
Sekalian promo nih guys para pembaca yang masih setia baca kisah receh Yello. Novel ini recomended banget buat para readers. Apalagi sama kisah asmra yang uwu. Authornya juga ramah.
Skuyy meluncurrr.....
💫💫💫💫💫💫
Jika kalian mendengar ada pembantu yang di gaji 7 juta rupiah perbulan hanya membersihkan rumah dan merawat hewan peliharaan majikan, apa yang kalian pikirkan?
Emang ada pembantu di gaji 7 juta?
Wah enak banget ya di gaji 7 juta?
Seriusan gajinya segitu?
Kerjanya ngapain aja?
Kalau malem mijitin majikan juga?
Mungkin itu deretan pertanyaan yang terlintas di pikiran warga +62 yang julitnya udah terkenal sampai Korea.
Aku tersenyum sarkas seraya merebahkan badan di sofa. Merefleksikan pertanyaan-pertanyaan konyol orang-orang di luar sana mengenai pekerjaan yang aku tekuni ini.
Machintosh yang baru saja aku kasih makan terlihat kekenyangan dan merebahkan badan di karpet bulu.
Aku was-was jika Machintosh mulai dengan tabiat buruknya. Tapi badanku juga butuh perhatian. Aku lelah. Jadi pembantu di rumah Hyuga tidak sesimple yang aku kira.
Kamar pembantu yang di sediakan Hyuga untukku memang menakjubkan. Ada kamar mandi, ranjang empuk dengan size besar, ada AC yang berfungsi dengan baik dan kamar mempuanya jendela besar yang langsung menghadap kebun belakang rumah Hyuga yang asri. Sirkulasi udara dalam kamar juga bagus walaupun letaknya sangat dekat dengan dapur.
Namun fasilitas yang aku terima sangat berbanding terbalik dengan pekerjaan yang aku lakukan.
Semua karena ulah anak majikanku, siapa lagi kalau bukan si anjing warna coklat ke oranye-oranyean bernama Machintosh.
Dia ternyata bukan anjing sembarang anjing. Tingkahnya seperti anak raja. Manjanya minta ampun. Apa saking dimanjanya sama Hyuga jadinya dia bisa berbuat seenaknya???
Hyuga tidak mendeskripsikan secara rinci mengenai Tingkah Machintosh. Dia hanya memberikan jadwal makan anjing kesayangannya itu beserta kelinci yang ada di kandang belakang.
Machintosh memang anjing pemalas yang jarang mengajak bermain. Dia lebih suka rebahan. Jika dia bosan, dia akan berpindah tempat dan rebahan kembali.
Hyuga tidak bilang Kalau anjingnya itu punya kebiasaan buruk yaitu pipis sembarangan.
Pertama kalinya aku melihat dia pipis saat kami baru saja berkenalan dan dia ikut tidur bersamaku di ranjangku yang empuk. Dengan wajah tanpa dosa anak majikanku kemudian turun dari ranjang setelah membuat tanda kekuasaany berupa air kencing.
Apa gue enggak boleh tidur di kasur malam ini???
Hyuga yang tadi pagi sempat memberiku nomor ponsel segera ku kirimi pesan bernada protes.
Pak Bos.
Machintosh pipis di kasurku.....
Dan apa balasan chat dari bosku????
Pak Bos
You clean perfectly. Saya ada lupa birang kalau dia juga suka kasih sign di karpet and lantai. Please clean Yello.
Machintosh is a kind pet.
Aku geram mendapat balasan chat dari bosku. Belum juga aku selesai meletakkan ponsel, aku melihat anjing nakal itu mengencingi kursi kayu yang ada di minibar.
Jadi pet caregiver anjing sok imut enggak semudah yang di bayangkan !!!!
Aku harus ikhlas membersihkan rumah dan mengepelnya berkali-kali agar saat bosku pulang kerja nanti rumah tetap bersih dan kinclong seperti saat ditinggalkan tadi. Suratan nasib tujuh juta rupiah yang melambai-lambai ingin masuk ke saldo tabungan membuatku jadi begini.
Belum juga istirahat dari kerjaan ngepel, aku harus ke kandang untuk memberi makan kelinci. Mungkin dengan memberi makan hewan lucu itu membuat lelahku berkurang. Tapi apalah daya, hewan peliharaan di rumah ini tak satupun mau di ajak kerja sama.
Kelinci tak ada dikandang dan mereka kabur. Aku melihat kandang dengan jeruji dari kayu itu habis di gigit sedikit demi sedikit oleh kelinci-kelinci itu. Kembali, aku mengejar mereka yang ternyata sangat gesit. Jika mereka berhasil kabur dari limgkungan rumah Hyuga, selain aku bisa kena pecat di hari pertama kerja, Hyuga juga akan rugi banyak. Mengingat makanan para kelinci ini harus berkualitas bagus dan di beli di Supermarket.
