
Orangtuaku, tentu saja sudah terbiasa hidup tanpa aku. Walaupun aku anak satu-satunya yang mereka punya. Aku kuliah di Jogjakarta selama 4 tahun dan bekerja di Amerika selama 3 tahun.
Mereka setuju saat aku minta izin untuk bekerja. Dan dengan sedikit sentuhan kebohongan, aku lolos dari interogasi. Tapi yang namanya kebohongan, sedikit atau banyak tetap saja kebohongan dan aku menanggung dosa ini. Apalagi ini membohongi orang tua. Entah sampai kapan aku bisa benar-benar bertaubat.
"Ayah tak apa kau ngekos. Tapi kau itu kerja apa Yel??" Tanya Ayah saat menemani aku packing barang-barang yang akan aku bawa untuk bekerja sebagai pembantu.
"Awak kerja di kantor ekspor impor Yah" Lidahku sebenarnya berat mengucap kebohongan. Tapi enggak mungkin kan kalau aku bilang kerja jadi pembantu di rumah ekspatriat???
"Yaa baguslah. Tapi kan ini masih di Jakarta. Kau bisa kan pulang pergi..."
"Enggak bisa dong Yah. Jarak sini sama Jaksel kan jauh. Lagian bos baru awak itu orang Jepang. Awak harus on time. Enggak mungkin lah awak pulang pergi tiap hari" Satu kebohongan untuk menutupi kebohongan yang lain. Jangan di tiru, OK???
"Biarin ajalah Bang. Yello sudah besar. Dia kan mau pigi kerja" Mama Menimpali, membela anaknya yang licik.
Aku menarik ritsleting koper karena aku sudah selesai packing.
"Mama tenang aja. Nanti awak dua minggu sekali pulang."
Sesuai kesepakatan kan, aku punya hari libur in monday of two weeks. Jadi aku bisa pulang kerumah. Paling enggak setor muka ke orang tua.
Selain itu, aku juga punya homework untuk membuat peredaran darah orang tuaku lancar. Para tetangga di bawah komando Bu Jono belum berhenti menjadikan ku sasaran empuk pergibahan. Mulai dari aku yang pengangguran, seret jodoh dan iri dengan kehidupan mantan bejat dan sahabat laknat.
Aku, tidak ambil pusing dengan omongan orang. Tapi siapa yang bisa menjamin orang tuaku akan baik-baik saja?
Jika aku pergi, gosip itu akan mereda dengan sendirinya.
"Yel, tak apa kan kalau Mamak enggak antar kau ke kosan. Lagipun kau berangkat hari senin. Mana bisa kami ada apel di kantor"
Ini memang bagian dari rencana busukku berbohong pada orangtua. Kan aku sudah bilang jika kalian membuat satu kebohongan, maka itu adalah awal dari kebohongan kalian yang lain.
"Enggak apa-apa Ma. Awak bisa lah pergi sendiri."
Apa jadinya kalau mereka ikut mengantar dan ternyata aku enggak ngekos dan stay di rumah Bos. Bosku hanya tinggal seorang diri. Dia pria asing, muda, gagah, dengan senyum yang gemesin pula. Orangtuaku pasti histeris dan aku akan kehilangan pekerjaan.
"Jaga diri kamu baik-baik Yel. Jaga nama baik keluarga" Mama mengelus pundak, kemudian bersandar.
Ayah keluar dari kamar. Beliau pasti sedih melepas anaknya untuk bekerja. Tapi Ayahku adalah orang yang selalu mendukung langkah yang aku ambil. Yang penting tidak melanggar norma hukum Ayah pasti setuju. Dan yang membuat aku bersalah, Ayah memberiku uang untuk pegangan. Kebaikan aku balas dengan kebohongan.
"Iya Ma. Doakan saja awak lah kerjanya lancar." Dalam hati aku sedih meninggalkan mereka. Hanya untuk bekerja jadi pembantu. Pekerjaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seperti domba yang di iming-imingii rumput segar aku tertarik dengan gaji 7 juta. Walaupun aku harus menginap di rumah Hyuga.
👿👿👿👿
Senin pagi, aku sudah sampai di rumah Hyuga yang sejuk bersih dan asri.
Saat aku pertama kali berkunjung ke rumah ini untuk wawancara pekerjaan, aku belum pernah sekalipun bertemu dengan hewan peliharaan Hyuga. Yang harus aku rawat dan aku jaga. Aku non muslim, jadi aku tidak ada masalah dengan anjing.
