Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 3 Mahasiswa Baru



Bab 3 Mahasiswa Baru


Saat ini, Diva dan Tia resmi sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Yogyakarta. Sebuah kota yang dikenal dengan julukan Kota Pelajar. Yogyakarta yang terkenal ramah masyarakat serta halus bahasanya. Kota dengan biaya hidup yang lumayan ekonomis untuk para mahasis- wa.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap awal masuk, sebagai mahasiswa harus mengikuti kegiatan SLK2, mulai dari tingkat fakultas sampai dengan tingkat jurusan. Dan hari ini adalah hari ke-4 Diva melewati masa perkenalan di tingkat fakultas. Diva  berangkat dengan  beberapa tugas yang dimandatkan kepada mahasiswa baru. Konon, hari ini akan  ada  acara  pemilihan  artikel  terbaik  dari  seluruh mahasiswa Fakultas MIPA.Seluruh mahasiswa yang jumlahnya ratusan dikum- pulkan di aula besar dan megah. Mereka semua duduk lesehan di lantai.


Dipandu dan didampingi beberapa kakak tingkat sebagai panitia acara SLK fakultas, tibalah saat pemilihan artikel favorit dari seluruh mahasiswa baru.


Studi lapangan dan keakraban


“Adik-adik semua, mohon perhatiannya. Pada pagi ini, akan saya bacakan artikel terpilih. Adapun judul artikel tersebut adalah,” ucap Dido, mahasiswa dari Teknik Fisika, satu tingkat di atas Diva. “Aplikasi Konsep Diferensial dan Integral dalam Kehidupan Sehari-hari atas nama Diva. Kepada Saudari Diva Metania dimohon untuk maju. Jelaskan si artikel tersebut supaya kita semua tahu.”


Diva terkejut bukan main saat namanya disebut. Entah apa yang mendasarinya sampai artikel yang dia buat terpilih menjadi pemenang. Suara sorak-sorai tepuk tangan mengiringi Diva ketika berjalan ke depan panggung acara.


Dengan sedikit malu dan kikuk, Diva mencoba memu- lai mengucapkan sesuatu.


“As-salamu’alaikum.  Alhamdulillah  dan  terima  kasih saya ucapkan kepada kakak-kakak panitia atas terpilihnya artikel ini. Tetapi, saya yakin artikel teman-teman di sini pun tak kalah menarik dari tulisan saya, bahkan lebih bagus.” Diva menghirup napas sejenak. “Baik. Jadi begini.” Penjelasan Diva lumayan panjang. Sesekali dia melihat teks makalahnya.


Suasana tampak hening, orang-orang yang berada di aula duduk tenang sambil menyimak penjelasan Diva dengan saksama


“Jadi, demikian Kakak, terima kasih atas kesempatan- nya. Was-salamu’alaikum Wr. Wb.” Diva bergegas turun panggung menuju tempat semula tadi dia duduk.


“Hebat sekali pemikiran Dik Diva,” puji Dido.


Dan sejak saat itu, nama Diva menjadi tidak asing di mata orang-orang di kampusnya. Karena itu juga, Diva menjadi sorotan dan incaran setiap target politis dan dakwah yang ada di kampus.


Secara mudah Diva bisa langsung masuk dan aktif di kalangan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Diva pun secara bertahap banyak belajar dan berkiprah di bidang tersebut. Selain sering diminta menjadi panitia di setiap event yang diadakan, baik di tingkat jurusan maupun fakultas, Diva juga sering menjadi pesertanya. Mulai dari lomba bulu tangkis: tunggal, ganda putri, maupun campuran. Diva selalu menjadi atletnya. Voli pun tidak ketinggalan. Kedua olahraga tersebut memang olahraga yang Diva sukai sedari kecil.


Diva juga sering mangikuti lomba menulis cerpen dan berhasil menjuarainya. Banyak karya yang pernah dia tuliskan, antara lain: Rintihan Wanita, Bercinta dalam Dosa, Kala Cinta Menggoda, dan masih banyak lagi.


***


Sudah hampir setahun Diva menjalani masa-masa menjadi mahasiswa. Itu artinya sudah hampir setahun pula dia tinggal sekamar dengan Tia.


