AS SOON AS POSSIBLE

AS SOON AS POSSIBLE
THOR, MESTI BANGET DIA???



...Ganteng-ganteng perhitungan !...


🌿🌿🌿🌿🌿


"Stop Ma. Don't talk about him anymore, please !" Secara harfiah, aku merasa berbicara dengan intonasi rendah pagi ini. Namun nada penuh penekanan seakan aku terlihat sedang membentak Mama saat kami akan sarapan pagi.


"Yello, kau jangan cakap enggres mana ngerti Mama !" Mama mengambil centong nasi dan aku jadi takut kalau centong nasi itu melayang ke wajahku yang sudah aku dempul. Bisa rusak make up Yello !


Aku mendesah lalu berdehem " Maksud Yello, jangan ngomongin dia lagi Ma. Unfaedah ! Mendingan bahas Exo kapan comeback !" Selorohku asal seraya mencelupkan teh di cangkirku.


"Gimana Mama enggak bahas ini, semua orang di komplek ini pada menggosip pasal kau" Mama nampak kesal, anaknya yang mendadak jadi bahan pergunjingan membuat emosi Mama tak stabil.


"Mama percaya Yello anak Mama atau tetangga?" Lama-lama aku jengah menghadapi Mama yang kepikiran omongan tetangga tentang pertengkaran ku dengan Arman yang selalu jadi konsumsi publik.


"Mama mau percaya samamu" Mama duduk di kursi makan seraya membawa kotak tupperware kesayangannya untuk diisi camilan. Mama memang suka membawa camilan dari rumah dan di bagikan kepada teman kantornya saat jam istirahat.


"Tapi Mama sangsi kau jujur Yello. Anak singa pas masih bayi juga imut lucu. Pas dia sudah di kasih makan jadi besar tetap jadi singa juga. Sama kayak kau !"


Kenapa malah jadi ngomongin singa sih? Mungkin maksud Mama, beliau sebenernya mau ngebela anaknya cuman emang akunya aja yang bikin ulah. Gitu Ma???


"Mama enggak usah dengerin omongan tetangga yang katanya Yello pelakor." Bukan cuma di kantor yang runyam. Bahkan di rumah pun Mama tahu jika anaknya di gosipin jadi pelakor. Kalau bukan mulut Arman yang nyablak enggak mungkin Mama tahu.


"Terus soal cowok Jepang itu??" Mama mengoles selai di roti tawarnya dengan cepat. Agaknya Mama sedikit emosay.


"Itu cuma bos di kantor Yello. Kebetulan orangnya emang baik" Aku memutar bola mata seperti tidak setuju dengan kata yang aku ucapkan jika Hyuga 'baik'.


"Mama ingat kolesterol sama tekanan darah. Sekarang Yello mau ketemu sama Bos buat interview. Yello enggak mau first impression Yello rusak gara-gara mood" Lanjutku meminta pengertian Mama.


"Kamu kerja apa?" Pertanyaan Mama seperti sambaran petir di telinga. Abis kesel gara-gara gosip yang di sebar si mantan laknat, eh Mama langsung nyinggung soal kerjaan baruku.


"Staf kantoran biasa Ma" Jawabku berbohong. Ya kali aku bilang, 'Ma, doain aku ya agar ketrima kerja jadi Pembantu'. Bisa merah semua nih pantat kena pukul centong nasi.


"Ya udah, kali ini Mama percaya samamu. Mama enggak mau denger lagi ya gosip jelek soal kamu !" Telunjuk Mama menudingku.


Aku mengangguk " Iya Ma"


Setelah memberi petuah ala Mama, beliau pamit untuk berangkat duluan karena ada try out di sekolah tempat Mama mengajar.


Aku menghela nafas. Bukannya aku ingin melawan orang tua dan mengesampingkan Perasaannya. Tapi, aku juga butuh pembelaan. Aku tipe orang yang tidak suka di tuduh, apalagi di tuduh maling. Sedangkan aku enggak nyuri. Aku berkali-kali menyangkal tuduhan itu dan memberikan klarifikasi, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan. Selanjutnya, aku serahkan pada Tuhan Semesta Alam.


Yang jahat pasti kena batunya.


🌿🌿🌿🌿🌿


"Kalau alamat di aplikasi ya disini Neng" Abang ojol menunjukkan alamat tujuanku. Setelah kita berkeliling komplek perumahan yang terkenal elite di kawasan Jakarta Selatan, aku sampai di sebuah rumah dengan pintu gerbang tinggi dari kayu di vernis mengkilat. Rumah yang tampak asri dari luar.


