
Bab 12 Dido atau Fatah?
Seolah mendapatkan kesempatan dan tantangan ba- ru. Selepas ketidakaktifan di kepengurusan UKM Karate, Diva lebih banyak aktif di kegiatan masjid dan menjadi kader baru KAMMI. Dia langsung memiliki reputasi bagus di KAMMI dan bisa diterima dengan baik. Hal itu tak lepas dari bantuan Dido.
Diva pun merasa nyaman meskipun memiliki latar belakang kepengurusan yang berbeda dari akhwat lain, yaitu Diva seorang pelatih karate, tetapi bagi Diva sendiri, itu tidak menjadi masalah.
Diva adalah tipikal gadis yang pandai bergaul serta pandai berdiplomasi. Dengan sifat kepolosan dan kejujuran yang dimilikinya, membuat dirinya memiliki kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Karena itulah, Diva tergabung dalam bidang kajian strategis atau kastrat sebagai salah satu bidang KAMMI yang membawahi urusan tentang wawasan politik.
Sebenarnya Diva tidak begitu memahami dan menyu- kai politik. “Bagiku, ini adalah sebuah tantangan. Ajang untuk aku bisa belajar hal-hal baru,” ucap Diva.
Sebagai sesama anggota karate, Diva dan Dido seka- rang lebih sering bertemu. Jika UKM Karate mengadakan
event, lalu mengadakan pembuatan kaus baru, pasti Dido tak luput minta Diva untuk dipesankan. Hingga kedekatan itu menjadi bumerang bagi Diva sendiri.
“Dik Diva, Mbak Nisa mau ngomong sesuatu.” Itu percakapan awal Nisa, guru mengaji Diva saat acara iktikaf di masjid kampus.
“Monggo, Mbak Nisa,” sahut Diva, tanpa curiga apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
“Gini, Dik. Mbak Nisa cuma mau menyampaikan supaya Dik Diva tidak salah paham,” ucap Nisa santun seperti biasanya.
“Akh Dido itu, dia baik juga ramah ke siapa saja. Bukan hanya ke Dik Diva saja. Jadi, mudah-mudahan Dik Diva tidak salah mengartikan itu,” lanjutnya.
“Oh, nggak kok, Mbak,” jawab Diva yang sebenarnya bingung harus menanggapinya.
“Maaf, ya, Dik. Kemarin Mbak Nisa ke tempat, Akh Dido dan Mbak lihat di sana ada simbol kupu-kupu nempel di lemari buku. Mbak Nisa tahu persis itu kupu-kupu dari siapa.”
Diva keheranan karena ternyata Nisa tahu tentang simbol kupu-kupu yang selalu dia berikan pada teman atau sahabat yang memiliki kedekatan khusus dengannya. Umumnya, kupu-kupu itu memang diberikan pada perem- puan saja, bukan pada laki-laki.
Simbol kupu-kupu itu sendiri handmade, Diva sendiri yang membuatnya. Terbuat dari plastik mika berwarna keemasan. Kupu-kupu ini terdiri dari tiga lapis dengan warna berbeda. Disusun mirip, mulai dari bentuk kepala, antena, sampai sayap kupu-kupu. Jika ketiga lapis itu dilipat dengan kekuatan berbeda, dia akan membentuk seperti kepakan sayap kupu-kupu yang sedang terbang. Warna keemasan yang dimiliki akan memantulkan cahaya warna-warni jika terkena sinar. Dan bagusnya lagi, di bagian bawah perut dari kupu-kupu tersebut, Diva menem- pelinya dengan double tape. Sehingga kepakan sayap- sayap tadi akan terlihat indah, bagus, menarik, dan sangat cantik ketika ditempelkan secara miring di lemari, meja belajar, atau bahkan di kaca cermin. Terlihat seperti kupu- kupu emas yang sedang terbang.
Katakanlah kalau simbol kupu-kupu itu sebagai tanda rasa sayang dari Diva untuk orang tersebut.
“Oh, itu,” sahut Diva santai, meski Nisa melihat itu adalah masalah yang serius dan bisa membuat polemik di antara kader-kader KAMMI.
“Jadi gini, Mbak. Mohon Mbak Nisa juga jangan salah paham. Mungkin menurut Mbak Nisa, saya dan Akh Dido dekat. Saya akui, mungkin itu memang betul karena kami memang sudah lama saling mengenal. Apalagi jika diban- dingkan dengan teman-teman lain di KAMMI yang me- mang baru saya kenal.” Penjelasan Diva tertata.
“Dan masalah kupu-kupu itu, memang betul. Tapi, untuk kasus Akh Dido ini, tidak seperti yang Mbak Nisa lihat.” Diva menghirup napas panjang sambil memikirkan rangkaian kata-kata yang pas agar Nisa paham dan tak salah paham lagi.
Bibir Diva mengukir senyum tipis, terkesan menenang- kan. Kemudian berujar lagi, “Saya tidak pernah berniat memberikan kupu-kupu itu ke laki-laki mana pun. Karena menurut saya, rasa sayang itu harus dibedakan. Nah, kenapa Akh Dido sampai memilikinya? Karena dia yang selalu meminta, Mbak Nisa. Jadi, sebagai tanda terima kasih atas kebaikan dia selama ini, dan tanpa ada rasa lebih, mungkin tak apa jika aku kasih tanda itu.”
