
🌿🌿🌿🌿🌿
Gedung kantor masih terlihat gelap saat aku datang. Portal juga masih tertutup. Namun pintu untuk pejalan kaki sudah di buka. Jalanan masih terlihat lengang dan Sunyi.
Walaupun wajah sudah ku sapu Bb cushion dan concealer, tetep aja aku waspada kalau-kalau kantung hitam dan jerawatku yang mau muncul di sekitar mata terlihat. Gara-gara Mr. . Kubota aka Hyuga aka Pak Direktur, aku di gempur kerjaan dipaksa lembur dan jadilah muncul jerawat. Selain aku kurang tidur aku juga stress.
Stress mikirin kerjaan, iya.
Stress mikirin gimana nasibku setelah ini, juga iya.
Kenapa sih, aku tahu Hyuga direktur sebelum kontrakku habis? Kenapa enggak pas aku udah hengkang dari sini?
Kan hidupku sebagai cungpret yang mendambakan kantor tenang, aman damai sentosa jadi keganggu gara-gara aku kenal Hyuga.
Aku datang 15 menit lebih awal dari waktu yang di janjikan Hyuga. Selain aku enggak mau dia sebel gara-gara aku telat, aku juga mau membuktikan. Apakah orang Jepang itu disiplin waktu?
Apakah dia juga menepati janji??? We'll see.
Aku menunggu di pos security seraya memeriksa barang bawaan. Kali aja kan ada yang kelupaan.
Kaos buat tidur, satu seragam buat ganti kalau keringetan, aku bakalan ke factory, bisa aja entar disana kena asap. Daleman atas bawah, celana jeans, parfum, power bank, laptop, IPAD, sama camilan yang di kasih Mama tadi pas mau berangkat.
Aman. Tinggal tunggu si Hyuga. Sekarang jam 05.25. Awas aja kalau datengnya enggak tepat waktu. Aku enggak akan merpanjang kontrak dan enggak akan kenal lagi sama dia. Jam sudah di angka 05.27. Aku tertawa dalam hati, mana? Belun nongol juga.
Tapi seketika tawaku sumbang saat mobil Rubicon berwarna merah mengkilat parkir di depan pos security. Para security langsung hormat dan pak sopir memanggil aku.
"Silahkan Mbak Yello" Sopir membukakan pintu di kabin belakang. Berasa kayak majikan. Setelah aku say good bye n thank you ke pak security, aku masuk.
Begitu pintu di tutup, hawa wangi semerbak parfum mobil ora kaleng-kaleng menusuk hidungku. Bangkunya juga empuk, jauh ama bangku transjakarta, AC nya dingin, wangi lagi.
"Good Morning Sir" Sapaku mengangguk takzim.
"Good morning" Jawab Hyuga disertai senyuman. Wajahnya menatap ke depan.
"Are you ready?" Tanyanya tanpa memandang kearahku.
"Yes, im ready sir."
Hyuga memberi perintah agar mempercepat laju kendaraan. Sekretaris Hyuga sudah membuat janji dengan user jam 08.00 dan dia tidak mau terlambat.
"Kamu pegawai kontrak?" Tanya Hyuga tiba-tiba. Padahal sudah setengah jam kami diam. Aku juga enggak berani main hp. Tahu sendiri, kita di larang main chat kalau jam kerja. Apalagi ini bareng Direktur. Walaupun direktur ini pernah membelaku di depan mantan brengcek dan bayarin belanjaan tetep aja dia atasanku. Enggak boleh nglunjak. Setidaknya sampai kontrak abis.
"Iya Pak." Jawabku tanpa basa- basi. Orang Jepang suka jawaban yang lugas.
"When your contract end?" Hyuga mengambil IPAD di tas kecilnya.
"For the three next month" Jawabku menunduk.
"Adakah rencana perpanjang kamu punya kontrak?"
"I don't know sir. We'll see" Jawabku singkat.
Kami terdiam lagi. Sebenernya aku mau jawab 'gue ogah kerja lama-lama bareng elo !'
