
...Pacaran sama aku...
...Nikahnya sama dia...
...Indahnyaa jagain jodoh orang !!!...
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Aku sedang lelah karena di gempur kerjaan seharian. Bahkan aku harus menunda acara makan siangku di kantin karena di kejar-kejar Reno. Dia kayaknya masih dendam sama aku karena aku mengancam Eko untuk tidak menuruti perintahnya ngantar makanan ke Lapas tempat pacarnya yang jadi sipir penjara itu. Yakali aku ngijinin Eko ngantar makanan buat orang yang gak kerja di kantor sini. Dikira OB pembantu milik bersama kali ya jadi seenak jidat kalau kasih perintah. Si Eko juga manut-manut aja sama perintah Reno. Mentang-mentang Reno jabatannya lebih tinggi dari aku dan Eko. Terus badannya lebih kekar dari si cungkring Eko??? Kalau masih sama-sama cungpret enggak usah belagak deh.
Jalanan komplek sehabis maghrib emang masih sepi. Rata-rata masih pada selesai shalat atau masih lanjut berdoa, I dont know. Aku yang masih enggak mood ketemu siapa-siapa malah di hadapkan sama Arman lagi. Aku jengah, kenapa dia lagi?
Aku yakin dia enggak akan nyapa aku karena aku masih tetep pada pendirian awal kalau aku udah enggak mau kenal dia lagi.
"Yello....!"
Nah kan?? Emang beneran nyari mampus.
Aku mempercepat menuju depan pagar rumah yang sialnya susah banget mau buka engselnya. Mau gedor Mama enggak enak ama tetangga yang lain. Tapi gimana caranya kabur dari setan kalau engsel pagar enggak bisa di ajak kerja sama?
"Gue mau bicara ama lo !" Dia malah mendekat dan engsel pagar seret bangettt.
Aku tak menghiraukan mantan laknat yang mau ngajak Bicara. Kalau mau bicara ya udah ngomong.
"Siapa cowok Jepang itu?" Tanyanya.
Aku Mendengus dan melemparkan tatapan kebencian untuk Arman. Dulu, aku memang cinta. Tapi sekarang cinta itu berubah jadi benci. Ketika melihat wajahnya yang tanpa dosa itu mengingatkanku pada adegan dimana dia dan sahabat laknat masih terekam jelas di otakku. Adegan yang seharusnya tidak aku tonton. Masih mending aku tutup mulut sampai saat ini dan tak berniat mengumbar aib mereka. Aku baik kan????
"Bukan urusan lu !" Sentakku tanpa ragu dengan mata berkilat. Emosaayy saya guys !
"Gue cuma nasehatin aja, dia kayaknya enggak baik buat lo."
Aku berbalik dengan tangan bersedekap. Senyum sarkas terbit di wajahku. Bahkan mengalahkan seringai tokoh antagonis di sinetron.
"Wah, ada yang gak sadar diri nih"
Aku enggak maksud membela Hyuga. Aku juga belum tau stranger guy from Japan itu baik atau enggak. Atau dia cuma main-main doang sama aku. Tapi cowok di depanku ini sudah terbukti jadi cowok amoral masih menghina orang.
"Maksud gue kalau lo masih bisa dapetin yang lebih baik dari cowok itu." Katanya dengan senyum yang dipaksakan.
"Lo sendiri udah bejat masih bisa lo menghina orang ?"
"Yel, tapi itu udah tiga tahun bahkan gue udah nikah sebagai rasa tanggung jawab gue sama Maya"
Kenapa sih dari topik Hyuga yang disiinggung ama Mantan brengsek malah ngungkit masa lalu????
"Mendingan lo urusin hidup lo sendiri. Mau gue ama Jepang, Korea, Amerika, suka-suka gue. Ribet amat idup lu. Enggak usah lo nasehatin gue seolah-olah lo cowok yang paling bener ! Masih bagus ye gue nutupin kebejatan lo ama Maya yang selingkuh di belakang gue. Bahkan lo having sex sama dia. Untung gue liat. Kalau enggak mau sampai kapan gue lo Tipu? Udah cukup gue idiot selama 2 tahun !"
