Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 19 Rahasia Tia



Bab 19 Rahasia Tia


Tia memang sengaja tidak datang karena dia masih merasa sakit dengan penolakan Pram dulu sekalipun saat ini dia sudah menikah dengan orang lain. Bahkan, bayang- bayang Pram masih sangat lekat di kepalanya.


Sudah hampir setahun Tia menikah dengan Tigin dan sedang menunggu kelahiran buah hati mereka berdua. Tetapi, rasa sakit, benci, merasa pernah dipermalukan oleh Pram masih saja terngiang di ingatannya.


Seperti seharian ini, Tia banyak merenungi kejadian beberapa bulan lalu, datang ke rumah Diva dan menangis sejadinya, meminta Diva membatalkan penerimaannya atas Pram.


Hati Tia terasa hancur tatkala tahu bahwa orang yang hendak meminang Diva ternyata Pram. Pikirannya berkeca- muk, antara benci dan cinta serta hasratnya yang belum terpenuhi atas Pram.


“Dari dulu, sebenarnya Mas Pram memang belum pernah mengatakan suka ke aku apalagi cinta, belum pernah sama sekali. Aku saja mungkin yang terlalu tergila- gila padanya. Tapi, kenapa kita seperti jadian, ya?” pikir Tia. Mungkin memang sudah digariskan bahwa Pram adalah jodoh Diva. Lelaki terbaik yang Allah pilihkan untuk


Diva. Tia sangat mengenal Diva dan dia tahu persis Diva adalah gadis baik, berprinsip kuat, dan terjaga dalam setiap pergaulannya.


Andai Pram adalah Yuan, mungkin kejadian sore itu akan berujung dosa dan bencana. Dulu, di UKM santer terdengar kabar bahwa akhirnya Yuan dan Ema pun menikah secara diam-diam, tidak ada resepsi karena mereka hamil di luar nikah.


“Sungguh mengerikan sekali apa yang sudah pernah aku lakukan. Bisa-bisanya aku berbuat gila seperti itu. Oh, Allah! Ampuni hamba!” sesal Tia.


Saat itu, Tia hanya takut jika Pram memang benar- benar tidak pernah mencintainya, tidak menganggap Tia sebagai kekasih atau orang yang layak menjadi istrinya. Tia takut, jika tidak bisa memiliki Pram seutuhnya.


Saat itu, Tia benar-benar menyukai Pram, benar-benar tergila-gila padanya. Seakan ada bisikan kuat yang selalu mendorongnya, “Apa pun caranya, akan aku lakukan asal dia bisa menjadi milikku selamanya!”


Jika Ema bisa mendapatkan Yuan dengan cara seperti itu, ternyata tidak untuk Tia. Sayangnya, memang Pram bukanlah Yuan. Mungkin ini sebabnya Diva ditakdirkan menjadi istri Pram.


Malam itu Tia menangis, serasa hidupnya kurang bahagia. Mungkin terjadi justru karena dialah yang sebenarnya menzalimi Diva. Tidak ada yang salah dengan pernikahan Diva.


“Aku egois! Aku yang mungkin kata Allah tak layak bahagia. Ketika hampir setahun menikah dengan suamiku, kenapa harus ada kabar bahwa sebenarnya bahkan dulu suamikulah yang pernah punya pengalaman kelam seperti itu. Oh, Allah! Inikah balasan-Mu atas zalimku terhadap Diva, temanku sendiri? Bukan suaminya yang bejat, tapi justru suamiku sendirilah yang seperti itu! Dan sekarang, aku harus bagaimana, ya Allah!”


“Div, tahukah kamu? Ternyata berita yang dulu aku pernah ceritakan ke kamu, ternyata itu benar. Hancur rasanya hidupku, Div! Sakit, sakit sekali rasanya.”


Tia menghirup napas panjang guna melonggarkan dadanya yang seperti terimpit sesuatu. Sesak, sakit. Itu yang dia rasakan.


“Bodohnya aku yang dulu mau saja percaya pada Mas Tigin! Ternyata dia pembohong besar, Diva. Bahkan saranmu dulu agar aku mempertimbangkan lagi atas pilihanku untuk menerima Mas Tigin pun aku abaikan. Aku nggak percaya kamu, tapi sekarang … ternyata benar apa yang dulu kamu katakan, Div.” Tia merintih di sela tangisnya, di atas hamparan sajadah hijau.


“Andai dulu aku menuruti perkataanmu.” Penyesalan- nya kian mendalam.


“Div, rasa sakit ini, aku harus buang ke mana? Selama ini, aku bahkan tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Hanya sama kamu, Div! Hanya kamu yang tahu persis bagaimana hitam dan buruknya hidupku. Aku harus cerita ke siapa lagi, Diva? Selama ini, kamulah temanku, kamulah tempat sampahku. Tempatku membuang segala kepahitan hidup. Akulah yang butuh kamu, Div. Kamu nggak pernah butuh aku. Akulah yang seharusnya butuh restu dan doa kamu, Diva!” Tangisnya semakin pecah di tengah heningnya malam yang sebentar lagi berubah pagi.


“Aku nggak punya nyali buat ngomong ke kamu, tapi aku mohon maafkanlah aku. Maafkan.”


Mukena Tia pun basah, air matanya semakin deras, jatuh persis di perutnya yang mulai membesar. Kehamilan Tia memasuki usia sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan.


Di sepertiga malam itu, akhirnya Tia putuskan untuk menelepon Diva. Memohon sedikit restu dan doa agar dia kuat menerima kenyataan ini semua. Dan Tia pun bisa hidup sedikit bahagia.