Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 7 Kejujuran Yuan



Bab 7 Kejujuran Yuan


“Div,  kamu  jangan  pulang  dulu,  ya!  Aku  mau ngomong sesuatu nanti,” pinta Yuan sembari keluar dari ruangan UKM.


Diva tahu, perginya Yuan pasti mau mengantar Ema sepulang latihan karate sore ini. Kebetulan Diva sekretaris I, sementara Ema adalah bendahara II di UKM Karate ini. Dan ada Dian sebagai bendahara I-nya. Ema memiliki perawakan yang mirip dengan Diva, hanya sedikit lebih pendek. Karena mereka bertiga memiliki perawakan dan postur tubuh yang hampir sama, banyak sempay yang mengatakan kalau Diva, Ema, dan Dian cocok untuk kata beregu8.Akhir-akhir ini, memang tingkah Ema agak membi- ngungkan. Dia punya motor, tetapi sering sekali berangkat kuliah atau latihan justru tidak mengendarainya. Dan mau tidak mau, dia pasti minta diantar oleh salah satu dari cowok-cowok di UKM. Salah satunya, ya, ketua itu, Yuan. Beberapa kali diperhatikan, memang kejadian-nya hampir selalu seperti itu.


Sebuah tim yang bertanding dengan membawakan gerakan kata dalam event pertandingan karate


Diva tidak bisa menolak permintaan Yuan. Ya, mau bagaimana lagi, sandal jepit milik Diva dipakai Yuan. Pandai juga strateginya. Alhasil, Diva harus menunggu sampai lelaki itu kembali pulang dari mengantar Ema.


Setelah salat Magrib, Diva melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 18.50 WIB.


Lama juga, belum pulang-pulang, batin Diva menggeru- tu. Padahal jika ditempuh normal, paling hanya butuh sekitar 40 menit untuk pulang-pergi mengantar Ema ke rumahnya. Harusnya, sudah balik lagi.


“Jika aku paksakan pakai sandal Mas Yuan ... ah, nggak, sandal cowok bentuknya beda! Nanti malah heboh di kosan. Baiklah, aku tunggu saja. Barangkali memang penting yang mau Mas Yuan bicarakan sama aku.”


Akhirnya sembari menunggu, Diva banyak mengobrol dengan yang lain. Bau asam dari keringat sengaja Diva biarkan. Maklum, dari latihan tadi sore, Diva memang belum mandi.


Jam  tangan  Diva  sudah  menunjukkan  pukul  20.00 WIB,  tetapi  sosok  Yuan  masih  belum  terlihat  batang hidungnya.


“Kok, belum datang juga, ya?” Diva mulai gelisah.


Hampir saja Diva memutuskan untuk pulang saja dengan memakai sandal Yuan saat ada seorang laki-laki berperawakan sintal, tidak terlalu tinggi, tetapi kekar sebagai karateka penyandang sabuk hitam, memarkir motor belalang tempur miliknya.


Orang-orang di karate sering menjuluki motornya dengan sebutan demikian karena memang desainnya yang sudah tidak orisinil. Diubah mirip-mirip motor milik Satria Baja Hitam, film super hero asal Jepang.


“Nunggu siapa, Mbak?” ledek Yuan. “Hee, sorry, Div.


Nunggu lama, ya?”


Diva mendelik sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, tak menimpali. Dibuat menunggu berjam-jam seperti itu siapa yang tidak kesal, bukan?


Yuan nyengir lebar. Tanpa bersalah, dia berujar lagi, “Bentar, ya, aku salat dulu. Tungguin, aku mau ngomong!”


Sepenting itukah topik yang Yuan hendak bicarakan sampai Diva lagi-lagi diingatkan untuk menunggu?


Diva mendengkus keras. Dia sempat menoleh, melihat Yuan yang berlari-lari kecil menjauh darinya. Lalu, bangku di dekat motor Yuan parkir menjadi tujuan kakinya melangkah. Duduk seorang diri ditemani semilir angin malam, membuat Diva merasa nyaman. Terlebih, saat menengadah, langit tampak bersih dari awan. Ada bulan sabit menjadi penghias dan beberapa bintang di sekitar- nya.


