Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 9 Ema



Bab 9 Ema


Ada sebuah  rumor  yang  entah  benar  atau  tidak. Katanya ada kecenderungan bahwa mahasiswa bahasa biasanya centil-centil dan cara berpakaiannya pun sedikit lebih seksi, meski masih mengenakan jilbab.


Ema termasuk salah satunya. Dia termasuk cewek yang pemberani. Pemberani terhadap laki-laki. Dari perta- ma masuk menjadi anggota karate, semua tahu betapa dia sangat mengejar-ngejar Odi. Kakak tingkat dua tahun di atasnya dari Jurusan Biologi Molekuler. Dia cowok resimen mahasiswa atau menwa, penyandang sabuk hitam DAN-1, tinggi, kekar, dengan wajah yang hitam manis.


Ema sering terlihat main ke markas menwa jika kebetulan Odi sedang tidak berada di UKM Karate. Maka tidak heran, jika anak-anak di sana pun banyak yang mengenal Ema. Dia juga sering meminta Odi untuk mengantarnya, entah sekadar ke fakultas, atau bahkan pulang ke rumah setelah selesai latihan.


Banyak yang mengatakan, “Ya, mungkin cari kesem- patan, biar bisa lebih dekat.”


“Tapi, mana mau Mas Odi sama Ema. Dia ganteng, berwibawa lagi. Nggak levellah!”


Banyak sebenarnya yang tidak tahu duduk persoalan- nya. Banyak juga yang mengira jika Ema dan Odi berpacaran. Karena lumayan lama juga, peristiwa seperti itu selalu menjadi tontonan di kampus ini.


Seakan sudah lelah dan menyerah mengejar Odi, tiba- tiba kejadiannya berubah. Saat ini, terlihat gencar sekali Ema mengejar-ngejar Yuan.


Tidak habis pikir, memang tentang Ema. Terlihat seperti tidak punya malu karena kentara sekali apa yang dia lakukan.


Mbok ya14, jadi perempuan itu yang sedikit elegan, tetapi itulah Ema.Yang mereka ketahui, Ema jahat karena merebut Yuan dari Diva.


“Padahal sejujurnya, di mataku, apa yang dilakukan Ema tak ada yang salah! Dia punya hak untuk mendekati Mas Yuan, bahkan jika dia memaksa Mas Yuan untuk menjadi kekasihnya sekalipun. Itu hak dia!” Begitu pendapat Diva saat ditanyai perihal Ema.


“Justru Mas Yuan-lah yang tak lolos dalam ujian ini, untuk membuktikan bahwa cintanya katanya hanya untukku. Aku … sama sekali tak membenci Ema, dan tak ada alasan untuk itu,” lanjutnya kala itu.


Beberapa teman laki-laki bahkan ada yang terang- terangan bilang ke Diva, “Tak sepantasnya Ema seperti itu!”


“Rasanya pengin banget aku ajak Ema pergi naik motor. Begitu sampai pinggir jurang, langsung aku ngebut


14Harusnya


dan aku rem secepatnya sembari memutar balik arah motor, dan jatuhlah dia ke jurang.” Sebegitu bencinya Fredi waktu bercerita ke Diva di kosannya.


Fredi sengaja main sembari rapat terbatas di tempat Diva dikarenakan Diva yang sedang tidak bisa ke mana- mana.


“Astagfirullah, Fredi! Istigfar, Fred,” ucap Diva mencoba menyadarkannya.


“Buat apa kamu benci ke dia? Harusnya aku jika mau marah, bukan kamu. Aku aja santai-santai begini. Cukup tahu saja, mungkin, dia memang seperti itu!”


Bahkan, Giyo pun pernah berkata senada dengan Fredi. Mereka berdua sering main ke kosan semenjak Diva jatuh kemarin. Selain berdiskusi tentang kepengurusan, juga sekalian menengok serta memberi motivasi pada Diva supaya cepat sembuh.


“Div, kamu tahu? Andai Yuan itu adikku, rasanya aku pengin nampar dia! Biar sadar atas apa yang telah dia lakukan,” ungkap Giyo. “Dia nggak sadar telah menyia- nyiakan kamu, Div! Cewek sebaik kamu.”


“Memangnya kenapa kalau dia menyia-nyiakan aku?” tanya Diva pura-pura.


“Ah, kamu, masih saja terus mengelak! Aku tahu, kamu juga sebenarnya suka kan, sama Yuan? Jangan bohong, Div!” ucapnya menekan emosi Diva.


“Enggak, kok, Gi!” “Bohong kamu!”


“Terserah kamu mau ngomong apa. Intinya aku nggak suka sama dia,” abai Diva.


Bahkan Tia pun pernah berkomentar, “Div, kalau menurutku, nih. Mungkin saja Ema menggunakan trik persis seperti yang ada dalam film Korea yang judulnya Autumn in My Heart.”


“Gimana memangnya?” tanya Diva sedikit berpikir. “Kamu tahu kan, di film itu, pacar Jun Seo itu seperti


menjebak agar Jun Seo jangan sampai meninggalkannya. Dia lakukan dengan segala cara termasuk dengan pura- pura sakit. Dan selalu mengancam akan kembali sakit jika sampai Jun Seo pergi. Padahal Jun Seo sendiri tak menyukainya. Jun Seo sukanya sama An Seo,” jelas Tia.


“Mungkin juga, Ya! Nggak tahu,” sahut Diva asal, supaya terkesan dia tidak terlalu memedulikannya. “Itu hak mereka, kok. Yang jelas, jangan sampai aku membenci Ema karena hal ini! Justru aku kasihan sama dia, sebegitunya cara dia mengharapkan untuk mendapatkan laki-laki. Dan artinya lagi, Mas Yuan tak menyukaiku sedalam itu! semua sudah jelas!”


***


“Div, tadi Ema bilang ke aku,” ucap Adi membuat Diva penasaran.


“Bilang apa, Di?”


“Katanya aku nggak boleh deket sama kamu. Juga, orang-orang jadi deketin kamu,” paparnya.


“Kok dia sepertinya membenciku? Apa salahku? Dia mau pacaran sama Mas Yuan, silakan! Aku nggak marah dan nggak akan mengusik! Tapi, kenapa semua orang nggak boleh baik padaku?” Emosi Diva langsung tersulut. “Harusnya, aku yang marah! Kenapa malah dia?”


Adi mengangkat kedua bahunya dengan sedikit memiringkan ke kanan. “Mungkin, dia iri sama kamu, Div!” timpal Adi sembari berlalu keluar ruangan UKM siang itu.


Rasa-rasanya, meski sebenarnya aku nggak terlalu suka sama dia, setidaknya aku nggak pernah membenci dia, batin Diva.