Udah di kantor nahan emosayy nah kesempatan bagus nih bisa melampiaskan emosi. Lumayan ada samsak dateng sendiri. Nyari mampus !
"Kamu kenapa sih Yel enggak bisa maafin aku sama Maya? Maya tekanan batin tiap hari ngeliat lo yang dulu dia kenal sekarang jauh ama lo." Dia berusaha membela diri.
"Udah cukup gue nahan aib lo sama Maya. Semua orang di komplek sini tau lo pacar gue. Tapi lo selingkuh ama Maya. Coba lo ada di posisi gue. Tiap hari kena mulut julit tetangga. Lo yang kelihatan baik ke semua orang. Sampe gue ngungsi ke Amerika buat ngredam gosip ! Lo enggak tahu kan apa yang gue alamin"
"Tapi Yel, Tuhan aja maafin umatnya kalau umatnya salah"
"Sayangnya gue bukan Tuhan. Udah sana jangan urusin hiduo gue lagi !!!
"Yello !" Arman membentak. Dia pasti tersulut amarah karena aku mengungkit-ungkit masa lalu. Bagus kalau dia marah. Kenapa aku dulu milih diam sih?? Kenapa enggak kubikin ribut dari dulu.
"Lo mau usaha apa lagi sih? Lo mau marah?" Tantangku sengit. Aku sudah terbakar. Sekalian aja aku bingin hangus !!
Arman menatapku dengan kilatan amarah yang siap meledak saat ini juga. Dan itu membuatku tertawa.
"Dari sekian banyak kejadian yang pernah kita lalui bersama ,gue bersyukur karena enggak mau lo ajak having sex. Mungkin itu juga yang buat lo berpaling dan melampiaskan nafsu lo ama cewek yang tidak lain adalah sahabat gue sendiri. Berapa kali kalian ***-***???" Aku menyindir seakan aku tak peduli jika Arman menamparku. Wajah Arman merah padam.
Obrolan di waktu maghrib ini begitu menyenangkan. Kenapa aku enggak kepikiran sejak lama kalau lelaki brengsek ini harus ku lawan? Aku malah bersedih hingga kabur ke Amerika.
"Yello !" Suara Maya yang tengah berderai air mata memanggilku lantang. Dia tidak terima aku mengobrak-abrik rahasia terpendam yang mati-matian aku simpan. Apalagi aib mereka sekarang menjadi gamblang.
Bukan hanya Maya yang menonton pertengakaran kami. Tapi ada Mama, Ayah , Bu Jono istri Pak RT yang julidnya nglebihin warganet. Tak ketinggalan abang siomay yang biasa mangkal di pos ronda juga menonton tayangan gratis.
"Kau masuk Yel !" Biasa, intonasi Ayah khas Bataknya menyuruhku masuk dan aku tidak akan membantah.
Dari tadi kek Yah, nolongin anaknya buka pintu pagar.
Begitu gencarnya para tetangga menggibah tentang diriku yang diputus sepihak oleh Arman. Dengan Bu Jono sebagai komando pergibahan. Arman memilih menikahi Maya yang dari dulu terkenal dengan image anak baik dan anak rumahan. Bukan Yello yang garang dan seenaknya.
Aku ingin melupakan tapi tak mudah jika objek yang ingin aku hempaskan malah ada di depan mata.
Ayah dan Mama sepertinya syok mengetahui kenyataan jika anaknya adalah korban penghianatan Arman dan Maya. Apalagi mereka denger kalau Arman dan Maya sering having sex. Aku yakin penilaian keluargaku ke Arman dan Maya akan minus seratus.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Perusahaan kan belum mengeluarkan pengumuman tentang siapa saja yang bakalan di PHK. Tapi kok aku lihat ada Dimas dan Wanda buru-buru kemasin barang-barang dari kubikel mereka.
Dua hari ini aku sibuk menjadi traine di pabrik barang elektronik untuk mensortir CV yang masuk melalui email. Jika ada yang tidak memenuhi kualifikasi akan aku masukkan recycle bin.
