
Bab 16 Jadian
“Div, gimana, sudah ada jawaban belum?” tanya seorang pria di seberang telepon.
“Belum, Mas. Maaf, ya, aku masih repot. Coba nanti malam telepon lagi,” pinta Diva yang terkesan menolak.
Meskipun sebenarnya Diva sudah mengambil keputus- an, tetapi keputusan itu belum juga Diva sampaikan ke Pram. Terlebih, dia teringat pada Tia. Sahabatnya itu tampak terluka saat tahu siapa lelaki yang Diva maksud. Jadi, haruskah dia menerima atau menolaknya?
Malam harinya, Pram tidak menelepon. Padahal Diva sudah menyiapkan jawaban terbaik untuk Pram. Namun, pagi harinya saat Diva sedang menyapu teras rumah, tiba- tiba ponselnya berdering, bergema di ruang tamu. Tertulis nama Mas Pram di layar.
“As-salamu’alaikum. Pagi, Div, sehat?” tanya Pram membuka percakapan pagi itu.
“Wa’alaikumus-salam! Alhamdulillah sehat,” jawab Diva.
“Boleh tahu jawaban itu sekarang?” tanya Pram penuh hati-hati.
“Emm ... baiklah.” Diva menghela napas berat sambil memijit pelipis dengan ibu jari dan telunjuk kanannya. Sepertinya baru kali ini Diva harus membuat keputusan yang telah banyak menyita energi dan emosinya.
Kalau hanya untuk menolak laki-laki, itu adalah keahli- annya. Tetapi untuk menerimanya, Diva bingung merang- kai kata yang pas untuk menjadi jawaban.
“Baiklah, mari kita coba saja dulu,” jawab Diva.
“Coba … gimana?” tanya Pram.
“Ya, coba. Kalau cocok, ya, lanjut.” Jawaban Diva terdengar kurang serius.
“Aku nggak mau jika hubungan ini hanya sebuah ajang coba-coba. Karena yang aku inginkan justru akhir dari hubungan ini mau seperti apa. Tentunya, ya, sampai ke pernikahan. Kalau cuma sekadar mencoba pacaran, buat apa?”
Diva menghela napas panjang. “Bismillah, aku meneri- ma. Semoga semua membawa barokah dan kebaikan ke depannya, amin,” ucap Diva tegas.