Sekitar lima belas menit Diva menunggu Yuan sampai keluar dari ruang UKM Karate. Tidak banyak orang yang masih berada di UKM, hanya beberapa dari pengurus yang masih terlihat sibuk beres-beres.


“Ayo, Div!” ajak Yuan saat menghidupkan mesin Belalang Tempurnya.


“Lho, nggak di sini aja ngomongnya?” tanya Diva sembari menepuk kursi yang dia duduki dan masih kosong. Cukup untuk satu orang lagi.


“Nggak, ah! Nggak khusuk,” kelakarnya. “Ayo, cepetan!”


Akhirnya Diva menurut dan duduk di boncengan Yuan. “Div, kira-kira di mana, ya, tempat yang nyaman buat


kita ngobrol?” tanya Yuan, membuka sedikit kebisuan. Laju motornya sengaja diperlambat agar suaranya bisa dide- ngar Diva.


“Nggak tahu! Aku anak kos yang baik. Tahunya, ya, cuma kos UKM kampus. Udah,” jawab Diva.


Sedari tadi mereka berdua berkeliling di sekitar kampus. Lalu, berhenti tepat di bunderan kampus, di tepi jalan. Tempatnya ramai, pemandangan lalu lintas malam hari yang lumayan padat.


“Di sini kayaknya cocok, Div,” ujar Yuan usai menurun- kan standar motor.


Yuan lebih dulu duduk sila di trotoar, disusul Diva yang membuat jarak di antara mereka sekitar satu lengan.


“Silau, Mas!” protes Diva sambil menyipitkan mata karena sorot lampu kendaraan yang berlalu-lalang di depan mereka.


“Ya udah, kita pindah!”


Mereka segera naik motor kembali dan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Motor tetap melaju dengan kecepatan sedang menuju selatan Kota Yogya- karta. Melintasi sepanjang jalan arah ke Parang Tritis, Perempatan Ring Road Selatan. Tak lama, mereka juga sudah melewati Kampus Institut Seni Indonesia.


Akhirnya di pinggiran jalan arah ke Patuk, Gunung Kidul, mereka pun berhenti. Tempat ini agak tinggi jika dibandingkan tempat lain, biasa digunakan untuk nongkrong oleh anak-anak muda sekitar. Meski tidak ada tempat duduk khusus, tetapi mereka bisa duduk di bongkahan batu dan bangunan kecil, seperti tempat duduk.


Tempat ini sangat asyik. Pada pukul sembilan malam seperti ini, lampu-lampu di bawah sana terlihat seperti permadani emas bertebaran. Ditambah semilirnya angin malam yang semakin menambah suasana romantis.


“Ah, tempat ini masih ramai kendaraan, Div. Kita pindah saja!” ajak Yuan yang membuat Diva keheranan. Bagaimana tidak? Untuk sampai ke tempat ini, lumayan lama, lho, perjalanan yang harus ditempuh. Eh, begitu sampai, duduk saja belum ada lima menit, sudah hendak pindah lagi.


“Ke mana lagi, Mas? Ini udah malam, lho.” Diva mengeluh, dia tak kunjung bangun dan memelas saat Yuan berbalik baru dua langkah darinya.


“Ke tempat yang nggak terlalu ramai dan nggak terlalu sepi. Di sekitaran kampus kali. Kita balik lagi,” sahut Yuan sambil memberikan isyarat dengan tangan, bertanda mengajak pergi.


Mau tak mau Diva bangkit. Kalau boleh jujur, dia kelelahan. Dia sudah rindu kasur yang empuk di kosan.


Awas kalau dia macam-macam. Meski dia sabuk hitam, aku sabuk cokelat, aku sangat berani melawan dia, dan nggak boleh kalah oleh keadaan apa pun. Aku harus bertahan dan menang dari dia!


