
...Mantan pacar mah udah biasa....
...Kalau masih tahap pedekate udah dapat status mantan pedekate an gimana? Nyeseeeekkkk....
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Ketika kamu di hadapkan pada pilihan hidup yang sama-sama tidak pernah membuatmu beruntung. Mana yang kamu pilih?
Aku, di hadapkan pada kedua pilihan yang sama sekali tidak memberiku keuntungan. Jika saja ada opsi untuk boleh tidak memilih, maka aku akan menekan tombol itu tanpa harus berpikir dua kali.
Aku janji setelah istirahat makan siang selama satu jam aku harus menyerahkan bagian kerja Ketut yang aku handle kepada manager bengek Pak Agus. Menurut rumor, Pak Agus itu adalah laki-laki exhibitionis, maniac, pokoknya isi otaknya enggak jauh-jauh dari anu. Coba ajak dia bicara soal pasangan, maka otaknya langsung bergeser ke ranah ranjang. Katanya dia juga suka mendekatkan diri pada karyawati - terutama cungpret- yang enggak akan sanggup ngadu jika di apa-apain Pak Agus. Katanya di towel doang udah paling sopan. Tengkukku mendadak meremang. Aku pernah di sentuh pria, tapi kalau prianya hobi mesum, aku kayaknya harus waspada.
Dan pilihan kedua, aku harus ke ruangan Hyuga setelah makan siang. Harus tepat waktu. Aku memang bawahan dan bawahan tidak boleh membantah perintah direktur jika masih di lingkup kantor dan di jam kerja. Tapi, aku udah enggak ada urusan lagi sama dia. Kerjaanku sudah selesai di Cikarang. Mau apa lagi?
Aku seperti prajurit yang di lempar ke medan perang dunia kedua tanpa senjata apapun. Menghadapi banteng gila dan ultramen yang keduanya sama-sama tidak mudah untuk mati.
Cap cip cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau di cup !
Akhirnya aku memilih untuk ke ruang Pak Agus lebih dulu baru ke ruang direktur. Kalau Pak Agus macam-macam kan aku bisa alesan kalau abis ke ruangan dia aku harus ke ruangan direktur.
Kakiku mantap melangkah dengan persediaan oksigen yang lumayan untuk menghadapi kedua makhluk mengerikan ini. Aku tepis keraguan akan terjadi hal yang tidak aku inginkan. Karena aku disini bekerja. Aku profesional dong meskipun cuma jongos. Bagaimanapun juga aku harus bertahan sampai kontrakku habis dan aku punya modal untuk mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik. Aku tidak mau terpaku disini. Walaupun direktur nya aku kenal 'baik'.
Aku mengetuk pintu pelan seraya menelan ludah. Aku hanya berharap organ dalamku berfungsi normal. Jika terjadi sesuatu seperti rumor yang berkembang selama ini, aku enggak boleh emosi dan panik. Aku punya cara untuk escape from this cursed room.
"Masuk" Sahut Pak Agus dari dalam.
Aku memutar tuas handle pintu dan Pak Agus sedang memeriksa file di dalam. Aku menunduk berdiri menghadap meja.
"Saya mengantar pekerjaan yang Pak Agus minta" Aku menyerahkan beberapa file di meja.
"Duduk dulu Yello" Agaknya gosip itu memang benar, senyumnya bajingan sekali.
"Saya harus segera ke ru..."
"Saya mau lihat pekerjaan kamu, santai saja lah"
Aku menelan ludah kembali. Ok, aku turuti saja dulu.
Pak Agus mulai berdiri kemudian mengambil file. Membuka-buka file dan dia mulai melancarkan aksinya.
Beliau ini dengan tanpa rasa bersalah duduk di meja dengan kedua paha terbuka tepat di hadapanku. Dia memang berniat menggoda, aku tambah menunduk. Sialan !
"Kenapa Yel?" Tanyanya seringan bulu tanpa rasa bersalah. Lebih tepatnya dia sedang menebar umpan, dan memancingku. Aku akan langsung bereaksi dengan marah, atau aku menikmati pemandangan ini. Ih, nehi kali lah !!!
"Maaf Pak, kalau sudah selesai, saya harus ke ruangan Mister Kubota" Sebisa mungkin aku enggak gagap. Walaupun sebenarnya kakiku ingin sekali melayangkan tendangan tepat ke wajahnya.
"Mister Kubota ada rapat dengan dewan direksi" Entah pria ini bohong apa berkata jujur yang pasti dia ingin aku bertahan di ruangannya.
Pintu ruangan Pak Agus di ketuk sebentar dan tanpa aba-aba pintu itu langsung di buka oleh seseorang yang membuat Pak Agus yang sedang dalam fase pelecehan kalang kabut untuk berdiri dengan normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Wao, daebak sekali anda.
"Mister" Dia tergagap dengan menutup file.
"Oh, saya masuk kesini kalena saya ingin Mister Agus goes meeting with Jeany. Now" Perintah Hyuga dengan aksen Jepunnya yang sedikit penuh penekanan di setiap suku kata.
