
Aku hanya menatap klon ku sebentar sebelum mengabaikannya, mengamati kembali semua ninja senju. Klon ku memiliki kerutan di wajahnya, tetapi tidak melepaskan Aku, masih menggendongku dengan bergumam tidak jelas.
Dalam waktu satu jam itu, Aku meminta Tsunade untuk mempelajari salah satu Jutsu yang ada di clan nya. Aku pikir dia akan menolaknya, tapi berkebalikan itu, dia mengizinkannya setelah dia meminta izin kepada neneknya, Mito, yang menyetujuinya.
Bukan hanya Aku, tapi yang lainnya juga diijinkan pergi ke perpustakaan Senju. Meskipun begitu, yang anehnya, mereka tidak dapat mempelajari satupun jutsu dari perpustakaan klan senju.
Aku tidak mengerti mereka. Apa yang sulitnya? Bukankah hanya perlu mengingat segel tangan dan membayangkan diri kita sendiri menggunakan energi, mana, dan semacamnya?
"Kamu... Apakah teman kakak?" Tanya seorang anak kecil, saat dia berjalan ke sampingku dengan wajah cemberut, menatap ke Tsunade yang berbicara dengan Mito.
Menoleh, Aku menatap anak kecil itu. Hanya melihatnya dengan sekilas, Aku mengenal siapa anak itu, yang kemudian Aku menggelengkan kepalaku sebelum menarik pandanganku, mengabaikannya.
"Oi, kau! Beraninya mengabaikan ku!" Anak kecil itu menggerakkan giginya karena marah. Menunjuk dirinya sendiri, dia kemudian berteriak, "Ingat ini! Namaku Kawaki Senju yang suatu saat nanti akan menjadi hokage! Aku akan membalas perilaku mu ini!"
Menunduk ke bawah, Aku menatap klon ku, dan klon ku menatapku kembali. Menggunakan jempol ku, Aku menunjuk anak kecil itu dan berkata dengan datar, "Kau mengerti Apa yang dikatakan anak kecil itu?"
Klon ku menggelengkan kepalanya dan berkata acuh tak acuh, "Tidak, sama sekali tidak mengerti." Yang kemudian Aku balas, "Oh", sebelum Aku dan klon ku mengabaikan, yang membuatnya hampir berteriak setiap waktu.
"Hei, Araragi-san." Mendekati klon ku, Ruri menarik sudut baju klon ku sebelum berbisik, "Apa yang kau lakukan? Meskipun dia masih kecil, dia masih pewaris Clan Senju. Lihat itu." Dia menunjuk ke sekelompok ninja yang dikirim Mito Uzumaki, "Bagaimana jika kau memicu seseorang marah, yang kemudian membuatnya ingin membunuh mu saat diperjalanan?"
"Begitu kah?" Aku melipat tanganku dan menatap lurus ke kelompok ninja senju itu. Seperti yang dikatakan Ruri, mereka menatapku meskipun Aku melihat ke arah mereka, yang semuanya memakai topeng di wajah mereka.
Aku mendengus dan menarik pandangan ku, main-main seperti mereka bukanlah apa-apa. Ruri memijat dahinya, lalu menghela nafas dan berkata, "Yah, setidaknya mereka tidak akan berani macam-macam dengan teman Tsunade."
Di sisi lain, Tsunade kembali ke kami setelah selesai berbicara dengan Mito, sebelum matanya tertuju pada anak kecil yang masih berteriak-teriak di sampingku. Tersenyum, dia menghampiri anak kecil itu sebelum menggosok kepalanya, dan bertanya, "Kawaki, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tidak ada." Jawab Kawaki, menyilang lengannya dengan cemberut.
"Hmm.." Menurunkan lengannya, Tsunade membungkuk dan berkata, "Jika begitu, kenapa tidak berlatih saja? Di sini hanya akan membuang-buang waktu mu yang berharga, bukan?"
"Ya." Kawaki mengangguk, penurut seperti anak ayam. "Aku akan kembali." Dan kemudian dia menjulurkan lidahnya ke arahku sebelum berlari, menjauh dengan cepat dari ku.
