BokuMonogatari

BokuMonogatari
Quest Pemburu Katak Raksasa



Setelah mencegah Megumin mengambil quest mustahil, Kazuma mengambil quest yang mudah untuk pemula, yaitu membunuh sepuluh katak raksasa.


Kami tidak langsung pergi, tapi duduk di meja untuk menunggu Aqua, yang membelikan aku sake sebelumnya.


Apakah dia melakukannya dengan benar? Sepertinya aku salah meminta bantuan kepadanya.


Tidak menunggu lama, Aqua datang dengan memeluk sake dikedua tangannya. Dia memantau dari pintu masuk, dan setelah melihat kami, dia melambaikan tangannya dan berjalan ke arahku.


"Araragi-san, ini dia, sake milikmu. Aku memilih sake yang enak dan mahal, kau harus segera mencobanya, aku yakin kau pasti akan menyukainya."


Sebenarnya aku tidak pernah meminum sake atau minuman beralkohol, tapi karena aku penasaran apakah aku bisa mabuk, aku akan mencicipinya.


"Kalau begitu aku akan mencobanya."


"Ah, tunggu, jangan meminumnya! Jika kau mabuk, bagaimana kita bisa menyelesaikan quest nya..."


Kazuma ingin menghentikan ku, tapi aku sudah membuka tutup botol itu dan meminumnya.


Setelah beberapa tegukan dan tidak ada reaksi apapun padaku, aku menghela nafas.


Seperti yang aku pikirkan, tubuhku dengan cepat menghilangkan kadar alkohol yang masuk ke dalam tubuhku.


Dengan terkulai, aku berjalan ke luar guild sambil membawa sake di tanganku.


"Ayo pergi."


"Hey, kau tidak mabuk kan?" Tanya Kazuma. Sepertinya dia masih ragu apakah aku mabuk atau tidak. Karena mabuk saat menjalankan misi benar-benar bahaya.


"Tidak." Aku melambaikan tanganku dengan lemas.


"O-oh, baiklah."


"Ah, Aqua! Kau juga, jangan meminum sake itu, kita akan melakukan quest!"


Sepertinya Aqua juga ingin meminum sake miliknya, tapi Darkness mengambil minuman sake Aqua.


"Hey, apa yang kau lakukan, Darkness?! Kembalikan sake ku! Kalian bisa pergi, aku tidak ikut. Aku ingin menikmati sake milikku ini sendirian!"


"Apa yang dikatakan Darkness benar, Aqua. Kita harus menunjukkan apa itu petualangan senior kepada Araragi."


"Ara, begitu kah?" Aqua memeluk erat sake nya yang telah berhasil dia rebut kembali. "Jika begitu, ini saatnya aku akan menunjukkan apa itu kehebatan dari Dewi Aqua yang agung. Araragi-san, bergabung dengan kultus Axis dan berikanlah sesembahan sake mahal setiap Minggu kepadaku, kau pasti akan mendapat berkat dari Dewi Air ini."


"Tidak." Aku menjawabnya dengan cepat.


"Kenapa?!"


Mengabaikan Aqua yang terus membujuk ku untuk bergabung ke kultus Axis, kami pergi ke luar kota Axel.


Aku harus tidak banyak terlibat dengan Dewi dan kultus yang sedikit...


...


"Ne, ne, apa kita benar-benar akan melawan kodok raksasa? Bisakah kita mencari yang lain? Aku tidak ingin tubuh suci ku ini terkotori oleh lendir kodok!"


Saat Aqua mengetahui quest apa yang diambil, kepercayaannya yang sebelumnya hilang begitu saja, dan bahkan dia terus membujuk untuk mencari quest yang lain.


"Diam lu Dewi tak berguna atau kau ingin aku jadikan umpan?!"


"B-biar aku yang melakukannya!"


Mengabaikan mereka yang bertengkar, aku melihat sekeliling dengan penasaran. Kota ini terlihat seperti abad pertengahan Eropa. Jalan yang penuh batu-bata dan usaha lapak yang penuh di pinggir jalan.


Kami saat ini berjalan menuju ke luar kota Axel. Setelah beberapa saat, kami sampai di gerbang masuk.


