
Bab 4 Karateka
Diva sangat senang bisa terdaftar sebagai anggota karate. Sebuah olahraga bela diri yang sebenarnya dari kecil dia inginkan. Di sini, Diva bisa lebih melatih bakat dan kelakuannya yang tak pernah bisa diam.
Latihan sit-up, push-up, sekitar 50 sampai 100 kali dilakukan tiap latihan. Tetapi, bukan hal berat baginya. Diva memang hobi dan senang olahraga, apa pun itu,kecuali tenis meja. Katanya, lapangannya terlalu kecil sehingga tidak banyak menuntut bergerak ke sana kemari.
Sebagai anggota baru, semua wajib mengikuti kegiat- an gashuku, yaitu semacam latihan karate di alam. Katanya di sana akan diadakan pelantikan secara resmi anggota baru di Karate INKAI.
Kegiatan gashuku ini dilaksanakan di daerah Kali- urang, di Lereng Gunung Merapi. Pelaksanaannya dua hari- satu malam.
Sabtu siang berangkat bersama-sama dari UKM. Dan sampai di sana masih ada sedikit waktu untuk istirahat kemudian sorenya langsung diadakan latihan. Malamnya ada semacam acara pentas seni. Semua karateka mulai dari
sabuk putih hingga sabuk biru dibagi menjadi beberapa kelompok guna mementaskan bakat seni yang dimilikinya.
Setiap kelompok diberi jatah waktu 30 menit untuk pentas. Diva pun sangat antusias. Setelah sepakat bersama seluruh anggota kelompoknya, mereka akan menampilkan yel-yel kelompoknya dengan Diva membawakan sebuah karya puisi yang berjudul, ‘Keputusasaan’.
“Kegagalan, terlalu sering aku alami
Penderitaan, terlalu sering aku rasakan
Aku ingin yang itu, tetapi inilah yang aku dapat
Dalam kesendirian, sering aku merenung Dalam merenung, sering aku menangis
Bersedih … dan aku pun bernyanyi
“Hidupku yang sengsara, penuh dengan penderitaan
Oh, Tuhan, tolong tunjukkan jalan kehidupan, jauhkan cobaan dariku
Hanya Engkau yang kuasa, daku memohon ampun dosa Dan berikanlah rahmat-Mu kepada diriku yang
mendambakan-Mu
Hu … hu … hu … hu … hu … hu”
[lirik lagu dari Eddy Silitonga, berjudul Doa]
Air mataku jatuh dan jatuh
Astagfirullah hal’adzim
Ya Allah, ampunkanlah salah dan dosaku Angkatlah hamba dari keterpurukanku
Aku coba buka selembar kertas lusuhku Air mataku jatuhi maknamu
Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan sehingga terkena duri
Semua itu merupakan kafarat dari dosa-dosanya Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka
itu lebih baik baginya
Dan apabila ditimpa penderitaan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya
Aku coba resapi apa katamu …
Aku … ya Allah, … aku sadar … ya Allah, aku sabar, sabar atas nama-Mu
Innalillahi wainna ilaihi roji’un
Semua datang dari-Mu, dan akan kembali pada-Mu
Aku iman … aku yakin …
Fainna ma’al ‘usri yusro, Inna ma’al ‘usri yusro … Setelah penderitaan akan ada kesenangan Sungguh nyata setelah penderitaan akan datang
kebahagiaan
aamiin ….
Tak ayal, malam itu Diva banyak mendapatkan pujian dari teman-teman, sempay5, sampai para sensei6 sabuk hitam. Selain cantik, pintar, berani, pandai membaca puisi, Diva pun punya suara cengkok yang menjadi khasnya.
5Karateka dengan tingkatan KYU di atasnya6Para maha guru sabuk hitam
Pagi harinya, nama Diva terdengar sangat familier bagi para peserta gashuku. Siapa yang tak kenal Diva? Orang yang semalam membawakan puisi dengan pengkhayatan sangat mendalam.
Esok harinya setelah latihan di pagi hari, dilanjutkan dengan pelantikan karateka. Dan saat senja tiba mereka bersiap-siap pulang dari lokasi.
Setelah kegiatan gashuku itu, ada beberapa senior yang cinlok dengan kohey7-nya. Ada juga yang mencoba untuk pendekatan dengan sesama sabuk putih. Tetapi, hal ini tidak berlaku untuk Diva. Dia masih sama, terlatih menolak cinta setiap pria.Seperti sore ini, Diva baru saja memberikan penolakan kepada Yuan. Diva tahu kalau pemuda itu suka kepadanya dan tidak merasa keberatan sama sekali. Perasaan adalah fitrah dari Tuhan.