Maklum, Diva termasuk mahasiswa rumahan. Keluar malam sangat dihindari, apalagi jika bersama laki-laki. Bagi Diva, amanahnya jelas, kuliah! Bukan untuk mencari pacar ataupun bahkan keluar malam yang tidak jelas begini.


Beberapa kali, sih, Diva berada di luar ketika malam hari, saat diajak mabit9 sama mbak kosnya di masjid kampus.Di motor, Diva hanya diam seribu bahasa. Sibuk berdiskusi dengan pikirannya sendiri yang mulai suuzan tentang Yuan.


“Div, kamu punya saputangan yang agak besar? Aku lupa bawa masker tadi. Angin mulai terasa dingin,” seru Yuan membuyarkan lamunan Diva.


“Ada! Tapi, nanti harus dibalikin lagi, lho, ya. Soalnya ini kembaran sama teman baikku sewaktu SMA,” balas Diva sambil menarik tas punggungnya ke depan lalu membuka bagian depannya hendak mengambil sapu- tangan.


Belum juga sampai di kampus, tiba-tiba Yuan meng- hentikan motornya di tepi jalan. “Div, kita makan dulu, yuk, laper. Aku yang traktir. Kamu nggak boleh ganti uangku, ya,” pintanya yakin dan tegas, seolah tak menerima bantahan.


Sudah menjadi kebiasaan Diva selalu mengganti uang yang Yuan bayarkan saat mentraktirnya. Pada dasarnya, Diva tidak pernah mau ditraktir cowok, apalagi jika dia tahu persis bahwa cowok itu berharap lebih padanya. Tidak, dia tidak akan mau, dan itu sudah menjadi prinsip Diva. Diva tidak mau memanfaatkan situasi yang seperti itu meskipun tampak menguntungkan baginya.


Selama perjalanan, Yuan banyak bercerita tentang tempat di mana dia biasanya nongkrong bersama teman- temannya jika di rumah. Juga memberi tahu arah gang


Malam bina iman dan takwa


menuju rumahnya. Benar-benar malam itu hampir seluruh jalan Kota Yogyakarta ini mereka berdua jelajahi.


Hingga mereka tiba di warung tepi jalan yang menjajakan tempe penyet, pecel lele, dan menu lainnya. Ciri khas warung tenda pinggir jalan. Motor pun menepi. Mereka duduk berhadapan usai memesan makanan. Tak lama, ibu pemilik warung datang mengantarkan pesanan.


“Bener-bener, Div. Makanmu itu, lho, ra koyok cewek blas10!” gurau Yuan sambil geleng-geleng kepala.“Laper tahu!” timpal Diva kesal.


Karena masih terlihat ramai, Diva dan Yuan pun pindah lagi. Dan akhirnya, mereka menemukan tempat yang sesuai. Tempat ini tidak jauh dari halaman rektorat tadi. Ada tempat duduk di bawah pohon beringin yang agak gelap, tetapi masih ada pencahayaan dari rembulan yang mulai muncul.


Meskipun masih banyak yang lalu-lalang keluar-masuk kampus, tetapi sepertinya tidak akan mengganggu obrolan mereka berdua. Dan Yuan pun memulai pembicaraannya.


“Div,” panggil Yuan.


Tidak seperti makannya seorang gadis, sama sekali


“Ya,” sahut Diva supaya terkesan tidak grogi. Wajar kan, karena dari tadi Diva bahkan sudah banyak berpikir macam-macam tentang Yuan dengan segala ekspektasi buruknya.


“Aku ... mau ngomong serius sama kamu.” Hening sesaat.


Diva pun seakan kembali larut dalam pemikiran lepasnya. Mulai berekspektasi kembali, tetapi tidak seburuk tadi.


“Emm, gimana, ya, memulainya?” tanya Yuan yang tidak perlu Diva jawab.


“Aku … mau ngomong sesuatu.” Nada bicara Yuan mulai terdengar gugup dan terkesan hati-hati.


