
...Jaga jarak anda....
...jangan terlalu dekat....
...Nanti sayang....
🌿🌿🌿🌿🌿
Kerjaan meng-observasi ini menjemukan banget. Emang sih, aku cuma diam mengamati para pekerja, bagaimana jalankan mesin. Ada yang di kerjain robot. Ini perusahaan otomotif milik Jepang yang merakit body mobil LCGC.
Aku menguap beberapa kali karena lelah dan merasa bosan. Tapi aku harus paksain melek biar enggak ada yang ketinggalan segala proses yang ada di pabrik ini. Kalau pabrik ini pernah masuk di program tv Laptop si Unyil, mendingan aku nonton acara itu ajah.
Kesadaranku hilang sebentar saat dua tangan sigap menagkapku dari belakang ketika aku akan Terjatuh. Helm yang aku kenakan sampai jatuh.
"Be careful Yello"
Aku segera melengos kearah belakang, dan Hyuga yang menyelamatkan aku saat terjatuh. Dia tersenyum, senyumnya seperti biasa. Seperti Hyuga yang aku kenal baik. Bukan Hyuga bos yang nyebelin. Dan bodohnya, aku malah senyum balik. Gini banget deh kalau hidup gersang dari kisah asmara. Gampang banget terperdaya.
"Thank you Bos" Aku tersenyum kikuk.
"Bagaimana? semuanya sudah?" Tanya nya melihatku membawa catatan.
Mau bilang sudah, nyatanya belum. Entar dia malah ngajak balik dan aku belum nyatat proses di finishing. Mau bilang belum, bakalan tambah malem aku ada disini.
"Belum Sir" Jawabku memilih jujur.
"Ok, saya juga ada meeting malam ini with management. Kamu lanjut saja ya?" Dia menepuk pundak. Dan menyerahkan helm APD yang sempat di ambilkannya tadi.
Aku menunduk saat Hyuga pergi. Katanya meeting. Jam masih menunjukkan pukul 19.00 tapi aku sudah letih.
Untungnya aku udah makan pas jam 18.00 tadi. Kalau enggak, aku udah oleng dan bikin heboh karyawan pabrik.
.
.
.
.
Dia muncul kembali saat aku sudah merampungkan observasiku di shift malam di jam 9 malam. Wajahnya masih fresh seperti pagi tadi dia berangkat. Masih wangi, semriwing, bajunya juga masih rapi. Dan itu membuat emosiku tersentil. Dia ngapain aja sih dari tadi? Sedangkan aku harus keliling seisi pabrik yang luasnya minta ampun. Gendang telinga kayak mau pecah sekaligus geli denger suara mesin. Aku yakin 1000 % jika riasanku udah luntur. Kulitku terasa berdebu lengket karena keringat. Badanku pasti juga bau kecut.
"Sudah selesai kan?" Tanya nya dengan logat Jepun yang kental.
"Sudah semua Sir" Aku mendadak jadi deg-degan jika dia mau nambah observasi lagi.
"Ok, kalau gitu kita bisa balik"
Yeaaay, ajakan pulang emang terdengar seperti angin surga. Aku bisa segera melepas penat. Mandi pakai sabun wangi terus bobok deh.
Aku segera berlarian masuk ke kabin belakang seperti tadi pagi. Pak direktur kan kemana-mana diantar sopir.
Begitu aku masuk dan merebahkan diri, suara Hyuga dari arah depan membuatku terkejut.
"Kenapa kamu di belakang duduk. Kamu sit here"
Eh, sopir Hyuga kemana? Kok jadi Hyuga sekarang yang nyetir??
"Where is your driver?" Aku menunjuk ke arah kemudi masih belum paham.
"Oh, dia pulang. Her wife katanya sakit"
Dengan malas aku pindah duduk di depan. Aku sangat lelah, aku enggak peduli lagi, aku mau rebahan dengan memejamkan mata.
Wangi aroma tubuh Hyuga terasa mendekat di indera penciumanku. Aku membuka mata dan Hyuga sudah ada persis di depan tubuhku. Mas Jepun mau ngapain? Mataku melebar.
"Maaf, saya harus pasang kamu punya safety belt." Dia menarik sabuk pengaman untukku. Jarak yang kurang dari sejengkal membuat aku yang udah gerah tambah kepanasan.
"Terima kasih" Ucapku ketika dia kembali pada posisi di depan kemudi. Tapi wanginya kayak masih nempel di ujung hidung.
Organ di dalam tubuhku kembali berfungsi normal. Aku yang sudah lama tidak dekat dengan pria manapun membuatku jadi aneh. Gimana kalau aku berlama-lama kerja sama orang ini??
Siapapun, help me pleaseeeee !!!
🌿🌿🌿🌿🌿
"Loh, kita tidak balik ke Jakarta?" Tanyaku melongo melihat Hyuga memarkirkan mobilnya di depan hotel.
Hotel guys, Yello takuuuttt.
"Kita tidak bisa pulang malam ini karena saya masih ada meeting besok pagi." Katanya seraya mematikan mesin mobil.
