AS SOON AS POSSIBLE

AS SOON AS POSSIBLE
VIBE(S)



...KARENA TERLALU NYAMAN...


...AKU LUPA KALAU KITA HANYA TEMAN....


🌿🌿🌿🌿🌿


Jika aku mendapatkan previlege dari Tuhan karena rajin beribadah dan mengikuti misa setiap hari minggu dan ibadah kunjungan minimal sebulan sekali, aku akan meminta jika waktu berhenti.


Awalnya aku memgira Hyuga tidak sungguh-sungguh menyuruhku kerja tambahan setelah pekerjaan di kantor benar-benar selesai dan aku pulang dengan tenang. Nyatanya di jam 3 sore dia menghubungiku melalui chat LAN pribadi, mengingatkan jika setelah pulang bekerja nanti dia menungguku di parkiran basement gedung dan aku di suruh langsung masuk mobil Rubicon warna merah miliknya.


Aku ingin waktu berhenti sejenak agar aku siap mental. Nyatanya setelah chat dari Hyuga aku baca dan jam sudah mengarah ke pukul 05.00, aku belum juga bisa menguasai pikiranku yang liar.


Aku kira dia akan menyuruhku lembur, tapi dia mengajakku bekerja entah dimana. Aku semakin was-was. Apalagi beberapa hari ini ada berita viral seorang karyawati menjadi korban pelecehan bosnya sendiri yang ekshibisionis. Aku kira berita itu menyangkut Pak Agus dan Jeanny. Nyatanya bukan. Bukan hanya Pak Agus satu-satunya manager bengek yang doyan pamer otak Mesum. Diluaran sana banyak sekali yang begitu.


Ditambah dengan berita dari akun lambe, ada siswi SMP yang hilang setelah ketemu cowok yang di kenalnya lewat facebook. Wajahku memang tak seunyu dan gemesin kayak cewek ABG, tapi kan aku juga was-was. Hyuga itu pria Jepang, tau lah asal film Blue dan kakek Sugiono dari mana, sama manga h*entai. Emang sih enggak semua pria Jepang begitu. Aku belum tahu sisi Hyuga yang lain. Di kantor dan di tempat umum dia ramah. Enggak tahu kalau diluaran, dia nakal atau bahkan sama kayak Pak Agus.


Tengkukku meremang membayangkan hal yang tidak-tidak. Sesekali mataku mengerjap. Aku coba berfikir positif. Langkahku terhenti ketika memasuki parkiran basement. Kepalaku celingukan waspada jika ada karyawan Brighton yang aku kenal melihat daku masuk ke dalam mobil Hyuga.


Situasi sepi dan aman. Mobil Hyuga terparkir gagah segagah orangnya dan kulihat remang-remang seperti ada Hyuga di belakang kemudi karena wajahnya bersinar berkat pencahayaan ponsel.


Aku mendekat ke arah mobil warna merah menyala yang terparkir itu, mengetuk kaca pintu depan dan dengan tangan yang panjang laki-laki itu menjulurkan tangannya untuk membuka panel pintu dari dalam.


Aku segera masuk dan duduk tenang. To be honnest, aku sangat-sangat tidak tenang. Mau di bawa kemana anak Pak Patar Simanungkalit dan Ibu Ruth Siborong-Borong??????


Kakiku gemetar ketika Hyuga mengoper tuas dan kakinya menginjak pedal gas, mengemudi meninggalkan gedung perkantoran.


"Kamu mandi sudah?" Tanyanya tiba-tiba dengan ekspresi yang wajar.


Aku berdecih dalam hati. Mandi??? Mana sempatt??? Aku aja baru kelar sama kerjaan pas jam lima. Lagian aku mana berani mandi di kantor???


"Belum Sir" Jawabku menunduk karena gusar.


"Dont call me Mister. Hyuga is better" Jawabnya Tersenyum. Aku tahu itu dari lirikan mataku.


Udah punya Jeanny masih lirik aku? Apa dia enggak pernah denger peribahasa lama 'orang batak suka makan orang????'


"Ok, Hyuga" Aku menghembuskan nafas berat. Dari awal aku kenal aku panggil dia Hyuga, lalu dia jadi bosku di kantor dan itu memaksaku untuk memelintir lidah dan otak agar aku biasa panggil dia Mister Kubota, dan kini dia enggak apa-apa di panggil Hyuga. Dia hanya ingin professional.


