Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 18 Kekalutan



Bab 18 Kekalutan


Diva tidak bisa memungkiri, Dido adalah orang yang pernah memberi pengaruh besar dalam hidupnya, dalam hijrahnya. Bahkan, jika Diva harus berkata jujur, dia jauh lebih mengenal Dido daripada Pram. Akan tetapi, keputusan sudah dia ambil.


Sebenarnya  dulu,  sebelum  pergi  ke  Bandung  guna melanjutkan kuliah S-2, Dido pun pernah berpesan kepada Diva, “Dik, nanti kalau mau berangkat ke Bandung, kasih kabar, ya. Jangan sampai nggak pamitan!”


Dan anehnya, Diva mau saja menyanggupinya. Sore itu, ditemani Ima, dia sengaja mendatangi Dido di kos- annya. Sengaja datang hanya untuk berpamitan karena malamnya Diva berangkat ke Bandung menggunakan travel yang sudah dipesannya.


Diva masih selalu ingat, Dido pernah mengatakan kata-kata sayang.


“Apa, Mas? Mas Dido ngomong apa barusan?” tanya Diva, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


“Enggak, Dik. Enggak, kok. Enggak jadi,” kilahnya. “Tapi, aku sudah telanjur mendengarnya,” ucap Diva


kala itu.


Saat itu, memang Ima menemani Diva, tetapi dia dan ikhwan yang lain berada di halaman depan. Sementara, hanya Diva dan Dido saja yang berada di ruang tamu.


Senja yang membawa suasana sepi dan hening ketika Diva hendak pergi meninggalkan tempat Dido. Ada sema- cam hati yang tiba-tiba terasa berat untuk meninggalkan Kota Yogyakarta. Seakan ada yang tertinggal. Laki-laki berparas tampan, putih, tinggi, pintar, taat agama, selalu baik dan perhatian ke Diva. Setidaknya itu kesan Diva kepada Dido.


Mungkin benar kata Dewi, Ata, dan Dian, bahwa dari dulu sebenarnya Diva memang menyukai Dido. Hanya saja, dia merasa tak pernah pandai dan peka terhadap perasa- annya sendiri. Diva selalu mengesampingkan rasa yang mungkin saja bisa dia miliki terhadap laki-laki yang memberi warna di hatinya.


“Andai belum ada Mas Pram, pasti aku nggak akan ragu buat nerima kamu, Mas Dido. Dan aku pun nggak perlu meminta izin pada Tia,” ucap Diva lirih. Ada rasa pedih dalam hati, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.


Dulu, Diva sering mendapat kiriman salam dari Dido yang dititipkan lewat Pram. Maka dari itu, sebelum Pram meminang Diva pun, dia sempat menanyakan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Dido dan Diva pun menjawab, “Hubungan kami baik, dan tetap baik sebagai teman.”


Karena memang antara Diva dan Dido hanya sebatas teman, tidak lebih. Diva pun tidak banyak berharap, tak berani melebihi batas kagum pada Dido.


***


“Diva, kamu sudah mantap kan, dengan pilihanmu?” tanya Bapak, sedikit meragukan keputusan Diva atas Pram.


“Yakin. Aku pantang ragu dengan keputusanku, Pak.” “Yakinlah, Div, ini hanya godaan. Kamu dan Pram


punya tujuan mulia, yaitu menikah. Meskipun mungkin saat ini obrolan kalian belum sampai ke sana, karena kamu juga ingin menyelesaikan kuliahmu dulu. Allah akan menguji kalian dengan banyak hal,” nasihat bijak Bapak.


“Tiba-tiba, hadir Dido, orang yang mungkin justru dulu kamu pernah menyukainya. Sebenarnya bapakmu juga suka wong dia juga bagus, baik. Tapi, kamu sudah mene- tapkan dan menjatuhkan pilihan pada Pram. Dan ketahui- lah, Div. Sangat mungkin di sana, Pram juga banyak godaan. Tiba-tiba banyak wanita yang menjadi terlihat jauh lebih cantik daripada kamu, mereka seolah-olah juga menginginkan Pram. Yakinilah, ini hanya godaan. Dan kamu harus yakin itu.”


Petuah dari Bapak sangat bijaksana, adem, dan terasa mendamaikan sekaligus lebih menguatkan keputusan Diva.


“Bismillah, aku yakin dengan keputusanku.”


***


Diva sengaja menyambangi rumah Tia pagi itu guna mengantarkan undangan pernikahannya. Diva bersikeras mengantarkannya sendiri ke tangan Tia meskipun Bapak sudah melarangnya.


Diva pikir, semuanya sudah berakhir, hatinya akan merasa bahagia menjelang hari yang selama ini sudah dia tunggu. Nyatanya, pemikiran itu salah, semua di luar dugaan. Padahal, pertemanannya dengan Tia biarlah urus- an mereka berdua saja, tidak perlu ada yang ikut campur. Akan tetapi, ternyata bukan hanya Tia saja yang terluka, tetapi Mia—ibunya pun sama.


