Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 17 Khitbah yang Terlambat



Bab 17 Khitbah yang Terlambat


Meski Diva  dan  Pram  sudah  resmi,  tetapi  mereka jarang sekali bertemu karena memang tempat tinggal yang tidak sedaerah.


“Div, kita ketemuan di pengkolan depan kelenteng, ya,” pinta Pram. Mereka janjian untuk bertemu sebelum be- rangkat bersama menuju acara pernikahan Ima, teman kos mereka berdua dulu


Sesuai perjanjian sekitar pukul sepuluh siang, Diva sudah sampai di kelenteng yang dimaksud. Saat turun dari bus, mata Diva langsung dimanjakan dengan kehadiran seorang laki-laki muda, tinggi, badan sedang, rambut ce- pak, manis dengan tai lalat khasnya di atas bibir tengah, tengah tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Dia- lah Pram, berdiri persis di depan pagar kelenteng.


Tak banyak cakap, mereka langsung menyeberangi jalan bersama, hendak mencari angkot menuju kediaman Ima.


Sekitar 45 menit kemudian, mereka pun tiba di acara resepsi. Di sana sudah ada beberapa teman Ima yang Diva dan Pram kenal meskipun tidak sejurusan. Seperti Ira dan Nisa.


“Pram, kok, datangnya bareng Diva? Hayo, ada hu- bungan apa, nih?” tanya Nisa basa-basi.


Keduanya mengukir senyum tipis. Tak ada pembicara- an lebih lanjut. Dipimpin Pram, mereka berempat mende- kati pelaminan untuk bertemu pengantin yang sudah berdiri berdampingan, mengukir senyum bahagia sejak akad nikah telah dilangsungkan.


***


Hari menjelang sore, tempat acara mulai sepi dari para tamu. Hanya terlihat segelintir orang berlalu-lalang di depan Diva. Mungkin sanak saudara pengantin perempu- an.


“Pram, boleh minjem Dik Diva sebentar? Mau diajak nginep dulu di sini. Boleh, kan?” pinta Nisa.


“Boleh, silakan,” balas Pram sambil tersenyum kikuk. Hanya Diva dan Nisa saja yang menginap di rumah


Ima. Pram dan Ira sore itu juga langsung pulang. Diva mengikuti saja permintaan Nisa, katanya ada hal penting yang mau disampaikan.


“Dik Diva,” panggil Nisa memulai percakapan ketika hari sudah malam. Mereka berdua tidur di kamar yang sama sehingga bisa leluasa bercerita.


“Gimana, Mbak Nisa? Kayaknya ada yang penting banget.”


“Iya, Dik. Mbak Nisa ada amanah dari seseorang untuk menyampaikan sesuatu ke Dik Diva secepatnya,” lanjut- nya.


“Gini, Dik. Maaf, mungkin Mbak Nisa akan menanya- kan beberapa hal yang sifatnya sedikit pribadi.”


Sejenak suasana menjadi hening.


“Beberapa minggu lalu, Mbak pernah telepon ke Dik Diva perihal hubungan kamu dengan Mas Pram. Sedikit kaget sebenarnya waktu Mbak tahu tentang hal itu,” paparnya. “Tapi, Mas Pram belum mengkhitbah Dik Diva, kan?”


“Maksudnya?” tanya Diva.


“Belum. Tapi, kalau mengkhitbah secara pribadi su- dah,” jelas Diva.


“Berarti belum ada acara orang tua bertemu orang tua?” tanyanya lebih spesifik.


“Belum, Mbak.”


“Baiklah. Jadi gini, Dik. Ada seseorang yang sudah berencana hendak mengkhitbah Dik Diva. Jika Dik Diva sekarang juga mengatakan setuju, maka Mbak Nisa akan segera memberi kabar sama orangnya. Dan dalam waktu dekat orang tersebut akan segera datang ke rumah Dik Diva dengan membawa keluarga besarnya untuk menentu- kan kapan tanggal pernikahan,” jelasnya pelan tetapi serius, bahkan sangat serius.


Diva kaget mendengarnya.


“Dik Diva kenal dia. Jujur saja, dia memang suka sama Dik Diva dan sepertinya Dik Diva juga menyukainya.”


Dari yang Diva lihat, omongan Nisa bukan hal bohong. Dia jadi bertanya-tanya, kiranya siapa orang yang dimak- sud.


Dari mana Mbak Nisa tahu kalau aku juga menyukainya? batin Diva. Diva pun masih terdiam, berpikir, dan dengan saksama mendengarkan penjelasan Nisa lagi.


“Kalau Mas Pram kan sudah menjadi PNS, kalau yang ini memang belum. Dia bekerja di sektor swasta yang sebenarnya secara penghasilan justru lebih. Insyaallah mapan, dan memang sudah siap dengan Dik Diva.”


Dari penjelasan Nisa, satu orang terlintas di benak Diva. “Apakah orang yang Mbak Nisa maksud adalah Mas Dido?”


“Saya nggak akan mengatakan itu siapa dulu, kecuali saat ini Dik Diva menerima atau menyetujui permohonan kami tadi,” jawab Nisa. “Jadi, gimana, Dik?”


Diva kembali terdiam, kali ini agak lama, dan lagi-lagi menarik napas panjang. Berharap agar apa yang akan dia sampaikan tidak salah ucap.


“Gini, Mbak Nisa. Kami memang sudah memiliki hubungan dan memang hubungan ini baru sebatas antara saya dan Mas Pram saja. Meski demikian, sebenarnya orang tua kami sudah tahu dengan hubungan kami ini,” jelas Diva berusaha tetap tenang dan serius.


“Jadi, bagi kami, bagi saya pribadi, hubungan kami adalah hubungan yang serius. Dan saya tidak pernah ragu dengan keputusan saya sendiri. Jadi, mohon maaf, saya tidak bisa menarik keputusan itu. Maaf, ya, Mbak.” Diva menarik napas panjang usai menjawab pertanyaan tentang kesediaannya menerima pinangan seseorang yang katanya dia kenal.


“Nggak apa-apa, Dik. Insyaallah, Mbak Nisa dan dia menghormati keputusan Dik Diva.” Nisa meraih kedua tangan Diva, lalu digenggam erat sambil sesekali ditepuk punggung tangannya. Tak lupa, senyum hangat dan menenangkan itu terhias di wajahnya.


“Barangkali Dik Diva mengubah keputusan ini, Mbak Nisa siap menerima kabar itu, ya, Dik.”


Pembicaraan mereka berhenti di sana. Nisa lebih dulu merebahkan diri di kasur, disusul Diva setelah lima menit sebelumnya dia menatap kosong ke luar jendela. Masih terngiang jelas di telinga setiap percakapan antara dirinya dan Nisa. Dan Diva sangat yakin, lelaki yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Dido.


Ya, Allah, mengapa baru sekarang Mbak Nisa ngomong tentang hal ini, batin Diva tambah tak keruan.