AS SOON AS POSSIBLE

AS SOON AS POSSIBLE
Na Shi JEANNY !



...Orang laen mah enak bangun tidur di chat spam cowoknya....


...Aku bangun tidur di lempar sapu sama majikan....


...๐ŸŒฟjongossejati๐ŸŒฟ...


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Kenapa aku harus sesak nafas kalau Hyuga di datengin seorang cewek yang cuakep ke kantor?? Emang salah??


Cewek itu manggil Hyuga sayang, meskipun aku enggak lihat Hyuga membalas sapaan cewek itu dengan panggilan sayang juga atau darling honey bunny sweety atau sapaan lain yang biasa di ucapkan laki-laki Jepun kepada kekasihnya.


Mungkin setelah Hyuga mengenalku dari aplikasi kencan stranger itu dia nyari peruntungan baru dan kenal cewek ini.


Dan, seisi kantor heboh dong Mister Kubota yang di kenal professional, teliti dan loyal dalam pekerjaan mendadak di datangi oleh wanita yang cantik, legit, seksi, tinggi semampai. Kayak enggak nyangka gitu Mister Kubota dapet cewek yang nyaris sempurna. Selera dia tinggi juga ternyata.


Dan aku? Apalah daya, hanya ciwi dengan posisi jongos di kantor dan berpenampilan layaknya cewek B aja yang telat nikah.


Aku harus menyadarkan diri. Tidak mungkin kencan dari dunia online bisa berlanjut di dunia nyata.


Pagi ini, aku bersemangat untuk bekerja walaupun kurang dari sebulan kontrak kerjaku bersama Brighton akan benar-benar berakhir. Isu-isu tentang efisiensi pegawai yang sempat menyeruak akhirnya redam saat ada kabar dari official jika perusahaan tidak harus mem- PHK pegawai karena ada beberapa yang memang kontraknya berakhir tanpa di pecat. Aku termasuk di dalamnya. Aku akan membuat kesan baik sebagai pegawai sebelum aku benar-benar hengkang dari sini. Meskipun aku tahu Brighton tidak akan rugi jika melempar jongos seperti aku keluar dari perusahaan mereka.


Aku menemukan Adelia yang akhir-akhir ini jarang aku temui. Di chat room pun dia juga absen bacot. Biasanya dia sering terpancing chat maha enggak penting saat ada temen yang ngobrolin gosip terbaru. Termasuk gibahin Hyuga yang sering di datengin cewek cakep di kantor. Yang cewek itu masih misteri. Apa pacarnya, temennya, gebetannya, istrinya apa keluarganya. Banyak yang berspekulasi dengan hubungan mereka. Ada yang nyebut mereka pacaran. Ada juga yang tidak setuju dan menyebut hubungan itu hanya pertemanan. Cewek cantik itu sering menggandeng tangan Hyuga dengan senyum sumringah. Tapi tidak ada yang menangkap ekspresi serupa di wajah Hyuga. Terkesan datar, dan seperti tidak nyaman.


Bisa aja kan cuma kamuflase. Biar kesan direktur yang profesional melekat.


"Kemana aja lo !" Tanpa permisi aku mengagetkan Adelia yang meringkuk di kubikelnya di jam istirahat. Adelia terlonjak kaget seraya mengelus dada.


"Bisa kan lo enggak ngagetin gue?? Adelia mendelik bersyukur jantungnya tidak lepas karena aku kagetin.


"Sorry" Jawabku berbisik dengan senyum melebar. Aku menarik kursi ergonomisku mendekat ke kubikelnya.


"Lagi ngapain sih Del?" Tanyaku saat merasa di abaikan. Adelia sedang sibuk dengan ponselnya.


Cewek itu mendesah lantas meletakkan ponselnya di meja.


" Gue lagi nyari kerjaan baru" Bisiknya. Kepalanya celingukan dengan mata memindai ke seluruh ruangan. Mengantisipasi jika ada orang yang kemungkinan mendengar pembicaraan kami.


"Kerjaan baru?" Alisku mengernyit. " Harusnya gue yang nyari kerjaan baru. Bukan lo"


"Gue udah enggak nyaman. Gue bosen" Keluhnya.


"Lo kan udah karyawan tetap. Dan lo selalu megang user bonafit. Kenapa malah nyari kerjaan baru?" Adelia lebih senior daripada aku. Wajahnya juga lebih manis daripada aku. Wajah goodlooking kan juga menentukan jenjang karir. Bukan cuma semangat kerja doang.


Adelia malah mendekat ke arahku seperti duduk di angkot pas jam berangkat sekolah.


"Kalau lo mau tau, banyak banget perusahaan di luar sana yang bisa kasih gaji lebih tinggi dari sini" Bisiknya lagi.


