Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 8 Apes



Bab 8 Apes


“Div, kamu pacaran, ya, sama Yuan?” tanya Ema pada Diva saat hanya ada mereka berdua di UKM.


“Enggak!” jawab Diva.


“Beneran? Padahal terima saja Yuan. Dia suka sama kamu. Apa kurangnya coba?”


“Enggak, ah! Aku masih kecil, belum pengin pacaran,” jawab Diva sekenanya.


“Andai ada yang suka sama Yuan, kamu … nggak apa- apa?” Ema bertanya kembali setelah lima menit lamanya terjadi keheningan.


“Nggak apa-apa. Itu hak Mas Yuan,” jawab Diva terdengar mantap.


“Beneran?  Kamu  nggak  akan  cemburu,  Div?”  tanya Ema yang menurut Diva sedikit aneh.


“Ya, aku nggak punya hak untuk cemburulah! Itu, kan, hak dia!” jawab Diva sambil menyunggingkan senyum tipis ke Ema.


Percakapan beberapa hari kemarin itu masih terus terngiang-ngiang di kepala Diva.


“Rupanya ini, toh, yang Ema maksud dari, ‘Jika ada gadis lain yang suka sama Mas Yuan,” pikir Diva.


***


Beberapa hari telah berlalu. Siang itu, setibanya di kampus, Diva langsung ke ruang akademik untuk melihat IPK-nya di komputer yang telah disediakan di sana.


Layar komputer telah menyala, pun tangan kanan Diva sudah memegang mouse dan digerak-gerakkan untuk mengeklik beberapa menu pilihan.


Tak lama, NIM-nya sudah dia masukkan, lalu tombol enter telah dia tekan. Beberapa saat kemudian halaman yang dia tunggu akhirnya terbuka.


“Hah!” Bibirnya melongo, tak percaya. Mata Diva terbelalak melihat angka yang tertera di layar. Seperti mimpi buruk di siang bolong. Diva sampai sengaja mencubit pipinya sendiri dan terasa sakit.


“Nggak salah?” Dia melihat kembali nama yang tertulis di layar, lalu bergeser ke nilai yang membuat jantungnya berdetak kencang. “Kok, bisa nilaiku kecil gini? Ya Allah, gimana ini?”


Diva menarik napas panjang, meratapi nasib IPK-nya yang benar-benar anjlok. IPK sebelumnya 3,77  lalu turun menjadi 3,53. Dan sekarang, IP Diva semester ini yang baru saja dia lihat, di angka 2,67. Luar biasa sekali jeleknya!


Selama ini, meski banyak kegiatan yang Diva ikuti, tetapi IP-nya selalu tinggi. Dia selalu dapat nilai bagus di setiap semesternya. Tahun ini saja Diva menjadi mahasiswa teladan di Fakultas MIPA.


Meskipun sibuk, jika mau menghadapi ujian, Diva selalu menyempatkan untuk nongkrong di perpustakaan. Entah itu sebelum berangkat rapat maupun latihan karate.


Diva menggerutu sewaktu berbalik dan menjauh dari komputer yang kini sudah mati, masih belum percaya dengan angka yang dia lihat tadi.


“Ah, sudahlah! Toh, cuma nilai,” ujarnya, berusaha menenangkan diri meski tak ada hasilnya.


Diva berniat menuju Gelanggang Mahasiswa saja. Sudah hampir pukul setengah empat sore. Tidak lama lagi latihan akan segera dimulai.


Segera dia silangkan baju dogi bagian atasan, kemudian dibalut dengan ikatan sabuk warna cokelat. Sekarang, Diva sudah menyandang KYU-3. Sandal daimatu merahnya segera dia lepas, lalu berlari menyusul karateka lain yang lebih dulu menuju aula Gelanggang Mahasiswa.


Latihan sore ini dipimpin oleh Sempay Giyo, penyan- dang sabuk hitam baru, DAN11-1. Dan Seperti biasa, salah satu dari karateka sabuk cokelat memimpin kohey-nya menyiapkan anggota dan mengucapkan sumpah karate, kemudian melakukan pemanasan sebelum latihan.Setelah pembacaan sumpah karate, semua karateka berlari mengelilingi aula tiga kali. Lanjut pemanasan, mulai dari gerakan kepala, leher, pundak, terus ke bawah sampai pada gerakan kaki. Kemudian sit-up 25 kali, push-up 25 kali, v-up 25 kali, dan pull-up juga 25 kali. Di mana di setiap akhir gerakan  tersebut  dibarengi  dengan  kiay12.  Diva  sangat menyukainya, serasa melepas semua emosi dan kepenat- an.


