
Bab 2 Pengumuman UMPTN
Senin, 10 Agustus 1998 adalah tanggal diumumkannya UMPTN serentak secara nasional.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Diva baru mencari koran Kedaulatan Rakyat untuk melihat pengumuman tersebut. Jantung Diva tak henti-hentinya berdetak kencang saat mengendarai sepeda menuju kota. Tak jauh, sekitar 7 kilometer dari rumah.
Satu per satu nomor tes dan nama peserta ujian Diva amati secara teliti. Ada rasa tidak sabar, tetapi juga rasa tidak siap jika ternyata Diva belum beruntung tahun ini untuk masuk kuliah di perguruan tinggi negeri.
“Alhamdulillah, ya Allah!” seru Diva setengah berte- riak usai melihat nama dan nomor tesnya muncul di antara ratusan nama yang tertulis.
“Lulus, Mbak?” tanya si bapak penjual koran. “Sela- mat, ya, Mbak!”
“Alhamdulillah, Pak, keterima, hee. Matur nuwun1,” jawab Diva bahagia.
Terima kasih
Tidak lupa, Diva pun mencari nama teman-temannya, siapa saja yang diterima di kampus yang sama di daerah Yogyakarta. Ada satu nama, Tia Ramadina.
“Syukurlah, aku bisa bareng dia untuk mengurus masalah daftar ulang,” ucap Diva penuh rasa syukur. Rasa senang tak dapat dia jabarkan lagi.
“Sekarang, mending aku langsung ke rumah Tia saja, terus mengatur rencana kapan mau berangkat ke Yogyakarta.”
Tidak berselang lama, sampailah Diva di rumah Tia. Rumah asri berlantai keramik hijau yang halamannya banyak ditanami pohon mangga.
Usai Diva mengucap salam, tak lama terdengar sahutan dari pemilik rumah. Tampak perempuan paruh baya yang masih ayu muncul dari balik pintu utama. “Wa’alaikumus-salam. Eh, Mbak Diva. Masuk, Mbak!” ajak Mia, mamanya Tia.
“Selamat, ya, diterima di Jurusan Matematika, hebat!” puji ibunya Tia, sedikit berlebihan.
“Alhamdulillah, Tante.” Mata Diva menyusuri setiap penjuru rumah, mencari Tia. Tetapi, keberadaannya tak ditemukan. Dia pun bertanya, “Ada Tia, Tante?”
“Nah, tadi subuh Tia udah beli koran. Begitu tahu dia dan Mbak Diva keterima, Tia langsung ke Jogja sama bapaknya. Nanya-nanya gimana proses daftar ulangnya, juga katanya sekalian mau nyari kosan. Nanti Mbak Diva kosnya bareng Tia aja, ya. Biar Tia ada temennya,” jelas Mia.
“Nggih, Tante,” jawab Diva tak membantah.
“Iya, biar gampang kalau ada teman sedaerah. Kalau mau pulang juga bisa bareng-bareng,” lanjut Mia penuh kegembiraan.
“Matur nuwun, Tante, malah jadi merepotkan.” Diva melirik jam dinding, sudah waktunya dia pulang. Teringat pada orang tuanya yang belum dia kabari berita bahagia ini.
“Kalau gitu, saya mau pamit dulu, Tante,” ucap Diva. ”Oh, iya. Hati-hati di jalan, ya, Mbak Diva.”
***
“As-salamu’alaikum! Diva! Diva!” Suara Tia terdengar memanggil-manggil di teras depan.
“Wa’alaikumus-salam,” sahut Diva begitu pintu rumah terbuka lebar. Senyum langsung terukir. “Selamat, ya, Ya, akhirnya kita kuliah juga.”
“Iya. Tapi, Nandi nggak keterima di Jogja, Div, malah di Purwokerto. Kita jauhan, dong,” ungkap Tia, kentara sekali wajahnya berubah sedih.
Tia, Nandi, dan Diva adalah teman di sebuah Bimbel. Di sana juga, Tia dan Nandi berpacaran, meski sebenarnya Diva menjadi perantara terjalinnya hubungan asmara di antara keduanya.
“Nggak apa-apa. Malah nanti kalian bisa saling berkunjung,” sahut Diva, mencoba menghibur Tia. Senyum menenangkan terukir di bibirnya.
“Betul juga, ya.” Tia langsung cengengesan dan Diva hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.
Hampir lupa pada tujuan Tia datang ke rumah Diva. Dia berdeham, lalu memosisikan diri agar berhadapan dengan Diva. “Gini, Div. Kemarin, aku dan Bapak sudah ke kampus. Ini catatan keperluan yang harus kita siapkan. Nih!” jelas Tia sembari menyodorkan selembar kertas.
“Kita juga udah dapet kos. Setahunnya 800 ribu rupiah, sudah sama listrik. Nanti kita bayarnya bagi dua saja, ya?” terang Tia. “Oh iya, kamu mau kan, Div? Nggak keberatan kalau kita kos bareng?”
“Emm, nggak apa-apa. Aku malah makasih banget, lho, Ya. Udah dibawain catatan keperluan, mana udah langsung dapet kos lagi. Makasih banget, ya,” jawab Diva.
“Hanya saja … gini, Ya. Andai sekarang kita sekamar, aku nggak mau kalau suatu saat nanti kita nggak sekamar lagi,” pinta Diva.
“Maksudmu?” tanya Tia bingung.
“Ya, hidup sekamar dengan orang lain itu mungkin nggak semudah yang kita bayangkan. Dua orang yang menikah, yang katanya atas dasar cinta saja, bisa bercerai. Maksudku, kalau kita saat ini sekamar, mungkin banyak hal yang nantinya akan kita temui. Mungkin kamu nggak cocok sama aku, atau mungkin aku juga nggak cocok sama kamu. Apalagi kamu kenal aku belum lama.” Diva terdiam seben- tar sambil berpikir, kalimat apa yang harus dia ucapkan selanjutnya.
“Nah, di situ diperlukan suatu toleransi yang sangat tinggi, lho. Aku nggak mau jika suatu saat, hanya karena ketidakcocokan, terus kita ribut atau bertengkar, kemudian kita pisah kamar, atau ganti teman sekamar dengan yang lainnya lagi. Aku nggak mau seperti itu, kelihatan kekanak-kanakannya dan nggak enak juga dilihat orang lain. Gitu, Ya. Gimana?” lanjut tanya Diva.
“Iya, nggak apa-apa. Aku mau, kok, sekamar sama kamu. Kamu baik, udah nyomblangin aku sampai bisa jadian sama Nandi,” jawab Tia, terkesan tidak begitu se- rius.
“Baik, kalau begitu. Makasih, ya. Aku nggak ikut nyari, tahu-tahu tinggal nempatin,” kata Diva mantap sembari mengajak Tia berjabat tangan.
Obrolan dilanjutkan dengan khayalan-khayalan mere- ka berdua, juga luapan rasa senang bisa diterima di PTN. Berbagi tugas, sampai berbagi uang iuran untuk keperluan mereka berdua sehari-hari nantinya jika sudah mulai kos di Yogyakarta.
Tanpa Tia ketahui, sebenarnya ada sedikit yang meng- usik pikiran Diva. Yang membuat Diva tidak nyaman dan khawatir jika suatu saat rahasia yang dia tutupi selama ini terbongkar.