Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 20 Karma yang Indah



Bab 20 Karma yang Indah


Siang terasa sangat terik saat Pram sedang menyusuri jalan raya dengan motornya. Rasanya tak sabar untuk segera sampai ke rumah. Ada hal baru yang terasa aneh, tetapi lucu. Selalu ingin cepet pulang. Sampai dia bingung mengapa jadi begitu. Dan sekarang dia baru tahu jawabannya. Ada istri cantik di rumah.


“Ternyata seperti ini, toh, memiliki istri.” Pram terta- wa kecil ketika membayangkan sesampainya di rumah.


Pasti Diva sudah menyiapkan segala macam minuman. Mulai dari air putih, sirup Marjan-Coco pandan kesukaan Pram, sampai teh hangat yang kadang mulai dingin. Namun, tetap terasa hangat untuk Pram.


Bukannya keluar rumah menyambut suaminya pulang, terkadang Diva justru sembunyi. Entah di belakang pintu atau di balik lemari pakaian saat Pram mulai masuk ke rumah. Berharap bisa memberi kejutan kepada suaminya.


“Dasar kekanak-kanakan. Menggelikan sekali tingkah istriku,” pikir Pram sambil terus memacu motor Honda astreanya.


***


Sesampainya di rumah, hari mulai sore. Pram sempatkan untuk istirahat sebentar.


“Dik, mau ikut nggak?” ajak Pram.


“Badhe tindak pundi17, Mas?” tanya Diva halus. “Nggledhek18saja! Sana, Adik mandi dulu!” titahnya. “Asyik!” seru Diva sambil menyambar handuk yangtidak jauh dari tempat dia duduk lalu setengah berlari meninggalkan kamar menuju kamar mandi.


Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di atas motor. Motor yang sudah tidak baru lagi, pinjaman dari orang tua Pram. Tetapi, itu tidak mengurangi aura bahagia dari wajah mereka berdua.


Ke arah utara sekitar 700 meter, lanjut belok ke kanan, lurus terus, dan sekarang masuklah mereka ke area persawahan di desa sebelah. Hamparan sawah luas berhektar-hektar memberikan aura dingin angin yang semilir, sejuk dalam balutan sinar senja.


17Memangnya, mau pergi ke mana


18Muter-muter naik motor


warna matahari senja yang mulai terlihat merah, besar, tetapi tidak terlalu menyilaukan.


Di area persawahan itu, sudah mulai terasa sepi. Kalaupun ada, hanya beberapa orang yang melintas hendak pulang dari sawah atau ladangnya.


Di sana, Diva dan Pram mendiskusikan banyak hal. Mulai dari rencana karier Diva yang baru dirintis, menjadi dosen luar biasa di kampus kota sebelah. Rencana bagaimana kelanjutan karier Pram yang notabene jaraknya agak terlalu jauh jika ditempuh dari rumah sampai ke pembahasan kehamilan Diva dan bagaimana rencana proses persalinannya nanti. Tidak ketinggalan juga, membahas nama-nama yang nantinya akan disematkan pada buah hati mereka ketika terlahir ke dunia.


Sambil menikmati senja, diskusi itu terasa sangat indah. Merasa setengah khayalan dan setengah realita. Karena apa pun bisa didiskusikan di situ, tanpa batas, tanpa khawatir jika ada yang mendengarnya. Tentunya sesekali dihiasi jailnya Pram mencandai Diva.


Pram suka sekali jail dan mem-bully Diva. Konon kata Pram  sendiri,  “Mem-bully  Diva  adalah  salah  satu  bentuk ungkapan rasa sayang dan cinta padanya.”


Tak terasa cepatnya waktu, hari sudah gelap. Mereka menyusuri jalan pulang dengan memutar, tidak melalui jalan seperti pertama mereka datang.


Motor dikendarai sedikit pelan. Maklum, memang harus hati-hati. Jalanan tidak sehalus jalanan aspal apalagi Diva sedang hamil muda, memasuki usia sembilan minggu kehamilannya. Hamil anak pertama mereka.


Kebahagiaan itu selalu mereka lewati bersama. Dari pagi, siang, sore, malam … sampai pagi lagi. Dan begitu, seterusnya.


“Jika suatu saat aku jatuh cinta pada seseorang, semoga dialah jodohku. Tetapi jika bukan, semoga siapa pun laki-laki yang pertama kali aku terima, maka dialah jodohku. Karena tak perlu menjalin banyak kenangan yang tak berujung pada kepastian. Karena dalam hidup ini, tak perlu ada kata mantan.”