
Bab 10 Gonjang-ganjing Kepengurusan
Masalah antara Diva, Ema, dan Yuan ternyata banyak menyedot simpati para anggota karate. Bahkan sampai ke Dewan Pelatih, MSH,15 dan senior Dewan Penasihat Pengurus yang anggotanya merupakan para mantan ketua UKM Karate terdahulu.Mereka berpendapat bahwa jika kejadian ini tidak segera diatasi, bisa berakibat buruk pada keberlangsungan kepengurusan UKM.
“Yuan semakin jarang terlihat di UKM. Ema banyak bengongnya. Sementara Diva, dia lebih kasihan lagi, kakinya pincang dan nggak bisa ke mana-mana,” ucap Yar, mantan Ketua UKM Karate, dua periode di atas Yuan.
“Sementara sentral kepemimpinan bahkan ada di Yuan dan Diva,” pikirnya, merasa kesal dengan situasi seperti ini.
“Kasihan aku sama Diva. Dia gadis baik. Yuan juga. Dia kan selama ini suka sama Diva, kenapa harus jadian sama Ema? Padahal mungkin, Diva sebenarnya juga suka sama
15Majelis sabuk hitam
Yuan,” timpal Dodo yang juga mantan Ketua Karate, satu periode setelah Yar.
“Iya, bisa kacau kalau mereka dibiarkan,” sahut Yar.
Akhirnya para senior menyarankan supaya seluruh pengurus mengadakan rapat kerja atau raker, tetapi tidak di UKM, melainkan di luar supaya ada udara segar dan bisa membawa semangat baru.
Esok harinya, semua pengurus sudah bersiap-siap dengan segala perbekalan yang akan dibawa ke lokasi raker. Raker akan bertempat di Kaliadem, Lereng Gunung Merapi dengan menyewa gedung serta aula yang ada di sana. Para pengurus tinggal tahu beres, sementara untuk lobi dan penyewaan tempat tersebut, seniorlah yang mem- booking-nya.
Sore itu, Adi yang menjemput Diva di kos. Karena sebelumnya dia pernah bilang, “Aku mau ikut kalau di antara kalian ada yang menjemputku. Kalau tidak, maaf, kakiku masih sakit buat jalan dari kosan sampai ke UKM. Dan lagi, aku malulah, jalanku masih pincang!”
“Sudah siap, Div?” tanya Adi.
“Sudah. Aku hanya bawa satu tas ransel ini saja. Ayo, kita berangkat!”
Dan mereka berdua segera menaiki motor, berbon- cengan. Dan Diva tahu, motor yang mereka kendarai adalah motor Yuan. Karena memang beberapa teman laki- laki justru terkesan melindungi Diva dari kejaran Yuan. Jika pun ada yang menjemputnya, sekalipun menggunakan motor Yuan, tetapi yang menjemputnya pasti orang lain, bukan Yuan.
Entah menjaga perasaan Ema, atau mungkin justru untuk menjaga perasaan Diva, atau karena alasan lain. Seolah-olah jangan sampai Diva dan Yuan terlihat bersama lagi.
Diva tidak terlalu ambil pusing untuk hal ini. Baginya, semua urusan itu sudah selesai. Yuan sudah memilih dan menjadi pacar Ema. Andai mereka putus pun, Diva sudah terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menerima Yuan.
Bagi Diva, Ema tidak bersalah dalam hal ini. Dan tentang Yuan, itu adalah hak dia, mau memilih siapa yang menjadi pacarnya, atau bahkan memilih siapa yang akan menjadi istrinya. Diva masih sama, selalu menikmati masa- masa sendiri dan tak punya pacar. Bebas berekspresi.
Kalau kata orang tua, jangan memberikan saputangan sebagai tanda kenang-kenangan, biasanya mereka akan berpisah. Dikarenakan sampai sekarang saputangan yang pernah Diva berikan belum juga dikembalikan oleh Yuan.
Sebenarnya setelah kejadian itu, saat Diva jatuh dan cedera ketika latihan, Diva pun pernah berkesempatan berbicara serius kepada Yuan.
“Mas, aku mau menegaskan. Dengan adanya kejadian ini, aku sama sekali tidak merasa sakit hati! Apalagi merasa dikhianati, tidak, dan tidak sama sekali! Dan aku masih sekretaris njenengan. Insyaallah aku akan tetap melakukan tugasku secara profesional. Mungkin akan ada hubungan yang kurang baik antara aku, njenengan, dan Ema. Tapi sekali lagi, aku akan melaksanakan tugasku sebaik-baiknya! Njenengan kalau mau nyuruh aku bikin surat, suruh saja, tidak perlu gimana-gimana! Dan aku akan melaksanakannya,” ucap Diva tegas dan tertata.