Sore ini akan latihan gerakan tendangan serta melatih kelenturan otot kaki. Seperangkat peralatan latihan pun


11Tingkatan dalam sabuk hitam


12Bentakan keras sembari mengeluarkan napas dari mulut



sudah tersedia lengkap seperti: matras, samsak, sarung tangan, dan masih banyak lagi.


Seperti biasa sabuk tingkat atas selalu menjadi contoh bagi para kohey untuk mempraktikkan gerakannya.


“Div, contohkan gerakan yang tadi saya lakukan. Dari ujung sini sampai ujung sana!” ucap Sempay Giyo sembari menunjukkan arah pergerakan yang harus Diva tempuh.


Diva  pun  segera  maju  dengan  sedikit  berlari  guna melaksanakan  perintah.  Lalu  dia  bersiap-siap  melakukan gerakan.  Kedua  kaki  awalnya  Diva  impitkan,  kemudian sembari  berlari  menyamping,  Diva  merentangkan  kedua kakinya.  Gerakan  tersebut  dia  lakukan  berulang-ulang sampai ujung ruangan aula hingga akhirnya Diva terjatuh, kakinya  terselip.  Spontan  Diva  tertawa  kecil,  menahan malu  karena banyak  dilihat  karateka lain. Ada sekitar  35 karateka yang ikut latihan sore ini.


Diva menunduk sembari menahan tawa. Khawatir dimarahi pelatih. Akan tetapi, saat hendak berdiri kembali ternyata tidak bisa. Diva tidak bisa melanjutkan gerakan tadi karena baru berdiri saja, Diva merasa seperti mau jatuh lagi. Mendadak urat-urat di kakinya terasa ngilu.


“Aduh!” pekiknya. “Kayaknya keseleo.” Diva meng- elus kakinya yang tadi terselip sambil sesekali meringis.


Dibantu Giyo, Diva berjalan menuju pinggiran aula. Dia istirahat di sana karena tidak mungkin melanjutkan latihannya lagi. Hanya bisa menonton teman-teman yang lain latihan sampai selesai.


“Div, bisa jalan nggak?” tanya Giyo.


“Sakit, Gi!” jawabnya seraya meringis menahan sakit.


Jika di luar latihan, Diva memang biasa memanggil Giyo saja karena mereka seumuran.


“Sini,  aku  bantu  jalan.  Atau  …  mau  aku  gendong?” ledeknya sembari mengangkat tangan kiri Diva dan menyampirkan ke pundak kanannya guna memapah.


“Yuan! Yuan! Gendong Diva, gih, nggak bisa jalan!” teriak salah seorang anggota karate, bermaksud bercanda karena dia tertawa kecil saat menoleh pada Yuan.


Mendengar candaan seperti itu, Diva mendadak tak nyaman karena Ema pun hadir di sana. Dia tak berani menoleh, hanya menunduk, menatap kakinya yang terasa berdenyut tanpa menyahut


Mungkin mereka belum tahu cerita yang sebenarnya,


batin Diva.


Perjalanan menuju UKM mendadak terasa jauh, padahal hanya beberapa meter saja. Hingga akhirnya sampai dan Diva langsung duduk di kursi panjang, di dekat pintu.


“Sakit, Div?” tanya Giyo sembari meraba dan memijit pergelangan kaki kiri Diva.


Diva hanya menjawab dengan isyarat kepala.


“Omong-omong,  aku  orang  keberapa  yang  pernah mijit   kakimu?”   Giyo   sengaja   meledek   Diva,   membuat perempuan itu mendelik.


“Enak aja! Nggak pernahlah!” sahut Diva kesal. “Haduh! Harus dibawa ke tukang urut, Div!” saran


Giyo setelah menjauhkan tangannya dari pergelangan kaki kiri Diva.


Diva cuma diam dan menuruti saja perkataan Giyo. “Yuan, minjem motormu buat nganter Diva ke tukang


urut,” pinta Giyo kepada Yuan.


