
...Kalau cowok lokal membuatmu patah hati, coba sama yang impor? Kali aja kainnya bagus awet adem gak gampang kusut......
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
Jika keberuntungan belum berpihak padamu maka teruslah berusaha.
Aku sudah berusaha. Dalam hal pekerjaan aku juga mencoba peruntungan baru hingga apply lamaran ke Amerika. Aku di terima walau jadi staf rendahan dan harus berpindah tempat. Sekarang aku juga bersyukur meskipun harus jadi karyawan outsourcing dengan gaji yang belum menyentuh UMR Jakarta. Aku hanya karyawan kontrak di salah satu perusahaan milik Jepang. Posisiku hanya trainee. Jongos yang kantornya paling pojok dan jarang tersentuh tangan-tangan atasan sekelas direktur.
Paling-paling hanya sekelas Manager yang sering menjamah ranah para jongos seperti kami. Memberi kami perintah untuk menyeleksi karyawan sesuai permintaan User.
Dalam hal percintaan, aku payah. Aku dihianati pacar dan sahabatku sendiri. Arman berselingkuh dengan Maya, sahabatku yang apesnya juga merangkap tetangga depan rumah.
Arman yang mengaku sakit menolak aku ajak malam mingguan. Karena aku terus kepikiran Arman, aku memutuskan untuk mengunjungi kosannya. Dan voilla....!!
Aku dan Adelia terkejut mendapati Arman dan Maya saling pagut, saling mengulum bahkan Maya berada pada posisi diatas. Kedua tangan Arman meremas benda kenyal yang menggantung milik Maya.
Arman lupa jika aku memegang akses masuk kosannya. Hingga aku memergokinya. Jika mereka hanya berpelukan atau berciuman aku mungkin akan marah sebentar dan pelan-pelan Memaafkan mereka. Tapi mereka berhubungan intim selayaknya suami istri? Apa aku harus memaafkan mereka dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa?
Aku bungkam selama ini dan menjadi bahan olokan tetangga karena menjaga jodoh orang. Oh God !
Keberuntungan memang tak berpihak padaku namun kata Mama Tuhan sayang sama aku. Tuhan menunjukkan betapa brengsek pacarku dan sahabatku yang penghianat itu.
Semuanya sudah berlalu. Adelia bilang jika aku enggak harus memikirkan masa lalu. Aku harus ikhlas menerima jika Arman dan Maya menikah dan setiap hari mereka nampak di depan mataku sendiri.
"Yel, lo harus coba aplikasi kencan yang gue install ini. Kali aja lo dapet pasangan" Adelia begitu semangat dengan mata fokus menatap layar ponselku yang dipegangnya.
"Gue enggak bisa pakai dating-dating sama stranger guy. Gue masih pengen sendiri" Jawabku enteng kemudian menyeruput Americano yang kupesan.
"Emang lo mau diketawain sama Arman dan Maya? Lo pikir dong Yel, lo kan tetanggaan ama mereka. Bales dong perlakuan Arman ama lo. Bahwa di dunia ini lo juga bahagia dan lo bisa move on"
"Gue cuma trauma ! Harus berapa kali sih gue bilang ke elo !"
Wajah Adelia berbinar ketika ponselku menyala dan ada notifikasi dari aplikasi dating.
"Wah, congrats Yel. Ada nih yang mau kenalan ama lo." Adelia cekikikan dan aku makin sebel liat tingkahnya.
"Gercep juga nih cowok" Jari jemarinya lancar mengetik di papan keyboard. " Lo suka ekspatriat gak?" Tanyanya.
Aku mendengus kesal, temanku ini memang lancang. Aku segera merebut ponselku dari tangannya agar dia enggak sembarangan berkenalan di aplikasi blind date.
"Eittss, no no no ! Lo suka ama ekpatriat gak?" Adelia gesit menghindar.
"Bule sekelas Chris Hemsworth aja gue enggak tertarik. Udah cancel aja" Aku bersedekap sebal.
"Wah untung ini bukan bule...." Adelia menyeringai usil.
