Blooming Flowers

Blooming Flowers
Blooming Flowers - Bab 11 Hijrah itu Nyata



Bab 11 Hijrah itu Nyata


"Dik Diva,  alangkah  baiknya  jika  Dik  Diva  mau menyetujui untuk menjadi kandidat sebagai Ketua Karate di periode berikutnya,” ucap Dido saat tidak sengaja bertemu di pelataran masjid kampus selepas salat Asar.


“Keberadaan Dik Diva akan sangat menentukan arah dakwah di UKM tersebut. Dik Diva dapat menjadi panutan, setidaknya bagaimana menjaga pergaulan di kalangan karateka!” lanjutnya serius. “Saya yakin, Dik Diva mampu dan layak dipilih menjadi ketua.”


Diva duduk di sebelah Dido hanya berjarak satu lengan sambil menyimak dengan saksama. Sesekali dia hanya mengulas senyum tipis.


“Dik Diva, kandidat dengan suara terbanyak pertama, kan?” tanya Dido terkesan meyakinkan.


“Aku perempuan, Mas ,” ucap Diva asal, tidak terlalu menanggapinya secara serius.


Sebenarnya banyak yang memanggil Dido dengan Akh atau Akhi, tetapi apa boleh buat, karena dulu pertama kenal juga di karate. Jadi sedari awal, Diva sudah terbiasa memanggil dengan sebutan Mas Dido.


Saat pertama kenal, ada sedikit kejadian yang selalu Diva  ingat.  Malam  itu,  selepas  musyawarah  anggota  di kepengurusannya,  sekitar  pukul  12  malam  Dido  berujar, “Dik,  pulangnya  gimana?  Bawa  saja  motor  Mas  Dido. Lumayan jauh kan, kosmu?”


“Nggak usah, Mas, makasih,” tolak Diva, secara halus.


Akhirnya malam itu Diva pun diantar oleh teman yang lain. Diva sendiri sempat bingung saat itu, kenapa tidak dia saja yang mengantar, kenapa hanya menyodorkan kunci motornya saja.


Sekarang, Diva baru tahu jawabannya. Jadi, sekalipun Dido anak karate, dia juga banyak bergerak di bidang dakwah. Dan menurutnya, membonceng seorang perem- puan adalah hal yang tabu dan terasa berdosa. Semenjak itu, Diva dan Dido memiliki hubungan yang baik dan dekat.


Pernah suatu waktu, UKM Karate hendak mengada- kan acara buka puasa bersama. Karena Diva sebagai seksi acara, maka Diva pun berinisiatif meminta kesediaan Dido untuk mengisi tausiah sore itu.


“Div, itu Akh Dido! Katanya kamu nyariin dari kemarin,” ucap Ima.


“Mana, Mbak?” tanya Diva sembari celingukan ke sana kemari.


“Itu, di wartel.” Ima mengarahkan telunjuknya ke wartel di depan sana. Mata Diva menyipit lalu menemukan objek yang dia cari.


Bagaikan pucuk dicinta, ulam pun tiba! Akhirnya Diva dan Ima masuk ke wartel lalu menunggu Dido untuk beberapa waktu sampai selesai menelepon dan keluar dari kamar wartel.


Kok, jadi kikuk gini, ya? Dan dadaku, kok, sedikit berdebar-debar... aneh! bisik Diva dalam hati, mencoba menenangkan. Kemudian, bersiap-siap menata kalimat yang akan diucapkan dalam rangka meminta kesediaan Dido.


Kelas angkatan Diva sendiri juga pernah mengundang Dido, sekadar mengisi tausiah di kajian kelasnya. Itu juga memang inisiatif Diva sendiri. Karena setahu Diva, Dido sering mengisi acara-acara seperti itu atau bahkan menjadi imam dan khatib ketika jumatan di masjid kampus.


Kata-kata Dido masih saja teringat oleh Diva. Dalam suatu tausiahnya, dia pernah berujar, “Dakwah paling halus, santun, adalah keteladanan. Kita tidak bisa mengatakan ‘Eh, kamu jangan pacaran, ya! Pacaran itu dosa, lho!’ pada teman kita. Tapi, justru bagaimana kita tetap menjalani hubungan baik sebagai temannya, kita dampingi dia, kita lindungi dan jaga dia. Dan secara halus, mungkin perlahan, atau bahkan secara mandiri dia bisa melihat bagaimana bahwa kita itu tidak pernah pacaran. Ya, karena dosa dan haram dalam Islam!”


Dan beberapa kata-kata Dido bahkan sangat meng- inspirasi dan membuatnya banyak berpikir dan merenung. “Pakai jilbab, jangan! Pakai jilbab, jangan! Pakai jilbab, jangan!”


Memang benar, Diva sudah mengenakan jilbab dari SMA. Tetapi, ketika di kos, dia mengenakan jilbab jika keluar dari area kosannya saja.


Banyak yang berkomentar, banyak yang bertanya, “Kok, nggak berjilbab kalau di kos?”


“Ingin, sih. Suatu saat, aku berjilbab di kosan dan di mana saja, tapi aku tidak mau jikalau pun aku berjilbab adalah karena mengikuti komentar, saran, dan kritik dari mereka-mereka. Ini adalah tentang bentuk ibadahku, maka harus muncul dari kesadaran dan keyakinanku sendiri,” jawab Diva saat itu, merasa belum siap.


Hingga akhirnya, melalui pemikiran keras selama ber- hari-hari. Sejak saat itu, Diva memutuskan akan berjilbab secara lebih baik untuk seterusnya.


