Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 5 Tia Jatuh Cinta



Bab 5 Tia Jatuh Cinta


“Div, hayuk jadi beli sarapan enggak?” tanya Tia di suatu pagi.


“Oh, jadi dong!” jawab Diva mantap.


Iyalah, dengan perawakan Diva yang tinggi besar, dia termasuk cewek yang doyan makan banyak dan paling tidak bisa menahan lapar kelamaan. Apalagi pukul sembilan nanti ada kuliah.


“Bentar, Ya. Ini tinggal nulis nama sama NIM-ku saja!” tambah Diva sembari membereskan tugas mata kuliah Struktur Aljabar dengan beberapa soal tentang bab Teori Group.


Tak lama kemudian mereka sudah terlihat berjalan keluar kosan. Berjalan dari area kos anak perempuan menuju depan di mana bagian depan dari kosan ini adalah tempat kamar-kamar anak kos pria.


Tia berbeda dengan Diva. Jika Diva tak bisa kuliah tanpa sarapan terlebih dahulu, tidak begitu dengan Tia. Tanpa sepengetahuan Diva, sebenarnya Tia hanya memanfaatkan momen ini untuk bisa sekadar mengintip kamar Pram. Bertanya-tanya kira-kira sepagi ini, Pram sedang sibuk apa. Bahkan jika ketika melewati kamarnya dan Tia melihat Pram ada, tak segan juga Tia pasti akan menawarinya untuk membelikan makanan.


Semoga Mas Pram ada. Aku tahu, dia paling suka menu sarapan dengan lauk pindang kecap. Nanti aku beliin, ah, batin Tia.


Dengan harapan itu, sedikit banyak membuat jantung Tia   justru   jadi  berdebar-debar  sendiri.  Tia  sempatkan melirik  ke  pintu  kamar  yang  tertutup.  Pintu  kamar  yang bertuliskan “Dare to fail” dengan gaya tulisan bersambung menggunakan  tinta  permanen.  Dan  di  bawahnya  ada tulisan  “E=m.c2”.  Ini  adalah  rumus  persamaan  relativitas Einstein.  Rumus  kesetaraan  energi  dan  massa,  khasnya kamar  milik  mahasiswa  Teknik  Fisika.  Itu  adalah  tulisan Pram, sebagai bukti kepemilikan kamar tersebut.“Yah, sepi. Sepertinya Mas Pram belum bangun kali. Salat Subuh, lanjut tidur lagi karena masih mengantuk,” pikir Tia sedikit kecewa.


Tia menghela napas panjang karena harapannya tak berwujud kenyataan. Dan mereka berdua pun melanjutkan perjalanan untuk membeli sarapan di gang depan, tak jauh dari kosan mereka.


Malam harinya ….


“Kok, aku jadi begini, ya? Ih, kenapa senyum Mas Pram waktu itu terus kabayang, ya? Mana seharian tadi aku belum lihat dia. Tadi pagi enggak beruntung juga!” pikir Tia.


“Mana kosan sepi gini lagi. Diva ke mana lagi tuh anak? Udah malam belum juga pulang ke kos.” Tia merenung masih dengan kesendiriannya di kamar.


“As-salamu’alaikum  ….”  Terdengar  suara  lantang Diva memasuki ruangan tengah kos.


“Asyik, Diva pulang!” sambut Tia senang sembari lari ke ruangan tengah.


“Div, kok pulangnya lama? Aku kesepian nih, hee,” sahut Tia manja.


“Tumben merasa kesepian,” ledek Diva.


“Eh, bentar. Ya, kamu lagi jatuh cinta, ya? Hayo ngaku!”


“Cerita dong! Pasti Mas Pram?” tebak Diva.


Tia tak menjawab, hanya senyum-senyum malu yang dari situ Diva pun langsung paham, bahwa temannya ini sedang ingin curhat.


“Bentar,  ya,  Ya.  Aku  mandi  dulu,  bentar,  kok.  Ok?” Diva meminta toleransi.


Jam dinding di ruang kosan menunjukkan pukul sembilan malam. Ketika suasana kos terlihat sepi. Tia dan Diva sudah duduk di loteng kosan. Diva sudah bersiap-siap menjadi pendengar yang baik malam ini.


“Kelanjutan gimana? Kan tadi pagi aja pas kita beli sarapan, kamarnya sepi,” bantah Tia.


“Jadi seharian ini kamu belum melihatnya lagi?” “Belum,” jawab Tia datar.


“Eh, bentar, Ya. Aku tuh heran sama kamu. Kok kayaknya kamu suka banget ya, sama Mas Pram? Itu awalnya gimana, sih, kok bisa?” tanya Diva.


Hampir saja Diva keceplosan mau mengatakan, “Kan belum lama juga kamu putus dari Nandi?”


Jika  hal  itu  sampai  terucap  oleh  Diva,  bisa  jadi


berabeh. Ibarat luka lama, berdarah lagi. Suasana yang sudah membaik, bisa menjadi kaku lagi seperti halnya beberapa waktu lalu.


Tia hanya senyum-senyum. Jawab enggak, jawab enggak. Jawab aja deh! pikir Tia.


“Aku juga nggak tahu, tuh, Div. Mulai kapan ya ….” Tia sembari mengingat-ingat.


“Kayaknya … pas waktu aku mau berangkat kuliah. Ya, pas aku mau kuliah, pagi itu. Jadi ceritanya aku berangkat sendirian, kan dan biasalah melewati kamar dia. Dia tuh sedang duduk-duduk di pintu kamarnya. Ada beberapa anak-anak kos yang lain juga, eh terus dia nyapa gini, ‘Kuliah, Ya? Bagus lho kamu pakai jilbab warna itu, cerah’… gitu, Div,” papar Diva.


“Hanya  karena  itu?  Hanya  karena  dibilang,  begitu?” Diva heran.


“Iya …,” jawab Tia pasrah. “Gimana aku dong, Div?”


“Enggak apa-apa, Ya. Namanya juga suka. Syukur alhamdulillah … berarti kamu masih normal,” jawab Diva santai.


“Ha ha ha.” mereka berdua pun tertawa kompak. “Div, minta tolong si—” pinta Tia.


“Siappp!” suara lantang Diva langsung memotong perkataan Tia yang belum selesai.


Dan tanpa dikomando, Diva sudah tahu pasti apa yang harus dia lakukan. Ya, ada beberapa tugas untuknya. Yang pertama, memastikan apakah Pram sedang punya pacar atau tidak. Yang kedua, memastikan apakah Pram juga memiliki perasaan yang sama seperti Tia, atau tidak. Yang ketiga, jika jawaban pertanyaan kedua masih meragukan,


itu artinya Diva juga harus membantu bagaimana caranya biar Tia dan Pram bisa dekat, syukur-syukur bisa sampai jadian. Dan terakhir memastikan ketiga tugas tadi berjalan dengan baik, tanpa aral satu pun.


Meski Diva sendiri belum pernah sekali pun punya pacar, tapi tugas ini bukan hal yang berat baginya. Apalagi demi Tia, teman sekamarnya. Setidaknya untuk sedikit menebus perasaan bersalahnya atas kejadian lalu antara Tia, Diva, dan Nandi.


“Makasih, ya, Div! Kamu emang temanku yang terbaik!”


“Eh, Div, aku dengar kamu dah jadian ya, sama Mas Yuan?” lanjut Tia.


“Hah? gosip kacau dari mana itu?” Diva membantah. “Ha ha ha.” Mereka berdua pun tertawa bersama


kemudian turun dari loteng kosan karena di ruang tengah juga sudah terdengar ramai anak-anak kos yang lain saling mengobrol.