
...Simpan kata-kata mutiara anda....
...Saya sedang tidak butuh !...
🐰🐰🐰🐰🐰🐰
Aku sudah menanggalkan impian kekanakan tentang kisah-kisah Disney seperti Rapunzel dengan rambut pirang panjangnya, tentang Cinderella yang berjodoh dengan Pangeran tampan karena sepatu kacanya, atau kisah Snow White dan apel beracun.
Aku kini sedang mau mengingat novel karangan J.K Rowling yang bercerita tentang Harry Potter, Hermione, dan siswa sekolah Hogwarts yang mempelajari ilmu sihir.
Dan aku sekarang sangat ingin mengenakan jubah Harry Potter agar aku jadi makhluk tak kasat mata. Pagiku yang nyaris sempurna benar-benar hancur saat aku berada dalam satu lift bersama Jeanny.
Bukan Jeanny alias Juleha yang jago nyarmuk ke atasan, bukan !
Itu Jeanny, wanita setengah bidadari cantik glowing wangi semriwing yang kejebak friendzone sama Hyuga !
Bagaimana aku bisa menyembunyikan wajah was-was dan pas-pasanku di dalam lift yang sempit ini. Untung di dalam lift ini bukan hanya aku dan dia. Jika cuma berdua aku bisa habis kena jambak. Mengingat pertemuan kami yang tidak baik-baik, dan mata Jeanny seakan menudingku pelakor ! Aku bernafas lega, dalam lift ini kami tidak sendiri. Ada pegawai dari divisi lain. Yang posisinya sebelas dua belas denganku. Aku menunduk di pojokan, poni sengaja aku tata sedemikian rupa agar aku tak ketahuan. Pegawai lain juga berdiri menyebar mepet ke dinding lift seakan enggan berinteraksi dengan Jeanny.
Suara penanda pintu lift terdengar, kakiku gemetar melangkah setelah aku pastikan wanita cantik itu keluar lebih dulu. Jantungku sekarang berdetak normal ketika aku melihat punggung Jeanny yang berjalan menjauh menuju ke ruangan Top Management.
Sepagi ini udah keliaran di kantor? Kurang kerjaan banget ! Paling kesini karena enggak terima kalau Hyuga ngaku kalau dia berpacaran sama aku.
Pacaran? Gue nanya, pacaran model apaan yang cuma tipu-tipu? Mengatas namakan lembur untuk karyawan yang mendamba resign seperri aku? Jika sampai ada lembur di malam dinner itu di slip gajiku, aku akan benar-benar bertepuk tangan untuk kerja lemburku yang murahan.
Resikonya sebanding dengan pegawai PLN yang memperbaiki listrik pasca banjir bandang. Salah sedikit saja beresiko kena setrum dan meninggal seketika.
Aku segera meringkuk di kubikel. Mempersiapkan file yang tadi diminta Bu Weni sesaat setelah aku memasuki ruang kerja para jongos.
Komputer telah menyala sempurna. Sesegera mungkin aku mengerjakan pekerjaanku. Waktuku di Brighton memang masih dua minggu lagi, tapi aku tidak boleh pantang semangat. Aku akan berusaha yang terbaik, meskipun aku berada di antar Hyuga dan Jeanny.
*********
Setelah makan siang di Kantin seperti biasa aku ke Toilet. Samar-samar aku dengar dari dalam kubikel toilet ada suara cewek ngobrol. Kedengarannya mereka lagi nggosip. Aku sih enggak heran lagi kalau denger ciwi-ciwi gibah di toilet. Masalahnya yang di gibahin ini Hyuga Kubota. Jadi bukan seperti obrolan murahan kisah cinta sesama jongos.
"Gue kasian banget deh sama Bu Jeanny."
Etdah, mereka ngobrolin Jeanny. Manggil 'Ibu' lagi, seakan-akan Jeanny itu bos mereka di kantor ini. Karena mereka berdua dekat.
"Iya lho, gue enggak nyangka Mister Kubota bisa-bisanya mutusin Bu Jeanny." Si cewek satunya menimpali.