Ah masa???


"Kerja apaan? Rata-rata kan mendekati UMR" Aku tak percaya pekerjaan dengan gaji tinggi bertebaran di aplikasi online lowongan pekerjaan. Kalaupun ada kualifikasinya seabreg dengan syarat selangit.


"Nih, gue apply kerja marketing. Lumayan, kalau gue bisa jual satu unit penthouse fee nya lumayan. Belum lagi dapat gaji pokok. Kalau lo mau, gue apply punya lo sekalian"


Aku tidak langsung percaya ucapan Adelia. Memang benar sih kalau kerja marketing itu selain dapat gaji, tunjangan dan jenjang karir juga dapat fee kalau laku. Masalahnya aku tidak ada bakat dagang. Jual skincare sama tas sophie martin saja enggak laku apalagi jual satu unit penthouse yang rata-rata pembelinya holkay. Mana ada aku koneksi begitu? Wajahku juga enggak mendukung. Jerawat tinggal satu aja susah ngilanginnya.


"Enggak usah repot-repot deh, gue enggak mau kerja marketing. Enggak ada bakat" Tolakku seraya mengangkat bahu. Aku juga trauma jika Adelia yang apply . Ntar kejadiannya kayak kenal Hyuga.


"Selain marketing ada banyak lowongan lain nih. Salary yang di tawarin juga lumayan. Lo juga perlu jenjang karir Yel"


"Gue sebenernya pengen enggak kerja dengan alasan nikah gitu, tapi nikah ama siapa?" Tiba-tiba aku mengeluh. Bagi wanita seperti aku, nikah adalah solusi. Tapi kalau jomblo karatan kayak gini sapa yang mau???


Adelia tergelak bebas mendengar keluh kesahku yang menyinggung tentang pernikahan. Yang mana ini adalah topik yang selalu aku hindari. Saat ada pertemuan di Gereja HKBP, aku banyak di goda oleh jemaat lain menanyakan mana gebetanku. Ngeselin banget kan???


"Kemaren ada Hyuga lo enggak mau. Sekarang nyaho kan lo dia sering di samperin cewek" Adelia semakin terbahak.


"Bisa jadi kan cewek itu temannya" Aku berkilah enggak terima.


"Lo cemburu kan Yel? Ngaku !" Adelia menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Anggap aja enggak jodoh !"Aku mendengkus.


"Ciye, diem-diem ngarep kan lo. Sunat lo pakai alesan !"


Aku memundurkan kursi sebal dengan godaan Temanku. Dia sendiri juga jomblo akut tapi aku tak pernah menggodanya.


"Kita lagi bahas kerjaan baru. Jangan nyinggung Hyuga lagi" Aku segera mengalihkan topik pembicaraan agar tidak melebar kemana-mana apalagi yang di omongin Pak Direktur.


"Ok, kita bahas kerjaan aja" Adelia menghentikan tawanya dengan tangan menyapu air mata yang di timbulkan karena kebanyakan menertawakan aku.


"Lo udah nemu kerjaan yang pas?" Tanyaku kemudian.


"Udah" Jawabnya tersenyum lebar.


"Terus gue harus gimana?" Aku terlihat pasrah. Enggak mungkin kan aku nganggur setelah kontrakku habis. Nganggur terus ada yang lamar sih gak apa-apa.


"Coba lo cari-cari dulu di job street atau Linkldn.Sertain cv sama pemgalaman kerja lo"


"Pengalaman kerja apa? Posisi gue disini cuma trainee, jongos. Gue bukan fresh grad shining like a diamond. Enggak akan ada yang mau ama Gue" Aku tak yakin. Biasanya perusahaan mencari yang fresh graduate. Mana ada perusahaan menerima yang berumur kayak aku?


"Lo kan pernah bekerja di perusahaan migas di Amerika. Lo punya sertifikat ielts kan? Nah itu bisa buat modal"


"Emang sih, tapi posisi gue cuma pegawai rendahan. Kita bekerja di dalam negeri. Enggak perlu ielts"


"Lo coba aja dulu. Kali aja ada rejeki buat lo"


Aku tersenyum kecut tak yakin bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi hanya dengan pengalaman kecil yang aku miliki.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Memang benar apa kata Adelia, aku harus mencari pekerjaan baru sebelum kontrakku benar-benar habis. Aku mencoba mengisntall beberapa aplikasi lowongan kerja yang tersedia di appstore. Ini adalah salah satu bentuk usahaku. Jika tidak berhasil juga maka dengan terpaksa aku bilang ke Mama kalau aku minta di cariin pariban.


