
hahahhah bodoh banget author kaleng rombeng. para readers jangan manut-manut aja deh kena pembodohan publik yang menyesatkan.bahkan aku bisa di ketawain anak SD.wkkkkkk.
sorry, aku baru aja nyadar.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Adelia melongok ke dalam kubikel tempat cungpret seperti aku bekerja dengan giat walau dengan status dan gaji yang memprihatinkan. Kaya sehari miskin sebulan.
"Ssttt sttt !" Mulutnya mendesis memanggilku di jam kerja. Selain hobi ngegosip nih anak juga hobi gangguin orang. Rasa-rasanya aku enggak dosa kalau nimpuk kepala dia pakai sepatu KW ku.
"Yel !" Bisiknya.
Aku mendongak dengan wajah malas. Harusnya dia tahu dong jika wajahku udah jelek kek gini dia enggak boleh ganggu aku. Apalagi dia udah njerumusin aku ke aplikasi kencan stranger.
"Baca chat gue" Setelah mengatakan apa maksud tujuannya memanggilku diapun kembali ke kubikel yang posisinya persis di depan kubikelku.
Aku mendengus. Masalah chat dia entar-entar aja. Karena aku sedang berkirim email dengan beberapa user yang sudah aku post it.
Panggilan Adelia yang tidak aku gubris membuat dia mengetuk pelan sekat kubikel untuk menarik perhatianku.
Ketika email baru saja terkirim aku langsung mengambil ponsel yang ada di saku celana sambil celingukan. Persis seperti peserta ujian yang hanya mengandalkan contekan. Tentu saja aku mahir dalam contek mencontek yang ilmunya sudah aku dapatkan sejak berseragam putih biru, di kelas 8 pula. Yang katanya masih masa-masa lugu dan polos.
Bu Wina masih stay di kursi kebesarannya sebagai kepala divisi dimana cungpret berada. Jika dia tahu aku main henpon di jam kerja, sudah pasti selain kena tegor aku berpotensi kena SP.
Ini perusahaan milik Jepang dan you know lah falsafah kerja yang mereka yakini 'time is money' !
Aman !
Aku bernafas lega. Jariku pelan-pelan menscroll layar untuk menemukan notifikasi menumpuk di ponsel yang kebanyakan dari e-commerce.
Adel.
Gimana Hyuga?
Aku mengira dia kebelet banget pengen aku buka chat nya karena urgent masalah kerjaan. Rupanya cuma nanyain Bang Nippon doangg !
Yello
Gimana apanya?
Aku membalas chat masih dengan sikap waspada dari pantauan Bu Weni.
Adel
Lu lama banget sih balas chatnya.......
Yello
Gue kerja !
Adel
Jngan ngalihin pembicaraan !
Aku berdecak. Penting banget sih tahu kabar Hyuga.
Yello
Terus??
Adel
Hyuga mana?
Yello
Ya mana saya tahu, saya bukan eomma nya !
Adel
Lo kalo di tanya jawab yang bener dong !
Adelia kesal.
Yello
Lah emang gue enggak tahu dia dimana.
Adel
Lo enggak pernah cerita tentang kencan lo waktu itu sama gue. Ini udah tiga hari. Gmn perkembangannya?
Nih anak bener-bener ya, udah bikin ulah dengan aplikasi kencan eh masih ngotot nanya tanpa rasa bersalah.
Yello
Udeh gue apus aplikasinya ! Puas Lo !
Adel.
Kok di apus? Atau jangan2 kalian berdua udah tukeran nomer hp?
Yello
Gue enggak tertarik ama Hyuga !
Adel
Dasar lo gk ada syukur-syukur nya ya...!
"Adelia, ini masih jam kerja jangan main hp !" Terdengar suara Bu Wina menggelegar menegur Adel yang main hp disaat jam kerja. Untung aku dah lihay soal ngumpetin ponsel.
"Iya Bu, siap !" Adelia yang kaget kena tegor langsung kicep dan terdengar jari-jarinya menyentuh papan keyboard untuk kembali bekerja.
Sukurin, itu karma mengganggu kerjaan orang dan karma orang sotoy.