"Aku tidak akan percaya anak kecil seperti dua mati jika tidak mengetahuinya." Kata Kazuma dengan pelan, saat dia melihat Kawaki berlari.
Gintoki mengorek hidungnya dan berkata, "Kita tidak tahu apapun yang akan terjadi dimasa depan. Baik itu kematian atau kelahiran–" Dia berkedip, "Ah, lupakan apa yang Aku katakan. Aku mengetahui masa depanku sendiri, dan Aku saat itu masih tetap miskin..."
"Masa depan, ya..." Gumam Rias, memikirkan betapa beruntungnya dia ketika mengetahui masa depannya saat melihat animenya sendiri, yang membuatnya bekerja lebih keras daripada di anime.
Kemudian kami berjalan ke luar pintu gerbang dengan Tsunade yang berada paling depan. Sebelum mereka mulai berlari, Aku mengangkat tanganku dan berjalan ke sisi Tsunade, membuat semua pandangan tertuju kepada ku, saat Sky yang berukuran raksasa turun di depanku.
Mengepakkan sayapnya, Sky memperlambat dirinya turun, menerbangkan debu dan daun dari momentumnya. Dengan hempasan angin yang kuat, rambut dan bajuku ikut berkibar ke belakang dengan liar.
Semua anggota Senju yang ikut menjadi waspada saat Sky mendekati ku. Mengeluarkan senjata dan segel tangan, mereka hendak menyerang sebelum Tsunade menyuruh mereka untuk berhenti, saat dia mengetahui itu rekanku dari Mana milik Sky yang dia rasakan sebelumnya.
"kiee!!"
Sky menundukkan kepalanya ke arahku, dan Aku menggosok kepalanya dengan lembut. Aku diam dan terus menggosok kepalanya, berbicara dengan Sky lewat pikiran.
Dibelakang, Ruri berkata dengan tidak bingung, "Eh? Huh? Apakah itu burung kecil yang sebelumnya? Bagaimana bisa sebesar itu? Tidak, mungkinkah itu induknya?"
Kazuma, yang kembali dari terdorong ke belakang beberapa meter, berkata dengan tidak percaya, "Aku tidak tahu ternyata Sky sebesar itu setelah semua hal itu! Hanya dengan sekali lahap, Aku bahkan bisa dimakan utuh-utuh dengan ukuran sebesar itu!"
"Hahaha. Sangat hebat sebagaimana dia bisa menjinakkan burung seperti itu." Kata Gintoki, mencabut pedang kayunya yang menancap dari tanah, bertahan dari hempasan angin yang dibuat Sky sebelumnya.
Selesai bicara dengan Sky, Aku menoleh ke belakang dan berkata, "Ayo naik." Sebelum Aku naik ke punggung Sky. Dengan sedikit ragu, Rias adalah yang pertama naik, sebelum yang lain mengikutinya setelahnya, duduk di punggung Sky.
Setelah semua duduk, Aku menunjuk ke depan dan berteriak, "Pergi, Sky!"
"Kiee!" Dengan lengkingan yang keras, Sky membuka sayapnya dengan lebar, saat kakinya perlahan mulai terangkat, yang membuat Tsunade, Rias, dan yang lainnya memegang bulu Sky dengan erat.
Terbang tinggi di atas tanah, kami meninggalkan semua anggota Senju yang terdiam saat Sky perlahan menjauh.
Untuk anggota Senju, seseorang orang yang terlihat memiliki perangkat tinggi memimpin anggota Senju yang lainnya, yang kemudian dia menghilang dengan kabur, sebelum yang lain mengikutinya, menghilang juga meninggalkan jejak kabur bayangan.
...xXxXx...
"Hanya perlu lurus saja kan?" Tanya ku, menatap ke bawah yang hanya ada pohon-pohon dan pohon.
Tsunade mengangguk dan berkata, "Itu benar. Lurus saja dan kita akan sampai." Dia terus memantau dengan gelisah, dan bergumam, 'Dengan perjalanan tanpa halangan, ini tidak membutuhkan waktu tiga hari untuk ke sana. Hanya beberapa jam lagi... Aku harap semuanya baik-baik saja.'