"Selamat malam Yell lo.." Sapa seorang pria dengan suara yang aku hafal di luar kepala. Suara berat dengan aksen Jepangnya yang kentara.


Aku menoleh dan Hyuga tersenyum lebar. Dia masih fresh mengenakan pakaian resmi. Jas warna hitam dengan kemeja warna Biru. Parfumnya juga masih wangi.


"Selamat malam mister" Aku membalas sapaannya dengan kaki mundur selangkah. Aku tidak mau jadi bahan gosipan orang yang sedang lalu lalang di lobbi seraya menunggu hujan reda.


"Kamu menunggu hujan?"


Enggak ! Nungguin jodoh ! Ya nungguin hujan reda lah....Entah kenapa aku tiba-tiba dongkol.


"Mari saya antar pulang" Tawarnya.


"Thanks mister. Tidak perlu. Saya bisa order taksi" Tolakku halus.


"Di sana masih ada anggin" Aku selalu ingin tertawa jika Hyuga mengucapkan kosakata salah dan itu lucu menurutku. Ekspresi nya seperti anak kecil.


"Angin" Ralatku.


"Angin?" Dia mengucapkannya dengan benar.


"Yes, correct" Aku mengacungkan jari jempol untuk mengapresiasinya.


"Saya ada baca file di HRD kalau masa kontrak kerja kamu finish. Benar kah?"


Aku terkesiap, Hyuga repot-repot baca list karyawan yang mau hengkang sebentar lagi.


"Ya, itu benar" Jawabku singkat.


"Kamu ada buat panjang kontrak sama Brighton?"


"Enggak Sir. Saya mau resign saja"


"Padahal saya mau rekomendasi kamu jadi pegawai tetap"


Aku yang tadinya menatap ke luar gedung yang masih hujan deras mendadak mengalihkan pandangan ke Hyuga. Dia mau jadiin aku karyawan tetap?? Yang bener??


"Ah yang benar sir?" Tanyaku tak percaya.


"Iya, saya sudah pikir"


Sejenak aku terdiam, aku sebenarnya ingin menerima tawaran itu tapi aku juga ingin mencoba peruntungan baru. Mungkin dengan resign dari sini aku enggak perlu liat wajah Hyuga setiap hari.


" No sir. Saya masih capek bekerja. Pengen di rumah aja" Jawabku dengan alasan ngaco. Aku bukan sok suci. Aku butuh kerjaan.


"Tapi saya mau kamu disini" Mas Jepang kok ngeyel ya kalau di bilangin??!!!!


"Saya enggak mau." Jawabku tegas.


Hyuga nampak kebingungan setelah mengetahui jawabanku. Kenapa sekarang dia mau banget mempertahankanku ada disini. Hey, perusahaan enggak akan bangkrut hanya karena menendang satu cungpret.


"Saya bisa naikin kamu punya salary" Tawarnya. Dia ini kenapa sih? Masalahnya alesan ku untuk resign tidak sesederhana itu. Bukan hanya masalah salary walaupun pikiranku suka mengganjal gara-gara gaji pas-pasan tapi kerja romusha.


"No, saya masih mau istirahat" Jawabku final.


Coba kamu enggak punya pacar, saya masih mau disini !


"Ok, give me spesifik reason" Dia terlihat frustrasi.


Reason??? Kan aku udah bilang tadi. Masa harus di perjelas.


"Alasannya karena saya malas kerja sir capek" Aku bernada datar.


"Hanya itu?" Dia seperti tak percaya. Aku hanya diam. Aku merasa aku sudah menjawab alasan ku secara gamblang walaupun ngaco.


" Not because Jeanny?"


Hah?? Jeanny?? Jeanny alias Juleha?? Aku tertawa dalam hati buat apa aku keluat cuma gara-gara Jeanny. Dia mah tiap hari ngeluh kerja bareng Pak Agus. Apalagi Hyuga ngasih kerjaan banyak buat Pak Agus biar enggak iseng.


"Jeanny?" Alisku mengernyit.


Hyuga berdehem sebentar.


"Yeaah, Jeanny. She came to the office, yesterday"


Eh, jadi nama cewek yang sering ke kantor itu Jeanny????


"No sir. Tidak ada hubungannya" Aku berkilah. Padahal aku memang menghindar dari sakit hati yang aku pendam sendiri dan entah kenapa hatiku bisa nyesek walau sedikit.


"Fine, tapi saya ada kerja buat kamu. Kalau kamu satuju saya bisa kasih kamu resign" Ini semacam penawaran kah?


"Kerja?" Aku masih tak paham. Kerja apa yang dimaksud. Tiap hari aku sudah kerja.


"Ya, besok kamu harus pergi sama saya pulang kerja"


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


di kantor enggak ada yello syedihh akutuuu....