Aku memang menghapus aplikasi kencan alay yang di install Adelia di ponselku. Aku tidak menemui kecocokan dengan Hyuga. Kami berdua masih canggung.
Dan setelah pertemuan pertama dengannya waktu itu, aku rasa itu akan menjadi pertemuan terakhir ku dengannya.
🌿🌿🌿🌿
Udara sore Jakarta masih saja Menyengat. Lalu lintas padat merayap. Aku dan Adelia duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar jalan seraya menikmati teh poci dan makan beberapa cireng bumbu rujak.
Alih-alih nyemil pringles atau Mr.Potato dan meminum brown sugar latte dari kedai chatime, kita sudah bersyukur nyemil makanan dengan kearifan lokal ini.
Padahal tiga hari yang lalu kami gajian. Kan sudah kubilang, gajiku sebagai cungpret hanya membuatku kaya sehari miskin sebulan.
"Lo belum cerita soal Hyuga sama gue !"
Sudah kuduga Adelia yang kepoan akan menanyakan ini. Bahkan dia tadi di tegur Bu Wina karena kekepoannya yang tidak bisa di tahan.
"Yah minimal lo cerita gimana Hyuga itu. Lo jangan khawatir gue enggak kayak Maya yang bakal rebut demenan lo !" Adelia kemudian mencomot satu cireng.
"Kita cuma sebatas kenalan doang. Udah abis itu kita pulang"
"Beneran cuma itu?"
"Yakali gue bohongin lu !" Adelia memang pantang menyerah.
"Terus kenapa lo apus aplikasinya?"
"Gue emang gak cocok sama dia. Dilihat dari sisi manapun kita beda Adelia...."
"Beda darimana? Lo kan manusia dia juga manusia. Bukan sejenis doraemon atau pokemon"
Aku menatapnya jengah. Kenapa disamain sama kartun Jepang??
"Ya pokoknya gue enggak cocok aja...."
Itu adalah jawaban final dariku. Hyuga memang tampan. Dia sopan sih, enggak agresif sama cewek. Dan kelihatannya dia baik. Tapi jika aku teruskan juga tidak akan berhasil. Orang tuaku tidak akan setuju aku menjalin hubungan dengan pria asing. Selain mereka takut kehilangan anak satu-satunya, Mereka juga harus meneruskan darah batak yang mengalir di tubuhku. Yah kata Ayah sih minimal serumpun Sumatra.
Dan aku rasa menjalin hubungan dengan Hyuga hanya akan membuang waktu. Walaupun sebenarnya, aku juga butuh pasangan. Setiap hari aku melihat Arman dan Maya yang terlihat bahagia dengan anak mereka.
Arman mengajari anaknya menaiki sepeda roda tiga, sedang Maya menyemangati anaknya dengan bertepuk tangan. Jujur aku iri dengan kebahagiaan mereka.
Tapi aku juga tidak bisa secepat itu menemukan pengganti Arman hanya untuk menunjukkan jika aku laku. Aku butuh pemikiran yang matang untuk menjalin hubungan serius dengan pria. Aku pernah disakiti pria, di bohongi dan di bodoh-bodohi.
Aku tak mau mengulang kembali kesalahan itu.
.
.
.
.
.
Bu Wina tergesa-gesa dengan membawa setumpuk file dari ruangan top management. Wajahnya begitu serius saat memasuki ruang dimana para cungpret atau kasta terbawah pekerja berada.
Dengan cepat Bu Wina menyuruh kami berkumpul dan memberitahukan jika perusahaanku menerima klien baru. Dan kliennya ini penting. Mereka perusahaan start up dari Singapura yang ingin menyeleksi karyawan untuk di tempatkan di Pabrik.
"Yello sama Gani periksa file yang ini yaa. Adel sama Sari file yang ini." Bu Weni menyodorkan file padaku dan pada Gani. Sedang Adelia malah menerima file dengan wajah cemberut.
"Bu, saya mending sama Yello aja.." Cicit Adelia.
"Saya enggak mau nyatuin kamu sama Yello. Kalian enggak akan fokus kerja. Ngobrol terus. Paling ngobrolin cowok di divisi marketing !" Bu Weni memang top savage di kantor. Adelia hanya menelan ludah ngeri kena omel Bu Weni.