Di sini, di kota Axel, benar-benar sangat damai sampai tidak ada penjaga satupun di gerbang masuk. Kota ini memang seperti namanya, kota pemula.


Bahkan saat kami keluar, tidak ada pemeriksaan atau apapun, benar-benar bebas.


Penasaran, Aku berjalan mendahului mereka, dan saat di depan gerbang masuk, aku melihat dataran yang hijau sejauh mata memandang.


Hmm? Aku melihat sesuatu. Seperti sesuatu yang besar sedang melompat.


Aku menyipitkan mataku, dan kemudian aku melihat seekor kodok yang besar, seukuran mobil yang dapat menelan utuh manusia.


Anjir. Aku harus menunjukkan ini kepada Karen dan Tsukihi, mereka pasti akan terkejut.


Tapi Saat aku ingin mengambil ponselku, Kazuma dan party nya datang.


"Aku tidak seperti dulu lagi, sekarang aku sudah menjadi petualangan veteran. Hanya kodok tidak lagi masalah bagiku." Kata Kazuma, saat dia mengangkat pedangnya dan berlagak.


"Meski aku tidak ingin mengakuinya, tapi itu benar." Kata Aqua. "kami bukan petualangan pemula. Aku, Aqua, seorang Arc Priest dan juga seorang Dewi, akan memusnahkan makhluk-makhluk jahat itu!"


"Mhhpp, kodok kotor!" Darkness berlari menuju ke kodok raksasa yang aku lihat. "Kau telah melakukan banyak kejahatan! Jika kau seperti reputasi mu, telan aku dengan utuh!"


"D-darkness, berhenti! Megumin tolong hentikan Darkness yang liar-! Ah, kau juga, berhenti merapal, gadis berontak aneh! Aqua, tolong bantu aku menghentikan Megumin!"


"Tinju Surgawi!"


"Kenapa kalian tidak pernah tidak membuat masalah padaku?!"


Melihat mereka sibuk, aku pergi ke sisi lain. Tidak jauh, aku menemukan dua kodok raksasa di sisi kiri kanan di 10 meter ke depan.


Aku terus berjalan dengan tenang. Jarak semakin dekat, dan dua kodok itu menoleh ke arahku saat aku dalam jarak pandangan mereka.


Katak Raksasa, yang akan menyerang petualangan yang tidak memiliki peralatan yang lengkap. Contoh bagus seperti ku ini yang menjadi incaran katak raksasa.


Aku mengangkat ponsel ku dan memotret saat dua katak itu melompat dan berada di atas ku, detik-detik momen yang tepat untuk difoto.


Klik!


Tanpa melihat hasil fotonya, aku menekuk kaki ku dengan mengeluarkan sedikit tenaga, mundur ke belakang beberapa meter dari jangkauan serangan lidahnya.


"Hmm..."


Aku membuka ponselku untuk melihat hasil fotonya sambil memiringkan kepalaku, ketika lidah katak raksasa itu terjulur di samping wajahku.


Tanpa memberiku kesempatan bernafas, katak raksasa satunya lagi membuka mulutnya dan menembakkan lidahnya ke arah kaki ku.


Aku menyipitkan mataku, lalu beberapa milimeter melangkah kebelakang. Lidah katak itu tidak mengenaliku, tapi mengenai tanah.


Detik berikutnya, aku menangkap lidah yang ada di samping wajahku, lalu mengangkat kaki ku dan menghentakkan nya di atas lidah katak raksasa yang mengenai tanah sebelumnya di waktu yang sama.


"Kweak!! Kweak!!"


"Mereka membuatku jengkel."


Kesakitan, kedua katak raksasa itu berusaha menarik kembali lidahnya, tapi itu sama sekali tidak membuatku tergerak sedikitpun.


Aku berdiri tegak tanpa tergeser sedikitpun sambil menahan kedua lidah katak raksasa itu meskipun licin.


Lalu, dalam keadaan lengah seperti itu, aku mengangkat lenganku yang kosong dan mengarahkannya ke kedua katak itu secara bergantian.


Bang! Bang!


Detik berikutnya, pistol hitam muncul dari udara tipis di tanganku, dan kedua katak itu jatuh dengan darah mengalir dari kepalanya.


