
Sore hari, Hyuga yang pulang dari bekerja menemukanku di taman belakang. Aku mendengar ucapannya saat masuk ke rumah, namun aku enggan menyambut. Aku lelah karena membersihkan rumah dan memandikan Machintosh yang hari ini seperti menguji kesabaranku. Beberapa hari bersamanya menjadikanku tahu kebiasaan anjing sok imut anak majikanku. Seharian ini dia tidak mau makan camilan atau makanan anjing yang biasanya dia makan.
Aku tentu saja ingat pesan majikanku yang super baik jika anaknya itu suka makanan apapun. Termasuk makanan manusia.
Jadi aku kudu peka maunya si anjing manja apa. Aku menyodorkan beberapa makanan dan dia membuang muka. Bagus banget kelakuan Machintosh. Pantesan jika ada temen yang nyebelin suka dikatain anjing.
Dan ketika aku menyodorkan ponsel yang bergambar salad dengan dressing menggoda, Machintosh langsung mengendus ponselku. Jadi, itu yang dimau anak majikan tersayang?
Masalahnya, pengetahuan ku seputaran dunia masak dan perdapuran tidak banyak. Untungnya ada ponsel di dukung wifi lancar jaya. Ada banyak video di youtube dan aku bisa langsung praktek.
Aku sih enggak kesenengan ya nonton video youtube tanpa kuota dan praktek masak. Sama aja kan aku enggak masakin Hyuga tapi anaknya ngebihin manusi tulen dalam hal makanan.
"Apa kamu ada kesulitan hari ini?" Tanya majikanku seraya mendekati Machintosh dan mengelus kepalanya. Sedang si anjing sok imut keenakan di elus.
"Oh, Enggak. Hari ini Machintosh pintar. He is good boy" Aku tersenyum menutupi kekesalannya. Pengen banget bilang 'anak kamu manja' tapi mending di tahan. Aku belum merasakan gaji tujuh juta masuk rekening. Biarkan aku menanam tebu di pinggir bibir.
"Saya tahu. Machintosh hari ini makan apa? Saya merasa dia bosan sama makanan biasa" Emang ya, hubungan mereka tidak di ragukan lagi. Hyuga memang ayah Machintosh.
"Dia tadi makan salad with dressing olive oil and mayo"
Sekalian diet kan manis????
"Aku mau bilang kalau persediaan makan kelinci sudah mau habis. So, apa aku harus pergi belanja?"
Hyuga duduk bersebelahan Denganku di tangga dekat teras belakang. Seraya menikmati semilir angin. Dan melihat Machintosh yang matanya berkedip-kedip ingin tidur.
"Of course, kamu harus pergi belanja. Maybe, saya bisa menulis list belanja sekarang agar tidak lupa." Hyuga pun merogoh saku dalam kemejanya untuk mengambil pulpen yang terselip disana dan merogoh kertas di saku celananya.
Hyuga selalu siap ginian ya???
"Kamu selalu bawa-bawa buku kecil?" Tunjukku ke bukunya. Sedang dia siap menulis.
"Iya, saya suka mencatat hal baru yang saya jumpa. Like sign in public area" Senyumnya kembali mengembang. Seolah enggak sebel kalau aku suka nanya-nanya padahal dia baru aja pulang kerja.
Majikanku mulai menulis, sesekali matanya menerawang menatap kebun dan menulis kembali. Dia pasti memikirkan apa yang di beli dan harus di tulis dengan bahasa Indonesia. Aku membiarkan dia mencatat sendiri. Itung-itung belajar nanti kalau salah Bu Guru Yello yang koreksi kesalahan majikan.
Majikanku pun selesai menulis dan memberikan catatan itu padaku.
Tulisannya rapi sih seperti tulisan siswa paling rajin di kelas dan diangkat jadi ketua kelas. Tapi isinya membuat alisku berkerut.
"Ini apa sih?" Tunjukku di kertas.
"Itu carrot" Jawabnya dengan wajah serius.
"Tapi kamu nulis woltel. Ini salah harusnya Wortel. Aku tau sih maksud kamu tapi kan kamu nulisnya mesti bener. Pakai huruf R bukan L." Lidahku ikut melafalkan R dan L dengan jelas seolah Hyuga itu adalah balita yang mulai bisa bicara.
"Aku lupa" Dia menggaruk tengkuk tersenyum malu.
"Makanya kamu harus banyak belajar Bahasa Indonesia biar kamu bener nulisnya. Kan ada aku disini yang bakal ngajarin kamu sampai bisa. Itu gunanya temen Bang." Kataku percaya diri. Lupa kalau Hyuga majikan yang menggajiku 7 juta rupiah.
"Bang??"
Aduh, kosakata baru. Explain please Yello. Aku tersenyum paksa.