Aku pengen banget berhenti kerja pakai alesan nikah. Tapi mau nikah ama siapa? Pacar aja enggak punya?
Hyuga yang di gadang-gadang Adelia sebagai the next boyfriend Yello, kayaknya bakal enggak kesampaian. Selain kasta kami yang beda jauh, aku juga belum klik sama Hyuga. Dan sekarang kalian lihat sendiri kan kalau Hyuga itu emang lagi deket sama aku. Jarak kami enggak sampai semeter. Tapi kita terasa jauh. Hanya ada atasan dan Bawahan. Hanya bos dan Cungpret. Catet ye baik-baik.
Mau ekspektasi lebih? Enggak mungkin.....!
🌿🌿🌿🌿
Aku menghentak kesal saat kerjaan yang sudah aku susun rapi dengan mengorbankan kebersamaanku sama bantal dan ranjang empuk berubah drastis.
Aku yang capek, lembur sampe berkantung mata, jerawat yang enggak aku harapkan muncul, eh bos Jepun bilang.
"Yello, kamu observasi di pabrik ya? Kamu tulis yang penting-penting saja. How are they performing. Analisa semua. Kamu tulis kasih ke saya pas jam makan siang"
Kan?? Aku tersenyum paksa.
"And, what about presentation Sir?" Tanyaku pengen garuk tengkuk yang tiba-tiba gatal.
"Oh, itu saya biar kasih presentasi ke mereka. Direktur factory ini Japanese Man."
Bloody Hell !
"Ok sir, see you next lunch" Aku menunduk hormat dan dia pergi.
Aku terbahak dan mendadak gila.
"Lalu ini buat apa?"
Seketika kakiku lemas, presentasi yang aku kerjakan tanpa peduli waktu, laptop yang aku tenteng dengan Ribetnya. Enggak ada artinya apa-apa buat Hyuga.
Dia presentasi sendiri. Kenapa enggak bilang dari awal sih?
Kenapa Hyuga jadi nyebelin???
Apakah penderitaanku berakhir setelah makan siang? Bahkan aku di buat tercengang, dia memberiku perintah saat aku sedang menikmati makan siangku.
"Bagaimana lunch at kantin?" Tanyanya tanpa beban dan asyik memakan puding. Enak banget ya di kantin pabrik di sediain Desert. Dikantor aku mah enggak ada, paling-paling buah pisang ama semangka.
"Yummy Pak" Jawabku mengangguk. Jujur aku masih canggung, bagaimana aku harus bersikap sama Hyuga. Dia emang bosku. Tapi aku pengen marah, kenapa dia bohon soal identitasnya. Aku enggak masalah mau dia kerja kayak gimana tapi penting jujur pada orang yang kita kenal. Apalagi kenal di aplikasi kencan.
" Saya ngajak makan kamu ke kantin biar kamu juga lihat asupan gizi karyawan factory disini. Dan kamu bisa observasi ketahanan mental dan fisik aku para karyawan." Aku enggak terlalu peduli apa yang Hyuga bilang, yang aku tahu dia makan dengan tenang, sopan, elegan, bicaranya kalem, wajahnya imut lucu.
"And biar kamu lebih paham lagi, you have observe two shift"
Tapi kok nyebelin ya? Jadi yang dia bilang bawa baju ganti sama perintilan yang lain cuma buat ini?
Aku daritadi keliling pabrik observasi sendirian, sedangkan dia asik ngadem ketawa ketiwi di ruang user yang masih sebangsa dan setanah air sama dia. Aku kena asap, polusi, kupingku pengang karena suara mesin perakitan otomotif, dan dia masih nambahin buat observasi shift malam???
Mau meres keringat saya kamu Hyuga??????
"Mister enggak bilang kalau saya harus observasi dua shift" Protesku dengan nada lumayan tinggi.
"Makanya saya kasih perintah sama you buat bring some spare clothes" Dia masih sempat senyum di depan penderitaanku. Lalu memakan puding legit dengan vla coklat.
Dasar gila !!!!
"Ok, sir." Jawabku tanpa membantah.