Setelah aku mengiming-imingi mereka dengan sayuran segar. Para gank rabbit itu menurut dan mereka berhasil aku jinakkan. Untung ada beberapa kandang besi yang kosong. Jika aku masukkan ke kandang kayu, mereka akan kembali melarikan diri.
"Kamu jangan nakal ya kelinci. Jangan kabur. Awas aja kalau kamu nakal lagi, aku jadiin sate kelinci !" Ancamku seraya mengacungkan wortel ke arah para kelinci itu satu persatu. Meskipun aku tahu mereka tidak mengerti apa yang aku katakan. Anggap saja aku sudah mulai gila dengan pekerjaan ini.
"Saya pulang !" Seru. Hyuga yang dari arah ruang tamu. Sapaannya terdengar seperti di film kartun Doraemon.
Aku yang baru saja merebahkan badan di sofa bersama Machintosh mendongak sedikit.
"Hai, selamat datang" Balasku atas sapaannya.
Dia menatapku geli seraya duduk di sofa yang ada di seberang tempatku melepas penat.
Mungkin Hyuga melihatku yang kepayahan karena mengurus hewan peliharaannya yang bertingkah seperti majikan.
"Are you happy??"
"Apa aku kelihatan happy??" Jawabku tersenyum sarkas. Dikira enak ngepel pipis sembarang tempat anak majikan ? Pekerjaan ini enggak semudah jadwal yang kamu kasih dan kamu tempel di kulkas. Urutan kerjaannya jelas tapi di lapangan beda pak bos. Hewan peliharaan Hyuga menyedot dan merongrong jiwaku.
Hyuga tergelak hingga bahu yang tertutup jas hitam itu terguncang. Matanya menyipit membentuk bulan sabit. Giginya yang rapidan putih terlihat jelas.Padahal jelas-jelas aku terang-terangan memasang wajah kesal di kerjain Machintosh dan genk kelinci di kandang belakang.
"Sebelum kamu ada jadi maid in my home, saya ada maid tapi dia run away. Ternyata dia tidak sayang Machintosh. Dia juga membuat satay from meat kelinci saya." Katanya pelan. Matanya menerawang. Kesedihan tergambar jelas di matanya mengingat kelincinya pernah di bunuh oleh pembantunya. Dan memasak daging kelinci itu. Itu kejam sih.
Dan aku ingat jika tadi aku juga mengancam mereka akan menjadikan mereka sate.
Bulu kudukku meremang, aku berani sumpah aku cuma emosi. Gak beneran mau bunuh kelinci.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan nya membuatku yang sedang melamun berjingkat.
"No Sir" Jawabku gusar. Semoga aja aku enggak keceplosan.
"For me, Pet like friend. If we kind to them, they will be kind. My maid felt it. She always was mad to Machintosh. I hope you won't like her. I wanna be your friend. Even tough our working position. You can tell for me your problems and we disscuss it. You precious for me and my pets"
Baru kali ini aku mendapatkan bos yang sangat menyayangi hewan peliharaan layaknya keluarga. Tidak memandang status pekerjaan kami. Bahkan dia bersedia menjadi pendengar saat aku menghadapi masalah. Aku bersyukur mendapat atasan yang begitu baik. Walaupun kesabaranku bisa habis menghadapi hewan peliharaannya.
Sepertinya aku butuh tambahan stock sabar lebih lama.
Aku menghela nafas pelan setelah hening diantara kami.
"Kamu sayang banget sama Machintosh."
"Of course. Machintosh saya bawa dari Jepang. Dia hadiah ulang tahun dari ibu saya."
Rupanya dia enggak hanya sayang sama hewan, dia juga sayang ibunya. Orang yang peduli dengan sesama makhluk pasti memyayangi ibunya. Duh, gimana jantung ini bisa normal kalau ngadepin bos macam ini??
"Meskipun kamu harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit agar mereka hidup dengan baik"
"Itu bukan masalah untuk saya. Saya belum menikah."
Eh, apa hubungannya hewan peliharaan sama menikah??
"Kenapa kamu tidak menikah? Kamu tidak perlu membayar maid jika kamu punya istri" Ealah, pertanyaan bonus. Jadinya kan aku bisa menyelam sambil minum aerr. Pura-pura aslinya mancing. Dia bakalan jawab apa kira-kira.
"Saya belum jumpa perempuan yang match in my heart" Jawabnya lirih.
