Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 13 Rasa yang Tak Keruan



Bab 13 Rasa yang Tak Keruan


Setelah dua hari di rumah, sore ini Diva balik lagi ke Yogyakarta karena Senin ada kuliah pagi. Seperti biasa, Diva membawakan oleh-oleh peyek kacang bikinan ibunya untuk menu makan anak-anak kos serta sale pisang, makanan khas daerahnya.


Bus yang ditunggu pun datang dan segera Diva menaikinya. Dengan membayar tujuh ribu rupiah siap mengantarkan sampai ke Gamping, kemudian naik kopaja menuju kos yang di daerah Lembah UGM, Yogyakarta.


Seminggu, dua minggu, seakan bayang-bayang kejadi- an senja itu terus mengusik Diva. Wajah Fatah, Fatah, dan Fatah lagi terus muncul di buku-buku kuliah, meja belajar, kursi depan kamar yang sering diduduki, bahkan di setiap bidang tembok kamar Diva.


“Asyem! Kenapa aku jadi begini?” tanya Diva yang dia sendiri pun tidak bisa menjawabnya.


Diva menggeram saking frustrasi. Berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya sebisa mungkin, kembali normal seperti saat sebelum bertemu Fatah, tapi rasanya sulit.


“Div, pasti kamu nyesel banget kalau aku kasih tahu sesuatu!” ucap Tia ketika Diva baru saja pulang dari kampus.


“Apa emang?” tanya Diva datar. “Tadi ... Fatah ke sini.”


“Serius?” tanya Diva tidak percaya.


“Serius!” jawab Tia sembari mengacungkan dua jari, telunjuk dan jari tengah secara bersamaan, tanda dia tidak berbohong.


“Demi Allah?” tanya Diva ulang, masih belum percaya. “Demi Allah!” sahut Tia lebih mantap.


Bibir Diva terkatup, tidak bisa bicara apa-apa lagi. Kaget, heran, tidak percaya. Dan ini sedikit membingung- kan baginya.


“Kalau masih belum percaya, kamu tanya saja sama Mbak Ima dan Winda. Mereka berdua yang pertama menemuinya di depan, sampai mempersilakan masuk,” jelas Tia.


“Terus katanya gimana?” Diva semakin penasaran. “Ya, aku bilang, ‘Diva belum pulang, masih di kampus’.


Udah, gitu doang.”


“Terus, katanya mau ke sini lagi nggak?” tanya Diva beruntun, tidak sabar ingin segera mendengar penjelasan Tia selanjutnya.


“Katanya … mungkin malam ini dia akan telepon kamu,” jawab Tia singkat.


Dan benar saja apa yang dikatakan Tia. Malam harinya, Ibu Kos berteriak, “Diva, ada telepon dari Fatah!”


Diva segera berlari ke ruang depan dan mengangkat gagang telepon. Dia mendadak kikuk, tetapi Diva mencoba bersikap sewajarnya di telepon.


“Ya, halo! As-salaamu’alaikum!” Diva menyapa.


“Wa’alaikumus-salam Wr. Wb!” sahutnya dari sebe- rang telepon.


Selanjutnya, percakapan pun mengalir begitu saja. Tidak lupa, Diva pun protes, kenapa Fatah tidak memberi kabar dulu kalau mau datang ke kos sehingga tidak bisa bertemu.


“Div, aku kan udah main ke rumahmu, ke kosmu.


Sekarang, gantian kamu main ke rumahku!” pinta Fatah. “Masa  perempuan  main  ke  tempat  laki-laki?”  tanya


Diva spontan dan meminta pertimbangan.


“Iya, juga, ya,” timpalnya seakan menyetujui. “Pengin


saja cerita-cerita ke kamu tentang kehidupanku.”


“Kok, pacar? Ya bukanlah!” bantah Fatah secara spontan.


Berarti selama ini dia nggak punya pacar. Bagus!


Di telepon, Fatah banyak bercerita bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Juga belum lama ini bapaknya meninggal dunia. Sebenarnya, dia ingin memberi kabar ke Diva, hanya saja saat itu mereka belum terjalin komunikasi. “Div, jangan lama-lama!” Ibu Kos mengingatkan karena telepon itu milik umum.