Yuan setuju. Dia melempar kunci motor lalu Giyo dengan sigap menangkapnya.


Ema nanti gimana pulangnya? Pasti dia sudah berharap dianter lagi oleh Mas Yuan, seperti biasa. Ah, terserahlah! Lagian, bukan aku yang minjam. Pikiran Diva tidak keruan.


Sekitar dua puluh menit, sampailah mereka berdua di tukang urut yang dimaksud Giyo.


“Bisa  berdiri,  Div?”  Diva  mengangguk.  “Kalau  mau urut di sini harus antre! Banyak pasiennya. Tapi, pas dipijatnya nggak lama, kok,” jelas Giyo saat melihat antrean yang panjang. Kebanyakan dari mereka laki-laki dan memakai kaus pemain sepak bola. Mungkin mereka cedera ketika bermain atau saat bertanding di lapangan hijau.


Perkataan Giyo benar. Setelah antrean di depannya keluar dari ruangan praktik, giliran Diva yang masuk.


Kaki kiri Diva diraba, kemudian ditanya pria paruh baya yang kerap dipanggil Abah, “Sakit, Mbak? Di sini?”


Diva baru saja mengangguk, tetapi si Abah di depannya ini memutar sedikit pergelangan kakinya sampai terdengar bunyi pergesekan antartulang. Suara jeritnya sengaja dia tahan dengan menggigit bibir bawah. Air mata menggenang, ngilu luar biasa. Namun, si Abah malah terkekeh kecil.


“Sudah selesai, Mbak. Tinggal tunggu pemulihan. Untuk jalan, pasti masih sakit. Makanya jangan terlalu banyak jalan dulu, nanti bisa bengkak. Andai bengkak, diolesin krim pereda nyeri saja.”


Sebelum keluar dan mengizinkan pasien lain masuk, Diva sempat memasukkan beberapa lembar uang seikhlas- nya ke dalam kaleng tepat di samping pintu kayu berwarna cokelat. Lalu, bersiap-siap pulang kembali ke kosan untuk beristirahat sesuai yang disarankan.


“Div, pegangan pinggangku, dong! Biar kayak sebelah, tuh! Kan, asyik!” pinta Giyo yang terdengar seperti ledekan di telinga Diva.


Kebetulan mereka berhenti di perempatan lampu merah, tepat di sebelah sepasang muda-mudi yang terlihat mesra. Si perempuan duduk di boncengan, sengaja mera- patkan diri ke cowoknya. Tak lupa, kedua tangan melingkar erat di pinggang cowok itu.


“Nggak!” jawab Diva singkat sambil geleng-geleng kepala melihat dua orang yang kini jadi objek penglihatan dirinya juga Giyo.


“Kenapa?” tanya Giyo, tak lupa dia cekikian.


“Bisa jatuh harga diriku sebagai seorang wanita!” jawab Diva serius.


“Betul, Div, aku setuju!” kata Giyo mantap.


“Tapi, kalau Ema, nggak, lho, Div! Dia kalau pas nebeng sama aku, kayak gitu tangannya. Padahal dia bukan pacarku. Aku laki-laki, cuek aja. Terserah dia juga,” jelasnya.


Diva hanya terdiam, tanpa komentar. Tetapi, refleks menarik napas panjang kemudian diembuskannya perla- han.


Tidak lama, mereka sudah sampai di kosan Diva. Dia masih dibantu Giyo untuk berjalan sampai depan pintu kamar.


“Makasih banget, lho, Gi, dah nganter aku.”


“Sip! Ntar kalau butuh bantuan, cari aku di UKM saja, ya,” ujar Giyo sebelum pergi dari hadapan Diva.


Seberlalunya Giyo, Diva masih berdiri sambil mengha- dap pintu. Tak urung juga masuk, dia malah berujar dengan nada kesal. “Mampus! Sekarang aku jadi penghuni setia kosan!”


***


Empat hari telah berlalu sejak kaki Diva cedera dan selama itu pula dia hanya bisa diam di kosan, tak bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. Bosan? Jangan tanyakan lagi. Yang sering Diva lakukan hanyalah menatap kakinya sendiri sambil menggerutu kapan sembuh.


“Apa?”  Tia  bertanya  saat  dirinya  melihat  mata  Diva yang memelas.


