karen.
"Perkenalkan."
Aku menjawabnya dengan singkat.
Mungkin diantara teman Karen, ada gadis yang lembut dan mudah ditekan. Hanya memikirkannya saja membuatku bersemangat.
"Oh ya, Karen, Tsukihi, bagaimana dengan persiapan ujian akhir kalian?"
Meskipun aku bertanya, mereka berdua tidak buruk dalam hal akademis.
"Tidak ada masalah. Aku sudah mempersiapkannya."
Tsukihi menepuk dadanya dengan bangga.
"Bagaimana denganmu, Karen?"
Aku menoleh untuk melihat Karen yang terlihat tegang.
"Yah... Cukup bagus.."
"Cukup bagus?" Aku mengangkat alisku. "Apa ada mata pelajaran yang kurang kau kuasai? Ingin aku mengajarimu?"
"Tidak, tidak perlu." Jawab Tsukihi. "Bagaimana denganmu Nii-san? Bukankah kau juga akan mengikuti ujian akhir Minggu depan?"
"Aku mengingat semuanya disini." Aku menunjuk kepala ku. "Tidak ada mata pelajaran apapun yang tidak aku ingat setelah masuk ke Sekolah Menengah Atas."
"Aku sangat iri. Apakah terkena pukulan di kepala akan membuat orang mendadak pintar? Haruskah aku memukul kepalaku juga untuk menjadi pintar?"
"Mungkinkah kepala Nii-san seperti remote, setelah dipukul baru menyala."
"Omong kosong apa yang kalian katakan, Aku hanya terlambat berkembang!"
...
Esok hari.
Setelah pulang sekolah.
Saat ini aku sedang duduk di bangku taman. Sore hari, menghadap ke depan dan memandang senja dari kejauhan dengan damai.
"Inilah hidup..."
Tiba-tiba terdengar suara 'Ding!' dari ponselku.
Aku mengambil ponselku dan melihat.
[Ding! Selamat, Anda menjadi menjadi ketua group chat!]
Sungguh?
Aku mengedipkan mata ku dua kali.
"[Araragi Kiyomi: Oi, Apa maksudnya ini!]