"Kamu bisa pakai aplikasi semacam tinder untuk find love" Jawabku sotoy. Dia malah tertawa geli kembali.
"Ya dan saya bertemu kamu"
Aku harus gimana?? Hyuga mengungkit ini? Aku melempar pandangan ke arah Machintosh dan mengelus bulu-bulu halusnya dengan lembut. Seakan kekesalanku pada anak majikan yang nakal ini sirna.
"Apa kamu tidak menikah??" Tanyanya dengan nada sedikit serius.
"Saya akan menikah jika bertemu dengan yang cocok" Aku enggak akan cerita kalau aku pernah punya kenangan pahit dalam hal asmara.
"Sudah bertemu?"
"Pernah" Jawabku singkat.
"Kapan?"
"Baru-baru ini"
"Cocok?"
"Saya mau tapi saya tidak yakin kalau dia sunat"
Rasanya aku ingin menampar bibirku yang clamitan. Bisa banget Hyuga menggiring pertanyaan sampai bahas sunat segala.
"Sunat??" Wadidaw.....kosakata baru nih. Jelas butuh penjabaran. Apalagi sunat?? Gimana Jelasinnya??
"Aaa...." Aku berpikir keras jika sunat itu motong anu.
Hyuga nampak menunggu jawabanku dengan melebarkan matanya.
"Saya enggak bisa jelasin. You can googling." Aku segera bangkit dari sofa.
"Saya lupa belum membereskan kamar"
Kabur adalah cara paling efektif untuk menghindari pertanyaan sensitif.
💫💫💫💫💫💫💫
Malam ini entah dapat ilham dari mana si anjing manja selalu ikut kemana aku pergi. Bahkan di jam 9 dia belum juga tidur. Apa dia lapar??
"Kamu lapar??" Tanyaku berjongkok mengelus Kepala Machintosh. Padahal baru sejam yang lalu dia aku kasih makan. Makanannya juga habis.
Aku putuskan dia memang lapar. Segera aku mengambil sekantong besar camilan milik Machintosh yang disimpan di kabinet atas. Mengambil mangkuk dan menuangkan camilan itu.
"Ini camilan malam kamu. Makan dong"
Machintosh mengendus sebentar camilan yang aku hidangkan tapi tetap saja dia enggan makan.
"Kamu kan laper, makan dong. Makan ya?" Aku masih membujuk.
Dia bahkan mendorong mangkuk itu dengan hidungnya. Jangan sampai deh senewenku kumat kalau dia manja dan tidak bisa di mengerti kayak gini.
"Terus kamu mau apa?" Elusku kembali. Membujuk anak majikan memang benar-benar butuh kesabaran ekstra.
Machintosh malah menaiki kursi minibar dengan gesit. Jangan bilang dia mau pipis ya. Ini udah malam. Pembantu juga butuh tidur !
Aku enggak peduli apa yang di mau anak ini dan mengambil pisau dapur untuk mengiris cabai yang sedianya aku masukkan dalam indomi rebusku. Diluar hujan deras dan aku mendadak ingin makan indomie kuah pedas dengan telur setengah matang.
Machintosh enggak terima aku abaikan dan dia kembali menggangguku. Enggak apa-apa ngganggu asal jangan kencing aja.
Terbersit di otakku untuk menggoda si anjing manja. Dan aku nyanyikan lagu legendaris dari kampungku.
Waktu abang pergi ke Siborong-borong
Datang hujan yang amat deraslah
Terkejut abang terheran-heran
Sebab abang belum pernah kesana
Untung datang namboru Panjaitan
Martarombo kami di jalan
Di ajaknya aku ke rumah dia
Makan daging anjing dengan sayur kol
Sayur kol, sayur kol
Makan daging anjing dengan sayur kol
Sayur kol, sayur kol
Makan daging anjing dengan sayur kol
Aku bernyanyi dengan suara fals ku menggoda anjing manja yang tidak tahu arti dari lagu ini. Dikira aku kepancing ama dia. Sesekali aku mengacungkan pisau ke arah Machintosh di sertai tawa.
"Whats going on?" Hyuga yang entah dari kapan masuk rumah mendekat ke arah dapur. Dia denger enggak ya aku nyanyi tadi???
"Kamu tidak kehujanan?" Tanyaku berbasa - basi. Ya enggak kehujanan lah kan dia naik mobil.
"No" Kemudian dia melihat mangkuk berisi camilan teronggok di lantai dan menunjukkannya padaku.
"Machintosh dari tadi ngikutin aku terus. Tapi pas aku kasih makan dia nolak." Jawabku seadanya.
"Dia mungkin bosan" Hyuga meletakkan mangkuk. Beralih mendekati kulkas dan mengambil styrofoam berisi irisan daging ikan salmon.
