
...Kalau ada postinganku yang membuatmu sakit hati...
...Bilang yaahh....
...Mau aku posting ulang !!...
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Kabar tentang efisiensi perusahaan ternyata bukan isapan jempol belaka. Jika kemarin hanya berhembus seperti kabar burung, sekarang malah jadi kabar resmi official dari top management.
Aku adalah salah satu diantara karyawan yang mendadak lesu dengan kabar ini. Apalagi statusku hanya karyawan kontrak dan sebentar lagi kontrakku habis. Aku yang akan mengajukan perpanjangan kontrak harus memutar otak untuk mengambil langkah. Lanjut kontrak dengan resiko di tolak atau mencari kerjaan baru.
Dan opsi pilihanku jatuh pada pilihan kedua. Aku lebih gencar mencari kerjaan di aplikasi penyedia job vacancy daripada memgajukan kontrak baru. Aku masih punya tiga bulan sebelum kontrakku benar-benar berakhir.
"Hoe !" Si rese menepuk bahuku dan membuat badanku sedikit terhuyung kedepan meja kerjaku.
"Lo bisa kan enggak ngagetin gue ?!" Sungutku kesal.
Adelia terlihat sumringah di tengah kondisi tentang wacana streamlining. Aku tahu sih dia senior trainer andalan kantor. Dia juga goodlooking. Perusahaan tidak akan melepas Adelia begitu saja. Lagian statusnya juga karyawan tetap.
"Wah, kalau gue lihat daritadi lo mantengin hape mulu ! Ada gebetan baru??" Dasar kupret ! Aku lagi gelisah dan nyari kerjaan baru eh malah Adel semena-mena nuduh aku nyari gebetan?? Wah emang minta di gebuk nih orang.
"Masalah utama gue bukan gebetan tapi PHK !" Ucapku tegas.
"Gue kira lo lanjut ama Hyuga" Kenapa si Hyuga lagi yang di bahas?????
"Gue emang ketemu ama Hyuga kemaren tapi bukan berarti..."
Karena aku kesal ditanya soal Mas Nippon, mulutku meluncur nyerocos tentang hal yang aku rahasiakan.
"Nah ! Ada kan yang lo rahasiain dari gue ! Ayok cerita. Percuma lo tutupin gue udah denger !"
Adelia udah terlanjur denger rahasiaku, enggak mungkin aku bisa mangkir lagi.
"Ok, gue mau cerita" Aku mengambil nafas perlahan dan menghembuskannya.
Adelia terlihat antusias dan pasang kuping lebar-lebar. Semamgat banget dan enggak mau ada satupun kata yang terlewat.
"Gue emang ketemu Hyuga pas belanja di Supermarket"
"Terus kalian ngobrolin apah? Kalian tukeran nomer hape kan? Atau memutuskan untuk pendekatan. Ayo dong cerita...."
"Enggak"
"Kok gitu sih???"
"Terus gue mau gimana lagi??" Oke, aku bohong. Kami ngobrol lumayan lama di antara derai hujan deras dan kilat menyambar. Menunggu hujan reda. Dan aku sering mengoreksi kosakata Indonesia yang salah di ucapkan Hyuga. Dan yang paling parah, Hyuga membayar semua belanjaan bahan rawon milik Mama.
Kalau Adelia tahu hal ini, aku rasa dia akan ember bikin pengumuman ke seantero kantor jika aku, punya gebetan, Ekspatriat pula.
"Ya paling enggak lo minta nomer hapenya dong. Untuk memulai ke jenjang berikutnya...." Adelia terlihat kesal aku tidak memanfaatkan peluang.
Aku hanya diam sembari memajukan bibir. Gimana ya? Aku punya alasan untuk enggak lanjut mengenal Hyuga.
"Seengaknya lo bisa move on dari mantan brengsek lo itu"
Aku segera menoleh kearah Adelia.
"Gue kemaren ketemu dia sih"
"Siapa?"
"Arman"
"Arman siapa? Gebetan cadangan?"
Kenapa sih karyawan sekelas Adelia yang sangat lihay menangani user bisa lupa dengan mantan brengcek. Dulu kan pernah aku ajak grebek kosan Arman.
"Mantan gue lah. Yang sekarang jadi suaminya Maya"
"Ooo."
Aku heran dengan kapasitas otak Adelia yang lupa terhadap memori lama.