“Bisa minta tolong nggak, Ya?” Diva sengaja menyatu- kan seluruh jari-jari tangannya, lalu disimpan di depan dagu. Kedua matanya pun mengerjap beberapa kali sambil bibirnya mengukir senyum lebar, berharap Tia menyang- gupi permintaannya.


“Minta tolong apa?”


“Kamu ke UKM, panggilin Fredi atau Giyo juga nggak apa-apa, buat nganterin aku ke tukang urut lagi,” jelas Diva. “Di UKM sedang ada rapat kegiatan PAB13 sore ini. Pasti Fredi atau Giyo ada di sana.”“Ya udah, aku ke sana dulu.”


Diva mengangguk. Dia ditinggalkan sendiri di kamar, ditemani suara kucing yang terus mengeong minta diberi jatah makanan. Padahal, baru beberapa menit lalu Diva memberikan tulang belulang daging ayam, tetapi kucing itu sudah kembali lagi. Malahan, membawa pasukan lain, sekitar dua kucing yang membuntutinya.


Saat asyik meregangkan kedua tangan sambil duduk di tepian kasur, pintu kamar terbuka, lalu Tia masuk.


“Udah, Div. Nanti setelah rapat, Fredi baru ke sini buat nganter kamu ke tukang urut,” papar Tia.


“Makasih, ya, Ya!”


Waktu berjalan dengan cepat. Saat Diva melihat jam dinding, jarum pendeknya menunjuk di angka 5. Biasanya, jika tidak ada yang penting, rapat panitia sudah membu- barkan   diri   sejak   lima   belas   menit   lalu.   Dan   selama seperempat  jam  itu  pula,  Diva  duduk  rapi  di  ruangan tengah kosan, menanti kedatangan Fredi. Hingga akhirnya terdengar suara seseorang di luar sana.


“As-salamu’alaikum.  Mbak,  ada  Diva?”  Begitu  yang Diva dengar dari ruangan tengah kosan.


Diva menajamkan pendengarannya. Ada yang mem- buat dirinya heran sekarang. Suara yang baru saja dia


 13 Penerimaan anggota baru


dengar, tak seperti suara Fredi ataupun Giyo, melainkan ... Yuan.


Mendadak jantung Diva berbebar-debar. “Kenapa malah  Mas Yuan  yang  datang?”  tanya  Diva  pada dirinya sendiri.


“Ada, Mas, masuk saja. Diva sudah siap, kok,” jawab seseorang yang Yuan tanyai, seakan sudah paham dengan tujuan kedatangan pemuda itu.


“Kita berangkat sekarang saja, Mas.” Itu suara Diva, menghentikan niat Yuan yang tadinya berniat masuk. Tetapi, Diva lebih dulu keluar dan menemuinya.


Dibantu Yuan, Diva berjalan sampai parkiran di mana motor Yuan terparkir dan tepat di depan kamar Pram dulu.


Mereka segera menuju tempat Abah. Ternyata, Yuan pun hafal tempat itu.


Sore ini, tidak terlalu antre seperti kemarin. Oleh karenanya, Diva bisa langsung masuk ke ruangan.


“Udah, Mbak!” ujar si Abah usai memijat kaki kiri Diva. “Sebenarnya nggak perlu dibawa ke sini lagi. Tunggu saja, nanti juga sembuh. Cuma butuh waktu agak lama.” Ternyata Abah masih hafal dengan wajah Diva. Mungkin karena jarang ada pasien perempuan, kebanyakan pasien- nya laki-laki.


“Yuk, Mas, udah!” ajak Diva.


“Kok, cepet banget?” Yuan keheranan.


Lelaki itu bangkit dari duduk yang baru beberapa menit itu, kemudian membantu Diva berjalan sampai mereka berdua sudah sama-sama duduk di motor. Selama perjalanan pulang, meski mereka berboncengan, tetapi tak banyak cakap. Mungkin mereka masih sama-sama merasa canggung.


Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai kembali di kosan Diva. Seperti halnya tadi, Yuan dengan pelan dan hati-hati membantu Diva masuk ke ruangan. Tidak lupa, Diva pun mengucapkan terima kasih sebelum Yuan kemba- li ke UKM dan melanjutkan aktivitasnya.