Iya, tahu! Ngomong aja, sih, apa susahnya? Diva tambah gereget, tetapi hanya di batin saja.


“Aku mau ngomong sesuatu yang mungkin kamu belum tahu.”


“Tentang apa, sih?” Diva mulai panasaran dan tidak sabar untuk segera mendengarnya.


“Gini, Div.” Yuan sempat menggigit bibir bawahnya sambil tangan kanannya menggaruk ujung dagu tiga kali. Lalu kembali menatap Diva dengan serius. “Sebenarnya … aku yang bodoh! Bisa-bisanya ini semua terjadi. Kok, jadinya seperti ini!”


Diva semakin bingung. “Seperti ini gimana, Mas?” “Aku tahu, di kampus semua orang juga tahu kalau


aku suka sama kamu. Dan memang benar, aku memang suka kamu. Meski dua kali nembak kamu, selalu kamu tolak. Kamu tetep baik dan profesional menjadi sekretaris- ku.”


Hening kembali. Mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa menit.


“Meski kita nggak pernah pacaran, tapi bisa dekat dengan kamu saja … aku selalu senang dan merasa bahagia. Di kelas angkatanku, tahunya, ya, kamu pacarku, meski sebenarnya bukan. Biar semuanya begitu, dan selamanya begitu. Aku suka!”


Terdengar ******* napas panjang lolos dari bibir Yuan. “Tapi, Div, mungkin sekarang semua berubah. Meski aku nggak mau. Aku nggak tahu, kok, bisa, seperti ini. Aku sama sekali nggak menginginkan seperti ini, tapi nyatanya terjadi.”


Diva masih sabar menunggu kalimat yang akan diucapkan Yuan berikutnya. Diva hanya diam, mencoba memahami apa yang Yuan baru saja katakan.


“Kamu tahu?” Yuan kembali diam agak lama, terkesan bingung mau dilanjutkan atau tidak kalimatnya. “Ema sekarang jadi pacarku.”


Entah Yuan paham atau tidak, entah Yuan peka atau tidak. Napas Diva seakan tertarik paksa, tetapi kemudian tertahan. Diva mencoba berpikir … memercayai kalimat yang barusan didengarnya. Dan memaknai secara faktual dan apa adanya.


“Dia nggak banyak nuntut, sih. Tapi, dia tetep pacarku, ya. Oh, bodohnya aku.” Suaranya mulai parau, seperti menahan emosi.


“Sekarang, aku nggak bebas lagi bisa ngejar kamu.


Nggak bisa ke kosanmu kalau mau rapat,” gerutunya.


Sementara Diva, masih dengan ekspresi datar mendengarkan itu semua.


“Ternyata semua berubah. Dulu, meski aku bukan pacarmu, tapi aku merasa senang jika semua tahu aku ngejar-ngejar kamu. Dulu ... diledekin, ‘Yuan, kan, pacarnya Diva!’ Itu saja sudah membuatku bangga. Tapi, sekarang? Aku nggak suka Ema kok, Div. Aku sukanya sama kamu. Tapi,   kenapa   semua   jadi   seperti   ini?”   Suara   Yuan bertambah parau.


Meski masih banyak yang lalu-lalang, sama sekali tidak mengganggu keseriusan pembicaraan mereka berdua.


“Div!” panggil Yuan sembari menoleh ke arah Diva. Meski gelap, tetapi ada sedikit cahaya bulan yang dapat menangkap raut wajah Diva.


“Kamu ... ka—kamu nangis?” tanya Yuan yang sama sekali tidak ingin Diva jawab.


Tak ada suara isakan. Mungkin Yuan bisa mendengar suara helaan napas Diva yang mulai tak beraturan. Air mata Diva jatuh.