“Lebih cantik aku kan, Div?” Tiba-tiba Tia berdiri di depan cermin, menyela perempuan itu yang sedang ber- dandan.


“Lebih cantik aku!” sahut Diva yakin, meski setengah bercanda.


“Tapi kan, kamu nggak punya pacar.” Tia masih tak mau kalah. Kedua alisnya sengaja dinaik-turunkan. Lantas, tubuhnya berbalik dan menatap cermin yang menampilkan separuh badannya. “Div, kamu bener nggak punya pacar? Dan nggak mau pacaran?”


“Enggak. Untuk saat ini belum berkeinginan dan belum terpikirkan. Kenapa memangnya?” Diva keheranan. Dia bergerak mundur sampai kakinya menyentuh tepian kasur. Lalu, bokongnya mendarat di ranjang, disusul Tia yang kini menampilkan wajah serius.


“Ya, aneh saja. Orang seperti kamu, kok nggak mau punya pacar. Pendapat orang lain juga begitu!” Tia menatap Diva lamat-lamat. “Nggak ada gitu yang nyatain cinta ke kamu?”


“Jangan salah!” Diva menarik napas dalam-dalam. Dia pikir, tak ada salahnya untuk jujur sekarang. “Sebelumnya, maaf, Ya, jika kalimatku ini nantinya bikin kamu nggak enak.”


“Kok, minta maaf? Memangnya ada apa dan kenapa?


Jadi penasaran.” Tia tidak sabar.


“Aku harap kita nggak ada jarak setelah kamu mendengar ceritaku ini,” ujar Diva, yang membuat Tia semakin bingung dan penasaran.


“Cepetan ngomong, Div, nggak usah kelamaan!”


Diva diam sejenak seraya menatap wajah Tia. Ketakut- an akan perubahan teman sekamarnya itu kini menghantui pikirannya, membuat hati gamang. Diva harus jujur seka- rang, atau tidak sama sekali untuk selamanya.


Diva melenguh pelan. Jujur lebih baik, Div. Daripada nanti Tia tahu dari orang lain, malah makin kecewa.


“Ya, maaf, bukannya aku menutupi ini dari kamu. Tapi, aku nggak nyangka jika ternyata takdir membawa kita menjadi lebih dekat, bahkan teman sekamar. Tapi … mungkin baiknya aku ceritakan saja ke kamu,” jelas Diva.


“Memang benar. Dulu, Nandi pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku. Tapi, aku tolak.”


“Alasan aku menolak Nandi, karena aku tahu, kamu suka dia. Dan sejujurnya juga, karena aku nggak mau menyakiti kamu, mengecewakan kamu. Saat itu, kamu minta secara langsung untuk comblangin kamu sama dia.”


Suasana mendadak hening. Tertangkap jelas di mata Diva, bagaimana wajah Tia yang tampak kecewa.


“Maaf, Ya, aku baru punya keberanian untuk cerita sekarang.”


Tak ada respons. Tia langsung mengambil posisi tidur dan membelakangi Diva. Sampai besok pagi pun, Tia masih bungkam. Suasana di kamar masih terasa hening dan kaku, tidak seperti biasanya yang penuh canda dan tawa. Diva pun tak tahu harus bagaimana. Sempat dia mengajak bicara Tia, tetapi dia diabaikan, seolah patung hidup yang ada di kamar.


Sekitar tiga hari, seperti ada perang dingin antara Diva dan Tia. Sebenarnya, Tia yang mendiamkan Diva. Dan Diva paham, Tia pasti sakit hati, mungkin kecewa, mungkin juga benci. Biarlah Diva menunggu sampai kemarahan Tia menghilang dan mereka kembali baik-baik saja seperti sebelum Diva jujur.


Jika ditanya alasan Diva berani menceritakan ini se- mua, karena toh, Tia sudah lama putus dengan Nandi. Nandi yang mengakhiri hubungan mereka.


“Div, gimana? Kamu jadi jujur ke Tia?” tanya Ima, tetangga kamar kos Diva.