"Kita lagi bahas Hyuga, kenapa jadi nyrempet mantan bangsat sih??"
"Soalnya Arman nyerobot antrian gue dan Hyuga negur Arman."
Adelia terbahak mendengar Ceritaku. Aku yakin mimik wajahku terlihat sedih kenapa dia malah ngakak? Solidaritas nya terhafap teman patut di pertanyakan nih.
"Hyuga pantes buat lo tuh Yel. Dia belain lu depan Arman. Udah lo buka hati dong Yel. Sampai kapan lo kayak gini...??"
"Masalahnya enggak sesimpel itu Del. Banyak pertimbangan yang buat gue harus melupakan Hyuga..."
"Lo bisa cerita alesan itu ke gue..."
Mungkin emang aku harus open minded agar otak Adelia tidak terpaku pada hal-hal yang mendorongku untuk mengenal lelaki Jepang itu. Masih banyak pria sebangsa dan setanah air.
Kenapa harus Hyuga??
"Del, kamu prepare ya. Bu Inez, Pak Margo sama Pak Bambang mau meeting sama Mister Kubota" Saat aku akan membuak mulut untuk bercerita, Bu Mawar yang menjabat sebagai GA di kantor, menyela obrolan kami untuk memanggil Adelia.
"Siap Bu" Jawaban Adelia terdengar lesu.
"Wah, lo dapat proyek nih??" Aku menyenggol bahu Adelia setelah Bu Mawar pergi dari hadapan kami.
"Gue mesti siap-siap nih. Kalo bisa gue harus nyampe duluan sebelum Mister Kubota hadir di ruang meeting" Adelia buru-buru merapikan Rambut. Menyisirnya dengan jari. Memeriksa pakaian. Dan ID card yang menggantung di leher.
"Mister Kubota siapa?"
Adelia berdiri dan merpikan rok spannya agar tidak terlalu naik keatas lutut.
"Direktur baru. Orang Jepang. Waktu pertama kali lihat dia gue terpesona, eh tapi pas dia memerintah gue. ' You must finish it, as soon as possible' " Adelia memeragakan bagaimana Direktur baru itu memberi perintah dengan wajah yang tegas dan terkesan tidak mau di bantah.
Aku hanya melongo melihat temanku ini semangat bekerja dan takut perintah atasan.
"Ok Yel. Gue meeting dulu ya. Lo masih punya utang penjelasan ke gue !,See you..."
🌿🌿🌿🌿🌿
Langkahku lesu saat pulang kerja sore ini. Biasanya aku akan pulang dengan Adelia. Cewek kepoan itu sedang mendapat job besar untuk menagani perekrutan karyawan perusahaan start up di kawasan Jakarta Barat. Jelas dia akan di gempur pekerjaan habis-habisan dan waktu menggibah kami akan berkurang. Aku hanya berharap dia lupa dengan cerita yang bersambung tadi siang.
Aku yang sudah sangat lelah dan tidak mau berinteraksi dengan orang (apalagi orang yang nyebelin) harus di hadapkan pada kenyataan jika aku satu halte sama si mantan laknat. Ini bisa saja terjadi, tapi seharusnya intensitas pertemuan di fasilitas publik hanya 1 banding 1000. Tapi nyatanya dia bertemu denganku. Padahal jarak kantornya dan kantorku lumayan jauh. Angin apa yang membawanya berkeliaran di area sini?
Mikirin amat, mau dia ngapain kek terserah.
Aku ingin pindah halte namun hujan keburu turun. Bateraiku habis karena aku lupa mengisi daya. Tidak bisa memesan ojek online. Aku berdiri menghindar tapi si mantan laknat emang niat cari gara-gara.
"Sini Yel, duduk. Masih hujan gede nih. Bis nya juga enggak dateng-dateng" Sapanya ramah. Seramah apapun bacotnya menyapaku, catet ya para pembaca jika aku tidak punya mental. baja untuk menerima keramahan orang yang dulu menghianatiku.
Aku tidak menanggapi. Pura-pura enggak denger. Eh dia malah nyamperin.
"Gimana kabar lo?"
Aku menyeringai bengis dengan pertanyaannya.
"Lo kan sekarang tetangga Gue. Ngapain nanya kabar?" Aku membuang muka. Malas bangett ama mantan bejat.
"Lo kerja dimana?" Tanyanya pantang menyerah.
