BokuMonogatari

BokuMonogatari
Teman baru.



Aku mengangkat kepalaku. Perasaan dia menyerahkan dirinya terhubung dengan ku. Aku dapat merasakan hal itu dengan jelas. Burung Phoenix itu berada dalam posisi melebarkan sayapnya, terbang dengan pelan di langit.


"Kamu ingin aku menjadi tuan mu?"


"Kiee!"


"Kamu yakin?" Aku menatap lurus ke arahnya.


"Kiee!" Burung Phoenix itu menutup matanya seolah dia membungkuk hormat. Bahkan untuk burung Phoenix, aku dapat merasakan ketulusan dimatanya.


Apa yang kau harapkan selain rekan yang dapat dipercaya?


"Jika begitu, aku akan menerimamu, partner ku."


"Kiee! Kiee!"


Perasaan gembira mengalir dari burung Phoenix itu.


"Oh, kau senang?" Aku mengusap kepalanya, bulunya lembur dan hangat. "Aku juga begitu."


"Kiee! kiee!"


"Apa? Kau ingin aku duduk di atas kepalamu?" Bahkan tanpa bicara, aku dapat mengerti apa yang dikatakan burung Phoenix itu. "Jika kau tidak keberatan, aku akan menerimanya."


Setelah mengatakan itu, aku berjalan ke atas kepalanya dan duduk. Bersila, aku memandang lurus ke depan. Angin menimpa wajah ku dan rambutku dengan lembut.


Rambutku yang panjang tertiup ke belakang. Yah, rambutku tidak bisa dipotong oleh orang lain selain diriku sendiri, dan karena aku tidak bisa memotong rambutku sendiri, aku membiarkannya hingga panjang.


Aku mengikat rambut ku dan berkata saat aku melihat ke depan, tidak tahu kemana tujuan burung Phoenix ini terbang.


"Erm..."


Aku harus memanggilnya apa?


"Kiee!"


Seperti mengetahui isi hatiku, dia menjawab dengan suara burung. Aku bahkan mengerti apa yang ingin dia katakan tanpa memahami perkataannya. Itu seperti kami terikat dengan hubungan batin.


"Kau ingin aku memberimu nama, ya..." Aku menjatuhkan punggungku dan berbaring di atas kepalanya. Langit begitu biru dan luas.


Sky...


"Langit.... Sky..." Aku segera bangun. "Bagaimana dengan 'Sky'?! Sky artinya langit. Seekor burung yang menguasai langit!"


"Kiee! Kiee!"


"Oh! Kau menyukainya, ya. Itu bagus!"


"Kiee!"


"Hahaha. Jadi Sky, kita mau terbang ke mana?"


"Kiee! Kiee!"


"Tidak ada? Kau hanya terbangun karena mendengar suara Ledakan terus-menerus?"


Mungkinkah itu karena sihir Ledakan ku? Ee....


"Kiee!"


Ternyata benar. Aku merasa bersalah sekarang.


"Hehehe, Maafkan Aku." Aku menggaruk kepalaku, "Mungkin itu salahku."


Karena kejahilan kecil ku, Aku hampir menyebabkan bencana. Bahkan jika aku melawannya, 90 persen aku akan kalah. Apa bisa aku harapkan? Aku langsung meleleh dengan satu serangannya.


"Kalau tidak ada, bisakah kita mencari beberapa musuh yang kuat?"


"Kiee!"


"Sangat bagus!" Aku menunjuk ke depan. "Ayo pergi Sky, mari kita bersenang-senang!"


"Kiee!"


Setelah itu, Aku dan Sky pergi tanpa arah yang jelas. Tidak ada hal besar yang kami lakukan. Kami hanya singgah ke tempat di mana ada monster kuat berada, lalu mengalahkannya.


.....


Di tempat tak diketahui.


Sebuah benteng pertahanan yang berada di garis depan. Di sana, terdengar suara dentingan besi dan bau darah.


"Pangeran, kembalilah bersama raja! Kami akan menahan mereka disini!"


"Itu benar! Kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan jumlah seperti itu!"


"Sial, kita kalah jumlah. Dua kali- Tidak, lima kali lipat dari jumlah pasukan kita!"


Ratusan prajurit dengan armor putih ada di sana. Mereka menghadapi pasukan raja iblis yang terus berdatangan tanpa henti dari area hutan.


"Apa yang kalian katakan! Bagaimana bisa aku melakukan hal semacam itu?! Anggota kerajaan tidak boleh dari dari pertarungan!" Kata seorang laki-laki. Dia mengenakan armor yang berbeda dari prajurit lain.


"Tapi-"


"Diam! Lebih baik fokus ke pertarungan daripada berdebat tentang hal itu!" Bahkan saat mereka bicara, mereka tidak kehilangan fokus sedikit pun.


"Justin, tinggalkan tempat ini! Kau adalah seorang pangeran!" Teriak pria paruh baya. "Tugasmu adalah menjadi penerus ku, seorang raja. Biar Aku dan yang lainnya akan menahan pasukan ini!"


"Tidak, ayah. Aku bukan pangeran jika melakukan hal semacam itu!" Pria itu mengangkat pedangnya, saat Mana besar terkumpul diujung bilah pedangnya. Dan dengan mengayunkannya, sebagian Orc musnah.


Setelah melakukan hal itu, wajah pangeran itu pucat dan penuh keringat. Dia hampir mencapai batasnya. Bukan hanya dia, para prajurit lainnya juga hampir mencapai batas mereka.


Mereka ditekan mundur. Harapan mereka semakin kecil bersamaan dengan semangat mereka.