Aku cekikikan dalam hati. Sukurin. Kalau cungpret tuh mending diem aja. Daripada kena damprat kan malu.
"Kalian harus gesit ya ngerjain ini. Soalnya direktur lama kita udah di ganti sama direktur baru. Orangnya disiplin banget dan menghargai waktu."
Direktur perusahaan ini udah di ganti?? Aku baru tahu? Ah, jongos macam aku mana paham pergantian jabatan. Mau yang jabat direktur siapa juga aku masih gini-gini aja.
"Siap Bu"
"Buruan kerjain. Direktur kita ini sering Bilang As Soon As Possible kalau ngasih perintah !"
Dari awal aku kerja disini juga udah gercep. Enggak usah di notice as soon as possible juga aku paham. Aku segera duduk kembali di kursi ergonomis yang entah kenapa akhir-akhir ini kurang nyaman aku duduki. Memulai kerja kembali dengan mantra direktur 'as soon as possible'
.
.
.
.
Aku dan Adelia makan siang di kantin. Kita enggak mau sombong menghamburkan uang dengan makan siang di luar karena kita harus berhemat. Sukur-sukur bisa menabung untuk menyenangkan orang tua.
Ini adalah adventage dari kantor. Kita dapat jatah makan siang. Makanannya enak kok. Memenuhi standar empat sehat lima Aqua. Biar kita bisa lebih berkonsentrasi saat bekerja.
"Gue denger-denger direktur baru kita mau streamlining" Bisik Adelia mulai bergosip di tengah ramainya kantin.
"Wah, gue bisa kena. Bentar lagi kontrak gue kan abis" Aku seketika ketar ketir jika aku termasuk deretan karyawan yang di depak dari kantor. Inilah resiko statusku yang outsourcing. Aku bisa hengkang kapan saja jika sudah tidak dibutuhkan.
"Enggak mungkin lah Yel. Kamu kan orangnya multitasking. Di perintah kesono kemari gercep dan enggak pernah telat. Pasti itu dijadiin pertimbangan buat nahan lo disini" .
Aku memang sangat multitasking. Saking multitasking nya, aku bisa kok bergaul sama Eko si OB untuk menfotokopi file yang jumlahnya bejibun trus nganter surat. Apa alasan itu cukup untuk tidak memecatku??
"Gue enggak berharap sih, dan kayaknya gue harus ancang-ancang nyari kerjaan baru" Aku meneguk aqua untuk mengusir rasa kekhawatiran ku.
"Gue juga pengen resign. Lo tau Anton kan?"
Aku mengangguk.
"Dia nawarin kerjaan jadi agen property. Fee nya lumayan lho kalau kita berhasil jual satu unit apartemen"
"Gue enggak bakat dagang"
"Coba lo apply lowongan melalui trovit atau jobstreet. Disana banyak lowongan"
"Iya, gue mau coba"
Aku kemudian berdiri karena kebelet panggilan alam.
"Lo mau kemana?" Cegah Adelia.
"Toilet. Lo langsung balik aja ke kantor. Gue abis ini nyusul."
Saat aku kembali dari toilet dan berjalan menunu ruanganku, sekilas aku melihat sosok pria yang berjalan cepat memasuki lift diikuti beberapa karyawan dari top menegement.
Pria itu sepertinya sosok penting di kantor ini hingga Pak Wahyu yang jabatannya GM saja seperti tunduk akan kata-kata dari pria itu.
Mungkin itu direktur yang baru.
Dari penampakannya sih dia muda dan wajahnya seperti lelaki Jepang. Namanya juga perusahaan Jeoang. Ya wajar kalau ada petinggi dari Jepang. Aku pernah sih lihat beberapa. Tapi tidak si shimmering shining splendid seperti yang masuk ke lift tadi.
Ah, kenapa aku mikir tentang cowok Jepang lagi...
Lupain Hyuga !!!!!
🌿🌿🌿🌿🌿
Move on sama Si Arman tiga tahun baru berhasil.Nah ini siruh move on sama Mas Jepang. Manakuatt?????
Like ya guys biar aku tambah cemungut lanjutin novel gak jelas ini.wkwkwwk