"Oh, baiklah." Aku melipat tanganku, menatap ke depan, dan kemudian diam. Hmm, setelah hal ini, Aku ingin makan ramen jika ada. Lalu berfoto dan menunjukkan pada Karen dan Tsukihi. Aku memiringkan kepalaku, berpikir.
"Hey, Tsunade." Mengeluarkan ponsel, Aku menggoyang ponselku. "Bisakah kita berfoto?"
"Foto?" Tsunade memiringkan kepalanya, tetapi tetap mengangguk dan setuju. "Tentu, tapi untuk apa?"
"Tentu saja untuk pamer." Kata ku, mengangkat ponsel ku, saat Aku menggeser pantatku ke arahnya, dan kemudian tersenyum sambil membuat tanda perdamaian ✌️ ke arah kamera ponsel. Tsunade mengikuti ku, membuat tanda perdamaian meskipun sedikit heran.
"*Menguap*... Ini benar-benar nyaman untuk berbaring dan tidur." Kata Gintoki, berbaring di tempatnya dengan nyaman dengan satu kaki bertumpu di atas lutut.
Kazuma meregangkan punggungnya dan berkata, "Huf, Akhirnya Aku bisa bebas dari tim yang hanya bisa membuat kekacauan." Dia menghela nafas dengan damai. "Biarkan Aku beristirahat sebentar."
"Kau hanya mengibarkan death flag, Kazuma-san." Ruri berkata dengan datar.
Tepat setelah Ruri mengatakan itu, terdengar raungan ledakan. Wajah Kazuma berkedut, dan Ruri menghela nafas.
"Araragi, bisakah kau lebih cepat?!" Tanya Tsunade. Dia berdiri dan terus menatap ke arah ledakan sebelumnya, bersiap dalam segala hal.
Aku mengangguk dan berkata, "Sky." Dan kemudian Aku menoleh ke belakang, ke Ruri dan lainnya. "Pegang dengan erat." Kata ku sebelum menarik pandanganku.
Sky mengerti. Dengan lengkingan keras, Sky meningkatkan kecepatannya saat dia menggunakan sihir angin di kedua sayapnya, meluncur ke arah suara ledakan itu. Berdiri, Aku merapalkan mantra Ledakan dengan bergumam.
Tidak sampai lima lima menit, terlihat sebuah desa. Desa itu memiliki letak yang strategis, yang dimana dikelilingi oleh air yang terhubung dengan semua desa, pusat dari perdagangan. Tidak, Aku salah; ketika Aku melihat ribuan ninja secara membabi-buta menyerang, membunuh siapapun yang memiliki rambut merah.
Aku tertegun, mencengkeram dada ku. Berkedip— Aku melihat seorang ibu yang meringkus anaknya, melindunginya dari Kunai yang berterbangan.
"A-a-a.." Mulutku bergetar ketika melihat itu. Aku benar-benar terpaku— terdiam dengan tubuh gemetar. Tsunade tanpa buang waktu melompat dari atas, mengaktifkan segel di dahinya.
"Bajingan sialan!!" Teriak Tsunade, saat garis hitam muncul dari dahinya, menyebar dan terhubung ke seluruh badannya. Mengangkat satu kaki, Tsunade memusatkan cakra di kakinya, saat dia menghubungkan tumpuan jatuhnya ke arah lima ninja yang menyerang ibu dan anak itu.
Retakan!
Dua dari tiga ninja itu terlindas kaki Tsunade, menghancurkan wujudkan, saat dia mendarat dan menendang debu dalam prosesnya. Di bawah kakinya, retakan tanah menyebar, dan itu menyebabkan gempa kecil, menghilang keseimbangan tiga ninja lainnya.
Mengambil kesempatan itu, sebelum debu menghilang, Tsunade menarik sikunya ke belakang. Menekuk kakinya, dia menghilang, dan kemudian tiga ninja itu terjatuh dengan suara retakan, saat Tsunade muncul di depan mereka dengan tinjunya yang terangkat.