Malam harinya, semua pengurus INKAI Karate Tahun 2000 telah tiba di lokasi. Mereka segera berbenah peralat- an dan barang bawaan kemudian bersiap-siap melakukan rapat kerja malam itu juga.
Seperti biasa, setiap bidang memberikan laporan dan membahas agenda kerja ke depannya. Hingga pukul sebelas malam, rapat dibubarkan lalu semua orang kembali ke tempat istirahat masing-masing.
Diva tak begitu memedulikannya. Dia pun melanjutkan usahanya untuk bisa tertidur meski udara memang terasa sangat dingin.
***
Sebenarnya para senior sendiri masih belum yakin, efektif atau tidaknya diadakan raker ini. Akan tetapi, mungkin yang diinginkan para senior adalah supaya semua pengu- rus kembali dekat dan akrab. Seperti halnya kegiatan pagi ini, yang lain sedang jalan-jalan, olahraga, sedangkan Diva
memilih membuat nasi goreng dengan memanfaatkan nasi sisa semalam.
“Satrio, Adi! Sana, beliin lagi Royco-nya. Segini masih kurang. Sama telor juga, ya,” pinta Diva.
Satrio dan Adi bertindak sebagai kurir untuk membeli apa-apa yang kurang dan dibutuhkan. Sementara Tias dan Rere, mengupas bawang merah, bawang putih, serta cabai. Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan ini.
Tentang Ema, Diva tidak pernah merasa menghindari- nya karena memang sebelum terjalin hubungan antara Ema dan Yuan pun, keduanya tak begitu dekat. Dan bagi Diva, tak ada alasan jika dia harus mendekati Ema. Diva tak merasa bersalah pada Ema, begitu pun Ema. Jadi, biarkan saja semua mengalir apa adanya. Satu yang pasti, Diva tidak merasa sakit hati karenanya.
Menjelang sore, semua orang sudah berkemas kem- bali dan siap untuk kembali pulang ke Yogyakarta.
“Teman-teman, ternyata busnya nggak bisa sampai ke sini. Lagi ada hajatan di sebelah sana. Jadi, kita jalan kaki dulu,” kata Yuan selaku ketua.
“Kaki kamu kuat kan, kalau diajak jalan?” tanya Yuan pada Diva sewaktu melewatinya.
“Bisa, Mas,” jawab Diva seraya menunduk, menatap kakinya.
Yuan mengangguk. Dia lebih dulu pergi lalu diikuti yang lain.
Lumayan jauh jarak yang harus ditempuh, hampir satu kilometer. Diva meminta Dewi, sekretaris II untuk mene- maninya. Setidaknya, meskipun jalannya pincang, Diva tidak malu karena ada teman yang malah ikut jalan pincang seperti dirinya.
Posisi jalan menurun juga agak licin karena semalam sempat gerimis. Jadi Diva harus ekstra hati-hati dengan kakinya, khawatir terkilir lagi.
“Div, kasihan banget aku ngelihat kamu! Orang yang barusan lewat boncengan itu, pasti berbisik-bisik ke temannya, ‘Kasihan, cantik-cantik jalannya pincang!’ Sini, aku gendong!” seru Satrio sambil cengengesan.
Satrio dan Adi yang beriringan jalan di depan Diva dan Dewi sengaja memperlambat langkahnya sambil sesekali menoleh saat berbicara.
“Makanya, Yo, karena aku kasihan sama Diva, jadinya aku ikutan pincang jalannya,” sahut Dewi sambil menunjuk kaki kirinya, lalu tertawa kecil.
“Betul itu! Ayo, Di, kita juga harus berempati sama Diva! Biar dia nggak malu jalan pincang” timpal Adi.
Jadilah mereka berempat, Diva, Dewi, Adi, dan Satrio, berjalan beriringan dengan gaya jalan yang sama, pincang. Meski terlihat konyol, tetapi Diva merasa sangat terhibur. Setidaknya, masih ada orang yang peduli padanya.
“Terima kasih, terima kasih atas keprihatinan kalian atas diriku,” ucap Diva merasa terharu sampai matanya berkaca-kaca.