"Baik Mister"
Aku menghela nafas, akhirnya aku bisa Lolos dari serudukan banteng gila. Hyuga datang pada timing yang pas. Seperti korban pembunuhan yang di selamatkan polisi saat ujung pistol sudah mengarah kepala. Jika terlambat lima menit saja, aku pastikan aku keluar ruangan ini dengan keadaan trauma.
Aku segera bangkit dari kursi dan berpamitan dengan perasaan lega.
"Yello"
Aku berdecak dalam hati.
"Yes sir" Senyum palsuku mengembang.
"Follow me"
Lepas dari serudukan banteng gila malah di suruh ngikutin Ultraman. Hirup nafas yang banyak, hembuskan. Aku rasa ini lebih baik.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Karyawati cungpret, remahan kerupuk, serbuk marimas rasa anggur, atau apalah itu namanya mengikuti Hyuga Kubota pergi ke Kayangan. Ruangan dimana para petinggi perusahaan bekerja. Ruangan yang jauh lebih wah dari ruangan para cungpret berada. Udara semriwing segar seperti di pegunungan berhembus menerpa kulitku. Kepala yang gerah karena menguncir rambut sepanjang hari mendadak merasakan udara dingin yang membuat nyaman. Di tambah wangi aroma sakura harum semerbak memenuhi ruangan.
Walaupun aku sudah bekerja hampir dua tahun disini, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Ruang Kayangan karena kastaku yang terendah. Memang benar kalau ruangan ini diibaratkanseperti kayangan. Benar-benar menggambarkan kehidupan kerja yang menyenangkan.
Tapi aku harus fokus.
Aku tidak boleh terbuai rayuan segar air purifier yang menyejukkan. Memang benar masuk kesini seolah melepas beban kerja yang berat. Bisa jadi kan, masuk kesini malah mendatangkan musibah. Inget Yel, Hyuga suka memerintah. Dia professional. Pasti ini urusan kerjaan, enggak jauh-jauh dari situ.
Sebelum aku masuk, resepsionis yang ada di depan ruang top manajemen mengetik nama dan posisi berdasarkan ID card yang menggantung di leher dengan wajah datar tanpa senyuman. Mendata manifest tamu yang masuk kesini.
Aku mengekor di balik punggung Hyuga yang berjalan dengan langkah tegap di depanku. Para Karyawan yang ada di ruangan direktur operasional sama sekali tidak berniat mengintip saat bosnya masuk ke ruang kerja. Mereka menyibukkan diri. Malah suara keyboard komputer terdengar nyaring dan mendominasi.
Mereka takut sama Hyuga?????
Mendadak jiwa ragaku gusar. Entah apa yang akan terjadi setelah aku masuk ke ruangan direktur yang parahnya pernah jadi teman kencanku.
Pintu lebar di buka lebar oleh Hyuga. Kutarik napas perlahan mengisi paru-paruku yang hampir sesak karena rasa gusarku yang berlebih.
Hyuga berjalan dan duduk di kursi kerjanya. Di atas meja ada beberapa file yang menumpuk. Aku rasa salah satu file itu akan di berikan padaku dengan notice 'as soon as possible' andalannya.
"Kamu bolreh duduk" Dia tersenyum lebar mempersilahkan aku duduk. Namun aku geli mendengar kosakatanya yang selalu salah itu.
"Boleh sir. BOLEH" Aku tidak bisa diam aja tanpa ngralat langsung ucapannya yang salah. Tapi kayaknya aku salah tempat, posisi dan kondisi. Ini ruang kerja dia, posisiku cungpret dan kondisinya aku memang harus patuh perintah bos.
Dia tertawa dengan wajah unyu dan mata melengkung berbentuk bulan sabit. Ini yang bikin aku enggak kuat deket dia lama-lama. Bisa oleng saya !
Jiwa jongosku kembali. Aku duduk di kursi yang ketika aku duduki terasa empuk dan nyaman. Beda jauh dengan kursi kerjaku. Memang ya, fasilitas bos dan jongos itu jaraknya bermilyar-milyar cahaya, bagaikan bumi dan planet Uranus.
"Ada apakah kamu pergi ke luangan Agus-san?" Dia bertanya serius, kedua tangan saling bertaut di atas meja. Wajahnya serius tapi dia kayaknya enggak mau bahas kerjaan deh.
"Saya ke ruangan Pak Agus untuk mengantar berkas Sir" Jawabku jujur.
Pandangannya menerawang, matanya memicing. Apa sih yang dipikirin?
"Saya pernah dengar Agus-san trying to harass employees"
Mataku terbuka lebar, Hyuga menyinggung soal Pak Agus yang melecehkan karyawan?? Hei, dia tahu tentang rumor itu????
"Do you know the rumors?"
Bukan tahu lagi, baru aja kan aku hampir jadi korban? Untung Pak Bos dateng tepat waktu, kalau enggak entah apa yang terjadi padaku.