"Habiskan makanannya ya, saya meeting ada sama manager factory. See you" Dia bangkit dari bangku kantin di depanku dan melangkah gagah seolah berhasil membuatku tertekan.
Aku inget saat pertama kali melihat lowongan dan kualifikasi seabreg yang di tawarkan perusahaan pada para pelamar.
'able to work under pressure'
Nah, ini aku ngalamin.
Bersamaan dengan kekesalanku, ponselku bergetar. Dan itu dari Adelia.
Ok, Adelia emang kadang rada gesrek dan kepoan tapi aku butuh teman untuk sekedar melepas beban. Memendam marah tidak bagus buat kesehatan jantung dan kantong.
"Hallo Del" Sapaku lesu.
"Hee, apa kabar lo? Suara lo kek orang yang seminggu enggak makan" Ledeknya tertawa. Dasar temen bangsul, mentang-mentang abis dapret proyek gede di Jakbar, ketawanya enggak kira-kira.
"Lo dimana?" Tanyaku, kayaknya dia lagi enggak di kantor.
"Gue lagi makan di Hanamasa" Jawabannya membuatku miris. Enak banget sih dia makan di Hanamasa. Sedangkan aku? Aku nengok kanan kiri, isinya pekerja pabrik semua, kebanyakan laki-laki.
"Wah, lo dapat duit gede enggak nraktir gue" Protesku.
"Gue ini lagi di traktir ama anak marketing" Jawabnya pongah dengan tawa.
"Lo lagi dimana Yel??" Tanya Adelia.
"Gue di pabrik user. Tapi gue sebel !"
"Sebel kenapa lo?"
"Gue kan udah bikin presentasi, gue bawa tuh laptop gue, kerjaan gue seabreg, eh malah si bos bilang, biar saya saja yang Presentasi. Kamu observasi aja. Gue kira kan satu shift doang, rupanya dua shift sekaligus. Ntar tengah malam baru kelar. Kuping gue pengang denger mesin di pabrik" Kutumpahkan semua keluh kesahku ke Adelia, biar plong.
Eh, namanya juga temen bangsul, dia malah tertawa terbahak-bahak dengan deritaku. Aku mendadak sebal.
"Tolong lo cariin gue pasal yang bisa gue pakai buat jerat si Bos !" Aku mengepalkan tangan. Aku tahu, aku harus kerja keras biar enggak makan gaji buta, tapi enggak kayak gini caranya.
"Enggak sia-sia gue promosiin elu. Biar berkembang Yel karir lo"
Oh, jadi dia yang sengaja deketin aku sama Hyuga? Kan dia ngebet banget tuh aku sama Hyuga.
"Enggak nyangka ya, usaha lo buat deketin gue ama Hyuga. Udah gue bilang gue enggak bisa sama Hyuga. Dia ternyata nyebelin !" Biar aja sekalian Adelia tahu agar dia enggak maksain aku lagi sama Hyuga.
"Siapa yang deketin lo sama Hyuga?" Jawabnya sok enggak bersalah.
"Nah ini, buktinya aku kerja bareng sama Hyuga Kubota. Jangan belagak enggak salah deh Del !" Aku emosii.
"Emang Hyuga itu Mister Kubota Yel?"
Mendadak aku memejamkan mata. Tanganku mengepal memukul pelan kepalaku. Bodoh banget sih, Adelia kan belum tahu tampang Hyuga itu seperti apa.
Sekarang dia jadi tahu kan kalau Hyuga itu adalah Pak Direktur??
"Yel, lo bilang apa barusan?? Hyuga Kubota??" Adelia mengkonfirmasi info yang bisa saja akan jadi bahan gosipan seisi kantor.
Aku segera menyambar kresek bungkus kerupuk dan meremasnya tepat di microphone ponsel.
"Sorry Del, sinyalnya jelek. Suaranya berisik, gue kerja dulu yeee..." Aku aegera mematikan telpon.
Kalau informasi sepenting ini jatuh ke tangan orang seperti Adelia, bisa habis aku jadi trending topik.
Bego banget sih Yel,!!!!!
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
jangan kesel sama aku dong Yel...!!