"Katanya sih putusnya karena orang ketiga gitu"
Aku yang sedianya akan menekan tombol flush, mengurungkan niat karena aku ingin mendengar cerita lebih lanjut. Kudekatkan telinga ke pintu toilet agar aku mendengar lebih jelas.
"Lo tau darimana?" Cewek itu seperti terkejut." Bukannya gara-gara Mister Kubota itu workaholic ya?"
"Lo salah inpo ! Gue denger sendiri, Bu Jeanny curhat sama Pak Margo, sambil nangis-nangis. Padahal Bu Jeanny kan udah menaruh harapan besar sama Mister Hyuga. Makanya dia sekarang jadi sedih" Cewek yang satu lagi berkata dengan nada Sendu. Seolah-olah turut merasakan penderitaan yang Jeanny alami atas penghianatan Hyuga. Dan parahnya, penghianatan itu dilakukan bersamaku.
Aku yang tidak tahu apa-apa terkena getah.
"Gue penasaran, kayak apa sih muka cewek yang berani banget ngrebut Mister Hyuga dari Bu Jeanny. Pelakor banget !" Makian itu membuat aku tersedak ludahku sendiri. Aku segera menutup mulutku yang terbatuk-batuk dengan telapak tangan.
"Eh, buruan keluar yok. Gue takut obrolan kita di denger orang !"
Kalian itu gibah kayak sengaja banget biar di dengerin ama orang yang lagi di gibahin. Damage nya biar kena ! Mereka nggak bisik-bisik seperti nggosip. Suara mereka terdengar seperti obrolan biasa.
Aku menekan flush setelah suara mereka tak terdengar lagi. Kakiku menghentak kesal. Aku enggak tahu apa-apa tapi sudah dapat cap pelakor. Gimana kalau mereka tahu, orang ketiganya aku !
Pengen banget nyamperin Hyuga. Untuk memperjelas semua ini. Gimanapun juga nama baikku di pertaruhkan. Enggak lucu kan kalau Yello yang dihianati pacar berbalik menyakiti wanita lain hanya untuk membalas dendam? Aku memang bukan wanita berhati malaikat yang mudah memaafkan begitu saja. Semua perbuatan harus dimintai pertanggung jawaban. Dan aku rasa, Hyuga harus bertanggung jawab atas semua ini.
Apalagi, Jeanny udah berani ngadu ke Pak Margo yang punya jabatan tinggi. Kenapa sih akses Jeanny terkesan mudah? Dia kan cuma gebetan Hyuga? Tapi pamornya Ngalahin Direktur !!!
.
.
.
.
.
Sebuah tangan berkeringat menarik lenganku saat aku keluar dari toilet wanita. Dan yang membuatku membelalakkan mata, orang yang menarik aku adalah Hyuga !
"Mister ngapain narik-narik saya?" Tanyaku enggak selow. Persetan sama jabatan Hyuga, aku merasa kena jajah dan hakku untuk merdeka telah di rampas !
Hyuga malah menggunakan jari telunjuk yang di letakkan di bibir agar aku diam. Aku melihat sekeliling, kondisi sekarang sepi.
" Saya ada perlu bicara dengan kamu" Bisiknya.
"Ya udah ngomong aja !" Bisikku sengit.
Hyuga mengambil ancang-ancang dengan menghela nafas sebentar.
"Saya minta maaf atas apa yang terjadi kemarin malam"
Aku mendongakkan wajah untuk menatap wajahnya. Matanya kelihatan jujur. Dia tulus.
"Mister tahu enggak kalau saya sekarang jadi bahan gosip !" Aku tak terima di cap pelakor, walaupun mereka belum tahu jika pelakornya aku.
"Saya minta maaf...." Ucapnya sedih dan menyesal.
" Saya juga di cap pelakor !" Hyuga harus tahu statusku yang baru.
"Pe la kor?" Alisnya mengernyit. Aku menepuk Jidat. Hyuga mana tahu istilah jaman now yang biasa di lafalkan Netizen julit yang rata-rata emak-emak yang begitu beringasnya memaki pelakor lewat jari-jari lincah mereka di internet.
"Pelakor itu Perebut laki orang!" Aku berkecak pinggang karena kesal. Aku udah total marah, eh yang jadi samsak kemarahanku enggak ngerti sama apa yang aku bilang dan aku harus jelasin. Kan dobel keselnya !