"Makasih ya Bang" Aku menyerahkan helm berwarna hijau ke Abang ojol. Setelah abang ojol cabut aku memeriksa pakaian dan riasan wajahku sebelum aku benar-benar memencet bel.


Pintu pagar di buka oleh seorang bapak berpakaian safari warna hitam. Dia tersenyum ramah. Yang biasanya jarang aku dapatkan saat berkunjung ke rumah orang kaya.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" Tanyanya sopan.


"Saya ada janji interview dengan Miss Dinda disini" Jawabku tak kalah ramah.


"Oh, Miss Dinda ada di dalam. Mari saya antar masuk Mbak"


Aku berjalan mengekor Bapak ini masuk menyusuri halaman yang tampak asri. Setelah sampai di teras rumah, mataku serasa sejuk dimanjakan dengan susunan pot tanaman hias yang tersusun rapi di rak besi bercat putih. Ada tanaman aglonema, Anturium, kaktus dan tanaman hias yang aku rasa masih satu keluarga dengan tanaman keladi.


Bosku meskipun orang asing suka juga sama tanaman hias. Mengingatkanku pada emak-emak komplek yang heboh mengkoleksi tanaman hias dengan harga fantastis.


"Sepatunya di simpan di rak sebelah sini Mbak" Bapak yang aku perkirakan juga pegawai si calon bosku menunjuk rak penyimpanan sepatu di sisi kiri teras.


Disana berjejer sepatu yang tersusun rapi yang kebanyakan sepatu boots dan sepatu olah raga milik pria.


Dari sini aku bisa menyimpulkan bahwa calon bosku ini adalah orang yang sangat menajaga kebersihan dan kerapihan.


"Silahkan masuk Mbak, sudah di tunggu Miss Dinda di ruang tamu"


"Terima kasih Pak."


Dengan langkah mantap, aku masuk ke dalam rumah. Mataku memindai ruang tamu yang kosong ini. Kursi dari kayu jati menghiasi ruangan di tambah tanaman hias berjenis Monstera ada di pojok ruangan. Dinding rumah di cat warna putih dan hanya terpajang satu lukisan Gunung Fuji yang puncaknya berwarna putih karena tertutup salju.


Gunung ikonik Jepang itu membuatku tersenyum miris. Mengingatkan ku pada Hyuga yang sudah kembali ke Negaranya. Gara-gara kepergok berpelukan denganku. Harusnya orang kantor bisa mengambil pemikiran matang sebelum menuduh kami pacaran tanda kutip. Lihat Telettubies, mereka sering pelukan tapi enggak pacaran.


"Naze kyūryō ga son'nani takai nodesu ka?"


Terdengar suara orang mengobrol dalam bahasa asing di sertai langkah kaki mendekat menuju ruang tamu.


"Watashi wa sore o kau yoyūgāru ka dō ka wakarimasen ka?"


Suara laki-laki yang tengah berbicara dengan Dinda masih terdengar.


"Shikashi, watashi wa dōi shimashita" Balas Dinda bernada khawatir.


Sungguh aku tidak tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Mereka mengobrol dengan bahasa Jepang yang tidak aku mengerti.


"Kanojo wa ī on'nada" Lanjut Dinda dan bertepatan itu pula mereka berdua sampai di ruang tamu dimana aku kini tengah duduk menunggu dengan rasa was-was.


Badanku berjengit bersamaan dengan jantungku yang mendadak berdetak tidak normal. Nafasku serasa sesak di paru-paru. Tapi aku harus rileks. Senyumku mengembang meski tengah di landa gusar luar biasa.


Lelaki yang bersama dengan Dinda juga nampak terperangah melihat calon pembantunya. Matanya yang biasanya sipit dan jika terseyum membentuk bulan sabit itu kini melebar.


Apa aku harus kerja bareng dia lagi??


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dinda meninggalkan kami berdua saja setelah Pria garis miring calon bosku garis miring Hyuga Kubota mengaku mengenalku. Dinda hanya tersenyum heran dengan pertemuan kami. Dia hanya tidak menyangka pembantu baru yang diminta Hyuga adalah aku. Dan yang membuatku appreciate sama Hyuga karena dia bilang aku temannya. Bukan mantan cungpret di kantornya.


"Hi Yello, nice to see you" Sapanya ketika kami hanya berdua saja.


"Hi, nice to see you too Hyuga." Balasku kikuk. Sesungguhnya aku ingin cepet-cepet kabur dari sini.


"I hear you comeback to Japan" Ucapku dengan intonasi rendah.


"No, aku tidak pulrang ke Jepang" Dia tergagap tidak mengiyakan pernyataanku.