"Mesti banget gue jawab??" Kami yang ada di pinggir halte menampakkan obrolan sewajarnya agar tidak mengundang khalayak.
"Gue minta maaf ama lo" Ucap Arman lirih dengan wajah menunduk.
"Gue enggak denger" Aku tetep pada pendirian. ACUH.
Arman menggeret lenganku agar aku mau melihat wajahnya.
"Lo jangan megang-megang gue ya. Lo udah punya bini sama anak !" Aku mendelik dengan nada menggeram.
"Gue enggak bisa tidur sebelum lo maafin gue" Dia memohon. Aku memang tidak pernah memaafkan Arman untuk kesalahannya yang sangat fatal dan membekas di otakku. Gara-gara trauma, aku tidak bisa menjalin cinta yang baru.
"Enggak bisa tidur?" Aku terbahak. " Bukannya lo bobok ama tetangga gue ya? Tanpa mikir gimana perasaan gue??"
Arman memang mengaku dia khilaf dengan keseksian dan kebohayan Maya. Hingga Maya tergoda dan mau di goyang kapan saja. Maya waktu itu juga punya pacar yang tulus dan mereka berencana menikah.
"Tolong Yel maafin gue" Cengkraman Arman begitu kuat hingga aku tak mudah melepaskan diri.
Tangan dingin yang putih menyentuh genggaman tangan Arman di lenganku.
"Kamu lepas bisa?"
Entah darimana Hyuga tiba-tiba muncul lagi untuk menolongku dari mantan laknat.
Arman akhirnya melepas cengkraman kuatnya. Orang-orang yang kebanyakan karyawan juga menatap kami daritadi.
"Gue enggak akan nyerah buat dapet maaf dari lo" Setelah berkata seperti itu busway datang dan Arman naik bis.
Aku yang paling sial dan apes. Mau naik busway juga bakalan ketemu Arman lagi. Entar dia GR dikira aku masih ngarep. Enggak naik malah Hyuga nongol disini. Aku kudu ottokke???.
"Tetangga kamu kan kenapa?" Tanya Hyuga dengan telunjuk mengarah busway.
"Biasa dia ganggu aku. Makasih ya kamu datang nolongin aku" Ucapku dengan terbata. Kalau aku jawab itu my ex boyfriend, lah malah panjang urusannya.
"Kamu enggak apa-apa kan?"
"No Hyuga. Im okey" Aku mengangguk.
"Kamu mau pulang?"
"Iya... kamu juga pulang dari bekerja?" Tanyaku balik melihat dia menggamblok tas ransel dengan pakaian yang beneran mirip teknisi komputer.
"Iya, saya juga mau naik busway" Jawabnya terbata. Aku belum bisa bedain ekspresi dan tone bicara Hyuga. Antara gugup dan mengingat kosakata tak ada bedanya. Apalagi dengan aksen Jepangnya yang kental.
"Ok, paling 20 menit lagi busway berikutnya Datang. Kita tunggu aja" Hyuga sudah dua kali menolongku dari Arman. Dia juga membayar belanjaan Mama. Jahat banget kalau aku ninggalin dia disini. Lagian masih hujan deras.
Disela-sela aku menunggu Hyuga, ada seorang pria berpakaian safari warna hitam mendekat. Laki-laki itu membungkuk hormat kemudian....
"The car is waiting sir."
Hyuga terlihat kikuk dan menggaruk tengkuk seraya memandangku.
"No, im went home by bus" Jawabnya lirih.
"Sir...."
"No, you can go" Potong Hyuga cepat
Laki-laki itu mengangguk mengerti lalu pergi.
Orang Jepang emang bersahaja banget. Meskipun punya blackcard, masih mau naik kendaraan umum. Di Jakarta, satu rumah jika penghuninya 4 orang paling enggak mobilnya lima. Parkirnya maaih nyerobot jalanan komplek. Lebih baik gunain jasa three in one daripada barengan sama keluarga. Gitu deh hidup di Jakarta.
Istimiwir banget Hyuga. Dia kerja di antar jemput. Tapi milih naik bis. Barengan sama aku pula
Ha?? Barengan sama aku??
Sama aku???
Disaat ingin menjauh tapi kenyataan tidak berbanding lurus???
🌿🌿🌿
Jangan nolak aku dong Yell.....🌿
a
selamat malam.....
makasih masih setia ama cerita enggak jelaskuu....