"Perebut apa?"
"Kamu !"
"Saya ?" Tunjuknya dengan jari tepat di depan dadanya yang terbungkus kemeja putih yang rapi dan wangi.
"Yes, of course !"
Hyuga malah berwajah aneh, dia sepertinya merasa bersalah atas kekacauan yang ditumbulkan.
"Kalau mister bawa perempuan lain buat di aku-aku pacar ya silahkan. Jangan saya Dong !" Aku ingat peraturan perusahaan jika di kantor, dilarang keras cinta lokasi. Kalau aku keluar dari Brighton karena kontrak habis itu tidak masalah. Lain cerita jika aku di keluarkan karena melanggar peraturan. Aku tidak mau mendapat review jelek dari perusahaan Jepang ini. Karena akan berdampak pada nasibku sebagai job seeker selanjutnya.
Mana ada perusahaan yang menerima karyawan yang pernah melanggar peraturan karena pacaran sama atasan???
"Saya confuse Yello..." Hyuga menyugar rambut frustasi.
Aku memutar bola mata. Klise banget alesannya.
Aku tertawa mengejek mendengar pernyataan Hyuga. Aku enggak bisa diginiin?
"Is this enough?" Tawaku sinis. Ingin ku semburkan amarah tapi untungnya aku tahu tempat. Dia membayar dengan upah lembur sebagai pacarnya? Bahkan dia tidak mengeluarkan uangnya sendiri dan membayar dengan uang perusahaan. Mas Jepun perhitungan juga.
"Im so sorry...." Dia menangkupkan tangan di depan dada memohon maaf dariku.
"Kamu tidak perlu membayar kompensasi. Saya tidak mau terlibat dengan kamu lagi....." Jawabku pada akhirnya. Harga diri di bayar dengan uang lembur lebih mengerikan dari pada mengikhlaskan semua ini.
"Terima Kasih" Dia membungkukkan badan sebagaimana orang Jepang memberi hormat.
"Saya mau kerja. Sampai nanti" Aku kemudian pergi melambaikan tangan. Ini sudah kelewat jam istirahat.
Tapi dengan cepat Hyuga menarik siku lenganku dan dia memelukku. Aku agak terkejut dengan sikap Hyuga yang begini. Aku tak langsung membalas dengan rangkulan di pinggang. Tubuhku membeku. Ingin melepaskan diri namun rasa tak ingin.
"Jaga diri kamu baik-baik." Katanya mengusap punggungku perlahan. Lalu dia melepas pelukan seraya memegang kedua bahuku. Mengusapnya perlahan.
"Saya senang bertemu dengan kamu"
Aku malah mengernyitkan alis.
Whats wrong with you, Hyuga????
🐰🐰🐰🐰🐰🐰
Mataku mengerjap akibat aku terlalu banyak menghabiskan waktu yang aku gunakan untuk tidur untuk menonton Film Horor Thailand. Entah kenapa aku sekarang suka dengan film horor phsyco yang sadis. Semenjak tetangga depan rumah garis miring mantan brengcek dan sahabat leknat menggelar acara ulang tahun pernikahan. Bapak Patar Simanungkalit dan Ibu Ruth Siborong Borong di undang juga, tapi hanya Ibu Ruth yang datang. Ayahku malas dan beralasan lembur di kantor Pajak. Mama terpaksa datang karena tidak enak sudah di Undang. Padahal mereka sekarang malas dengan pasangan suami iatri yang nyatanya jadi duri dalam kehidupan anaknya.
Orang tuaku tidak marah, mereka hanya kecewa padaku kenapa tidak pernah bercerita.
Bagiku tidak ada gunanya bercerita, suatu saat juga mereka akan tau sendiri.
Aku yang tertelungkup di meja berbantal keyboard komputer di guncang oleh seseorang yang suaranya paling lantang di ruang ini. Siapa lagi kalau bukan Bu Weni. Dengan berkecak pinggang dia memarahiku.
"Ini jam kerja malah tidur ! Kamu di panggil ke ruang direktur sekarang. Enggak pakai lama !"
Aku tergagap, segera bangkit untuk segera menuju ke ruang direktur. Ada apa Hyuga manggil aku???