"Saya ada bawa spare clothes for you."


Kalau bahas soal pakaian ganti emang Hyuga jagonya. Kenapa sih kalau sama aku yang diinget baju ganti.


"Sorry Hyuga, tapi kita kan ker ja?" Tanyaku bingung menekankan kata kerja. Tujuan kita ini bekerja kan???


"No, kita tidak sedang kerja. Saya mau kamu temani saya dinner" Senyumnya bajingan Banget.


"Dinner??" Aku nampak songong.


"Iya" Dia tersenyum kembali.


"Kenapa kamu bilang kalau kita mau kerja?" Aku kecewa. Kalau ajakannya dinner mah saya nolak. Dia pakai wewenangnya sebagai direktur untuk mengelabui cungpret yang mendambakan resign. Kalau bukan karena mau hengkang dari kantor trus di tuker ama ajakan dinner aku mah ogah.


Tolong, kasih aku pasal yang pas buat WNA yang memerintah dan membohongi pribumi seenak jidat. Pasukan Jepun udah di usir 76 tahun yang lalu. Dan Aku kayak masih kena jajah !


"Saya kasih sebagai jam lembur" Ini alasankah?? Yang sudah di siapkan kalau aku memberontak tidak terima karena merasa kena tipu? Ini bukan masalah uang, tapi Kejujuran Hyuga !!!


"Apa itu alasan yang bisa aku terima?" Emangnya aku takut, ini diluar jam kantor. Aku juga manggil kamu Hyuga.


"Saya takut kamu reject me" Dia menjawab dengan nada lirih.


"If you honest, aku tidak mungkin kecewa" Dia tahu arti kosakata kecewa kan? Tindakan yang membuat orang berkecil hati???


"Sorry, seharusnya saya kemarin bilang kalau saya minta tolong sama kamu" Hyuga memutar setir berbelok ke kanan. Ke kawasan elite Jakarta Selatan.


"Minta tolong?" Dahiku mengkerut.


"Ya, tapi saya tidak tahu mau bilang" Lampu merah menyala.


"Alasan kerja itu tidak masuk akal. Lebih baik kamu bilang jujur kalau minta bantuan aku. Minta bantu apa sih?" Bukannya aku kepo urusan dia. Hyuga melibatkan aku agar aku menolongnya. Wajar jika aku ingin tahu dia minta tolong apa. Kalau dia minta tolong, 'saya kurang belaian'. Wah, ngadi-ngadi namanya.


"Nanti kamu pasti tahu. Saya tidak bisa bilang sekarang"


"Kalau gitu, saya enggak bisa bantu kamu" Aku enggak bisa mengiyakan dengan mudah permintaan tolongnya yang masih misterius.


"Please,Help me"


"Give me reason !" Aku bersedekap.


"First, this is my future and second, saya hanya kenal satu perempuan Indonesia disini, is you"


Tawaku sumbang.


"Jeanny?"


"No, Jeanny bukan teman." Hyuga langsung menjawab. Jadi kalau bukan teman apa? Pacar??????


"Kamu harus bisa tolong saya. Ok??"


Aku tampak berpikir. Antara dia malu dan ogah bilang, dia juga bingung mau kasih tahu. Aku juga udah kepalang tanggung ikut sama Dia.


"Ok, aku bantu Kamu. Tapi kalau kamu ngadi-ngadi aku balik kanan !" Aku mengacungkan telunjuk untuk memperingatinya jika aku mau membantu dengan syarat.


"Nga di nga di?" Alisnya berkerut. Ah, kenapa sih keceplosan pakai bahasa gaul ???


"Itu bahasa gaul. Sama kayak mengada-ngada"


"Mengada-ada??"


Aku menunduk seraya menepok jidat. Kok bisa miskomunikasi gini sih??? Di google translate mana ada kata 'ngadi-ngadi?'


Emang yang tahu cuma orang Indonesia ajah nih yang suka ngadi-ngadi.


****


Aku memakai dress hanya seminggu sekali saat di Gereja. Jika bekerja aku selalu mengenakan uniform dipadu celana hitam dan sepatu kets.


