Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 14 Memutuskan yang Harus Diputuskan



Bab 14 Memutuskan yang Harus Diputuskan


Diva sangat senang, ternyata Allah mendekatkannya lagi dengan Fatah. Seakan menjawab semua doanya, mereka dipertemukan kembali dan bisa menjadi dekat di saat mereka sama-sama hampir lulus sarjana.


Terkadang Fatah yang menelepon, terkadang Diva yang menelepon atau SMS, hanya sekadar berkirim kabar. Saling bercerita masa depan atau sekadar minta didoakan ketika salah satu dari mereka sedang mengikuti lomba.


“Div, kami kalah!” Saat itu, lewat telepon, terdengar kabar dari Fatah. Dari suaranya, terdengar kekecewaan yang mendalam. Meski turut bersedih, tetapi Diva tetap menguatkannya.


Dia, tetaplah juara dalam hatiku. Dia adalah Fatahku, siswa terpandai di kelasku dulu.


“Fat, bisa nggak kita ketemu sebentar?” pinta Diva, berharap Fatah mengiakan.


“Kayaknya, setelah ini aku langsung ke kampus, Div. Lagian, aku bareng sama teman-temanku, agak susah dan nggak enak juga kalau aku mampir-mampir,” jelas Fatah, masih dalam sambungan telepon


Diva melenguh pelan. Sebenarnya ada hal penting yang tak bisa diceritakan langsung lewat telepon. Berharap bisa bertemu, tetapi pupus harapan. Akhirnya, cerita itu hanya Diva pendam saja.


Diva ingin bercerita jika dia hendak melanjutkan kuliah S-2  di  Bandung.  Tetapi,  Diva  takut,  jika  kejadian  dulu sewaktu SMA terulang lagi.


“Dulu, kami dekat. Bahkan banyak yang mengira kalau kami pacaran. Triwulan pertama, dia rangking 1 sementara aku  rangking  2.  Hubungan  kami  pun  semakin  baik  dan bertambah  dekat.  Kami  saling  meminjam  buku  sampai mengerjakan soal matematika bersama-sama. Sering kami menghabiskan  waktu  istirahat  hanya  untuk  ngobrol  ber- dua. Dan saat itu, aku merasa sangat bahagia. Tapi, setelah pengumuman  triwulan  kedua,  semua  berubah.  Saat  itu, aku menjadi rangking 1, tetapi dia turun menjadi rangking


4. Dia berubah, jadi cuek, nggak ramah lagi. Kayak nggak mau berteman lagi denganku. Sedih sebenarnya saat itu. Kalau boleh memilih, aku mending rangking 2 saja, biar dia yang rangking satunya. Asalkan semua itu tidak merusak kedekatan kami!” Ingatan Diva terbawa lagi ke masa lalu. Ada sedikit nyeri di ulu hati, membuat air matanya turut serta mengalir di pipi.


“Dan saat ini, aku harus bagaimana? Mungkinkah aku bilang  ke  dia  bahwa  aku  sudah  mau  wisuda  S-1,  dan rencananya  mau  melanjutkan  S-2  dengan  beasiswa  yang aku dapat?” Diva kebingungan. Hatinya dirundung gelisah.


“Dialah yang telah banyak mengajarkan kepadaku bagaimana rasanya menangis karena rindu. Dia menyadar- kanku, bahwa cinta adalah salah satu bentuk ketaklukan dan ketundukan kepada seseorang yang kita harapkan, asalkan selalu bisa bersama!”


“Kamulah yang mengajarkanku betapa bahagianya mendapatkan surat darimu. Tak ada satu pun kata mesra atau rayuan, yang ada hanya kata-kata motivasi, cerita tentang cita-cita dan masa depanmu serta kertas bergam- bar kupu-kupu terbang nan cantik. Itu adalah surat darimu. Buatku, kupu-kupu adalah tanda sayang. Entah jika itu adalah kupu-kupu darimu.”


Satu bulan, dua bulan, sampai lima bulan. Dan akhirnya, pertemuan itu tidak pernah ada. Diva pun tidak pernah bercerita jika dia sudah tidak lagi di Yogyakarta, tetapi di Bandung dengan segudang tugas-tugas kuliah magisternya.


Dan entah kenapa pula, apa yang ditakutkan pun terjadi. Lama-lama Fatah seperti menjauhinya, hanya menjawab SMS serta telepon seperlunya. Persis seperti dulu.


“Fatah, kamu egois! Kamu jahat! Kamu tak pernah benar-benar mau berjuang untukku!” umpat Diva.  “Atau


… aku yang jahat? Aku tidak terbuka sama kamu. Bahkan lulus S1 pun aku tidak pernah bercerita. Karena setahuku, bahkan kamu masih mentok di skripsi. Melanjutkan S-2 pun aku tidak memberitahumu. Aku ... aku hanya bingung saat itu. Aku ingin memberitahumu secara langsung, tapi keli- hatannya itu pun lebih tidak mungkin.”


Setidaknya kalaupun Diva suka Fatah, sepertinya rasa itu pun tidak keliru memilihkan tempatnya. Sayangnya, Diva bukan tipe wanita pejuang cinta. Maka sedikit demi sedikit, Diva hanya pasrah dan membiarkan kedekatan itu pergi. Mungkin memang tak cocok dan tak berjodoh.


Setelah dipikirkan selama berhari-hari, hari ini, pagi ini Diva putuskan, “Bismillah! Aku sudah tidak berharap apa pun kepadamu. Mungkin ini jawaban dari Tuhanku, bukan kamu jodoh terbaik untukku!”


***


Seperti dulu, dia adalah Diva. Meski tak sekali pun berpacaran, tetapi Diva selalu memiliki banyak teman laki- laki. Meski mereka semua kebanyakan adalah teman ketika kuliah di Yogyakarta, tetapi masih sering berkirim kabar. Entah melalui SMS maupun telepon gratisan ketika di atas pukul dua belas malam. Bagi mahasiswa seperti Diva dan teman-temannya, ini adalah menu enak untuk bisa meng- hubungi teman dan saling menanyakan kabar.


Akan tetapi, ada satu orang yang komunikasinya lebih intens dibandingkan teman Diva yang lain beberapa hari terakhir ini. Dia adalah Pram.