
Bab 6 Ditolak
Kian hari perasaan Tia semakin bertambah ke Pram. Perasaan hanyut dalam setiap lembut tutur sapa dan kesopanan yang dimiliki Pram. Ya, Pram tipikal laki-laki baik dan halus perangainya. Dia sangat pandai menjaga sikap serta peka terhadap siapa pun. Untuk urusan kepintaran, tentunya tak perlu diragukan lagi. Dia mahasiswa Teknik Fisika, yang tak semua orang bisa dengan mudah masuk ke situ. Mungkin ini yang menyebabkan Tia semakin tergila- gila.
Dan perasaan itu semakin diperparah ketika ibu Tia berkunjung ke Yogyakarta. Dia secara terang-terangan menitipkan Tia ke Pram untuk didampingi, ditemani, dan dibantu seluruh kebutuhannya selama kuliah di Yogyakarta. Intinya menitipkan anaknya ke Pram, sebagaimana layaknya sepasang kekasih yang telah mendapat restu dari orang tuanya. Tak ayal, perasaan Tia semakin membubung tinggi.
Tentunya di sini ada andil dan peran dari Diva. Ya, waktu itu Diva-lah yang memanggilkan Pram supaya menemui ibu Tia, sesuai misi yang harus Diva emban.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan … Tia pun semakin menunjukkan perasaannya ke Pram. Hingga suatu waktu, Tia memberanikan diri mendatangi kosan Pram yang
notabene sudah berpindah. Ya, mereka sudah tidak satu kosan lagi. Bahkan Pram sebenarnya sengaja pindah kos demi menghindari Tia yang tambah hari tambah berlebihan, meski dia pun masih beritikad baik memenuhi permintaan ibu Tia. Dia akan selalu membantu Tia selagi dia bisa.
Dengan perasaan berbinar-binar, pagi menjelang siang itu Tia mendatangi kosan milik Pram yang kebetulan memang tidak sedang ada jadwal kuliah. Sendirian. Sendirian membawa perasaan rindu yang teramat dalam hanya karena hampir seminggu tak melihat wajah Pram.
Bahkan sampai menjelang sore, Tia pun tak kunjung pulang. Suasana kosan Pram yang sekarang sedikit berbeda dengan kosan yang dulu. Kosan ini sedikit lebih sepi, apalagi di saat siang-siang atau sore begini. Hampir semua penghuni kos sedang ada jadwal kuliah, tak ayal di area kos itu memang hanya ada mereka berdua.
“Tia, cukup, Ya!” tolak Pram meskipun masih dengan nada halus.
Pram harus bisa menempatkan diri dalam posisi ini. Meski dia laki-laki normal tetapi dia sangat tahu batas norma dan agama yang harus dia patuhi.
“Sudah, Ya! Kita bukan suami-istri, bahkan kamu harus tahu, kita bukanlah sepasang kekasih.”
Sejenak terdiam, Pram mencoba menata perasaan, hati, dan intonasi bicaranya.
“Aku yakin, kamu akan mendapatkan laki-laki yang terbaik dalam hidup kamu. Tapi yang pasti, itu bukan aku,” ucap Pram pelan dan tertata meski dia tahu ini akan menyakitkan bagi Tia.
“Terus … selama ini aku ini apa, Mas?” tanya Tia dengan nada bicara tak keruan.
“Ya, kita jalan-jalan saja, yuk, ke Malioboro! Kamu mau, kan, menemani?” tolak Pram halus.
Pram memang sangat tahu dengan kondisi. Sebelum tangis Tia membuncah di kamarnya, dia sengaja mengajak Tia keluar, meski dia sedang sibuk dengan skripsinya. Sekadar jalan-jalan ke Malioboro. Dan Tia yang memang teramat sangat menyukai Pram, tak punya nyali untuk menolaknya. Meski dengan perasaan yang sudah tak keruan, akhirnya Tia menuruti saja ajakan Pram.
Malam harinya, Divalah yang harus bersedia menjadi “tempat sampah”, mendengarkan segala keluh kesah Tia. Tentang perasaannya, tentang sakit hatinya, dan tentang semuanya. Tentang ketegasan Pram barusan akan hubungan mereka yang sebenarnya. Dan tentunya tentang luapan air mata Tia.
Meski sebenarnya Diva pun mengetahui seperti halnya dulu dengan Nandi. Perjalanan rasa suka Tia pun sebenarnya tidak terlalu mendapat sambutan yang sama, tapi tak mungkin jika Diva mengatakan akan hal ini ke Tia.