Dan kini, aku kembali memakai dress yang menggantung 5cm diatas Lutut. Dress warna pastel dengan kombinasi ikat pinggang kecil berbahan kulit warna coklat. Aku mandi ciprak cipruk di SPBU seraya mengganti pakaian. Aku tidak mau parfum wangi mobil Hyuga tercemar karena keringat jongos.


Pakaian ganti yang di bawa Hyuga untukku terkesan feminim sekali. Aku masih penasaran dengan ini semua. Dengan langkah kaki lebih gemetar dari yang tadi, aku kembali masuk ke mobil merah milik Hyuga.


"Ada pouch make up di dashboard. Kamu bisa touch up kamu punya wajah" Katanya dengan mata fokus ke jalanan.


Aku membuka dashboard dan mengambil pouch berwarna ungu. Di dalamnya terdapat alat tempur professionals kelas berat. Ada eyeliner, bedak, bb cushion bahkan ada bulu mata palsu. Aku tak yakin bisa memakai semua ini karena aku tak tahu caranya.


Aku mengambil toner untuk membersihkan wajah, lalu meratakan foundation tipis dan menyapukan bedak padat. Aku menggunakan brush untuk meratakan bedak agar tidak terlalu tebal. Terakhir aku memulas bibir dengan lip cream warna peach.


Untung saja saat aku berdandan tidak ada jalan berlubang, bisa -bisa bibirku cemong karena jalanan tidak stabil. Aku bercermin untuk terakhir kali sebelum membereskan alat-alat tempur wanita yang entah kenapa Hyuga memilikinya.


"Aku kira aku cuma di suruh ganti pakaian aja. Ternyata aku di suruh dandan juga. Dobel nih lemburannya" Sindirku sarkas. Bibirku yang berwarna peach terangkat sebelah.


"Kita kan dinner"


"Kita aja??"


"No, kita tidak berdua."


O'on banget sih Yel?? Kan harusnya tadi nanya detail dinnernya ama siapa aja. Udah keburu ge er aja tadi dikiranya berdua.


"Sama siapa?" Hyuga tidak menjawab karena mobil berbelok ke kiri dan kita sudah sampai di tempat yang di tuju. Aku memandang restoran mewah 4 lantai di kawasan SCBD.


"Yello" Dia memanggilku dan aku reflek menoleh.


Kedua tangan Hyuga masih memegang setir mobil walaupun mesin sudah di matikan. Dia menghela nafas berat.


"Nanti kita akan bertemu seseorang, so saya mau kamu diam selama saya bicara. After this is done you can resign from Brighton" Kepalanya menoleh ke arahku. Senyum manisnya kembali terbit, tapi aku yakin banyak yang Hyuga pikirkan.


Kedua tangannya menjulur, aku yang masih terpaku tak berusaha menepis saat tangan Hyuga menarik tali rambut yang menguncir asal rambutku. Jari jemari Hyuga menata rambutku yang tergerai. Telunjuknya menata poniku agar terlihat rapi. Menutup sempurna setitik jerawat kecil yang akan muncul.


Dia menelengkan kepalanya sebentar seraya menatap intens wajahku dan mungkin memeriksa riasanku.


"Perfect"


Ha?? Kedengarannya bohong enggak sih?? Perfect??


"Oh, kamu harus pakai saya punya parfum" Dia menyemprotkan parfum merk channel yang membuat kartu debitku Meronta. Hyuga menyemprotkan dengan amat murah hati. Enggak takut abis apayaaa????


Tubuhku wangi semerbak terkena sentuhan parfum mahal.


Kami berdua turun dari mobil memasuki restoran mewah ini. Langsung naik ke lantai dua lalu ketiga. Saat kami berdua menaiki tangga menuju lantai empat dimana areal reservasi vip, Hyuga meraih tanganku dan menggenggamnya.


Sesuai briefing dari Mister Kubota, aku harus menjaga lisan kalau perlu tidak bicara. Aku penasaran siapa sih yang mau ketemuan sama Hyuga ini???


Kaki kami sudah menginjak lantai empat. Tak butuh waktu lama, Hyuga menemukan orang yang dia cari.


Dia seorang wanita dan rasanya tidak asing bagiku.