"Mister tahu dari mana soal rumor itu?" Tanyaku lumayan kepo. Aku harus manfaatin momen ini. Kapan lagi kan di ajak ngomong berdua bahas gosip panas tentang menejer bengek yang mesum sama karyawan. Kali aja Hyuga juga mau kasih penalty ke Pak Agus yang meresahkan para ciwi-ciwi cungpret.
"Saya ada tahu dari chat grup. Ada yang kasih saya report about it" Katanya kemudian menghela nafas.
"And saya tahu kamu juga gonna be victim"
Hyuga serasa oase di padang pasir. Dia mungkin khawatir aku tak kunjung ke ruangannya dan menemukanku sedang di prospek Pak Agus. Namun tidak sepenuhnya pendapatku benar. Dia mungkin berusaha melindungi pegawainya sekaligus membuktikan jika gosip itu bukan isapan jempol belaka. Hyuga hampir saja memergokinya tadi. Bukan cuma aku, pasti pegawai lain juga akan di bela.
"Do you know, how much victim Mr. Agus?"
Aku menghela nafas, kedua tanganku saling meremas di pangkuan. Yang pasti korbannya banyak, tapi mereka selama ini diam saja. Pak Agus adalah manager HRD, jika korbannya berani speak up bisa saja besoknya di pecat. Mereka butuh uang untuk melanjutkan hidup di tengah gempuran persaingan antar jongos dan sasaran orientasi Pak Agus yang ekshibisionis.
"Sebenarnya banyak korban Pak Agus, cuma mereka tidak mau speak up." Jawabku lirih dengan senyum kecut. Tak yakin jika Pak Agus akan kena sanksi.
"Diam-diam saya sudah menyelidiki case ini. Saya minta kamu jangan kasih tahu siapa-siapa. Saya takut kamu juga jadi korban" Katanya tersenyum kemudian bersandar.
"Terima kasih jika Mister bersedia membantu para korban keisengan Pak Agus" Kataku membalas dengan senyum kelegaan.
"Ke i sengan?" Alisnya berkerut. Apa ini kosakata baru bagi dia.
"Oh, keisengan itu berasal dari kata iseng"
"Iseng?"
"Itu sejenis ungkapan" Kataku meyakinkan.
"Ung ka pan?"
"Yes, iseng itu kegiatan yang di lakukan karena kurang pekerjaan." Jawabku asal. Aku iseng saat gabut. Seperti menggoda mama saat bekerja lembur mengisi nilai di buku besar.
"So, menurut kamu Pak Agus kurang pekerjaan?"
"Yeah. Semacam itu" Aku tertawa kecil.
Aku tidak yakin jawabanku benar menurut KBBI. Mengajari Hyuga kosakata baru yang di kenalnya itu tidak mudah.
"Do you have......" Tanya Hyuga dengan kata yang masih menggantung.
"Boyfriend?" Lanjutnya tiba-tiba dengan nada berat kemudian memandang ke arah jendela kaca di sisi kanan.
"Boyfriend?" Tanyaku memperjelas. Aku enggak salah denger kan dia bilang boyfriend? But why? Ini jam kerja, dan about boyfriend? Ini melenceng dari kerjaan.
"No, i have'nt" Jawabku meluncur tiba-tiba. Aku tidak mau di anggap punya pacar. Karena memang aku tidak punya pacar.
Hyuga hanya menatapku dari mata sipitnya.
"Why are you asking about that?" Tanyaku penasaran. Hyuga yang kukenal professionals di tempat kerja menanyakan privasi. Orang Jepang itu enggak kepoan lho. Gara-gara tinggal lama di Jakarta dia jadi ketularan julit gitu yah??
"Ehmmm, saya.... cumaa..." Dia mendadak gugup.
Bersamaan itu pula pintu terbuka lebar tanpa di ketuk. Seorang gadis cantik berkulit putih mulus memakai dress warna merah marun dengan sepatu higheels masuk dengan senyum sumringah.
"Hai sayang..." Sapa wanita itu riang.
Nyali seupilku menciut. Aku yang tadinya menemukan kenyamanan saat mengobrol dengan lawan bicaraku, sekarang hanya bisa menunduk. Menyadari aku hanya pegawai rendahan
Hyuga melebarkan matanya melihat gadis cantik setengah bidadari itu mendekat ke arahnya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Excuse me Sir, i will back in my room." Aku bangkit dari tempat dudukku yang empuk dan nyaman. Kembali ke peradaban dimana tempatku seharusnya
"Dia siapa Yang?"
Aku tak menghiraukan percakapan mereka selanjutnya yang pasti aku sekilas melirik wajah Hyuga yang berekspresi datar seperti mengabaikan kedatangan ciwi cantik itu
Manggilnya aja Sayang. Pacarnya dong???
πΏπΏπΏπΏ
selamat berpuasa.....
Yello broken heart lho Bang...
π«π«π«π«π«π«π«