Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 1 Telepon Dini Hari



Bab 1 - Telepon Dini Hari


Sebagaimana umumnya pengantin baru, Diva mulai merasakan betapa indahnya pernikahan yang dia jalani selama hampir tiga bulan ini. Ternyata dicintai itu indah dan mengasyikkan, apalagi dicintai dan disayangi oleh orang yang halal baginya. Banyak waktu yang Diva dan suaminya habiskan mengunjungi tempat-tempat baru. Mencari petualangan bersama.


Diva begitu bersyukur memiliki suami sepertinya. Bisa mengabdi pada suami adalah kebahagiaan tertinggi baginya. Seperti di saat sepertiga malam ini, Diva baru saja menyelesaikan tahajudnya, tanpa sengaja membuat suami- nya terbangun. Suasana hangat begitu terasa. Diva me- nyalami suaminya dan dibalas dengan usapan di kepala dan mencium kening Diva.


Sambil menunggu waktu subuh, mereka tiduran bersama di pembaringan dan dada suaminya sebagai alas kepala Diva. Canda tawa menemani mereka. Sampai suara ponsel di nakas meredupkan tawa Diva. Lantas, dia meno- leh dan segera mengambil ponsel yang menyala itu. Sontak Diva menoleh pada laki-lakinya itu saat sebuah nama tertulis di layar, ada satu panggilan yang masuk.


“Dari  Tia,  Mas.  Gimana,  angkat  saja?”  tanya  Diva meminta persetujuan. Masih pukul tiga pagi. Rasanya heran Tia menelepon di jam sekarang ini. Seperti tak ada waktu pagi saja.


Berbicara tentang Tia, rasanya hampir tiga bulan Diva dan Tia belum pernah berkomunikasi lagi. Diva berpikir, mungkin ada sesuatu yang darurat sampai Tia menghu- bunginya. Melihat suaminya mengangguk, ibu jari Diva menggeser tombol panggilan hijau.


“Halo. As-salamu’alaikum, Tia!” sapa Diva pada orang di seberang sana.


“Wa’alaikumus-salam.” Terdengar jawaban dari Tia.


Sesaat hening, tidak ada suara. Diva masih enggan dan bingung bagaimana untuk memulai percakapan.


“Div,” panggil Tia pelan seperti hendak memulai percakapan.


“Iya, gimana, Ya?” sambut Diva.


“Kamu ... gimana kabarnya?” tanya Tia terkesan sedikit basa-basi.


“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri … baik juga, kan?” Diva bertanya balik.


“Kamu sudah mengajar, Div?” lanjut Tia. “Alhamdulillah sudah, Ya,” jawab Diva singkat. “Di SMP atau di SMA?”


“Di perguruan tinggi. Gimana memangnya, Ya?”


“Kamu … sudah hamil?”


Apa sebenarnya yang ingin Tia bicarakan? batin Diva. Sementara suaminya dengan santai dan sabar menunggu mereka mengobrol sampai selesai.


“Berkat doamu, alhamdulillah sudah juga. Makasih, ya, Ya!” ungkap Diva pelan dan terkesan sangat hati-hati.


“Div.” Tia menyebut namanya lagi.


“Gimana, Ya?” sambut Diva lebih siap dan tertata.


“Aku ... aku mau dong didoakan, biar hidupku juga


bahagia!” Tia memohon dan terdengar sangat serius. “Kenapa memangnya? Ada apa? Kamu pasti bahagia


juga, ‘kan?” selidik Diva.


“Bahagia kok, Div. Boleh ‘kan, kalau aku minta didoa- kan? Doakan, ya, biar hidupku juga bahagia,” lanjut Tia.


“Insyaallah, pasti, Ya. Semangat, ya!” hibur Diva, karena bingung harus berbicara apa.


“Maaf, ya, udah ganggu kamu pagi-pagi gini. Kamu pastinya  habis  tahajud,  ya?”  Diva  hanya  berdeham  dan mengukir senyum tipis. Agaknya suasana canggung me- nyelimuti dirinya, pun sepertinya Tia ikut merasakan. “Ya udah, makasih, ya, Div, kamu udah mau doakan aku. Was- salamu’alaikum.”


Panggilan telah terputus. Diva langsung bengong saat memandangi ponsel yang masih dalam genggaman. Serasa percaya tidak percaya dengan siapa barusan dia berbicara. Diva masih ingat saat hari pernikahan. Dia pikir, Tia akan datang hari itu, tetapi hanya bingkisan kado yang diantarkan Mia, ibunya Tia. Itu pun tanpa caption atau ucapan selamat di dalamnya. Sebagai teman, tentu Diva


merasa kecewa.


Diva berusaha memaklumi dan tidak mempermasalah- kan semuanya. Diva hanya berdoa, sekalipun Tia tidak hadir, semoga tak kurang restu dari seluruh alam atas laki-laki yang telah dipilihnya. Dan kiranya berkah dan rahmat Allah selalu melindungi pernikahannya.


Dia adalah orang yang pertama dan satu-satunya laki- laki yang singgah dan menempati hati Diva. Ya, sebe- lumnya Diva tidak pernah memiliki pacar ataupun sejenis- nya.


Bismilliah. Dengan rida Allah, Diva mencoba belajar mensyukuri jalan hidupnya.


“Tia, ada apa gerangan padamu? Kenapa kamu minta doa dariku? Sepenting itukah buatmu hingga harus telepon pada jam segini?”


Diva baru sadar, suaminya tak ada di kamar. Lalu, terdengar bunyi air mengalir di kamar mandi. “Mas, jangan lama-lama, ya!” teriaknya, tetapi tak ada jawaban. Sia-sia juga, sih, suaranya kalah berisik dengan air keran.


Sambil menunggu azan Subuh yang tinggal beberapa menit lagi, Diva bersandar di kepala ranjang. Sejenak angannya pun melayang, dimulai dari awal perkenalannya dengan Tia, sekitar enam tahun lalu.