Entah apa sebenarnya yang saat ini dia rasa. Rasa- rasanya Diva tidak pernah manaruh hati ke Yuan, apalagi jatuh cinta, tidak pernah! Tetapi malam ini, mendengar semua cerita Yuan, Diva tidak bisa menutupi. Ternyata itu bisa menjadi alasan buatnya untuk menjatuhkan air mata.


Diva hanya bisa diam dan terus diam sembari berusaha menahan jangan sampai keluar suara tangisnya.


Posisi duduk Yuan mulai bergeser mendekat dan tangannya merengkuh pundak Diva, berusaha menguat- kan.


Semua masih terasa hening. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mereka berdua. Ketika tiba-tiba Yuan mencium pipi sebelah kiri Diva. Ciuman itu terasa lembut. Tapi sayang, terasa hambar bagi Diva.


Kedua tangannya meremas jemari tangan kirinya, seolah ingin menguatkan batin Diva yang terkoyak. Dan sesekali Yuan memeluk erat dari samping, menguatkan Diva, seolah-olah bahasa tubuhnya mengatakan, ‘Mungkin tubuhku milik Ema, tapi hatiku masih milikmu, Div!’


Dan sekali lagi, dia mencium Diva kembali, lumayan lama dia menempelkan bibirnya di pipi sebelah kiri. Terkesan dia merasakan kehampaan yang saat itu Diva rasa pedih dan perih. Tetapi, ciuman itu masih sama, hambar dan tak berasa bagi Diva.


Diva yang biasanya galak ke setiap laki-laki, Diva yang sudah sangat terlatih dalam hal menolak cinta setiap laki- laki. Entah kenapa, malam ini bukan tidak berani mencegahnya, tetapi rasa-rasanya, Diva hanya pasrah begitu saja. Diva hanya diam, tak berkata, dan tak berbuat apa pun.


Yuan beberapa kali menyeka air mata Diva. Bahkan mengelap ingus di hidungnya.


“Div, kamu jangan nangis, Div! Aku masih sayang kamu, sayang … banget sama kamu,” bujuk Yuan.


Diva pun masih terdiam. Kalimat yang harusnya terdengar indah itu, sama sekali tak punya makna di kepala Diva.


“Div, kamu mau aku putus sama Ema? Aku akan putus, Div. Aku mau mengejar kamu lagi, seperti dulu yang selalu aku lakukan!” tegasnya.


Diva berdeham, mencoba menata pita suaranya. Dan bersiap-siap hendak mengatakan sesuatu yang harus dia katakan saat ini.


“Mas Yuan berpikir mau putus dari Ema, hanya untuk mengejarku lagi?” tanya Diva, memastikan apa yang didengarnya itu benar atau tidak dan Yuan mengangguk yakin. “Kalau hanya itu tujuan putus dari Ema, sebaiknya jangan pernah Mas Yuan lakukan!”


“Kenapa memangnya?” tanya Yuan.


“Nggak usah, Mas! Nggak usah putus hanya untuk mengharapkan aku kembali. Karena sekalipun Mas Yuan putus dari Ema, aku nggak akan pernah mau menerima Mas Yuan, kapan pun itu,” terangnya semakin mantap dan penuh keyakinan.


“Nggak usah menyesali! Aku yakin, apa yang Mas Yuan lakukan, entah sengaja ataupun tidak, pasti sudah dipikirkan sebelumnya. Yakinlah!” lanjut Diva. Deru napas- nya sudah tak beraturan. Dia bergeser sejauh setengah meter dari Yuan.


Mungkin, semua orang di kampus ini akan mengata- kan Ema jahat karena merebut Yuan darinya, meski sebenarnya kata-kata itu tidak sesuai juga karena mereka memang bukanlah sepasang kekasih. Tetapi, semua juga tahu, Yuan suka Diva, sementara Diva sendiri tidak punya pacar.


Namun, jika sekarang mereka putus dan akhirnya Yuan menjadi pacar Diva, dunia akan berbalik. Diva yang jahat karena telah merebut pacar Ema, pacar temannya sendiri.


“Tidak! Aku bukanlah perempuan seperti itu!”