“Div, jadi ke kosnya Ata? Nanti biar aku anter,” tanya Yuan.
“Boleh,” jawab Diva singkat. Itu adalah percakapan setelah Diva menolak cinta Yuan. Suasana mendadak canggung saat Habibi datang dan mengukir senyum cerah ketika tiba di samping Diva.
“Div, katanya tadi setelah asar mau ke kosan Ata? Yuk, aku antar sekarang!” ajak Habibi.
Meski Diva lebih dekat dengan Yuan, tetapi dia memilih untuk diantar Habibi. Sesaat sebelum pergi, Diva sempat melihat kekesalan di wajah Yuan dan membuat hatinya merasa bersalah.
7Karateka dengan nilai KYU lebih rendah
Saat sudah masuk kosan Ata, Habibi pun sudah pergi bersama motornya. Ata langsung menyerbu Diva dengan pertanyaan yang mendadak membuat kepala perempuan itu pening.
“Yang bener, Div, kamu dianter Mas Habibi dan Mas Yuan kamu tinggalin di UKM begitu saja?” tanya Ata kaget.
“Iya, gimana lagi coba?”
Diva tetaplah Diva. Entah dia sadar atau tidak, sikapnya selalu seperti itu, kurang menghargai seseorang yang memiliki perasaan padanya.
“Dasar, kamu! Kasihan sekali, Mas Yuan. Udah kamu tolak, eh, kamu malah pergi sama yang lain,” gerutu Ata.
Aneh memang. Padahal Diva lebih tidak menyukai Habibi sebenarnya. Pernah ketika Habibi datang ke kosan Diva, sekadar main saat hari minggu pagi, justru Diva minta bantuan teman kos yang lain untuk menemani lelaki itu ngobrol.
“Mas, maaf. Aku lagi piket, kerja bakti bersihin kamar mandi dan lain-lainnya. Nggak apa-apa aku tinggal?” tanya Diva.
“Nggak apa-apa, kok, Div. Aku bisa ngobrol di sini dengan yang lain. Santai aja,” jawab Habibi.
Akhirnya Habibi ngobrol dengan Pram, teman laki-laki yang satu kos dengan Diva, yang kebetulan tidak sedang dapat jadwal piket.
Akhirnya Habibi pulang bahkan sebelum Diva selesai dari kegiatan kerja bakti. “Div, gimana, sih? Didatengin cowok, kok, malah dititipin ke aku?” tanya Pram keheran- an.
“Ya, nggak gimana-gimana, Mas,” sahut Diva sembari mencuci tangan karena kebetulan kerja bakti pagi itu pun sudah selesai.
“Kemarin juga ngapain kamu nyuruh Mbak Ima berbohong hanya karena nggak mau diapelin Mas Dika.”
“Aku nggak nyuruh berbohong. Aku cuma bilang ke Mbak Ima, nanti kalau Mas Dika datang, suruh lihat kamar Diva, ada aku apa nggak. Tapi, akunya emang sengaja nggak lagi di kamar saat itu, hehe.”
“Terus, kamu ke mana?” tanya Pram lebih lanjut.
“Di kamar, Mas Pram, dengerin lagu-lagu Dewa 19 bareng Mbak Yati,” jawab Diva serasa menang.
“Habisnya aku aja nggak terlalu kenal Mas Dika. Nggak kebayang kan, mau ngobrolin apa,” jelas Diva dan berharap sedikit dimaklumi.
“Makanya jadi cewek itu jangan tebar pesona. Giliran didatengin, kabur,” ledek Mas Pram lagi.
“Eh, siapa yang sedang tebar pesona? Aku begini adanya. Andai para cowok suka, ya, alhamdulillah. Andai enggak ” Kalimatnya terpotong.
“Andai enggak, kenapa?” sela Pram.
“Kebangeten!” Diva menyemburkan tawanya. Begitulah, kalau Pram bicara apa, meledek apa, rasa-
rasanya Diva berkeinginan untuk terus membalas dan tidak mau kalah. Kalau kata Ima, “Udah, Pram, jangan ledekin Diva terus! Nanti tahu-tahu kamu jodoh lho sama Diva.”
“Nggak, Mbak. Kasihan Mas Pram kalau dapat istri kayak aku, nanti minder. Harusnya, dia itu dapet istri yang lebih jelek dari aku hee,” timpal Diva.