Sebelumnya, Diva memang pernah meminta pendapat Ima, apa yang sebaiknya Diva lakukan.


“Sudah, Mbak,” jawab Diva.


“Terus, reaksi Tia gimana?” tanya dia lagi.


“Ya, gitu, deh.” Meski Diva cengengesan, tetapi Ima bisa melihat dengan jelas kalau perempuan itu tengah dilanda bingung yang belum menemukan ujung.


“Pantesan. Dari kemarin, tingkah Tia agak aneh,” ucap Ima.


“Salah nggak, sih, Mbak?” tanya Diva minta pendapat. “Enggak, kok! Kamu nggak salah. Sudah benar kamu cerita ke Tia. Ini hanya masalah waktu, Div,” nasihat Ima yang terasa menenangkan bagi Diva.


Itulah yang Diva suka dari mbak yang satu ini. Selain agamanya bagus, taat beribadah, wawasan dan pendapat- nya juga selalu mendamaikan. Tak jarang untuk beberapa masalah, justru Diva lebih banyak sharing padanya ketim- bang dengan Tia.


Dan kebetulan juga, dia sendirian, jadi Diva bisa dengan leluasa bercerita ketika dia sekadar main ke kamar Ima.


Benar apa yang dikatakan Ima. Ini hanya masalah waktu. Suatu saat Tia pasti bersikap seperti biasa lagi. Dan bisa jadi, ini juga karena bantuan teman sekelasnya, mereka berasal dari daerah dan kampung yang sama. Dan antara Diva, Tia, Nandi, dan temannya itu, dulu sama-sama teman di bimbingan belajar. Ya, dia adalah Suko.


***


Akhirnya Tia kembali seperti dulu lagi. Mereka dekat dan akrab, tidak kaku lagi seperti beberapa hari kemarin. Diva berpikir, ini ada kaitannya dengan cerita Suko tentang pertemuan dan pembicaraannya bersama Tia.


“Div, kemarin malam aku main ke kosmu. Tapi, kamunya nggak ada. Jadi aku ngobrol sama Tia. Terus, Tia cerita tentang Nandi,” ucap Suko.


“Ti-tia   cerita   ke   kamu?  Tanggapan   kamu   ke   dia gimana?” Diva bertanya dengan penuh antusias.


“Ya, aku bilang supaya dia nggak benci sama kamu, Div. Diva nggak salah dalam hal ini. Toh, dia denger ceritanya dari kamu kan, bukan orang lain. Karena tahu kebenaran dari mulut orang lain itu justru lebih menyakit- kan, lho. Dia diem aja pas aku kasih nasihat dikit.”


Sebenarnya beberapa kali justru Nandi pernah bilang ke Diva dan bersikeras supaya dia yang bicara sendiri mengenai ini. Namun, Diva selalu melarangnya.


“Maaf, ya, Ya, sebenarnya Diva sudah pernah bercerita tentang hal ini sama aku, sudah lama bahkan. Diva menahan diri untuk tidak atau belum menceritakan ke kamu … adalah karena dia tidak ingin menyakiti kamu, Ya.” Suko berujar seolah yang di hadapannya ini adalah Tia, bukan Diva.


“Kamu ngomong begitu?”


“Lha, terus aku harus ngomong apa? Aku dah belain kamu di depan dia, lho!” bantahnya.


“Iya, iya, tapi, kasihan Tia. Dia curhat ke kamu, malah kamu ngomong begitu,” sahut Diva.


“Jujur saja, Div. Jangankan Nandi yang memang ganteng. Aku aja, nih, ya, yang jelek, akan milih kamu kok.” Suko tergelak seorang diri.


“Dasar!” umpat Diva.


Diva pun lega dan menjadi tenang menjalankan aktivitasnya. Apalagi sekarang, Diva sudah terdaftar sebagai anggota Karateka INKAI3 sebagai penyandang sabuk putih, KYU-104. Diva sedang semangat-semangatnya ikut latihan tiap sore. Setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul setengah empat di aula Gelanggang Mahasiswa.


3Institut Karate-Do Indonesia4Tingkatan (sabuk) terendah dalam Karate