Muncul begitu. Dia muncul begitu saja seolah-olah dewa mendengar permohonan mereka.


Laki-laki yang jatuh itu tidak menghadap mereka. Dia menunjukkan punggungnya didepan semuanya. Dua pedang di tangannya seperti mesin pencabut nyawa.


Dia tersenyum, menganggap hal ini hanyalah permainan baginya. "Sky, ayo bersenang-senang!"


"Kiee!"


Dengan teriakan laki-laki itu, seekor burung yang memiliki nyala api di seluruh badannya datang ke sampingnya.


Dengan mereka berdua bersama, aura keagungan terpancar. Itu membuat keyakinan mereka bertambah bahwa dia adalah seorang pahlawan dengan binatang sucinya.


Berikutnya, seperti cahaya yang menyinari kegelapan, seluruh pasukan raja iblis rata dengan tanah dalam sekejap mata.


................


...........


.........


"Begitulah kata orang-orang di ibukota. Apa kamu ada hubungannya dengan ini, Araragi-san?" Kata Kazuma. Dia menatapku dengan curiga.


? "... Siapa orang yang terdengar keren itu? Aku baru saja mendengarnya."


Apakah Aku melakukan hal epic semacam itu? Tidak. Jangan bercanda. Bahkan aku tidak ingat menolong atau membantu orang sekalipun.


Siapa itu? yang jelas bukan Aku.


"Lalu, bisakah kau menjelaskan tentang itu?" Kazuma menunjuk ke arah kepala ku. Lebih tepatnya di atas rambutku.


"Aku menemukannya."


"... Kau mengatakannya seperti kau memungut kucing di jalan."


"Aku memungutnya."


"Kiee!" Sky mengepakkan sayapnya dan terbang berputar di atas kepalaku.


Kazuma terdiam beberapa saat, lalu dia memijat keningnya, dan bertanya sekali lagi, "Di mana kau menemukannya?"


"Di langit."


"..."


"Apa? Bukan aku membuat masalah seperti mereka." Aku meregangkan punggungku, lalu bersandar di sofa. "Oh ya, esok adalah hari terakhir. Aku akan kembali hari ini."


"Oi, Siapa "Mereka" itu? Katakan lebih jelas!" Kata Megumin, tiba-tiba masuk. Setelahnya, Aqua dan Darkness datang. Mereka sedang bicara, tapi langsung berhenti saat melihat burung di atas kepalaku.


"Wah! Liat itu Darkness! Burung itu mengeluarkan api di seluruh tubuhnya!"


"Ohh, Burung apa itu? Apakah tidak terasa panas jika kita memegangnya? Jika panas, biar aku coba memegangnya!"


"Tidak panas." kata ku. "Hanya membuat tanganmu meleleh."


Saat aku menyentuh Sky sebelumnya, seluruh tubuhku berhias dengan api. Tapi setelah melakukan kontrak dengannya, api yang ada di tubuhnya sama sekali tidak membakar ku.


"Kiee!"


Sky kembali ke atas kepalaku. Aku mengangkat tanganku dan menggosok bulunya. Masih lembut dan halus. Bahkan tidak ada kotoran yang menyangkut di bulunya.


"Fuwaaa!! Merah dan api! Dia seperti satu kesamaan dengan Setan merah! Araragi, boleh aku memegangnya?!"


"Hmm, tanyakan saja."


Megumin memiringkan kepalanya. "Tanyakan?"


"Kiee!" Sky menggoyangkan kepalanya seolah menjawab pertanyaan ku. Kemudian dia terbang dan hinggap di pangkuanku.


"Lihat." Aku menggosok kepalanya. "Dia tidak mau."


"Kiee!"


"Tidak, tidak. Di desaku, ketika seekor burung menggelengkan kepalanya, berarti itu menandakan dia ingin diusap. Kinkin, Ayo ke sini."


Megumin ingin mencoba mengambil Sky, tapi, bahkan sebelum dia dapat menyentuhnya, tangannya terasa seperti terbakar. Lalu dia dengan cepat menarik tangannya.


Dia mengeluh dan cemberut. "Kenapa terasa panas? Bukankah kau bilang tidak apa-apa?"


Sky dapat mengatur suhu api di tubuhnya seperti yang dia inginkan. Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Dan sejak kapan aku mengatakan 'Tidak apa-apa'?


Aku mengangkat bahuku. "Nyatanya aku tidak apa-apa."


"Ada apa dengan pengaturan itu?! Itu sangat curang!"


"Hei, biar aku mencobanya!" Kata Darkness. Setelah mengatakan itu, dia mengulurkan tangannya dan mengusap bulu Sky meskipun dia merasakan kesakitan. "Panas... Ah! Itu bertambah panas! Mhmpp!"


Salah. Dia menikmatinya. Seperti yang diharapkan dari masokis akut.


"Berhenti mengajari Sky dengan perilaku mu, Darkness. Kemesuman mu akan menular padanya."


"Kemesuman ku tidak akan menular!"


"Heh— Hanya seperti aku, yang melajang selama tujuh belas tahun dengan hati nurani yang bersih bisa menyentuhnya."


"Ne, ne, kali ini giliran ku. Aku seorang Dewi, dan itu Dewi air. Seorang Dewi yang memiliki tubuh suci dan hati nurani pasti tidak akan merasakannya... Hey, kenapa kau menghindar?! Biarkan aku menyentuhmu!"


"Kiee!"


Sky menjauh dari Aqua setiap kali dia hendak menyentuhnya. Mungkin karena atribut elemen mereka berbeda, Sky tidak menyukai dekat dengan Aqua, yang secara alami adalah dia air itu sendiri.