Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 15 Cinta Segitiga Terulang Lagi



Bab 15 Cinta Segitiga Terulang Lagi


Pagi yang dingin di Kota Bandung masih menyisakan kekalutan dalam pikiran Diva sejak semalam.


Pagi itu Diva membuka ponselnya dan mencari satu nama di daftar kontak. Dipilihlah nama yang tertulis ‘Tia_Sekamar’.


Ponsel sudah menempel di telinga kiri, lalu terdengar nada sambung sewaktu menunggu ada jawaban dari seberang sana. Tak lama, terdengar suara sapaan salam yang membuat Diva tersenyum cerah.


“Wa’alaikumus-salam. Tia, gimana kabar? Wew, pasti seneng dong, jadi bumil.” Diva terkekeh sebentar lalu berujar lagi, “Gini, Ya. Aku mau minta saran dan pendapat- mu.”


Selama hampir sepuluh menit, Diva bercerita panjang lebar. Semua yang mengganggu pikirannya dia keluarkan. Dan Tia dengan setia menjadi pendengar.


“Wah, aku seneng, lho, Div, dengernya,” sahut Tia antusias. “Gini, ya. Aku pikir, setiap orang pasti punya masa lalu. Meski belum pernah pacaran, aku yakin kamu pun pasti pernah suka sama siapa. Apalagi si temanmu itu sudah


menikah, sudah hamil lagi. Nggak ada kaitannya sama kamu! Terima aja, terima! Aku seneng banget kalau kamu punya pacar dan menikah. Diterima, ya! Jangan sampai enggak!” ucap Tia dari seberang telepon.


Saran yang sangat bijak dan dewasa dari seorang Tia sekaligus menjadi penentu keputusan Diva atas perminta- an Pram yang mengajaknya menjalin hubungan sampai ke jenjang pernikahan.


Sebenarnya Diva sudah salat istikharah juga meminta saran ke bapaknya, dan ternyata Bapak menyarankan untuk mencoba menanyakan pada Tia.


“Coba pendapat Tia bagaimana. Kamu sendiri siap kan jika seandainya Tia tidak mengizinkan?” tanya Bapak lem- but dan penuh hati-hati kepada putrinya itu.


Percakapan dewasa antara bapak dan putrinya yang sangat menentukan masa depan putrinya. Diva memang sengaja pulang kampung guna menyelesaikan urusan ini. Tak ayal, cukup lama juga Diva menggantung jawaban dan keputusannya kepada Pram.


“Nggih, Pak, siap!” jawab Diva mantap.


“Jadi jika nanti Tia membolehkan, berarti kamu bisa menerima Pram. Tapi, jika tidak, ikuti saja bagaimana jawaban dan saran Tia nanti. Bapak yakin jodoh tak akan ke mana,” saran dari Bapak terdengar bijaksana pun sangat menentukan kehidupan Diva selanjutnya.


***


Bismillahirrohmanirrohim! Semoga keputusan ini membawa kebaikan dan keberkahan buat semua, amin. Akhirnya, baru


kali ini aku coba menerima laki-laki dalam hidupku. Semoga Allah memberkahi hubungan kami hingga ke jenjang perni- kahan nantinya, amin.


SMS itu Diva kirimkan untuk tiga orang teman yang kemarin telah memberi saran padanya atas pinangan Pram. Dia adalah Ima, Suko, juga Tia. Jika ke Ima dan Suko Diva mengatakan secara gamblang siapa orang yang akan meminangnya, tetapi tidak demikian ketika Diva bercerita ke Tia.


Tidak berselang lama, setelah mengirim SMS tadi, ponsel Diva pun berbunyi.


“Ya, halo! As-salamu’alaikum, Tia. Gimana?” ucap Diva usai menempelkan telepon ke telinga.


“Selamat, ya, Div! Btw, siapa, sih, temen yang kamu


maksud kemarin? Ata?” Tia penasaran. “Bukan,” jawab Diva singkat.


“Terus  siapa  dong?”  tanya  Tia  yang  Diva  yakini  rasa penasarannya kian memuncak.


Suasana menjadi hening sesaat, tidak ada percakapan.


“Terus, laki-laki yang kamu maksud kemarin itu siapa?


Nandi?”


“Bukan.”


“Mas Pram?”


Diva mendadak diam sembari memegang telepon. Hanya suara helaan napas selama dua menit dan menam- bah kuat kecurigaan Tia.


“Diam artinya ... iya?” tanya Tia hati-hati. “I-iya, Ya,” sahut Diva.


Sambungan telepon tiba-tiba diputuskan oleh Tia. Diva mendesah pasrah, kepala mendadak diserang pening. Dia sudah menyangka ini akan terjadi. Cinta segitiga yang melibatkan dirinya dan Tia terulang lagi. Hanya saja, kali ini bukan dengan Nandi, tetapi Pram.


***


“As-salamu’alaikum, Diva!” Terdengar seseorang me- ngetuk pintu dan Diva tahu betul itu suara siapa. Dia pun bergegas membuka pintu dan mendapati Tia sudah berdiri di hadapannya.


Baru saja Diva hendak menyapa, tetapi Tia lebih dulu menyeretnya duduk bersila di teras rumah.


“Div, bisa nggak kamu jangan jadian sama Mas Pram?” pinta Tia, raut wajahnya tampak memelas.


“Maaf, Ya. Seandainya kemarin kamu bilang enggak, aku pasti nurut sama kamu,” timpal Diva lembut sambil menyentuh punggung tangan Tia, lalu dielusnya beberapa kali bermaksud menenangkan. Air matanya mengalir deras hingga membuat Diva tak tega sebenarnya. Namun, apa daya. Keputusan telah dia buat.


Diva sangat tahu, Tia memang masih menyukai Pram, tetapi dia sudah menikah dan sekarang sedang mengan- dung buah hati dengan suaminya. Tidak seharusnya Tia bersikap demikian, mengharapkan laki-laki di saat status- nya istri orang lain.


Tangis Tia mendadak terhenti. Mata kemerahannya itu menatap Diva  penuh curiga. “Jangan-jangan … sebenar- nya kamu udah suka ke Mas Pram dari dulu, ya?”


“Demi Allah, Ya, nggak pernah! Berpikir untuk naksir, suka, jatuh cinta saja aku nggak pernah! Aku bukan teman yang sejahat itu!” jelas Diva tegas. Tegas sekali.


“Tapi, kalau sekarang masalahnya beda, Ya. Maaf, aku nggak bisa menarik keputusanku!”


Diva menarik Tia ke pelukannya, membiarkan perem- puan itu menangis sesukanya sampai lega. Jadi teringat saat dulu Tia menangis seperti ini karena penolakan dari Pram.


Tia, maafkan aku, batin Diva berulang kali sembari mengelus punggung Tia.