Setelah kepengurusan ini berakhir, sebenarnya Diva sudah bersiap-siap mengikuti aktivitas yang lain. Diva sudah memantapkan diri untuk aktif di kegiatan yang lain meski tidak mengurangi keaktifannya di karate. Diva masih tergabung dalam keanggotaan Dewan Pelatih. Dia sama sekali tidak berminat untuk menjadi Ketua Karate INKAI, sekalipun sebenarnya Diva mampu.


“Div, niat kedatanganku ke sini itu untuk menyampai- kan amanat dari rekan senior yang lain,” kata Yar memulai pembicaraan seriusnya ketika malam itu bertandang ke kosan Diva.


“Iya, gimana, Mas?” tanya Diva mempersilakan.


Yar pun menjelaskan panjang lebar yang intinya bahwa saat ini UKM membutuhkan figur ketua yang penuh kharisma dan memiliki kemampuan menjadi seorang pe- mimpin. Dan itu mereka yakini ada pada diri Diva. Apalagi Diva memiliki jumlah suara terbanyak.


Meskipun begitu, ketika ditanya dan diminta kesedia- annya untuk maju sebagai calon ketua, Diva memang menolaknya. Hanya Satrio yang bersedia dijadikan calon. Artinya, calon ketua hanya ada satu.


Oleh karena itu, bagi para senior, kedatangan Yar ini sangat penting. Bagaimana melobi Diva supaya mau mengubah keputusan yang baru sore tadi Diva ungkapkan di UKM. Dan Diva bersedia menjadi calon ketua bersaing bersama Satrio.


Menurut senior, Satrio dipandang masih kurang memiliki kemampuan me-manage bawahannya. Hal itu bisa dilihat ketika dia menjadi ketua panitia di suatu agenda UKM.


Dan masih menurut senior, hal itu berbanding terbalik dengan prestasi Diva sewaktu menjabat ketua panitia kegiatan eksplorasi. Diva dipandang sangat sukses, baik pendekatan dengan bawahan, bagaimana merangkul tiap seksi, sehingga mereka rela dan ikhlas dalam bekerja. Diva mampu mengupayakan jalinan kerja yang kokoh, terinteg- rasi, dan kompak. Sukses secara menyeluruh. Padahal saat itu, ada dua kepanitiaan untuk kegiatan berbeda. Dan kegiatan eksplorasi ini bukan kegiatan yang diunggulkan. Hal ini dikarenakan kepanitiaan yang lainnya adalah kepanitiaan PAB. Dan kegiatan PAB merupakan agenda penting tiap tahun, jangan sampai tidak sukses. Akan tetapi, meskipun demikian, kegiatan eksplorasi di bawah pimpinan Diva tetap lancar dan sukses.


Dan sebagai rasa terima kasih pada timnya, saat itu Diva mengadakan perayaan kecil-kecilan dengan mentrak- tir makan teman-temannya sebagai rasa terima kasih.


Diva pun tidak mau kalah. Dia menjelaskan dengan lebih panjang alasan mengapa tidak bersedia. Meski Diva tahu itu akan mengecewakan mereka.


Yar sangat baik pada Diva. Sampai-sampai karena begitu baiknya, Diva sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Yar dewasa karena memang terpaut tujuh tahun dengan Diva. Apalagi setelah kejadian antara Diva, Ema, dan Yuan. Yar seakan-akan menjadi salah satu pelindung- nya yang siap membantu dan mendampingi ke mana pun dan apa pun yang Diva perlukan.


Ternyata ada hikmahnya juga Yuan jadi pacar Ema. Diva benar-benar menjadi Diva, dibanjiri cowok-cowok penggemar. Tapi, itu semua tidak membuat Diva sombong. Itu bukan tabiatnya. Hanya saja, mungkin Diva merasa nyaman, setidaknya mereka semua baik kepadanya. Mereka sering mengatakan Diva ibarat San Cai16, seperti yang ada di Film Meteor Garden, dan merekalah F4-nya.Sedikit konyol, sih, tetapi mengasyikkan bagi Diva.


Dan Diva pun menikmatinya.


“Jadi, maaf, Mas Yar. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya ke Mas Yar, dan juga ke senior-senior yang lain, saya tetap tidak bersedia,” jawab Diva halus.


“Baiklah, Div. Saya pribadi harus menghormati kepu- tusan kamu,” ucap Yar sedikit kecewa.


“Sebenarnya, tugas ini berat, sih, melobi kamu supaya bersedia. Karena aku sendiri yakin, kamu tetap pada pendirianmu. Tapi, kami akan berusaha memakluminya, kok,” kata Yar yang akhirnya menyerah.


16Si rumput liar dalam Bahasa China


“Kita tetap berteman, kan?” tanya Diva konyol.


“Oh, iya, dong! Itu pasti! Dan sebagai bentuk perte- manan ini, kamu juga harus mau aku traktir malam ini,” tegasnya.


“Baik, siapa takut! Siapa juga yang mau nolak ditrak- tir,” ucap Diva tak kalah tegas.


Mereka berdua pun tertawa bersama.


Yar tidak punya keberanian jika harus mendesak Diva terus-menerus untuk bersedia menjadi Ketua Karate. Yar sangat paham jika secara mental mungkin Diva pun sudah tidak terlalu nyaman berada di UKM semenjak kejadian kemarin. Tetapi, Yar tetap berharap Diva bisa selalu aktif di keanggotaan Dewan Pelatih dan jangan meninggalkan UKM begitu saja.


“UKM masih butuh kiprah dan sumbangan idemu, Div,” ucap Yar seraya berlalu dari kosan Diva.