Sebelum Fatah menutup teleponnya, dia sempat me- minta agar Diva mau mengirim surat untuknya. Entah untuk apa. Apakah sebagai kode bahwa dia meminta hubungan yang lebih dekat, atau … entahlah.


Seakan ada cerita dan keceriaan baru dalam hidup Diva. Sejak saat itu, Fatah sering menelepon Diva secara rutin. Saling bercerita dan menyambung silaturahmi, lebih bisa untuk saling mengenal satu sama lain.


“Div, kamu bener-bener egois. Andai kamu sampai nggak mau juga menulis surat buat Fatah, entah kamu suka dia atau tidak, setidaknya dia sudah beberapa kali berjuang untuk mendekatimu. Apalagi jelas-jelas kamu menyukainya sejak SMA lagi. Sampai-sampai dia minta kamu nulis surat saja, kamu masih tetap nggak mau. Jujur, Div, aku kecewa sama kamu! Egois dan pelit perasaan kamu, Div!” ucap Ata memberikan saran dan masukan.


“Beneran aku sebaiknya nulis surat itu, Ta?” tanya Diva, menegaskan.


“Iya, kamu tulis saja surat yang bernada pertemanan biasa. Yang penting, kamu harus nulis surat buatnya, titik!” tegas Ata.


Setelah beberapa hari, akhirnya Diva menulis surat itu dan menunjukkannya ke Ata. Ata diminta untuk membaca dan mengomentari isinya, apakah sudah sesuai atau ba- rangkali terlalu lebay.


Seumur-umur Diva belum pernah menulis surat untuk laki-laki, apalagi laki-laki yang dia sukai. Otak Diva akan sekuat tenaga untuk selalu menutupi dan menolak perasa- an itu. Karena baginya, cinta hanya akan melemahkan dan menghilangkan kesaktian.


Surat yang ditulis untuk Fatah terkesan seperti surat yang ditujukan kepada sahabat. Tidak satu pun ada kata- kata mesra maupun rayuan, itu bukan karakter Diva.


Kamu jawab teka-teki ini, ya! Nanti ada hadiahnya, lho!


Hee ….


Ceritanya begini. Seorang pemain sulap melakukan perjalanan keliling daerah pedalaman dengan seekor anjing, kambing, dan sekeranjang kubis. Suatu saat, ia ingin menyeberangi sebuah telaga. Dan satu-satunya alat angkutan hanyalah sebuah perahu kecil yang hanya dapat mengang- kutnya dengan salah satu dari anjing, kambing, atau kubisnya.


Sayang sekali ia tidak berani meninggalkan anjing berduaan dengan kambing, atau kambing dengan kubis, karena anjing akan berkelahi dengan kambing, dan kambing akan memakan kubisnya.


Sesudah berpikir sejenak, ia menyadari bahwa ia dapat memakai perahu itu untuk mengangkut dirinya dan semua miliknya dengan aman menyebarangi telaga.


Bagaimanakah caranya?


*jawaban bisa kamu tulis, di episode surat berikutnya!


Bye!


Yogyakarta, 1 Mei 2002


-Diva-


Sengaja di akhir surat itu, Diva menyelipkan sebuah teka- teki, yang harapannya Fatah bisa menuliskan jawabannya di surat balasan. Artinya, secara tidak langsung supaya Fatah juga tergerak untuk menulis surat buat Diva.


“Bagus, Div, isi suratnya. Nggak norak, tapi terkesan kalian sangat dekat. Terus, kenapa ada soal di dalamnya?” Ata memberikan komentarnya seraya menyerahkan kem- bali surat pada Diva.


“Nggak apa-apa. Andai dia bisa jawab, berarti dia pintar dan layak jadi jodohku, hee. Dan kalau ada soal


begini, artinya berarti dia juga harus membalas suratku, dong!” Diva beralasan.


“Pinter kamu, Div! Oke, deh! Bungkus dan segera kirim!”