"Sangat berguna untuk senjata tersembunyi."


Aku menghilangkan kembali Pistol itu dan melepaskan lidah kedua katak raksasa yang sudah terkulai. Kemudian, aku berjalan ke mayat katak raksasa itu, melompat ke punggungnya, dan mengeluarkan ponselku, sebelum mengangkat ponsel ku untuk memotret diriku dan mayat katak raksasa itu.


"Karen dan Tsukihi pasti akan percaya dengan hasil foto kali ini."


Foto sebelumnya bisa dikatakan palsu dengan mendekatkan sudut dan pandangan kamera yang dapat membuat hasil foto terlihat besar. Tapi kali ini, mereka pasti tidak akan bisa mengatakan filter atau semacamnya dengan aku ada didalamnya.


Kemudian aku turun dan mencari katak raksasa lainnya untung farming. Waktu adalah emas, bukan, waktu adalah XP!


"Waktunya untuk level Up."


Aku mengeluarkan pistol hitam dari udara tipis, lalu berjalan ke sisi lain untuk memburu katak raksasa yang lain dengan senyum yang lebar.


Pada saat itu, spesial katak raksasa mengenal apa itu arti kata punah.


Dua jam berikutnya.


Di satu tempat, terdapat mayat katak raksasa saling menumpuk hingga membentuk seperti tembok. Tidak jauh dari sana, aku menggiring dua mayat katak raksasa ke tempat itu dan menumpuknya lagi.


"Satu, dua, tiga, empat, lima,... Dua satu, dua dua,... Tiga empat, tiga lima,... Empat puluh, Ya. Sepertinya sudah cukup untuk hari ini."


Setelah aku selesai menghilang, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan.


"Waaa!.... Waa....! Sudah aku katakan sebelumnya, aku tidak ingin mengambil quest katak raksasa lagi!"


Menoleh ke arah suara itu, aku melihat Aqua yang menangis dengan lendir kodok di seluruh tubuhnya. Di sampingnya, ada Darkness dan Kazuma, yang menggendong Megumin. Mereka juga penuh dengan lendir di tubuh mereka.


"Dewi tak berguna, berhenti menangis! Itu juga salahmu karena langsung terjun ke hadapan katak raksasa!"


"Ka-kazuma, Kazuma. Lihat itu!"


Megumin, yang tepar di punggung Kazuma, tiba-tiba menggoyang bahunya saat dia melihat ke arahku.


"T-tenanglah, ada apa- Buset! Itu semua mayat katak raksasa kan?! Araragi, apa kau yang melakukan semua ini?!"


"Ya. Ada apa?"


Apa yang perlu dikejutkan? Bukankah mereka setiap hari melihat katak raksasa?


"Wajahmu mengatakan seolah ini wajar... Lupakan. Daripada itu, bagaimana kau melakukannya? Jangan bilang kau mendapatkan cheat atau semacamnya?"


"Tidak."


Bagaimana mungkin, orang yang bertugas memberi cheat sudah tidak ada lagi di tempat itu, tapi ada di sini yang sedang menangisi dirinya.


"Mungkinkah itu karena hasil dari akibat gelombang mantra ledakan ku?! Aku pikir itu mungkin. Mantra ledakan ku meningkat akhir-akhir ini, dan itu hingga menyebabkan katak di sekitar pingsan?"


Megumin melihat ku dengan antusias, menungguku memberi jawaban atas pertanyaannya.


Tapi sebelum aku membuka mulutku, Darkness, yang telah memeriksa mayat katak raksasa, memberikan jawabannya.


"Semua mayat katak tidak memiliki luka, kecuali yang ada di kepalanya." Kata Darkness. "Itu juga cuman luka kecil. Jadi itu tidak mungkin akibat dari ledakan Megumin."


"Oi, Darkness. Apa yang coba kau katakan! Itu sudah jelas-"


Bang!


Suara tembakan terdengar saat aku menarik pelatuk pistol yang mengarah ke langit. Lalu aku memutar pistol itu di ujung jariku dan mengarahkannya ke Kazuma.


"Darkness benar. Itu karena ini."


"Tunggu! Jangan mengarahkannya ke arahku!"