Jantung yang tadinya udah normal dan baik-baik saja, mendadak eror lagi. Kita jadi nginap nih? Di hotel sama Mas Jepun.
Seketika halusinasi ku mengarah pada adegan mantap-mantam mantan brengcek sama tetangga laknat.
Aku cuma berdua sama Hyuga dan aku berharap enggak ada pihak ketiga.
"Yel Lo" Tangan Hyuga menyadarkanku seperti menyadarkan orang melamun. Aku terksiap kepergok mikir mesum.
"Ayo turun kita. Saya sudah ngantuk" Katanya kemudian mengusap wajah.
Aku kira Hyuga enggak ngantuk loh, dia ngantuk aja masih kelihatan fresh.
Dikira dia doang yang ngantuk, aku aja kepikiran mau tidur di dalem mobil.
Sebelum turun dia menyerahkan secarik kertas yang di robek dari buku tebalnya yang mirip punya Kang Kredit panci.
"Ini jadwal kamu besok."
Aku menerima kertas itu tanpa membaca dan langsung jawab iya.
Iyain aja deh. Biar cepet.
Dan aku bersyukur lega saat Hyuga kembali dari meja resepsionis, dia membawa 2 kunci. Artinya, kita akan masuk ke kamar masing-masing. Tanpa basa-basi selamat malam atau ucapan tidur aku langsung masuk Kamar. Membuka ras ransel berisi baju ganti dan mandi dengan riang. Abis itu bobok, biar kantung mata enggak tambah hitam.
Aku keluar kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Aku kan mikirnya cuma sendirian di kamar inj jadi aku leluasa dong mau ngapain aja.
Tapi begit pintu kamar mandi terbuka, ada sesosok pria berpakaian kaos warna putih dan celana tidur panjang masuk ke kamarku.
"Mister ngapain masuk kamar saya??" Serangku langsung dengan mata melotot. Tanganku terlipat depan dada.
"Sorry Yello, saya cuma kasih mau kamu makanan" Jawaban nya rancu banget karena kaget aku mergokin dia masuk tanpa izin.
"Mister enggak ketuk pintu dulu??" Aku masih ketakutan.
"Saya sudah kasih ketuk kamu punya pintu, tapi kamu tidak jawab." Katanya menggeleng seperti tidak salah.
"Jadi saya masuk, pintunya tidak dikunci, tangan saya sudah panas" Aku seketika sadar dia sedang bawa mangkuk di kedua tangannya.
Aku seketika jadi malu sendiri.
"Mister kenapa enggak nelpon saya kalau mau ngasih saya makanan" Aku meraih mangkuk berisi mie instan dari kedua tangannya. Emang bener panas dan aku segera menaruhnya di meja.
"Saya tidak punya kamu nomer telpon" Jawabnya dengan senyuman Hyuga, Hyuga yang aku kenal di starbucks.
"Oh, jadi Mister mau simpan nomer telpon saya?" Aku mengkonfirmasi.
"Boleh, kalau kamu tidak ke ke keber..." Dia mengingat kosakatanya lagi
"Keberatan Sir" Jawabku menahan tawa. Dia lucu kalau lagi ngingat-ngingat kosakata. Matanya bisa kesana kemari.
"Iya, keberatan" Dia terkekeh hingga matanya tambah menyipit.
Aku mengambil pulpen dari dalam tas dan menuliskan nomer ponsel di secarik kertas. Kemudian menyerahkan kertas kecil itu padanya. Dia mengangguk khas orang Jepang berterima kasih.
"Terima kasih makanannya Mister" Kataku kikuk sudah menyangkanya yang tidak-tidak.
"Ini bukan jam kerja, kamu bolreh panggil saya Hyuga" Kalau gini dia mendadak aneh dan lupa pelafalan Indonesia.
"Boleh Hyuga. bukan bolreh. Bisa?"
"*** leh? Boleh" Dia tertawa karena berhasil mengucapkan pelafalan dengan baik.
"Good," Aku ikut tertawa. Lalu aku berubah menjadi baik dan kekesalanku padanya mendadak lenyap.
"Itu mie saya bawa dari Jepang" Dia mengernyitkan alis.
"Maaf, kalau kamu muslim kamu enggak *** leh makan itu" Dia kikuk seperti merasa bersalah memberiku makanan impor. Tanpa tau halal atau tidak. Umat muslim harus makan makanan halal.
"Saya akan makan ini. Saya non muslim. Thank you makanannya" Ucapku.
"Saya kembali ke kamar saya. Kamu makan saja nanti kamu tidur" Senyumnya mengembang.
Enggak ada yang aneh sama Hyuga. Dia hanya mencoba professional jika dalam lingkup pekerjaan. Aku salut juga, tapi aku akui dia emang bos yang nyebelin.
Dia kok bisa masak mie di hotel ya?
Masa dia bawa kompor sama panci dari rumah????
🌿🌿🌿🌿🌿
aku tetep Hyuga kamu kok.wkwkwk.