Aku segera berjalan cepat menuju ruangan Direktur yang adeemmm banget. Kemarin dia memelukku, sekarang apa??
Setelah melewati meja resepsionis, aku mengetuk pintu ruang Hyuga. Tanpa menunggu sahutan aku masuk begitu saja. Hyuga juga tidak akan marah, mungkin.
Tapi mataku yang tadi ngantuk melebar seketika melihat yang duduk di kursi direktur itu bukan Hyuga, tapi Jeanny.
Kenapa bisa???
"Kenapa ? Kamu kaget?" Tawanya terdengar mengejekku. Aku langsung menunduk.
"Ayo duduk" Dia mempersilahkanku dengan ramah. Ramah yang di buat-buat.
Aku menurut dan melesakkan bokongku ke kursi yang empuk dan membal jika di duduki.
"Maaf, Ibu panggil saya?" Tanyaku ragu.
"Iya," Dia terkekeh, dan aku belum mampu menatap wajahnya.
"Saya cuma mau kenalan sama kamu. Saya sekarang gantiin Hyuga"
Dengan mudahnya dia menggantikan Hyuga? Apa sebenarnya maksud semua ini????
"Kamu pasti bingung kan kenapa saya bisa ada di sini?"
Terus terang iya !
Dia mengibaskan rambut bergelombang panjang berwarna cokelat tua ke belakang, kemudian dia bersandar di kursi. Posisinya nampak elegan sekali.
"Ayah saya sama Ayahnya Hyuga bekerja sama di perusahaan Ini. Kami sama-sama memiliki saham yang sama besar. Dan mereka ingin hubungan ini bukan sekedar hubungan bisnis. Tapi, kamu menghancurkan semua ini" Suaranya terdengar berat kemudian menghela nafas.
Jadi, mereka sebenarnya di jodohkan.
"Terpaksa Hyuga harus hengkang dari sini karena dia melanggar peraturan perusahaan. Coba lihat, apa yang kamu lakuin sama Hyuga? Secara tidak langsung kamu menjauhkan diri kamu sendiri dari Hyuga. Untung hubungan bisnis ini tetap berjalan." Dia memainkan pulpen kemudian mencondongkan badan ke meja mengambil folder bersampul kuning. Dari sampulnya aku tahu itu adalah folder data para pegawai.
Dia membuka halaman demi halaman. Sedangkan aku hanya menunduk sesekali melirik kearahnya. Kakiku bergetar, kedua tanganku mendadak berkeringat berpangku di atas paha.
"Kamu kenal sama Hyuga dimana?" Tanyanya tiba-tiba. Matanya masih fokus ke folder dan tangannya membalik file.
"Sa- saya kenal waktu belanja di Supermarket" Jawabku berbohong. Apa jadinya jika aku terus terang kalau aku kenal Hyuga lewat aplikasi???
Dia mendongak. "Apa ini bisa aku percaya?"
Aku hanya diam tak menjawab. Lebih baik aku diam dan kena hantam daripada aku melawan. Bagaimanapun juga Jeanny itu bosku sekarang !
"Menurut data dari HRD, kamu karyawan outsourcing dan kontrak kamu hampir Habis."
Aku jawab dengan kepala mengangguk.
"Kamu enggak niat memperpanjang kontrak?"
"Tidak Bu" Jawabku tanpa berpikir dua kali.
"Kenapa? Apa karena Hyuga sudah tidak bekerja disini lagi?" Tanyanya sarkas.
Dari awal memang aku tidak berniat memperpanjang kontrak. Aku mau mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih dari Brighton.
"Bukan itu alasannya" Jawabku.
"Lalu?"
"Saya ingin mencari suasana baru"
"Itu bagus, kamu bisa melupakan Hyuga. Dia sudah kembali ke Jepang. Jadi kamu jangan mengharapkan dia lagi"
Otakku mendadak menjadi gamblang, saat dia memelukku di lorong toilet itu karena dia akan kembali ke negaranya????
Hyugaaa......
🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰
aku kuat kok ditinggal Hyuga.....
...sorry lama tak apdet, sibuk kerja dan badan kurang fit....
...Makasih and see you....