Mendengar ucapan ibunya Tia, Diva hanya diam. Dia khawatir jika sampai mengucapkan suatu bantahan, justru bukan memperbaiki situasi, tetapi dapat memperkeruh suasana. Baik, semua Diva terima.


“Div, kita ngobrol di teras saja, yuk!” ajak Tia merasa tidak enak sendiri atas perkataan ibunya.


Diva mengiakan. Sesampainya di teras, mereka lang- sung duduk santai kembali. Tia pun berucap, “Div, maafkan ibuku, ya. Ibu sudah tahu ceritanya. Kamu juga ngerti, justru dari dulu ibuku seperti itu. Sampai kadang malu- maluin aku sendiri saking penginnya Mas Pram jadi menantunya. Di kosan saja, suka cerita yang enggak- enggak.”


“Bingung juga aku sama Ibu. Aku udah sering bilang, ‘Bu, jangan suka banding-bandingin Mas Pram sama Mas Tigin. Walau bagaimanapun, Mas Tigin suamiku, sudah jadi menantu’,” keluh Tia tentang ibunya.


“Iya, aku paham, kok. Santai saja,” jawab Diva singkat. “Ya udah, Ya. Kalau gitu aku pulang dulu.”


“Div, maaf, ya,” ucap Tia lirih. Kepalanya menunduk, tak berani menatap Diva yang kini sudah berdiri hendak memakai sandalnya.


Diva mengulas senyum, meski hatinya merasa kecewa pada Tia yang sampai saat ini masih belum menerima takdir bahwa Pram adalah jodoh yang Allah takdirkan untuk Diva.


“Iya, nggak apa-apa, kok, Ya. Aku ke sini hanya untuk mengantarkan undangan karena aku masih menganggap kamu sebagai temanku. Dan selamanya juga akan tetap seperti itu. Kalau begitu, aku pulang dulu.”


Diva pun berlalu, meninggalkan sebuah rumah yang terasnya berlantai keramik hijau mengilap. Halamannya bertaburan batu-batu kecil dengan beberapa tanaman mangga yang mulai meninggi di samping kanan kirinya. Rumah yang mungkin tidak akan pernah Diva datangi lagi untuk seterusnya, meskipun pertemanan di antara mereka tidak akan pernah hilang begitu saja.


Diva banyak berdoa, semoga langkah ini tidak salah di mata Allah. Sebelum ini, Diva belum pernah sekali pun menerima laki-laki. Diva juga belum pernah pacaran, tetapi kenapa begitu Diva mencoba berani menjalin sebuah hubungan, justru banyak hati yang tersakiti.


Ya Allah, hamba hanya memohon belas kasih serta petunjuk-Mu. Semoga langkah kami senantiasa Engkau ridai. Meski Tia dan keluarganya tak bisa merestui kami, semoga tak kurang rida dari-Mu dan seluruh alam atas pernikahan kami nantinya. Amin, amin, amin, ya rabbal’alamin, ucap


Diva dalam hati. Terasa getir, pedih, dan sangat perih menjalar di hatinya.


***


Beberapa hari kemudian di rumah Diva orang-orang berkerumun di meja, di depan pelaminan yang tampak cantik dihiasi bungan-bunga. Terlihat pula Bapak dengan perasaan gugup menjabat tangan Pram sembari meng- ucap, “Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku Diva Metania dengan mahar seperangkat alat salat dibayar tunai!” Bapak mengentak- kan jabatan tangan dengan Pram agar lelaki di hadapannya itu langsung menyahut.


“Saya terima nikah dan kawinnya Diva Metania dengan mahar yang telah disebutkan, dibayar tunai,” jawab Pram dengan satu tarikan napas.


“Sah?” tanya penghulu pada dua saksi dari masing- masing pihak.


Keduanya pun serempak mengucap, “Sah!” “Alhamdulillah!”


Tanpa sadar, air mata Diva menetes. Diva dipeluk erat, erat sekali oleh Bapak. Seakan Bapak rela tidak rela harus melepas putrinya, memercayakan, dan menyerahkan kehidupan putrinya kepada laki-laki yang baru saja dia nikahkan. Dan mulai saat ini, Diva telah resmi menjadi istri Pramudya Wicaksono. Orang yang sudah dia kenal baik sekitar 7 tahun lalu ketika kuliah di Yogyakarta.


Hari  ini, selasa kedua di bulan  Februari tahun 2004, Diva merasakan sebuah perubahan besar dalam hidupnya.


Ada rasa haru, takut, semua bercampur jadi satu. Diva telah memercayakan seluruh kehidupannya kepada sang suami, Pram.