"Bang itu sapaan kepada Seseorang. Kepada laki-laki. Bisa ke Brother or Boyfriend" Aku menjelaskan sedetail yang aku bisa. Kalau buka KBBI enggak keburu. Bos Jepang butuhnya as soon as possible.
"Saya?" Hyuga menunjuk wajahnya sendiri "Bang?" Lanjutnya tersenyum geli.
"Iya, kamu Bang" Kan dia cowok. Ya abang lah...
"Kalau Bang pasangannya apa?"
Kenapa ya dia nanya pasangan Abang?? Aku sekilas menatapnya dengan wajah penasaran. Aku enggak boleh vuriga berlebihan. Kan dia cuma nanya.
"Kalau Abang pasangannya Eneng" Jawabku enteng.
"Saya Bang Hyuga dan kamu Eneng Yello" TTunjuknya dengan senyum sumringah. Dia mungkin senang nemu jawaban. Lah saya yang deh-degan pak Bos. Di pasangin ama Bang Hyuga. Meskipun aku tahu itu cuma contoh pengucapan saja. Gini banget kalau gersang dari hubungan percintaan. Dipanggil Eneng aja udah gelagapan.
"Yes, semacam itu" Jawabku menunduk, senang. Senyum-senyum enggak jelas.
"Ada yang kurang Eneng Yello?"
Aku sedikit tersentak dia memanggilku eneng.
"Oh, aku rasa udah cukup. Ini udah banyak banget" Jawabku sedikit mengeluh. Membayangkan membawa kentang dan wortel masing-masing 3kg, sayuran hijau, paprika dan makanan kaleng. Pasti itu berat banget. Sedangkan aku jarang belanja banyak.
"Kalau ada yang miss, kamu bilang saja sama saya."
"Enggak kok. Ini udah banyak. Kamu ngerawat mereka kayak gini cost nya banyak dong ya..." Aku penasaran, gimana Bos Jepangku ini menyikapi makanan anaknya yang melebihi biaya makananku sendiri yang manusia.
"Saya senang merawat mereka."
"Apalagi Machintosh ,belum makanannya, sabun ama shampo ke dokter hewan dan segala *****k bengeknya." Entah kenapa aku yang mengeluh, padahal majikanku yang keluar uang.
"Te*tek?" Matanya melebar dengan tangan menyilang di dada.
Aku berdecak kesal karena salah milih kosakata sensitif. Terpaksa aku jelasin. Kemaren sunat sekarang Te*tek.
"Kamu tahu?"
Dia malah mengangguk.
"Belajar darimana?" Aku sekarang jadi penasaran, kenapa dia bisa tahu kata-kata vulgar alat v*ital.
"Saya ada sering ke club. Teman saya hostes kasih saya tahu"
Hyuga malah semakin menjadi aja pergaulannya. Dia kenal hostes. Di grepe-grepe juga enggak? Mari kita tanya.
"Kamu bergaul sama mereka?" Aku mendadak ngeri. Takut kalau jawaban dia lebih vulgar dan dia menyakiti hatiku...
"Iya, mereka baik dan kasih saya ajar tentang bahasa dan pergaulan"
"And you drink alcohol and play with them?" Selidikku.
"No, im busy man. Saya tidak sembarang berhubungan with random girls." Jawaban dia bisa aku percaya enggak sih? Mana mungkin disana dia enggak di ajak main.
Aku hanya mengangguk pura-pura percaya.
"Ini sudah hampir gelap. Kamu bisa mandi sekarang".
Langit sudah semakin senja. Kami mengobrol sampai lupa waktu kalau bosku juga butuh me time. Bosku berdiri bersiap masuk rumah.
"Ok, saya mandi. Kamu mau ikut?"
Mataku pasti membelalak lebar dengar ajakan bosku. Apalagi kita baru saja membahas kosakata sensitif.
"Ikut mandi?" Tanyaku ketularan songong Hyuga
Giliran Hyuga kelihatan bingung dengan alis mengerut.
"Masuk rumah" Jawabnya terbata dengan jari menunjuk ke dalam rumah.
"Enggak, kamu aja" Akupun meringis Malu.
Ternyata cuma perasaanku saja yang sensi.
🐮🐮🐮🐮
Maaf gaes, baru update karena baru dapat pencerahan.
Note : Kalau cerita ini menurut kalian tidak sesuai dengan ekspektasi, atau up nya lama silahkan di unfave saja. Bukan saya sombong, saya merasa enggak enak karena mungkin mem PHP pembaca. Dan cerita ini tidak sama dengan harapan pembaca. Tidak akan ada disini pembantu yang terpaksa menikah ama majikan jelmaan kulkas 10 pintu, disiksa, ada pelakornya. terus majikannya bucin. Ini cuma cerita receh pembantu merangkap guru bhs indonesia yang kebetulan ngasuh anjing manja. Hehehe......
Ok, tetep jaga kesehatan ya.......Patuhi protokol kesehatan.
Good night and see you...