
Apa yang kau pikirkan setelah melihat kejadian itu?
Mesum. Seorang yang mesum.
Itu adalah hal normal yang dipikirkan orang. Hal normal yang dipikirkan oleh orang normal.
Sama sepertiku, aku juga akan menganggap diriku sendiri adalah seseorang yang mesum untuk saat ini. Tapi, apakah itu sama dengan pikiran seorang Chuuni, seorang dengan pikiran yang liar?
Entahlah.
Aku tidak mengetahuinya. Jika dipikirkan, apa yang dipikirkan oleh diriku tentang Chuuni? Hmm... Sedikit yang bisa aku katakan. Itu,
Seorang anak kecil. Seorang yang bebas. Liar. Dan, gila.
Itulah apa yang aku simpulkan dari mereka. Tapi apa hubungannya topik ini dengan masalahku?
Bukankah sudah aku katakan? Mereka adalah karakter yang unik. Mereka berbeda dengan orang lain. Mereka tidak spesial, tidak pula normal. Mereka hanya...
Unik.
Benar. Mengelabui mereka dengan cara unik seperti mereka.
****************
"Siapa itu?"
"Hey, Kenapa dia berdiri di sana hanya dengan selembar kain di pinggangnya saja? Apakah kita bertemu orang aneh?!"
"Jubahku tidak ada!!"
Mereka mengeluarkan pemikiran mereka sendiri-sendiri. Tidak ada yang memutuskan bicara kepadaku. Aku terus diam sambil mengamati mereka.
Beberapa saat kemudian, salah satu di antara mereka memutuskan untuk berbicara kepadaku. "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini? Atau, Apakah kau dari pasukan raja iblis?"
"Yo." Aku mengangkat tanganku untuk menyapa mereka. "Sebelum menjawab itu, Aku ingin bertanya. Mata merah itu, kalian seperti teman party ku, Megumin. Apakah kalian ada hubungannya dengan dia?"
"Megumin? Apa kau bilang teman party Megumin?" Tanya salah satu laki-laki yang aku ambil jubahnya. Kalau tidak salah, namanya adalah Bukkororii.
"Ya. Kecil dan pendek."
"Ah, ternyata teman Megumin, ya." Setelah mengatakan itu, laki-laki terdiam sejenak, lalu mengangguk, dan melakukan pose Chuuni.
"Nama ku Bukkororii. Anak pembuatan sepatu terhebat dikalahkan setan merah. Seorang arc Wizard dan penguasa sihir tingkat lanjut!"
Tebakan ku benar.
"Oh, Salam kenal." Kata ku, melakukan pose Chuuni juga. "Nama ku Araragi Kiyomi. Berasal dari bayangan, keluar dari kegelapan. Golongan penghuni kegelapan yang mengincar kejahatan."
"Oh! Kau bahkan mengetahui salam dari kalangan setan merah! Seperti yang diharapkan dari teman Megumin!"
"Terimakasih. Dan mohon bantuannya, Bukkororii." Kata ku. Kemudian aku berlari ke depan dengan sedikit kekuatan, dan menepuk pundaknya. Mungkin aku hanya berlari, tapi dalam pandangan mereka, aku menghilang dan tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Hah?! Ya?" Ketiga laki-laki itu terkejut. Mereka tidak mengikuti gerakan ku sama sekali, tidak bisa merespon ku.
"Lalu, soal pertanyaan sebelumnya," Aku mengepal tanganku dan melemparkan tinjuku ke udara dengan sangat cepat, "Aku sedang berlatih di hutan, dan sekarang aku tersesat."
"..."
Mereka tidak bisa merespon perkataan ku sama sekali. Jadi aku bertanya kembali. "Bolehkah aku bertanya di mana ini?"
"Uh? Ya. Disini adalah hutan terlarang, dan dekat dengan desa kami, desa setan merah." Jawabnya.