"Tapi saya tahu itu dari Jeanny"


"Ah...." Dia seperti mengingat sesuatu. "Saya bohong Jeanny"


Aku mengangguk paham. Mungkin dia ngaku kalau pulang ke Jepang biar enggak di cariin Jeanny??


Dia berdehem kemudian.


"Saya mau interview kamu lebih detail" Dia berubah serius. Hyuga memang tidak berubah dalam hal pekerjaan. Selalu professional.


Aku terseyum sumringah. Meskipun dalam hati aku akan balik kanan jika tidak menemui kesepakatan.


"I get report from Dinda about your interview. And i think salary you get is too high" Dia duduk tegap dan membuat jantungku kelojotan. Dia terang-terangan keberatan dengan gaji yang aku ajukan.


"Saya tahu kamu ada point plus dengan kamu punya education. But, maid no need high education. Saya mau maid yang jujur, cekatan and keep clean my house"


Ya, aku setuju Hyuga. Aku juga enggak menggunakan ijazah sarjana hanya untuk menjadi pembantu. Tapi gaji yang kemarin aku ajukan membuatku menanggalkan gengsi untuk menolak kesempatan emas ini.


"Tapi Dinda sudah setuju dengan gaji yang saya ajukan" Aku harus mendebat.


"Dinda say ok, tapi saya no. Saya tidak bisa membayar kamu dengan salary eight million" Ternyata dia peehitungan juga. Dia kan direktur yang gajinya menyentuh angka 85 juta sebulan. Delapan juta untuk membayar pembantu imut seperti aku enggak susah.


"Saya bisa ganti dengan maid yang lain karena kita belum sign kontrak kerja"


Oh, no !! Delapan jutaku......


"Kamu enggak bisa ganti maid seenaknya. Saya maunya segitu kamu jangan nawar lagi ya?" Aku tidak terima. Aku tidak mau kehilangan delapan juta milikku yang hampir aku raih.


"Saya hanya bisa bayar kamu empat juta" Negonya dengan posisi tenang.


"No, sekali delapan juta ya udah segitu." Aku tak mau kalah dengan Jepang. Indonesia menang dan berhasil membuat Jepang angkat kaki dari Negeri ini. Biarkan aku mengalahkannya sekali lagi.


"Saya belum ada legal kontrak dan saya juga belum lihat performa kamu sebagai maid"


"Kamu pernah kan lihat saya bekerja loyal saat di Brighton? Kamu merintah saya kesana kesini, ngelmpar saya ke pabrik dua shift dan kamu sama sekali enggak sentuh kerjaan saya. Dari situ kamu bisa tahu kan saya ini bisa di andalkan." Aku mengungkit kejadian saat kami bertugas observasi user di Cikarang. Aku begitu giat bekerja dan dia leha-leha haha hihi di ruang top menegement yang masih satu rumpun Jepang.


"Saya pernah juga lihat kamar kamu berantakan di hotel. Banyak sampah bekas kamu makan"


Sanggahan Hyuga tidak akan membuatku gentar.


"To be honnest, saya lapar karena kamu banyak kasih saya kerjaan" Aku tetap berjuang mendapatkan gaji delapan juta !!


Suasana hening sebentar.


"Saya tidak bisa" Ucapnya bergeming dengan kata hati Hyuga sendiri.


"Saya maunya tetap delapan juta. Tidak kuranc dari itu" Aku tetep main bertahan.


"Ok, seven millions???" Tawarnya dengan wajah penuh harap. Dia ini terlihat kekeuh enggak mau kasih gaji banyak tapi juga enggak pengen kehilangan pembantu.


Aku tidak begitu saja setuju dengan gaji tujuh juta. Tapi aku butuh pekerjaan dan tempat untuk meredam gosip yang berkaitan denganku untuk sementara. Bagaimanapun juga kesehatan Mama dan ketenangan hidup orang tuaku di pertaruhkan.


Aku mengulurkan tangan.


"Deal"


Senyum kelegaan Hyuga terbit. Dia menyambut uluran tangan ku.


"Deal."


Baru lepas dari status cungpret yang kastanya rendah di kantor, eh malah terjun bebas nyungsep jadi pembantu di rumah Hyuga.


Yang penting iming-iming gaji tujuh juta sudah ada di genggaman. Aku hanya akan jadi pembantu dan pet caregiver. Akan lebih mudah daripada aku menjadi caregiver lansia ataupun bayi.


Enggak perlu jadi TKW ke Hongkong kalau gini caranya mah....


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Hola readers, kenalin majikan Yello yeeeaaa....



Semoga Yello betah kerja sama ni orang.wkwkwkwk.