Ekspatriat yang sering nongol di sekitaran Jekartah kan yang bule-bule dengan rahang tegas dan sorot mata tajam. Masa bule kayak mereka pakai aplikasi blind date alay begini?
"Maksud lo bukan bule?" Kalau bukan bule masa negro??
"Yess, dia kayaknya mau kenal ama lo. Gue bacain ya profilnya." Adelia mulai berdehem.
"Jangan keras-keras !" Aku mengode teman bangsulku jika kita sedang ada di cafe dengan pengunjung yang tidak sedikit. Apa kata dunia jika ada orang yang melihat aku dan Adelia bermain aplikasi konyol kencan buta.
"Namanya Hyuga, wah..dia orang Jepang Yel.. lumayan kan. First , lo enggak tertarik ama bule. Second, lotrauma sama cowok lokal. Nah ini adalah good choice. Enggak ada salahnya di coba" Adelia berusaha menyakinkanku untuk menanggapi ajakan perkenalan Hyuga yang asli Jepang.
"Coba lihat foto profilnya. Lo pasang foto asli gue. Gue juga berhak dong liat foto dia?" Ya enggak lucu kalau aku enggak lihat kenalanku.
"Wah, lo tipe-tipe penganut good loking ya?" Adelia mencibir.
"Ya bukannya gitu. First impression itu penting" Kilahku.
"Tapi dia cuma masang foto doraemon"
Aku terbahak. Doraemon? Kekanakan banget Ya Tuhan. Lelaki macam apa yang akan dipertemukan denganku??
"Eh, dia ngechat lagi Nih. Lo aja yang bales.." Adelia menyerahkan ponsel padaku.
Hyuga. K
Hello yelloo....
Akun dengan nama Hyuga ini memulai obrolan. Aku melempar pertanyaan dengan kode kedipan mata kearah Adelia yang duduk santai seolah baik-baik saja.
"Ya udah bales sono..."
Yellooo
Hello.
Hyuga.K
ya.. Kamu Yello kan?
Eh, dia bisa bahasa Indonesia?? Beneran Jepang enggak sih???
Yello
Iya aku Yello.
Hyuga.K
Apa aku boleh kamu ketemu?
Dia balesnya kok gini sih? Ini typo apa misspelling??
Yello
Ketemu aku??
Hyuga.K
iya. Bagaimana?
"Dia minta ketemu nih gimana dong?" Aku mulai panik. Enggak nyangka secepat ini si Jepang minta ketemu.
"Ya udah ketemu aja. Kayaknya dia juga ada di Cafe ini" Adelia masih bisa bersikap santai sedangkan keringat dingin sudah bercucuran di keningku.
"Kok bisa dia ada disini?"
"Gila lo !" Sahutku sebal ingin mengumpat.
Hyuga. K
Gimana? Bisa kah?
Yello
Bisa..kamu dimana?
Hyuga.K
Aku di starbucks.
Oh My Got !! Dia satu lokasi sama aku. Gue kudu ottokkee????
Hyuga.K
kamu dimana? Kayaknya aku kamu tahu.
Maksudnya dia tahu aku gitu????
"Eh, gue mesti gimana dong Del? Dia mau nyamperin gue.." Aku menggeret lengan Adelia dan tidak bisa tenang.
"Ya udah kalau gitu lu gue tinggal" Dia buru-buru merapikan rambut dan menyambar tas selempangnya untuk kabur dari sini setelah kejahilannya membuat aku mengenal Hyuga.
"Stay here,!" Cegahku.
"Ok, gue enggak akan kabur. Tapi gue tunggu lo disana" Dia menunjuk bangku kosong di pojok. Dia berjanji akan memantauku. Jika terjadi sesuatu padaku dia akan menolong.
Bukan gimana-gimana guys aku belum kenal dia dan belum lihat penampakannya. Aku musti waspada dong.
"Ok, good luck...." Dia menyingkir dengan langkah seringan bulu setelah menjerumuskanku kedalam aplikasi alay. Dengan alasan agar tidak mengganggu aku dia melenggang pergi dan mengawasiku dari jauh.