Aku memasuki rumah dan Hyuga sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian rapi. Seperti saat dia masih bekerja sebagai Direktur di Brighton. Disamping sofa tempat dia duduk, ada seekor anjing berjenis Akita Inu warna oranye kecoklatan. Aku pernah melihat anjing berjenis seperti itu di film Hachiko. Film tentang anjing yang setia sama majikannya sampai mati.
Apa Hyuga membawa serta si anjing peliharaan saat dia memutuskan untuk pindah kemari???
"Hallo Good morning Mister Kubota" Sapaku dengan mengangguk takzim.
Hyuga melempar senyum bulan sabitnya dan berdiri menyambut pembantu baru imutnya.
"Good Morning"
"Do you goes to work?" Tanyaku basa - basi. Dilihat dari outfitnya sih dia mau kerja.
"Ya, saya tunggu kamu datang dulu. Saya akan jelaskan lebih detail kamu punya job desk" diapun duduk kembali.
"Oh, saya belum mengenalkan kamu sama anjing saya, dia punya nama Machintosh" Hyuga mengelus badan anjing kesayangannya yang di beri nama Machintosh.
"Keren banget namanya" Aku menanggapi senang. Emang beneran bagus namanya.
"Keren??"
Omaygaaatt, kalau di depan Hyuga pantang untuk ngomong bahasa gaul. Mana ngerti my bos.
"Yaaa, keren"
"Apa keren??" Dia selalu penasaran dengan kosakata baru.
"Keren itu bagus. Ehm, sama dengan Cool in English." Aku coba menjelaskan.
"Bahasa gaul?" Hyuga memperjelas.
"Benar, itu bahasa gaul"
"Oh, saya pernah dengar dari hostes bahasa itu, tapi mereka tidak mau kasih jelas pada saya" Dia seperti mengingat ingat obrolannya dengan hostes. Hyuga yang kayaknya dari kaum biksu yang alim kenapa sekarang jadi kenal hostes???
"So, apa job desk nya mister Hyuga-san, oh... Kubota san" Dia bosku loh, harus sopan manggilnya. Sekalian aku mau alihin pembicaraan.
"Just Hyuga as usual as your way. Itu kedengaran lebih bagus" Senyum Hyuga mengembang. Wajahnya juga terlihat bercahaya. Baru kali ini majikan rasa temen.
"Of course kamu mesti kasih makan anjing saya Machintosh, jika dia ingin bermain kamu harus teman dia main. Dan ini" Hyuga mengambil sebuah buku kecil dari dalam ras kerjanya.
Aku mengamati seksama.
"Ini adalah catatan kesehatan Machintosh. Once in a month, dia harus chek up ke veterinarian"
Hyuga menyerahkan catatan kesehatan milik Machintosh padaku. Aku hampir saja ternganga, bagaimana baiknya majikanku pada anjing peliharaannya. Machintosh saja punya catatan kesehatan.
Hyuga meninggalkan Machintosh yang bermalas-malasan di sofa untuk membawaku masuk ke ruangan dalam rumah.
"Saya ingin rumah saya always clean. Jangan ada debu karena saya alergi debu. Dan kamu tidak perlu memasak untuk saya karena saya suka memasak makanan saya sendiri" Hyuga berjalan ke dapur. Aku hanya mengekor.
Dalam hati aku tertawa senang karena aku tak perlu memasak. Pekerjaanku di permudah.
Dari dapur Hyuga yang maha bersih, lelaki Jepang itu mengajakku ke kebun belakang yang tak kalah asri. Disana ada pohon mangga dan rumput hijau terbentang menyejukkan mata. Di pojok kebun dekat pagar ada kandang yang berjejer. Nah, mungkin kawanan kelinci itu di kurung disana.
"Itu kandang saya punya kelinci." Dia menunjuk dan mataku mengikuti jari telunjuk Hyuga.
"Kamu harus kasih makan mereka four time in a days. Once a week, saya kasih kamu uang untuk belanja kebutuhan makan kelinci saya."
"Beli di Pasar Sir??" Tanyaku.
"No, kamu bisa beli di Supermarket. Pilih sayuran yang bagus dan segar. Karena mereka lucu sekali" Hyuga tersenyum,lebih ke senyum geli karena gemas dengan hewan itu. Dan yang membuat rahangku serasa mau jatuh, makanan kelinci harus beli di supermarket. Wagelasehhh, aku aja sering beli di pasar. Kayaknya hidup sebagai hewan peliharaan Hyuga lebih makmur daripada hidupku yang dinista tetangga dan mantan laknat.