Dengan amat murah hati, Hyuga menuang ikan itu kedalam piring dan menyodorkannya di hadapan Machintosh. Dasar anjing manja, tanpa di endus eh dia langsung nyosor. Disitu saya merasa tersentil. Seumur hidup aku pernah makan salmon cuma dua kali, itupun di traktir teman. Enak banget jadi Machintosh.
"Dia suka salmon??" Tanyaku dengan wajah masih tak percaya dengan majikanku dan anjingnya.
"Machintosh suka. Dia juga makan salad dengan dressing olive oil. Dia juga suka pork" Hyuga mengelus lembut Machintosh yang asyik menikmati salmon.
"Kamu mau makan?"
"Iya, aku mau makan mie" Jawabku seraya mengupas bawang.
"Kamu mau?" Tawarku.
"Saya makan sudah" Jawabnya.
Aku hanya mengangguk di sertai senyuman.
"So, kamu tahu dari siapa kalau dia belum sunat?"
Bersamaan dengan pertanyaan sensitif dari mulut Hyuga, aku sedang mengiris sayur di atas cutting board.
Lantam kali mulut bosku ini.....
"Memangnya kamu tahu sunat?" Tanyaku pongah. Yakali dia nyari di google. Susah-susah kali mau tahu urusan pembantu yang belum dapat jodoh.
"Sunat itu kasih potong p**is"
Mataku seketika terbelalak jika bosku bahkan lebih lancar bicara dari yang aku kira. Enggak nyangka dia cari tahu. Padahal aku sudah melupakan bahasan sensitif ini.
"I..iya. Itu maksudku" Aku masih memegang pisau di tangan yang mulai gemetar.
"Kenapa kamu suka laki-laki yang sunat?"
Weii nglunjak ya bosqueeee !!!
"Apa perlu aku jawab?" Aku siaga satu.
"Saya sudah baca benefit sunat. Itu good for health" Hyuga mengangguk-angguk. Dia mungkin saja berpikir dalam aspek kesehatan. Tapi enggak dengan otakku yang pernah membahas ini bersama Adelia. Dan perkiraanku benar, ternyata dia belum sunat. Omaygaaattt !!!
"Kamu tahu arti sunat dari siapa?"
"From Google"
"Sepertinya saya mau sunat"
Secar reflek pisau dapur yang sedari tadi aku pegang langsung kuarahkan padanya yang berdiri di dekatku. Aku enggak mengerti kenapa Hyuga menjadi sebuah ancaman bagiku.
"No Yello, saya belum mau sunat sekarang" Wajahnya sekarang ketakutan mendapati aku yang memgacungkan pisau beraroma bawang ke arahnya.
"Penting banget ya bahas sunat?" Senyumku menyeringai melihat majikanku ketakutan.
"No, put your knife down" Hyuga berusaha membujuk. Tapi aku yang memang senewen dari siang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mengerjai majikan.
"Salah sendiri kenapa malah bahas sunat. Itu topik sensitif"
"No, don't do it" Hyuga mundur selangkah dan aku malah maju dua langkah seraya mengacungkan pisau.
"You potentially merusak hubungan Indonesia dan Jepang"
"I dont care !" Aku terbahak melihat bosku ketakutan.
Dengan sigap Hyuga mengangkap pergelangan tanganku yang sedang memegang pisau. Tawaku kian memecah diantara suara hujan deras di luar sana. Wajah Hyuga masih pias dan langsung memelukku. Seketika itu juga tawaku mereda. Menyadari kalau becandaku keterlaluan. Dia bosku, tidak ada pembantu di Jepang sana yang terang-terangan mengajak becanda kelewatan sama majikannya.
"Maaf" Ucapku Lirih mengakui kesalahan.
Hyuga semakin mempererat pelukaanya. Nafasnya hangat berhembus di ceruk leherku.
"Saya takut. Pisau itu benda berbahaya"
Jantung recehku mendadak error kembali ketika mendapat sentuhan pria. Pelukan ini lebih hangat di banding pelukan Hyuga saat kami bertemu di toilet Brighton.
Aku segera menepis dugaan jika kisah yang aku alami akan sama seperti kisah FTV. Tidak, ini nyata. Bukan drama FTV di pagi hari.
Enggak mungkin kan aku suka sama majikanku sendiri???
"Saya mau makan. Kamu bisa lepas?" Bisikku.
💫💫💫💫💫💫💫
Jangan nakal ya. Kamu sumber pundi-pundi tabunganku. Dan bonusnya, pemilikmu yang cakep itu buat aku !! Wkwkwkw.
punya bos imut juga cobaan.