"Hyuga" Wanita itu berbinar ketika pujaan hatinya datang. Kemudian wajahnya mendadak sendu karena Hyuga datang bersamaku.


"Kamu sama dia?" Wanita itu adalah Jeanny yang sering mendatangi Hyuga di Kantor. Telunjukknya mengarah bergantian ke arah Hyuga dan aku.


"Boleh duduk?" Alih-alih menjawab, Hyuga ingin segera duduk.


"Oh, silahkan" Jawabnya masih tak paham. Jangankan anda Mbak Jeanny, saya juga tidak paham kenapa pacar anda ngajak saya ke acara kencan anda?? Hidupku yang selama ini gersang dalam hal asmara, belum menemukan insting apa-apa di balik acara tipu-tipu ini.


Kami berdua duduk berhadapan dengan Jeanny, si wanita yang cantiknya setengah bidadari. Wajah Jeanny nampak bingung karena Hyuga belum buka suara.


"Kita sedang berkencan, kenapa kamu datang bersama dia?"Jeanny seperti tak terima datingnya di rusak olehku. Aku bukan wanita yang dipungut Hyuga di pinggir jalan kelaperan terus diajak makan.


"Dia pacar saya," Jawab Hyuga dengan nada tegas khas orang Jepang. Aku reflek menoleh. Tangan kiri Hyuga meremas tangan kananku di pangkuannya. Telapak tangannya terasa berkeringat.


"Sejak kapan?" Mata Jeanny membelalak tak percaya.


"Sejak satu bulan" Aku yang kini membelalakkan mata. Jadi ini gunanya briefing? Kalau aku boleh ngomong, aku mau ngaku !!


"Jadi hubungan kita?"


"Saya dari dulu menganggap kamu hanya teman. Saya tidak ada kamu jadi girlfriend saya" Jawab Hyuga lebih meremas tanganku lagi.


"Dia ini bawahan kamu di kantor kan?" Aku segera menunduk, dempulan bedak di wajahku tidak menghapus ingatan Jeanny begitu saja. Dia rupanya masih ingat aku yang berseragam cungpret.


"Iya"


"Kamu tahu kan peraturan company. Dilarang berpacaran sesama pegawai??"


Pertanyaan ini bernada ancaman. Dia siapa sih kok tahu tentang peraturan perusahaan segala? Dia kan cuma ciwi yang ngrecokin gebetannya kerja???


"Saya tahu,"


"Kamu bisa di deportasi kalau dewan direksi tahu"


"I dont care" Jawaban Hyuga tak gentar. " Saya tidak mau kamu anggap saya cinta dengan kamu"


"Tapi enggak begini caranya kamu menolak aku" Mata Jeanny berkaca-kaca dengan kata bernada sesak. Telunjuknya menunjuk ke dadanya yang aku yakin sakit sekali.


"Saya harap kamu mengerti. Kamu teman baik saya"


Katanya yang dia kenal cuma aku??? Bohong Hyuga mah.


Jeanny menyugar rambut panjang berwarna coklat tua dengan kasar.


"Ok, kamu bisa pergi" Bisiknya dengan mengusap kasar wajahnya. Aku takut wajahnya yang like porcelain bisa baret kena kuku lentiknya.


Tanpa banyak bicara Hyuga menarik aku pergi dari sana. Bersmaan itu pula dua orang pramusaji pria berpakaian rapi menyajikan menu-menu mewah di meja yang di pesan Jeanny.


Sebelum keluar dari restoran mewah itu, Hyuga membayar tagihan makan malam yang di pesan Jeanny dengan menggesekkan kartu warna hitam mengkilat di mesin EDC.


Duh, enggak kebayang bayarin makanan mahal tanpa di sentuh sama sekali. Aku enggak cuma kepikiran itu, gimana menghadapi besok. Apa masalah Hyuga akan benar-benar berakhir???


Kayaknya biar uang lembur dobel juga enggak akan sebanding dengan pekerjaan yang aku lakukan. Diakui sebagai pacar Hyuga malah membuatku frustrasi dan Jeanny nampak tak senang dan menunjukkan mata sinisnya padaku.


πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’



uang lembur double tapi jadi pacar anda??? Suka semena-mena ya kisanak.....