“Kalau memang begitu, syukurlah!” Diva melihat dengan jelas kelegaan tampak di wajah Nisa yang ayu itu saat berucap.
“Itu penjelasan saya. Jadi, jika Mbak Nisa masih berpikiran seperti tadi, silakan saja, karena itu hak Mbak Nisa. Tapi bagi saya, tidak. Itu tidak lebih dari bentuk ucapan terima kasih dan tanda persahabatan semata,” tutup Diva.
Tak terlalu ambil pusing apa yang akan Nisa pikirkan tentang Diva. Terserah, itu hak dia. Apalagi, Nisa guru ngajinya. Diva sangat menghormati itu, meski sebenarnya Diva sendiri agak kurang nyaman dengan tegurannya tadi.
Waktu pun terus berlalu. Saat ini Diva hanya berpikir untuk sedikit menjaga jarak dengan Dido supaya tidak terjadi salah paham di mata orang-orang. Namun, di saat yang bersamaan, justru terdengar kabar yang kurang mengenakkan.
“Div, kemarin Usi cerita ke aku. Dia kan satu kos dengan sekretarisnya Mas Dido, tuh. Katanya Mas Dido sering ke kosnya buat menemui mbak sekretarisnya itu. Tapi, kamu tahu tidak? Katanya kalau pas main, Mas Dido banyak ngobrolin tentang kamu, lho! Ih, kamu pasti seneng, nih!” ungkap Dian, teman karatenya sekaligus bendahara I saat berpapasan di jalan. Diva menanggapi- nya hanya dengan senyuman lalu pergi tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya.
Seakan takdir tidak rela membiarkan Diva berlarut- larut memikirkan gosip kedekatannya dengan Dido. Siang itu, saat Diva tengah di rumah keluarganya, seorang tetangga tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika hendak membuka pagar rumah.
“Mbak Diva, tadi ada temen SMA Mbak ke sini, nyariin,” kata tetangga sebelah rumah. “Terus, saya bilang, ‘Diva dan keluarganya sedang ada acara keluar, mungkin sore sampenya’.”
Diva bertanya-bertanya. Kiranya siapa yang datang ke rumah saat tadi dia pergi.
“Katanya, besok mau ke sini lagi.”
“Dia bilang namanya siapa nggak, Bu?” tanya Diva, kentara wajahnya penasaran.
“O, iya, tadi bilang namanya Beno,” tutup ibu tersebut karena setelah itu dia pamit kembali ke rumahnya di sisi kiri Diva.
Sejenak Diva tercenung di tempat dia berdiri. Isi pikirannya mencari-cari wajah dari pemilik yang namanya tadi disebutkan.
“Oh, Beno!” Diva berseru usai berhasil mengingat wajah Beno. “Mau ngapain dia ke sini? Biarin, deh, toh, besok juga mau ke sini lagi,” pikir Diva.
Menjelang sore, saat Diva tengah bersantai di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu diiringi ucapan salam dari luar. Dia pun bergegas bangkit, berniat membukakan pintu untuk tamu.
“Wa’alaikumus-salam, Beno.” Diva terperanjat. Jan- tungnya mendadak berpacu dua kali lebih cepat. Sejenak dia mengamati, siapa yang berdiri tidak jauh dari Beno.
“Fatah,” ucapnya lirih. Ya, Allah, mimpi apa aku semalam!
Sama sekali tidak pernah terbayang oleh Diva, Fatah datang ke rumahnya. Apalagi selama ini, sudah lama terpisah sejak lulus SMA, hampir 4 tahun.
Fatah adalah teman SMA Diva. Mereka berdua dulu cukup memiliki kedekatan, sering berdiskusi tentang masa depan dan cita-cita selepas SMA. Bahkan bercerita bagai- mana kondisi ekonomi orang tua yang membuat mereka harus menentukan sebaiknya mengambil kuliah jurusan apa. Fatah dan Diva sama-sama jago matematika di kelas. Tetapi setelah lulus, mereka terpisah. Diva di Yogyakarta, sedangkan Fatah kuliah di Semarang.
Entah seperti apa raut muka Diva saat itu. Diva sendiri tidak sempat berdandan atau sekadar sedikit merapikan penampilan maupun wajahnya. Semua natural dan apa adanya. Diva hanya mengenakan kaus olahraga SMA dan jilbab warna cokelat.
Waktu cepat berlalu, mereka sudah satu jam ngobrol ke sana kemari, menanyakan bagaimana kuliah di kota masing-masing, juga teman-teman SMA yang sekarang kuliah satu kampus, dan masih banyak lainnya. Tidak lama kemudian, Beno dan Fatah pamit pulang karena hari mulai senja dan gelap.
Seakan masih seperti mimpi, Diva bisa melihat Fatah kembali dan bertandang ke rumahnya, dia berujar sambil menatap kepergian dua tamu tadi yang semakin kecil di penglihatannya, “Mengenakan celana hijau tua gelap, kaus abu-abu hitam berkerah, sandal warna hitam setengah formal. Dia pamit, duduk di jok belakang, diboncengin Beno buat dianter sampai ke mini bus yang menuju rumahnya, yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku!”
Rasa-rasanya apa yang terjadi hari ini, akan terus mengusik pikiran Diva.
Fatah, terima kasih. Ternyata kamu masih ingat aku!
Terukir senyum bahagia di bibir Diva sewaktu beranjak dari teras, lalu masuk ke rumah karena magrib hanya tinggal menunggu menit saja.