Hatiku berdebar tak karuan. Deru jantungku berpacu cepat melebihi saat aku bertemu pertama kali dengan Arman. Mungkin karena dia orang asing yang sangat berbeda jauh denganku. Aku hanya takut jika dia macam-macam. Ok, jangan lebay Yellow. Kamu pernah hidup tiga tahun di Amerika. Jangan belagak enggak pernah ketemu sama orang asing.
Tarik nafas, hembuskan.
Eh, aku lupa ngecek penampilan. Udah rapi belom yaa??
Sesosok laki-laki putih bermata agak sipit namun mempunyai kelopak mata itu mendekati meja. Dia memakai kemeja merah marun lengan panjang yang dilipat sampai siku. Celana bahan warna hitam, rambutnya di potong pendek seperti karyawan pada umumnya.
Wajahnya lumayan meneduhkan pandanganku. Dia handsome.
"Hai, Aku Hyuga..." Pria itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Aku berdiri untuk menyambut uluran tangan perkenalan itu.
"Hai aku Yello" Tangannya terasa hangat namun berkeringat. Dia gugup atau punya jantung lemah? I dont know !
Aku mempersilahkan duduk. sejenak aku melirik ke arah pojokan tempat Adelia mengawasiku. Dan dia sudah tidak ada di tempatnya.
Bloody Hell ! Dia ninggalin aku sama si Jepang yang baru beberapa detik yang lalu aku kenal.
"Yerro?"
Aku mengernyit . Yerro?? Yellow Hyugaaa...
"Yello" Aku lupa jika lidah orang Jepang itu suka kebalik dengan pelafalan huruf konsonan. Huruf L di ucap R dan begitu juga sebaliknya. Sama dengan pelafalan mandarin. G jadi K, B jadi P, J jadi Ch, yah seperti itu.
"Yerro" Dia mengulang.
"Yel... Yelllooo..." Aku menekankan pelafalan namaku dengan benar. Lidahku juga melengkung di dalam mulut untuk menandakan yang aku ucapkan itu L Bukan R.
"Yell...Lo !" Ucapnya dengan susah payah
"Yes, good Hyuga.." Aku tersenyum lega. Dan Mas Jepang juga tersenyum manis.
"Saya sedang berajar bahasa Indonesia. Jadi maaf jika sarah"
"Oh, tidak apa-apa Hyuga. Saya senang kamu mau belajar"
Aku mengapresiasi kesungguhan Hyuga dalam belajar Bahasa indonesia. Di Jepang emang ada ya peribahasa ' Dimana langit di pijak disitu Bumi di junjung?'.
"Saya cali teman. Torima kasih" Dia membungkuk hormat khas Jepang.
"Boleh kok" Jawabku bingung. Aku sendiri masih bimbang. Lanjut enggak sama si Jepang?
"Saya senang ketemu kamu"
"Kamu mau Minum apa Hyuga?" Tanyaku menawari. Meskipun aku tidak tahu siapa yang akan membayar. Aku apa Hyuga?
" Saya sudah tadi minum kopi"
"Oh, mau makan?" Eh, kenapa aku malah nawari dia makan? Emang cukup uangku? Aku tadi emang gajian. Tapi yah seperti biasa, gaji sekelas jongos macam aku ini kan cuma numpang lewat doang.
"Ti dak, saya ke ke....." Hyuga tergagap seraya mengingat-ingat. Apa dia mengingat kosakata Indonesia?
"Kenyang?" Aku menebak.
"Ya, kenyang" Dia mengangguk.
"Wah, kamu hebat mau belajar bahasa Indonesia" pujiku kagum. Ini pujian jujur loh. Dia mau belajar bahasa Indonesia dengan baik. Sedangkan anak bangsa sekarang lebih suka speak in English hingga tercipta bahasa Jaksel.
"Saya akan lama tinggal disini"
Aku mengangguk paham
Dia lama tinggal disini?
So, Aku ada banyak kesempatan kenal dia gitu..???
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Lumayan kan buat modal ngusir trauma masa lalu?
See you Hyugaaa......