Aku bekerja satu tim dengan Gani. Sedang Adelia masih fokus di Jakarta Barat. Jadi intensitas kami bertemu jadi berkurang. Namun pagi ini aku menemukan sahabatku itu sedang prepare dan ada waktu kurang dari 15 menit untuk menggosip..
"Lo tau Dimas kan?" Adelia mengawali pergibahan. Aku mengangguk. Siapa yang enggak kenal sama Dimas? Seminggu ini kan dia trending topic nomer satu di kantor. Karena Wanda yang ternyata pacarnya adu bacot dengan selingkuhan yang ternyata anak divisi lain. Mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan Dimas.
"Dimas ama Wanda di pecat loh. Salah sendiri bikin ribut di kantor. Apalagi ributnya di lobby kantor. Eh kebetulan Mister direktur pas baru aja dateng."
"Direktur yang mana?" Tanyaku mendadak bego.
"Mister Kubota lah..."
"Ow..." Aku manggut-manggut paham. Mr. As Soon As Possibel.... Setidaknya itu julukan baru untuk Mister Kubota.
"Kan udah peraturan, suami istri enggak boleh sekantor. Apalagi yang masih pacaran. Makanya gue mati-matian enggak mau cinta lokasi ama anak sini. Mending nyari ke seberang Gedung. Banyak yang bening-bening di sono"Telunjuk Adelia mengarah pada gedung di seberang yang tampak dari kaca ruang kantorku.
Aku sedikit tahu, orang Jepang sangat profesional dalam belerja. Mereka totalitas banget dan tidak mau mencampur adukkan urusan asmara sama kerjaan. Dulu katanya pernah terjadi huru hara seperti yang dialami Dimas dan Wanda sampai bos besar dari Jepang memantau kasus ini. Kalau ngelanggar penalty nya enggak kaleng-kaleng. Bisa gaji di turunin, penundaan promosi, sampai di pecat.
"Untung gue enggak pernah pacaran ama anak sini" Aku mengedikkan bahu.
"Lo mah, milih-milih Yel.... Ada Hyuga lo enggak mau"
Aku mendadak belagak memeriksa file yang tadi aku ambil dari Bu Wina. Menyibukkan diri agar Adelia lupa jika aku masih berhutang penjelasan ke dia soal alasan ku tidak mau menerima Hyuga.
"Eits lo masih punya utang penjelasan ama gue. Sini ngomong !"
Aku memasang cengiran lebar. Nih anak kalau soal rahasia neuron di otaknya langsung bekerja.
"Lo enggak telat ntar??" Kilahku.
"Enggak, masih ada 5 menit."
"Alesan gue enggak bisa suka ama Hyuga karena dia orang Jepang" Jawabku gugup.
"Hah? Cuma itu doang??" Adelia terbelalak tak percaya
"Emang dia orang Jepang. Terus masalahnya dimana Yellooo??? Lo jangan menilai Hyuga by cover deh. Kayaknya dia baik kok"
Aku emang enggak terpengaruh sama bacot mantan laknat soal Hyuga yang kata dia enggak baik buat aku. Dari awal memang aku ragu Dengan Hyuga. Walaupun kami seolah selalu di pertemukan nasib.
"Gue berpikir dia orang Jepang. Gue pikir dia enggak seiman sama gue. Terus lo pernah enggak mikir kalau orang Jepang itu sunat?" Aku berkata dengan hati-hati.
"Wah, ternyata lo kepikiran sama itunya Hyuga???"
"No, thats not !!!" sergahku cepat. Dia pasti mikir aneh-aneh. Apalagi menyangkut sunat.
"Secara enggak langsung lo udah kepikiran buat gituan kan sama dia?" Godanya jahil.
"Sialan Lo. Berangkat sana ! Telat nasib lo kayak Dimas !!" Aku mendorong bahunya agar dia menyingkir. Bukannya marah, temen bangsulku malah ngetawain aku.
Duh bodoh banget sih????
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Yakin enggak mau sama aku???
Kalau Yello enggak mau kasih author ajahhh...
Met malemm...met weekend๐๐๐