Aku tahu itu. Tapi untuk terlihat tidak mencurigakan, aku berpura-pura tidak tau.
"Begitu." Aku mengangguk. Tepat setelah itu, terdengar lengkingan suara burung. Aku mengangkat kepalaku. Seekor burung dengan nyala api berkobar di seluruh tubuhnya, terbang lurus di atas langit biru.
"Kiee!!"
"Hey, bukankah itu burung api legendaris, burung Phoenix?!"
Phoenix? Sepertinya aku tidak pernah membaca LN Konusuba adanya burung Phoenix.
"Tidak mungkin! Mengapa dia terbang di sekitar sini? Apakah raja iblis berhasil menaklukkan Phoenix itu?"
Itu mustahil. Mungkin bahkan untuk raja iblis tidak bisa menjinakkan monster setingkat itu.
"Kita harus memberikan hal ini kepada kepala desa! Araragi, sebaiknya kau ikut ke desa kami untuk sementara ini."
"..." Burung itu terbang melesat dengan sangat cepat di atas langit. Sangat cepat untuk melintasi berbagai benua...
"Kendaraan yang sempurna!" Teriak ku, mengabaikan mereka sepenuhnya. Lalu tanpa banyak bicara lagi, aku mengalirkan Mana ku ke seluruh tubuhku. Tubuh ku penuh dengan kekuatan.
Menekuk lutut ku, aku berlari mengejar burung Phoenix itu beberapa langkah sebelum melompat.
Aku mengangkat mataku dari tekanan udara.
Itu..!
"Ugh!" Aku menangkap kaki kanan burung Phoenix itu, bergelantungan. Api Phoenix itu terus membakar tubuhku, dan tubuhku terus beregenerasi. Dan hal itu yang aku rasakan tanpa akhir.
Merasakan ada sesuatu di kakinya, burung Phoenix itu menendang-nendang kakinya, berupaya agar aku jatuh. Karena level ku sekarang sangat tinggi, aku tidak memiliki masalah saat tubuhku ter-ayun kesana-kemari.
"Semua Orc yang aku lawan sebelumnya memiliki banyak Exp. Daku berterimakasih kepada semua Orc bodoh, Hahahaha!"
Aku tertawa keras. Rasa sakit yang perih dari panas Phoenix masih terasa. Tubuhku juga sama, terbakar dan beregenerasi secara terus menerus.
"Kieee!!" Lengkingan marah dan kesal. Burung Phoenix itu memutar tubuhnya, mengepakkan kedua sayapnya yang lebar saat dia mengubah arah terbangnya menjadi lurus ke atas.
Kepakan!
Burung Phoenix itu terus terbang lurus ke atas. Aku tiba-tiba pusing, dan pasokan udara di paru-paru ku semakin menipis. Di ketinggian yang sangat tinggi ini, aku melemah.
Detak... Detak...
Detak jantungku semakin melambat. Tapi, setelah beberapa saat, aku, tubuhku dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang kurang udara.
Ketika pikiranku sedikit pulih, burung Phoenix itu, yang terbang lurus ke atas dengan cepat, tiba-tiba memutar tubuhnya yang membuat cengkeraman ku terlepas.
Pada proses itu, aku terlempar ke atas seperti kapas. Kemudian burung Phoenix itu mengangkat kepalanya.
Aku menatap mata merah berapi itu.
Melengking, burung Phoenix itu membuka mulutnya, menghembuskan nafas api saat aku mulai jatuh dari langit di atas kepalanya.
Sungguh burung yang cerdas!
Api menyebar di langit menghantam ke arahku. Tidak ada yang bisa aku lakukan di udara. Aku hanya membuka mataku lebar-lebar saat api itu menelan seluruh tubuhku.
Panas! panas! panas! panas! panas! panas!
Mataku terbakar dan penglihatan ku menghilang. Hitam — Api yang tidak biasa, meluluhkan daging dan kulitku, hingga aku terlihat seperti tengkorak, saat aku keluar dari hembusan api itu.