Aku hanya mengangguk memgerti.
"Saya sudah siapkan di catatan yang ada di pintu kulkas. Kamu bisa baca lebih detail. Kamar kamu ada di samping dapur."
Boleh deh pernah jadi teman kencan dan di peluk, tapi tetep aja aku disini cuma pembantu. Dapetnya juga kamar pembantu dong deketnya dapur. Aku tersenyum miris.
"Baik Hyuga. Saya mengerti" Aku mengangguk paham.
"Saya harus pergi Kerja sekarang. Selamat bekerja" Setelah berpamitan diapun pergi meninggalkanku.
Sedari tadi, aku yang tersihir aura maskulin yang Hyuga tampilkan mendadak lupa Menanyakan jadwal makan Machintosh.
"Wait Hyuga" Aku tergesa memanggilnya. Hyuga yang berjalan sampai ke ruang tamu berhenti karena mendengar panggilanku.
"Bagaimana dengan jadwal makan Machintosh?" Kelinci di belakang ada jadwal makan. Mungkin saja Machintosh juga punya aturan makan. Asupan gizinya kan di awasi.
"Dia tidak ada jadwal makan. Machintosh bisa makan 6 kali sehari and more. Depends on mood" Senyum majikan baik kembali dia tampakkan.
"Ok, i see" Masalah makan si anjing sudah clear.
"Ini nomor telpon saya" Hyuga memberikan ponselnya padaku dan menyuruhku untuk menyimpan nomornya.
"Saya sudah punya nomer telpon kamu" Aku masih menyimpan kontak Hyuga saat kami bekerja di Brighton.
"Saya sudah punya nomor baru. Ponsel saya terjatuh ke sungai. Nanti kalau kamu ada apa-apa kamu bisa telpon saya. Just in case Yello"
Aku mencatat nomor ponsel Hyuga dengan kode +62 di ponselku.
Setelah Hyuga benar-benar pergi bersama Sopirnya, aku menghampiri anak kesayangan majikanku, Machintosh. Bukannya anjing ini majikanku juga???
"Hello good boy" Sapaku mendekat perlahan. Machintosh membuka mata dan berkedip-kedip melihat pengasuhnya
Aku memberanikan mengelus badannya dan dia menggeliat.
"Kamu jangan nakal ya. Biar aku betah disini." Elusku dengan nada lembut.
Machintosh menjilat tanganku dan sepertinya dia bisa diajak kerja sama.
"Apa kamu mau makan?" Tanyaku seolah anjing ini mengerti apa yang aku katakan.
Aku berdiri dan melambaikan tangan agar dia mengikutiku.
"Follow me"
Machintosh menurut dan dia mengikutiku ke dapur. Tapi sepertinya Machintosh tidak mau makan setelah aku membuka kotak makan dan akan mempersiapkan makanannya.
"Ok, kalau kamu enggak mau makan, ayo kita ke kamarku. Ada apa disana. "
Aku lupa jika aku belum memeriksa kamar yang ada di samping dapur.
Aku memutar kenop pintu dan masuk. Kata mutiara yang terlintas di otakku adalah 'Dont judge book from the cover'
Tidak aku pungkiri, ini memang kamar milik pembantu. Tapi kamar ini begitu luas untuk pembantu. Ranjangnya berukuran besar, ada kamar mandi di dalam. Pemandangannya juga bagus karena jendela menghadap langsung ke kebun belakang rumah yang sejuk dan asri.
Machintosh naik ke atas ranjang dan dia langsung berguling disana. Aku juga melihat di dinding atas ada AC. Ok kita coba, apa AC ini berfungsi selayaknya??
Setelah aku menemukan remote dan menyalakan AC , udara sejuk berhembus. Aku ikut rebah bersama Machintosh di kasur.
"Tolong aku anjing baik. Kamu jangan nakal ya. Kayaknya aku udah menemukan tempat terbaik untuk bekerja"
🤡🤡🤡🤡
Maaf lama banget enggak update.
Kerjaan banyak syekali.
Maaf dengan susunan kata yang amburadul.
Jangan panggil aku author lagi ya.....Enggak pantes rasanya.
Majikan seperti Hyuga memang ada kok........