Meskipun begitu, aku adalah Abadi. Setelah itu, satu detik setelahnya, tubuhku sudah sembuh tanpa menyisakan goresan sedikitpun.
"Kiee?!"
"Kau terkejut? Hahaha. Sungguh lelucon burung." Kataku, saat aku mengisi tinjuku dengan Mana. Dan dengan kesempatan itu, aku memukul paruhnya.
Retak!
Paruh burung Phoenix itu retak, dan karena kekuatan yang tidak dia duga dari tinju ku, yang terlihat kecil di matanya, membuat keseimbangannya rusak, dan kami terjatuh.
Tapi, hanya dalam beberapa detik, dia dapat melebarkan sayapnya, saat dia mendapatkan keseimbangannya kembali. Dan di saat bersamaan juga, paruhnya sudah sembuh.
Seperti yang diharapkan dari burung legendaris.
Phoenix. Atau, burung yang abadi.
Merentangkan tanganku, aku hendak meraih paruh burung itu, tapi kepala burung Phoenix itu menghindar. Dengan kepalanya yang besar, dia dapat bergerak dengan cepat.
Kemudian, pada saat itu, dengan kecepatan yang aneh lagi, burung itu memutar kepalanya dan menggigit lengan kiri ku.
Tanganku menghilang sampai bahuku, dan Aku bergelantungan dengan tangan kiri ku yang hampir putus di pinggir paruhnya. Aku sekali lagi selamat karena level ku yang tinggi, yang membuat tubuhku kuat.
"Hahaha, bagus!" Aku tidak merasakan sakit karena andrenalin ku yang tinggi.
Menggunakan tangan yang utuh, Aku memperkuat lima jariku dengan Mana. Lalu, dengan jari yang diperkuat, aku menancapkan nya di sisi paruh lainnya. Paruh yang keras itu tembus sampai seluruh jariku tenggelam.
"Kiee!!" Burung Phoenix itu menggoyang-goyangkan kepalanya dan berusaha membuka mulutnya.
Tapi sebelum burung Phoenix itu dapat membuka mulutnya, Aku mengunci paruhnya dengan kakiku. Melihat ke bahu kiri ku, aku menariknya dengan keras, dan "Krek!" lenganku putus. Satu detik berikutnya, tanganku kembali tumbuh.
Tanpa menunggu, aku menguatkan tanganku yang baru tumbuh dan mengarahkannya ke pinggir paruh burung Phoenix itu, menguncinya dengan kaki dan tanganku.
Lalu, pada saat aku hendak memelintir leher burung Phoenix itu dengan memutar tubuhku, aku merasakan perasaan hangat di dadaku.
Dan setelah itu, aku dapat merasakan berbagai macam perasaan yang datang langsung dari benakku seolah ada sesuatu yang terhubung dengan ku.
Kesedihan. Pengampunan. Penghormatan. Kesetiaan. Dan beberapa hal lainnya yang samar-samar tidak bisa aku pahami.
Aku mengendur tubuhku. Lalu memanjat dan berdiri di atas paruhnya, dan menatap matanya secara langsung.
Matanya merah seperti kobaran api.
"Kiee!"
Meneriakkan itu, tiba-tiba dahi burung Phoenix itu bersinar, lalu mengeluarkan cahaya, dan kemudian cahaya itu masuk ke dalam dada ku.
Menunduk, aku melihat dada ku bersinar. Seolah cahaya itu melukis, tato emas kemerahan mulai membentuk dan menempel di dada ku.
? — Aku tidak tahu apa yang dilakukan burung Phoenix itu, tapi aku yakin ini bukan sesuatu yang buruk.
Dan tanpa aku sadari, cahaya itu menghilang, dan di dada ku, aku melihat tato emas kemerahan yang terlihat seperti sepasang sayap burung yang berkobar api.